Mami Sonya: Yesus Selamatkan Semua Manusia, Termasuk Waria

112 0
Sonya Vanessa, akrab disapa Mami Sonya, seorang transpuan beragama Kristen saat ditemui dirumahnya. Foto: Rangga/Idenera

IDENERA – Seorang transpuan berusia 60 tahun duduk di sofa ringkih berkelir coklat yang teronggok di pojok ruang tamu. Rambut hitamnya menjalar hingga punggung. Transpuan  atau lazim disebut waria itu bernama Sonya Vanessa, akrab disapa Mami Sonya. Ia beragama Kristen sejak lahir.

Sonya dan beberapa transpuan beragama Kristen dan Katolik bergabung dalam Persekutuan Hati Damai dan Kudus (PHDK). Mereka rutin berkumpul untuk ibadah dan merayakan hari raya Kristen.

Sehari sebelum Hari Raya Natal, ruang tamu Mami Sonya tidak menampilkan pernak-pernik apapun. Tidak ada tumpukan kado, tidak ada hiasan pohon cemara, dan tidak ada boneka sinterklas yang menunggangi rusa terbang. Ia dan komunitas PHDK  baru akan merayakan natal pada minggu ketiga, hari Jumat, bulan Januari 2023.

“Karena, besok (25/12/2022), kawan-kawan waria pasti sibuk berkunjung ke rumah saudara. Sehingga, kami merayakan natal bulan depan. Agar semua bisa hadir di perayaan tersebut,” kata Mami Sonya saat ditemui Idenera di Jalan Pacar Kembang III Surabaya, Jumat (24/12/2022).

Mami Sonya mengatakan bahwa perayaan natal bulan depan tidak hanya diisi ceramah dari pendeta. Namun, ada pertunjukan seperti drama, vocal group, fashion show, lipsing, dan menari. “Besok kami angkat tema ‘Yesus Sang Penyelamat Manusia’. Jadi, kami cerita masa kecil Yesus yang diperankan beberapa orang,” tegasnya.

Tema itu dipilih, karena PHDK meyakini bahwa Tuhan Yesus menerima siapa saja yang mau menjadi hambanya. Tidak terbatas untuk laki-laki dan perempuan saja, melainkan untuk Lesbian, Gay, Biseksual, Transgender, dan Queer (LGBTQ) juga memiliki kesempatan yang sama.

“Tuhan Yesus menyelamatkan semua manusia, tidak hanya gender tertentu. Semua manusia yang percaya pada Tuhan Yesus, akan diselamatkan olehnya,” ujar Mami Sonya. Lantas, dia melantunkan kutipan Bahasa Roh yang sering dilantunkan saat beribadah.

Sonya Vanessa, akrab disapa Mami Sonya, 60 tahun, pengurus Persekutuan Hati Damai dan Kudus (PHDK) di rumahnya. Foto: Rangga/Idenera.

Pohon natal PHDK dihiasi oleh lampu-lampu berwarna merah, kuning, hijau, dan biru. Berbagai jenis buah-buahan yang terbuat dari bahan tertentu pun ditempel di bagian dedaunan, kapas-kapas dilekatkan, dan lain-lain. Pohon natal itu, kata Mami Sonya, memiliki tinggi 5 meter.

Pohon natal yang akan dipakai bulan depan, kata Mami Sonya, sudah dibuatkan oleh Gereja Pondok Kasih, Keputih, Surabaya. Termasuk busana-busana yang bakal dipakai pemeran drama dan penari di pertunjukan yang digelar bulan Januari 2023 nanti.

“Saya bagian menampilkan tarian dari Jepang. Busananya masyarakat adat negeri sakura, ada warna merah, putih, dan hitam,” sahutnya, “Nanti ada musik-musik dari berbagai negara, ketika giliran musik Jepang, saya mulai menari khas Jepang,” imbuhnya.

Mami Sonya mengatakan bahwa penampilan fashion show, lipsing, dan menari, akan dipilih Juara 1, 2, dan 3 untuk mendapatkan hadiah uang serta sertifikat. “Hal itu, kami bikin agar kawan-kawan waria selain Kristen, seperti Islam, Hindu, Buddha, atau Konghucu bisa ikut merayakan juga,” tegasnya.

Jelang natal, Mami Sonya selalu teringat akan kisah sedih 15 tahun lalu saat PHDK belum didirikan. Kala itu, Mami Sonya dan komunitas waria mengundang jemaat gereja untuk beribadah. Bukan persaudaraan yang mereka dapatkan, namun cibiran, cemooh, dan penghakiman. Ada juga di antara jemaat yang terang-terangan menyatakan risih dengan kehadiran waria di gereja mereka.

“Bahkan ada yang bilang, kalau kami tidak layak masuk surga dan rumah Tuhan. Ketimbang kami membuat mereka berdosa, jadi kami bikin persekutuan sendiri. Waria yang bergabung sudah sekitar 60 orang,” tegas Mami Sonya.

Setiap bulan pada minggu kedua dan minggu keempat, PHDK berkumpul di sebuah rumah di Ngagel, Surabaya. Dulu tempat itu dipakai salon oleh Ketua PHDK, Handayani. Namun, dia mewakafkan bangunan itu untuk kemanusiaan. Lantai 1 dipakai kebaktian, lantai 2 dipakai Panti Jompo yang menerima waria-waria lanjut usia.

Mami Sonya punya cara sendiri untuk menguatkan hatinya dan komunitas waria ketika dipersekusi, disudutkan, dan diasingkan oleh masyarakat. 

“Saya ngomong ke mereka, kita merendahkan diri saja. Nanti, kalau kita merendahkan diri di hadapan manusia, Tuhan akan meninggikan derajat kita,” pungkasnya.

Editor: Andre Yuris

Please share,
Rangga Prasetya Aji Widodo

Kontributor Idenera.com. Jurnalis lepas di Surabaya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *