HomeAKSIDemokrasi dan Demo Kerasi

Demokrasi dan Demo Kerasi

AKSI KOMUNITAS REFLEKSI 0 3 likes 171 views

Sekitar 11 tahun lalu di kota Sydney, Australia. Ratusan ribu bahkan jutaan pemuda tumpah ruah memenuhi kota. Hari itu penutupan World Youth Day 2008 bersama Paus Benediktus XVI di Randwick Racecourse, lapangan pacuan kuda di kota itu.

Kami berjalan kaki melintasi harbour bridge dalam hening, di sisi lain jembatan itu para pemuda Katolik Palestina bersorak dalam bahasa ibu mereka. Saat memasuki kota yang ramai banyak pemuda dan pemudi memasang tulisan di dada, “free hug”. Menawarkan pelukan gratis, tanda sambutan hangat, bagi para pemuda dari ratusan negara yang hadir.

Tapi ada yang menarik selain pelukan hangat itu. Ada puluhan pemuda menawarkan brosur. Mereka bukan Katolik, salah satu denomenasi non Katolik disana rupanya. Mereka mengkampanyekan semangat anti Paus. Membagikan booklet berisi dalil-dalil yang menyerang keyakinan umat Katolik. Menuding Paus sebagai Anti Kristus. Bayangkan, puluhan diantara ratusan ribu pemuda Katolik mereka melakukannya penuh keberanian dan tanpa keributan.

BACA JUGA :   Jujur saja Tentang Demo

Tak jauh kami meninggalkan kerumunan itu melanjutkan perjalanan, teriakan protes lain datang. Kali ini dari kelompok LGBT dan feminis garis keras yang memaki Paus dengan kebijakan gereja yang dianggap tak pro kelompok mereka dan anti aborsi.

Saya mengamati dengan takjub. Tak ada keributan berarti selain hanya suara protes seperti para sales yang berusaha memikat calon pelanggan. Sebuah pertarungan ide dan keyakinan yang terbuka namun beradab dalam konteks demokrasi. Tanpa perlu pasal penghinaan agama. Para pemuda Katolik yang hadir begitu banyaknya juga tak terprovokasi. Sebaliknya tak sedikit yang memberkati dengan senyuman mereka. Saya bahkan mengambil booklet kecil itu sambil mengucap terima kasih, thank you.

BACA JUGA :   Thomas Aquinas : Tindakan dan kebiasaan dari persahabatan

Itu pelajaran pertama saya mengenal demokrasi di negara tetangga. Dalam situasi pesta besar, bahkan sebuah demonstrasi gagasan dan perbedaan bisa berlangsung tanpa kisruh. Semua berdiri pada posisi prinsipnya masing-masing tanpa risau dan tanpa kacau.

Lalu mungkinkah demokrasi model begitu bisa terjadi di Indonesia saat pelantikan nanti? Sehingga tak perlu ada kerisauan publik pada aksi demonstrasi dan perayaan keberagaman pendapat. Tanpa demo yang dikerasi.

Semoga saja..

Please share,