HomeAKSIPerjalanan Relawan Kelas Tunas Menyapa Flores

Perjalanan Relawan Kelas Tunas Menyapa Flores

AKSI KOMUNITAS MITRA KARYA 0 1 likes 548 views

Beberapa Relawan Kelas Tunas Nera Academia  menggunakan sebagian waktu libur mereka untuk menyapa adik-adik di Flores, NTT. Mereka melakukan perjalanan dari Labuan Bajo sampai  Ende, dari tanggal 29 Mei sampai 4 Juni 2019.

Kegiatan Kelas Tunas dilangsungkan di SDK Kekandere 02  Ende, SDK Bajar di Manggarai Timur, Kampung Bena, Ngada dan Kampung Wae Rebo. Joana Liani, menuliskan catatan berikut :

Kami, Relawan Kelas Tunas berangkat dari Surabaya tanggal 29 Mei 2019 menuju Labuan Bajo dan langsung menuju Ruteng untuk menyiapkan kegiatan Kelas Tunas. Pada hari Kamis, 30 Mei 2019 tiga orang dari kami yaitu Liana, Liani, dan Kikan menuju Ende, Flores.

Kelas Tunas Menyapa Flores kami siapkan dengan metode bermain bersama, berbagi cerita dan memotivasi adik-adik agar terus semangat dalam belajar. Kami dibantu teman-teman asli Flores yaitu Dede, Bowie, dan Epen.

Dari Kota Ende kami memerlukan waktu kurang lebih dua jam menuju desa Kekandere di Kecamatan Nangapanda.  Dengan medan jalan berkelok-kelok khas Flores, perjalanan jadi semakin asik. Memasuki hutan tanpa jalan beraspal, melewati dua desa lain, akhirnya kami sampai di sebuah SD yaitu SDK Kekandere 02.

BACA JUGA :   Kelas Tunas SDN Kebonagung Bojonegoro, Belajar Merangkai Cita-Cita
Relawan Kelas Tunas bersama adik-adik di SDK Kekandere 02 . Foto : Dok Kelas Tunas

Kami disambut oleh para guru dan kepala sekolah. Saat itu adik-adik SDK Kekandere 02 baru saja melaksanakan ujian akhir semester. Mereka berkerumun menyapa kami. Sungguh awal yang berkesan. Mereka sangat ramah dan antusias melihat kami. Dibantu oleh para guru, kami mengumpulkan anak-anak kelas 5 dan 4 dalam satu kelas yang totalnya berjumlah 28 siswa, yaitu 12 siswa kelas 5 dan 16 siswa kelas 4.  

Kegiatan kami mulai dengan perkenalan melalui game, bernyanyi bersama dengan iringan gitar, lalu menggambarkan cita-cita dalam selembar kertas lipat warna-warni. Cita-cita yang mereka gambarkan sangat beragam mulai dari petani, sopir, pembalap motor, guru, polisi, arsitek, dan dokter. Kegiatan di SDK Kekandere kami akhiri dengan membagikan paket alat tulis serta buku bacaan untuk perpustakaan sekolah. Adik-adik sangat senang dan terus mengucapkan terima kasih. Terima kasih juga karena kalian telah menginspirasi dan menambah kegembiraan liburan kami.

Hari Minggu 2 Juni 2019,  kami kembali ke Ruteng. Kali ini ada Relawan Kelas Tunas lain yang bergabung yaitu Natalia dari Larantuka. Kami berangkat pagi karena perjalanan Ende-Ruteng memerlukan waktu delapan jam. Dalam perjalanan kami singgah ke Kampung Adat Bena untuk menyapa adik-adik disana. Walaupun hujan, antusiasme adik-adik tidak surut.

BACA JUGA :   Penutupan Sekolah Ansos 2017: Berdampak dan terlibat mengatasi kesenjangan

Kami tiba di Kota Ruteng menjelang sore. Perjalanan dari Ruteng menuju Kampung Bajar, Desa Bangka Kuleng, Manggarai Timur  memerlukan waktu sekitar satu jam. Kegiatan di Bajar dimulai telat dari jadwal yang kami buat yaitu pukul 14.30. Tanpa istirahat kami melanjutkan perjalanan ke Desa Bajar Manggarai Timur. Medan yang dilalui kurang lebih sama dengan di Kekandere.

Sesampainya disana, kami sungguh terkejut. Adik-adik sangat antusias menyambut kami bahkan mereka menyanyikan sebuah lagu untuk kami. Ada 90 orang anak berkumpul memenuhi ruang aula. Karena di Desa Bajar belum tersedia listrik, maka kami mempercepat kegiatan kami agar adik-adik tidak pulang terlalu sore. Kami hanya sempat bernyanyi dan bermain game serta membagikan tempat minum dan alat tulis. Walaupun jumlahnya terbatas adik-adik sangat senang. Suatu saat kami berjanji akan kembali, semoga nanti listrik sudah bisa membantu penerangan dan kegiatan lain di Desa Bajar.

Suasana kegiatan Kelas Tunas di SDK Bajar, Manggarai Timur

Keesokan paginya, Senin 3 Juni 2019, kami menuju Desa Waerebo menggunakan kendaraan umum yang dikenal dengan nama Otokol. Otokol adalah sebuatan untuk truk yang dimodifikasi sebagai kendaraan umum yang mengangkut penumpang dan barang menuju Waerebo. Butuh waktu empat jam dari Ruteng untuk sampai ke Desa Denge, desa terakhir sebelum Waerebo.

BACA JUGA :   Mengenal Nera Academia dan www. Idenera.com

Dari desa Denge, kami berjalan kaki selama dua jam untuk sampai di Kampung Adat Waerebo. Sekitar pukul 19.00 kami sampai di Waerebo dengan keadaan basah karena hujan dan jalan yang berlumpur. Pagi harinya tanggal 4 Juni barulah kami mengumpulkan adik-adik di Waerebo untuk bernyanyi bersama.

Sebagian besar adik-adik masih kurang terbiasa dengan Bahasa Indonesia. Kami akhirnya mengubah lagu ke dalam Bahasa Manggarai. Alhasil, adik-adik antusias menyanyiakan lagu tersebut “Aku ngoeng jadi sahabat dite” yang artinya aku ingin jadi sahabatmu. Begitulah lagu yang kami nyanyikan. Antusiasme mereka tidak hanya saat bernyanyi  bahkan saat kami membagikan buku dan pensil, adik-adik langsung belajar menulis. Senang rasanya bisa berlibur, bertemu adik-adik di Flores dan berbagi.

Relawan Kelas Tunas Menyapa Flores bersama anak-anak di Kampung Bena, Ngada. Foto : Dok. Kelas Tunas

Terima kasih kepada teman-teman yang sudah berdonasi untuk terselenggaranya Kelas Tunas Menyapa Flores. Hasil donasi yang kami terima terdiri dari alat tulis, botol minum, dan uang tunai. Laporan hasil donasi ini akan kami kirimkan pada donatur. Kami juga berterima kasih pada teman-teman yang telah bersedia membantu kami dalam hal tempat menginap, juga persiapan di Flores.  

Semoga semangat bertumbuh merawat harapan terus menular.

Penulis : Joana Liani, Kordinator Relawan Kelas Tunas Menyapa Flores

Please share,