Stoik dan Hidup di Jaman Ini

Banyak dari kita pastinya yang pernah memikirkan bagaimana hidup dengan layak dan semestinya. Beberapa orang mengatakan jika hidup adalah harus saling membantu serta tolong menolong, ada juga yang mengatakan jika hidup harus memiliki tujuan, ada juga yang mengatakan hidup adalah soal bersenang senang dan masih banyak lagi.

144 0
Ma

“Tidak ada yang merugikanmu kecuali dirimu sendiri. Tidak ada yang dapat membuatmu menderita kecuali dirimu sendiri. Tidak ada yang dapat mempengaruhi pikiranmu kecuali dirimu sendiri. Kesulitan eksternal hanya akan merusak pikiranmu jika kamu membiarkannya. Jangan membiarkan pikiranmu merana atas hal-hal yang tidak ada dalam kendalimu.” – Marcus Aurelius, Meditations, 7.15

Banyak dari kita pastinya yang pernah memikirkan bagaimana hidup dengan layak dan semestinya. Beberapa orang mengatakan jika hidup adalah harus saling membantu serta tolong menolong, ada juga yang mengatakan jika hidup harus memiliki tujuan, ada juga yang mengatakan hidup adalah soal bersenang senang dan masih banyak lagi.

Setiap orang pasti memiliki definisi bagaimana hidup yang layak dan semestinya, namun saat kita tarik benang merahnya bisa dikatakan hidup hanyalah soal konsep “bahagia”. Manusia hidup untuk memenuhi hasrat mereka masing masing. Itu memang tidak salah, namun mungkin hanya ada satu dari seribu orang yang paham betul cara dalam memenuhi hasrat tersebut.

Hasrat bukan berarti sesuatu yang buruk karena itu adalah hal yang manusiawi. Ia akan selalu menuntut kita untuk terus terpenuhi. Tapi hasrat yang tak disikapi dengan pikiran yang matang akan membuat kita jatuh terperosok kedalam jurang.

Dalam prosesnya meski kita berusaha menyikapi dengan memikirkan Langkah kedepannya, manusia pasti tak luput dengan rasa kekhawatiran. Pun kekhawatiran juga bukan hal yang buruk, kekhawatiran ada untuk membuat kita dapat menentukan pilihan yang tepat dan terhindar dari hal yang tak diinginkan.

Pilihan pun juga harus disertai dengan moral. Langkah yang diambil tanpa moral yang baik hanya akan membuat kesengsaraan baik bagi sekitarnya ataupun dirinya sendiri.

Memiliki pemikiran yang bijaksana adalah pilihan yang tepat untuk digunakan sebagai acuan. Jangan menilai dan menentukan segala sesuatu hanya atas hasrat dan kepentingan pribadi. Jangan juga mengikuti arus pemikiran orang lain saja. Penilaian terhadap suatu yang baik dan buruk, apa yang harus dihindari atau tidak, penilaian yang objektif akan membuat pilihan yang tepat.

 Kegelisahan Masyarakat Zaman Now

Masyarakat  akhir-akhir ini sangat rentan merasakan frustasi. Entah karena burn out, cemas akan akhir tuanya atau khawatir tidak dapat memenuhi kehidupan. Bahkan beberapa stress akan pandangan orang lain terhadap diri mereka.

Disini filsafat stoik dapat menjadi kunci agar masyarakat dapat menahan emosi emosi negatif tersebut. Filsafat stoik (stoicisme) yang ditemukan oleh bernama Zeno sejak 250 sebelum masehi. Ilmu ini dapat membantu kita agar tidak terbawa emosi dan perasaan karena kesulitan serta penderitaan yang kita alami dapat kita atasi dengan tenang dan bijaksana. Filsafat yang menekankan kendali atas pikiran dan perilaku. Stoikisme juga menekankan pada pentingnya pengembangan kekuatan mental, seperti pengetahuan, kebijaksanaan, ketekunan, dan rasa syukur, sebagai cara untuk mengatasi rasa takut, kecemasan, atau kesedihan.

Penganut stoicisme lebih memfokuskan kepada hal hal yang dalam kendali mereka atau hal yang dapat mereka lakukan dan mengabaikan hal diluar itu. Dapat kita sadari banyak masyarakat khususnya Generasi Z dan Milenial memiliki kecemasan akan hal yang ada diluar kendali mereka.

Menurut data dari Deloitte Hampir setengah dari Gen Z (46%) dan generasi milenial (47%) hidup dengan gaji ke gaji dan khawatir mereka tidak akan dapat menutupi pengeluaran mereka. Lebih dari seperempat Gen Z (26%) dan generasi milenial (31%) tidak yakin mereka akan dapat pensiun dengan nyaman. Sekitar 12% dari Generasi Z dan 11% milenial mengkhawatirkan tentang ketidakstabilan politik, perang, dan konflik antar negara. 

Tidak masalah sebenarnya generasi saat ini memikirkan sekitarnya. Hal itu merupakan hal baik dan juga bentuk kepedulian terhadap sekitar. Namun jika pikiran pikiran tersebut tidak disikapi dengan bijak, maka hanya akan membuat kita merasa frustasi dan cemas.

Rasa frustasi dan kecemasan akan mudah membuat manusia dikuasai oleh emosi negatif yang berujung membuat insan tersebut malah membuat keputusan yang serampangan dan merugikan dirinya sendiri.

Jika seseorang dikuasai oleh emosi negatif bagaimana ia akan mencapai tujuannya, bagaimana ia memenuhi hasratnya? Bagaimana menemukan konsep kebahagiaan semestinya dalam dirinya?.

Stoikisme memahami betul betapa berharga dan pentingnya waktu. Tidak seperti barang yang hilang lalu membeli barang serupa, waktu benar benar tidak dapat kembali maupun diputar. Memikirkan hal yang diluar kendali hanya akan merugikan, maksimalkan apa yang kita miliki sekarang dan meminimalisir keinginan yang tidak perlu.

Berbagai tujuan dapat kita raih dengan jika kita melakukannya dengan penuh pertimbangan. Setiap Langkah yang kita tentukan alangkah baiknya jika diiringi dengan bijaksana yang penuh kebajikan serta moral diatas semua itu.

Memiliki pemikiran yang bijaksana serta moral yang baik adalah hal yang baik untuk menjadikannya sebagai acuan. Fokuslah terhadap tujuan meski terdapat hambatan yang mengganggu kita dalam menentukan langkah selanjutnya. Jika pemikiran yang dapat dibilang logis tersebut telah menguasai diri kita, maka kesulitan apapun tetap akan dilaluinya dengan tenang.

Jadikan orang yang pembelajar, artinya kita selalu menjadikan hal apapun sebagai sebuah informasi yang akan membantu kita di masa yang akan datang. Jangan tempatkan ego dan kesombongan diatas segalanya, merasa bahwa diri kita berada diatas orang lain hanya akan mendatangkan hal buruk bagi kita.

Pemikiran seperti ini bukan berarti untuk menjadi pengalah. Tujuan dari pemikiran seperti ini adalah untuk bagaimana kita menentukan pilihan yang bijak dan tidak mendatangkan hal buruk. Kita tetap harus memperjuangkan hak hak yang kita miliki selagi hal tersebut baik.

Pemikiran yang seperti ini harus duduk dengan tenang dalam otak kita. Mungkin kita tidak mudah terbiasa untuk berpikir seperti ini, memang kita juga harus melatih mental, kepekaan, dan sebagainya. Tapi jika sudah terbiasa, kita akan merasa tidak aman dan nyaman saat meninggalkan pemikiran tersebut.

“Kenikmatan sesungguhnya adalah saat dimana kita bisa bebas dari belenggu kegelisahan, dan mengerti apa kewajiban yang harus kita lakukan sebagai Hamba-nya dan sebagai manusia. Yaitu untuk menikmati hidup yang tengah dijalani tanpa harus merasa gelisah dengan kemungkinan yang akan terjadi dimasa yang akan datang” –Seneca (The wisdom of stoic).

Penulis: Rifki Iqbal Nizar Zidan, Mahasiswa

Please share,
idenera

IDENERA, membuka kesempatan bagi siapapun menjadi kontributor. Tulisan dikirim ke : editor@idenera.com dan dapatkan 1 buku tiap bulannya bila terpilih oleh editor.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *