HomeAKSIIsu sosial, politik dan lingkungan tidak menarik bagi mahasiswa Katolik di Surabaya

Isu sosial, politik dan lingkungan tidak menarik bagi mahasiswa Katolik di Surabaya

AKSI DISKUSI LINGKUNGAN LIPUTAN MITRA KARYA 0 0 likes 456 views

Minggu (11/02/2018), Nera Academia dilibatkan PPM (Pelayanan Pastoral Mahasiswa)  Keuskupan Surabaya untuk memfasilitasi sesi pertemuan mahasiswa berjudul ” Peran mahasiswa Katolik di media sosial”.  PPM merupakan lembaga gereja Katolik yang menangani kemahasiswaan di wilayah Keuskupan Surabaya. Pertemuan ini salah satu agenda rutin yang sebagian besar pesertanya berasal dari kampus Unika Widya Mandala Surabaya dan lainnya bersal dari UNESA, ITS dan UNAIR.

Baca juga : Ghorby, mahasiswa UKDC pertama yang menjabat ketua GMKI Surabaya

“Kami tidak memiliki data awal terkait dinamika media sosial mahasiswa Katolik khususnya di Surabaya. Rasanya perlu dilakukan riset singkat untuk menemukan gambaran umumnya,” kata Andre Yuris, fasilitator Nera Academia.

Andre Yuris, Co Founder Nera Academia saat menjadi fasilitator. Foto : Wahyu

Untuk mendapatkan data dinamika media sosial mahasiswa Katolik di Surabaya, tim fasilitator Nera Academia menggunakan pendekatan RAP (Riset Aksi Partisipatoris). Pendekatan RAP ini menurut Andre Yuris, CoFounder Nera Academia merupakan riset yang diselenggarakan secara partisipatif diantara warga dalam satu komunitas atau lingkup sosial tertentu untuk mendorong aksi-aksi transformatif.

“Ada keinginan dari PPM dan Mahasiswa Katolik di Surabaya untuk memiliki peran yang khas di media sosial,“ kata Katarina, pengurus PPM saat menghubungi Nera Academia.

Melalui pendekatan RAP (Riset Aksi Partisipatoris), Nera Academia menemukan bahwa semua peserta pertemuan (50 orang) rata-rata memiliki dan aktif di 2-3 platform media sosial.  Sebanyak 26% diantaranya  secara aktif berkomentar dan 36% diantaranya hanya membaca. Ditemukan juga bahwa 36% responden memanfaatkan media sosial untuk bersenang-senang dan hanya 5%  yang menggunakannya sebagai sarana ekspresi kritis terhadap fenomena sosial.

Akun kerohanian dan kegiatan keagamaan mendapatkan rangking perhatian tinggi diikuti seni dan budaya berdasarkan survei singkat ini. Terkait grup atau halaman media sosial yang diikuti, 30%  berkaitan dengan kerohanian, 30% lainnya grup perkuliahan atau kampus. Berbanding terbalik dengan grup atau halaman sosial, budaya dan politik  yang hanya diikuti 4% responden.

Pembicaraan terkait kerohanian dan kegiatan keagamaan terlihat begitu menonjol ketika para peserta diminta menemukan dan melihat isi akun-akun media sosial seperti facebook, instagram dan twitter yang berafiliasi atau menggunakan nama Katolik.

Hasil survei singkat tentang dinamika media sosial mahasiswa Katolik di Surabaya. Survei dilakukan oleh Nera Academia tgl 11 februari 2018 dengan 50 responden. Sumber data : @neraacademia

Ditemukan juga bahwa, 96% responden tidak pernah terlibat dalam kegiatan aksi nyata dan gerakan yang berawal di media sosial. Hanya 4% dari peserta yang mengaku pernah terlibat dalam aksi nyata setelah mendapatkan informasi, berdiskusi  dan bergabung dalam grup media sosial.  Ada peserta yang mengaku pernah terlibat aksi ekologi dan keselamatan berkendara bersama komunitas di media sosial.

“Walaupun riset ini tidak mewakili keseluruhan trend mahasiswa Katolik di Surabaya, paling tidak ada gejala yang menunjukan hal terkait sosial, politik, kebudayaan dan lingkungan tidak tersentuh dan tidak menarik perhatian mahasiswa Katolik,” kata Andre Yuris. 

“Sebagian besar akun medsos katolik yang kami temukan tadi berisi pengumuman kegiatan, kalender liturgi, ajakan misa dan doa juga kutipan ayat-ayat kitab suci” kata Ninda, peserta diskusi dari UKWM Surabaya.

Selain diminta melihat isi akun yang berafiliasi atau menggunakan nama Katolik peserta diskusi juga diajak untuk membandingkan akun yang berafiliasi dengan Kristen, NU dan Muhamadiyah. Ditemukan bahwa akun organisasi mahasiswa yang berafiliasi dengan gereja Kristen seperti @kristenhijau dan @gmki_surabaya banyak memposting tentang isu lingkungan hidup, agraria dan kesetaraan gender. Sementara akun yang dianggap berafiliasi dengan NU dan Muhamadiyah banyak berbicara tentang toleransi, persatuan, kemanusiaan, pengungsi hingga korupsi.

“Bila teman-teman mahasiswa Katolik bertanya perannya  bagaimana? Saya menyarankan agar amati, tiru dan modifikasi gerakan yang dibangun teman-teman Kristen, NU dan Muhamadiyah sesuai dengan nilai kekatolikan,” jawab Andre kepada peserta.

Mahasiswa Katolik Surabaya saat FGD tentang Media Sosial. Foto : Wahyu

Andre mengatakan bahwa  NU, Gereja Kristen dan Muhamadiyah sudah menggerakkan kaum mudanya agar aktif media sosial. Hal itu dilakukan sebagai respon atas fakta bahwa 70 % media sosial di Indonesia berisi narasi kebencian, permusuhan dan kekerasan. Selain juga untuk menangkal berkembangnya hoax yang menurut data Kementrian Komunikasi dan Informasi; 90% hoax berasal dan disebarkan melalui media sosial.

“Dengan kapital sosial dan finansial yang melimpah, seharusnya mudah bagi teman-teman mahasiswa Katolik menggerakan aksi sosial transformatif baik di media sosial maupun aksi nyata,” lanjut Andre  menutup sesi diskusi.

Baca juga : Penutupan Sekolah Ansos 2017: Berdampak dan terlibat mengatasi kesenjangan

Menurut Andre, mahasiswa katolik seharusnya bisa mewarnai ruang publik  “social media” tidak hanya dengan kutipan ayat-ayat kitab suci dan pengumuman tetapi dengan hal-hal lain yang berkaitan dengan kepentingan umum dan kebaikan bersama.  Hal-hal  yang berkaitan dengan  kepentingan umum  atau kebaikan bersama (bonum commune)   seperti  persoalan lingkungan hidup, tahun politik, kemanusiaan dan kesenjangan pendidikan merupakan  peluang aksi transformatif bagi mahasiswa Katolik di Surabaya atau di Indonesia umumnya.

Please share,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *