HomeAKSISekolah Ansos III : Membangun Kesadaran Ekologis dengan Piknik dan Ngaji di Tambak dan Hutan Mangrove Wonorejo Surabaya

Sekolah Ansos III : Membangun Kesadaran Ekologis dengan Piknik dan Ngaji di Tambak dan Hutan Mangrove Wonorejo Surabaya

AKSI DISKUSI KOMUNITAS LINGKUNGAN 0 1 likes 106 views

Banyak cara menumbuhkan kesadaran ekologis pada generasi muda. Kesadaran ekologis bicara tentang  pentingnya menjaga kelestarian lingkungan hidup. Salah satunya dengan cara piknik. Itulah  yang dilakukan oleh Kelompok Ekologi Sekolah Ansos  III yang diselenggarakan Nera Academia Indonesia. Kelompok Ekologi pada hari Minggu (21/10/2018), mengadakan kegiatan kolaborasi “Piknik dan Ngaji Ekologi” bekerjasama dengan Kelompok Tani Tambak Truno Djoyo  di Kawasan Mangrove Wonorejo Surabaya.

Leo Hadinolo, Koordinator kelompok Ekologi mengatakan bahwa kegiatan ini merupakan proses perjumpaan langsung dengan masalah lingkungan hidup.  Perjumpaan langsung  menurutnya merupakan cara untuk memperoleh gambaran lengkap dan jelas tentang kondisi lingkungan hidup.

“Selama ini kawasan mangrove yang dikenal masyarakat hanya Kawasan Ekowisata Mangrove yang dikelolah pemerintah. Padahal masih lebih luas dari itu. Sebagian tercemar dan terancam ekspansi pembangunan pemukiman ” kata Leo.

Sekolah Ansos Nera Academia

Peserta Piknik dan Ngaji Ekologi menelusuri hutan mangrove dan tambak di daerah Wonorejo Surabaya. Foto : Andre Yuris

Sikap Pemerintah Kota Surabaya.

Berdasarkan data yang dikeluarkan Pemerintah Kota Surabaya, kawasan hutan mangrove di Kota Surabaya, Jawa Timur, terus menyusut akibat terdesak pengembangan permukiman. Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini menyebutkan, pada 1978 luas hutan mangrove di Surabaya masih 3.300 hektar. Namun, tahun 1985 sudah menyusut menjadi 2.500 hektar.

Baca juga : Eksploitasi Tumpang Pitu dan Peran Agama Islam Terkait Lingkungan Hidup

Pemerintah Kota Surabaya  berkomitmen mengatasi maslah ini. Komitmen Pemkot diperkuat dengan Peraturan Daerah Nomor 3 Tahun 2007 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kota Surabaya. “Komitmen tersebut tetap berkelanjutan dan akan dituangkan dalam perda berikutnya,” ujarnya Risma, seperti yang diberitakan Kompas.com (06/11/2012).

Pemkot Surabaya pun telah mengalokasikan anggaran tahun 2013 untuk pembebasan lahan yang kini dikuasai pengembang. “Tidak boleh gegabah agar pengembangan yang dilakukan tidak merusak kawasan mangrove yang ada,” kata Risma.

 Kesadaran Ekologis Warga Surabaya

“ Kondisi tambak dan hutan mangrove yang tidak dikeloah pemerintah cukup  memprihatinkan.  Hal ini berdampak langsung pada petani tambak yang ada diwilayah ini. Banyak tambak yang tidak produktif karena tingkat pencemaran air cukup tinggi ” lanjut Leo.

Leo menyayangkan sikap pemerintah kota Surabaya yang cendrung parsial dan tidak menyeluruh dalam mengelolah kawasan Mangrove. Pemkot Surabaya terkesan hanya memperhatikan Wisata Ekologi Mangrove, tidak memberi perhatian pada petani tambak yang selama ini secara suka rela menjaga hutan mangrove.

Baca juga : Leo Hadinolo : Pendakian Ke Semeru Sebagai Titik Awal Kesadaran Ekologis

“Pemkot mungkin lupa kalau diluar kawasan yang dimanfaatkan sebagai tempat wisata ada kawasan tambak dan hutan mangrove yang juga punya andil besar menjaga pesisir Surabaya” tegas Leo.

Sampah plastik terjebak yang di akar-akar mangrove mengganggu pertumbuhan mangrove dan kualitas air dan ikan. Foto : Ulum

Leo juga menambahkan, pemerintah perlu membuka seluas-luasnya informasi terkait zona konservasi dan rencana pembangunan kepada warga. Menurutnya, banyak permasalahan yang terjadi justru karena ketidaktahuan dan buntunya saluran informasi dan komunikasi anatara pemerintah, pengembang, petani, dan warga pada umumnya.

“ Saya baru tahu kalau Surabaya punya hutan, selama ini saya hanya melihat taman-taman di tengah kota” kata Angga, peserta Sekolah Ansos III dari  UKDC Surabaya.

Angga merasa kesadaran ekologis dalam dirinya sebagai warga Surabaya  dan juga mahasiswa belum  terbangun. Kegiatan Piknik dan Ngaji Ekologi ini bagi Angga memberikan gambaran awal bahwa tidak cukup melihat keindahan taman kota semata. Masyarakat juga perlu melihat dan tahu sisi lain Surabaya yang keberadaanya sangat penting namun tidak mendapat perhatian.

Baca juga : Lydia Angela : Potret Keadilan Antara Manusia Dan Lingkungan

“Sampah domestik dan pencemaran di sini cukup tinggi. Padahal mangrove ini punya fungsi selain  sebagai wave barrier dan wave breaker  yang alami juga selain tempat berkembanganya ikan, burung dan hewan-hewan pesisir. Namun kini kondisinya memprihatinkan”jelas Angga, setelah melakukan perjalanan menelusuri tambak melewati hutan mangrove hingga bibir pantai.

Peran Agama bagi Kelestarian Lingkungan

Ulum, mahasiswa Universitas Surabaya (UBAYA) dan Aktivis FNKSDA (Front Nahdliyin untuk Kedaulatan Sumberdaya Alam), yang membawakan Kajian Ekologi dalam Perspektif Islam dalam kegiatan ini mengatakan bahwa di kalangan umat islam sendiri kesadaran akan pentingnya menjaga kelestarian alam belum sepenuhnya mendapat perhatian.

“Padahal, kalau kita mengacu pada Islam sebagai rahmatan lil alamin artinya Islam merupakan agama yang membawa rahmat dan kesejahteraan bagi semua seluruh alam semesta.  Rahmat bagi alam semesta,  tidak hanya bagi manusia namun manusia dan lingkungan hidup ” kata ulum.

Ulum mengatakan, perlu ada tindakan strategis untuk membangun  kesadaran kolektif bagi umat Islam. Para  tokoh agama, sekolah islam, intelektual muslim dan umat perlu melihat kerusakan lingkungan sebagai masalah yang harus secepatnya ditangani sebelum jadi bencana bagi kehidupan.

“ Penting untuk diyakinkan bahwa kerusakan lingkungan itu tanggung jawab umat beragama tidak hanya Islam. Besar harapan saya, apabila agama terlibat maka akan ada terkanan pada pemerintah untuk membuat kebijakan yang lebih pro kelestarian lingkungan hidup“ jelas Ulum.

Suasana Ngaji Ekologi di Posko Petani Tambak Truno Djoyo, Wonorejo Surabaya. Salah satu yang dibahas adalah tentang Ekologi dalam Persepektif Islam. Foto : Andre Yuris

Joana Liani, manager Sekolah Analisa Sosial (Ansos) III Nera Academia mengapresiasi  kegiatan Piknik dan Ngaji Ekologi ini. Karena melalui Sekolah ANSOS ini Nera Academia  tidak hanya mau membangun kesadaran diri para partisipan, namun juga mendorong patisipan agar memiliki kesadaran kolektif dan habitus baru dalam melihat masalah sosial.

Baca juga : Perempuan-perempuan Kendeng Penjaga Bumi

“ Dengan melihat dan bertemu langsung dengan masalah yang ada di masyarakat, teman-teman bisa memiliki gambaran yang utuh. Dengan gambaran utuh,  didukung  pisau analisa yang diajarkan di kelas Sekolah Ansos, saya yakin teman-teman bisa menyusun  tindakan strategis agar berpartisipasi  bersama masyarakat mengatasi masalah yang ada di sekitar tempat tinggal kita ” jelas Liani.

Sekolah Analisa Sosial ini merupakan program tahunan Nera Academia yang berbasis di Surabaya. Program ini menyasar partisipan dari mahasiswa, aktivis komunitas dan orang muda yang berkehendak baik untuk belajar dan terlibat aktif di masyarakat.

Please share,

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *