HomeREFLEKSIDISKUSIThomas Aquinas : Persahabatan antara manusia dengan pure spiritual being

Thomas Aquinas : Persahabatan antara manusia dengan pure spiritual being

DISKUSI FILSAFAT NARASI REFLEKSI 0 2 likes 311 views

Jika kita ingin memahami lebih dalam tentang makna persahabatan dari Thomas Aquinas, kita tidak bisa hanya menggunakan salah satu dari karyanya. Karena itu perju juga dibuat perbandingan dengan beberapa karyanya lain, misalnya saja Summa Teologi. Dalam Summa Teologinya, Aquinas juga membahas tentang persahabatan antara manusia dengan pure spiritual being.

Sebelumnya baca : Thomas Aquinas : Ada beberapa karakteristik dari persahabatan

Yang dimaksudkan dengan pure spiritual being adalah being yang substansinya itu sungguh-sungguh spiritual dan tidak terikat pada tubuh material. Being yang masuk dalam kategori ini adalah malaikat dan Allah. Walaupun keduanya adalah pure spiritual being tetapi dalam hirarki keduanya memiliki kedudukan yang berbeda. Allah adalah nama yang digunakan untuk konsep akan being yang tertinggi dan dia dilihat sebagai penyebab utama dari segala sesuatu, sedangkan malaikat adalah being yang pure spiritual dan intelektual. Namun dia bukanlah penyebab utama tetapi dia bersama manusia dimasukkan menjadi penyebab kedua di mana intelek dan kehendaknya memampukan dia untuk bertindak secara rasional.

 MALAIKAT

Memang cukup sulit bagi kita untuk memahami siapa itu malaikat. Kedudukannya sebagai substansi yang pure spiritual, membuatnya semakin sulit untuk dibuktikan secara empiris. Namun dalam Summa Theologiae-nya, Thomas Aquinas memberikan beberapa pernyataan dan penjelasan tentang malaikat. Yang pertama Thomas mengatakan bahwa dalam hubungannya dengan kesempurnaan alam semesta maka dituntut keeksistensian dari ciptaan berintelektual.

Related image

Kita tahu bahwa manusia adalah satu-satunya makhluk yang bertubuh dan berintelek. Keterperangkapannya di dalam tubuh membuat pengetahuan manusia itu bersifat partikular. Pengetahuan manusia itu ada sejauh indera menangkapnya dalam pengalaman. Sedangkan objek dari intelek adalah yang universal. Karena itu perlu ada ciptaan yang tidak bertubuh (incorporeal). Mengapa? Karena intelek bukanlah tindakan dari tubuh ataupun fakultas-fakultas yang terdapat pada tubuh karena tubuh itu terbatas pada ruang dan waktu (disini dan sekarang). Karena itu untuk alasan kesempurnaan, alam semesta memerlukan ciptaan yang incorporeal atau spiritual.

Baca sebelumnya : Thomas Aquinas : Pertengkaran dan keluhan dalam persahabatan

Malaikat adalah konsep yang digunakan untuk menunjuk pada ciptaan yang bersifat spiritual. Dia adalah substansi yang murni intelektual. Sebagai sebuah ciptaan, malaikat itu bersifat relatif infinit. Mungkin pernyataan ini terdengar sedikit paradoxal, namun Thomas menjelaskan lebih lanjut bahwa sebagai ciptaan yang bersifat spiritual murni, malaikat itu bersifat infinit. Dia infinit karena secara hakikatnya malaikat itu adalah being yang tidak berubah. Dia memiliki substansi malaikat (angelic) yang adalah murni forma atau dengan kata lain murni intelek. Substansi malaikat ini disebut juga sebagai substansi intelektual.

Aquinas kemudian menambahkan juga bahwa sebagai sebuah ciptaan, malaikat tidak bisa lepas dari perubahan. Kita tahu bahwa malaikat itu adalah makhluk yang tidak bertubuh (incorporeal), sedangkan perubahan itu terjadi dalam tubuh atau materi. Di sini Thomas menjelaskan bahwa intelek dan kehendak dari manusia itu bisa berpindah atau dengan kata lain berubah dari potensi ke tindakan atau act, tetapi perubahan itu tidak ada hubungannya dengan perubahan tubuh materinya. Hal ini juga berlaku bagi malaikat.

Intelek malaikat itu tidak berubah, yang berubah adalah kehendaknya. Karena malaikat itu mengalami perubahan (changing), malaikat juga masuk dalam waktu, walaupun waktu malaikat itu berbeda dengan manusia. Malaikat hanya memiliki dua dimensi waktu, waktu lampau dan sekarang. Walapun malaikat itu tidak berubah secara hakitat, namun dalam hubungannya dengan pilihan, malaikat juga termasuk dalam subjek perubahan. Ada perubahan yang terjadi dalam kehendaknya.

BACA JUGA :   Vahoaxtine : Valentine dan Hoax

 ALLAH

Thomas Aquinas mempunyai beberapa konsep tentang siapa itu Allah. Konsep-konsep tersebut dapat dilihat dalam lima jalan pembuktian tentang keeksistensian Allah yang dijelaskannya di dalam Summa Theologiae, pertanyaan 2 artikel yang ke 3.

Baca sebelumnya : Thomas Aquinas : Tindakan dan kebiasaan dari persahabatan

Yang pertama, Allah itu adalah penggerak utama (the first mover). Menurut Thomas segala sesuatu yang ada di dunia material ini selalu berada dalam keadaan gerak atau dengan kata lain bergerak. Suatu gerak itu dapat terjadi karena ada yang menggerakan (subjek penggerak) dan objek yang berpotensi untuk bergerak. Sesuatu itu dikatakan bergerak ketika dia ada dalam tindakan (act).

Gerak (motion) adalah sebuah perubahan dari potensialitas ke aktualitas.  Sesuatu itu bergerak karena dia sedang berada dalam tahap aktualitasnya. Perubahan dari sebuah potensi ke aktus itu disebabkan oleh sesuatu yang lain yang juga dalam tahap aktualitas atau dengan kata lain yang sedang bergerak. Setiap benda material yang bergerak memiliki potensi untuk diam. Dan ketika dia diam,  dia memiliki potensi untuk bergerak lagi dan dia hanya akan bisa bergerak jika digerakan oleh yang lain yang sedang bergerak. Ini adalah siklus dari segala gerak yang ada di dunia material ini.

Image result for Thomas Aquinas, angelic

Pada suatu titik akan ada kemungkinan bahwa semua bisa berada pada tahap potensi untuk bergerak (jadi mereka diam) karena semua hal di dunia ini bersifat terbatas atau infinit. Oleh karena itu, perlu ada penggerak utama yang tidak digerakan oleh yang lain. Dia adalah pure act yang selalu dalam gerak. Karena dia pure act maka dia adalah spiritual. Inilah yang Thomas pahami sebagai Allah.

Yang kedua, Allah adalah penyebab utama (the first cause). Hampir sama dengan gerak, menurut Thomas di dunia ini kita bisa melihat sebuah aturan atau pola dari penyebab suatu benda atau efficient cause. Tidak ada yang di dunia ini yang menjadi penyebab bagi dirinya sendiri. Sama halnya dengan gerak, efficient cause di dunia ini juga bersifat terbatas atau infinit. Pada titik tertentu ada kemungkinan untuk masuk dalam posisi diam dimana tidak ada lagi penyebab. Oleh karena itu perlu ada penyebab (efficient cause) pertama yang mana dia sendiri tidak disebabkan. Inilah yang Thomas sebut sebagai Allah. Makanya tidak mengherankan jika kita juga mengenal Allah sebagai penyebab atau pencipta segala alam semesta ini dan dia tidak diciptakan.

Yang ketiga, Allah adalah suatu yang bersifat mutlak. Pada jalan ketiga ini Thomas berusaha membandingkan antara kemungkinan (possibility) dan kemutlakan (necessity). Di dunia ini kita temukan bahwa semua hal yang ada di dalamnya bersifat mungkin. Semua being di dunia ini memiliki kemungkinan untuk menjadi dan tidak menjadi. Di satu sisi mereka bisa berkembang atau bertumbuh (generate), sedangkan di sisi lain mereka dapat hancur (corrupt).

Tidak ada satupun hal yang kita temukan di dunia ini yang selalu eksis. Segala sesuatu itu dapat hilang. Ada kemungkinan bahwa pada suatu titik semua hal di dunia ini dapat hilang.  Sedangkan segala sesutu yang eksis di dunia ini ada karena ada yang sudah ada sebelumnya.  Karena itu perlu ada sesuatu yang bersifat harus atau mutlak (necessary). Inilah yang Thomas sebut sebagai Allah. Makanya Allah itu harus eksis. Dia bersifat absolut.

BACA JUGA :   Festival Teater dan Pekan Filsafat 2017 kembali digelar

Yang keempat, Allah itu adalah sesuatu yang “ter-” atau dalam bahasa Inggrisnya supreme. Di dunia ini kita temukan bahwa ada sebuah tatanan tingkatan-tingkatan. Ada beberapa being yang dapat kita tentukan sebagai sesuatu yang bersifat lebih atau kurang. Misalnya saja ada hal yang dapat kita kategorisasikan sebagai sesuatu yang lebih benar ada yang lebih kurang dan sebagainya.

Tingkatan-tingkatan ini mau mengindikasikan bahwa harus ada tingkatan yang tertinggi atau maksimum. Aristoteles dalam bukunya metafisika, menjelaskan bahwa yang tertinggi atau maksimum itu adalah sebuah genus yang menyebabkan genus yang lain. Karena itu perlu ada sesuatu yang “ter-” untuk semua being. Dialah yang menjadi penyebab dari being, kebaikan dan kesempurnaan dari sifat-sifat yang lain. Inilah yang Thomas pahami sebagai Allah. Makanya kita sering menyebut Allah itu sebagai Allah yang “maha” dari semua sifat yang baik di dunia ini.  Dia adalah yang divine.

Yang kelima, Allah adalah pengatur tatanan dunia. Di dunia ini dapat kita lihat bahwa ada sebuah  keteraturan. Segala sesuatu di dunia ini bergerak dalam sebuah tatanan yang membawa mereka kepada sebuah tujuan. Semuanya itu bersifsat teratur terarah kepada tujuan tersebut. Segala sesuatu yang terjadi di dunia ini bukanlah sesuatu yang terjadi begitu saja tanpa alasan. Semua itu terjadi karena ada tujuan yang mau dicapai. Segala sesuatu yang kurang berintelek di dunia ini tidak dapat bergerak menuju tujuan, kecuali dia diarahkan oleh being yang mempunyai pengetahuan dan intelek untuk arahkan semua kepada tujuan mereka. Inilah yang Thomas sebut sebagai Allah.

Lalu, bagaimana manusia itu bisa menjalin sebuah persahabatan dengan pure spiritual being?

Menurut Thomas Aquinas satu-satunya jalan supaya manusia bisa berelasi dengan being yang pure spiritual adalah lewat inteleknya. Thomas menekankan bahwa intelek bukanlah jiwa. Intelek adalah salah satu kapasitas atau daya dari jiwa manusia. Kebersatuan jiwa dengan tubuh membuat pengetahuan manusia itu tidak sempurna. Yang dimaksudkan dengan ketidaksempurnaan di sini ialah bahwa pengetahuan yang didapat manusia di dunia materi ini bersifat accident. Maksud dari accident ini ialah bahwa pengetahuan manusia itu hanya sebatas pengalaman indera manusia. Selain itu pengetahuan manusia itu tidak lepas dari perubahan karena benda-benda material di dunia ini adalah obyek dari perubahan.

Image result for Thomas Aquinas, angelic

Baca juga :  Thomas Aquinas : Persahabatan yang baik adanya, Menguntungkan dan Menyenangkan

Ketidaksempurnaan pengetahuan manusia ini menjadi sebuah indikasi bahwa ada sebuah pengetahuan yang sempurna. Pengetahuan yang tidak bersifat accident tetapi absolut. Menurut Thomas, pengetahuan jenis ini tidak butuh pengetahuan dari indera manusia yang hanya mampu menangkap hal-hal material yang adalah objek dari perubahan itu sendiri.

Intelek manusia masih dalam tahap potensi menuju pengetahuan yang sesungguhnya (divine intellect). Ini adalah sebuah proses penyempurnaan pengetahuan yang dialami jiwa dengan dorongan dari inteleknya. Kesempurnaan jiwa adalah tujuan dari intelek manusia. Intelek membuat manusia itu menjadi satu-satunya ciptaan material yang paling berbeda dengan ciptaan material yang lainnya.

BACA JUGA :   Zaman Perbudakan Teknologi dan Informasi

Intelek itu bisa berada pada tahap potensi dan juga aktus. Semua ini tergantung dari hubungannya dengan universal being. Sebagai makhluk yang bertubuh atau bermateri, intelek manusia selalu berhubungan dengan hal-hal material yang terus berubah lewat pengalaman inderawinya. Namun pada tahap tertentu, manusia dapat mencapai pengetahuan metafisis. Pada tahap ini, intelek manusia mencapai pengetahuan bahwa ada hal-hal yang imaterial dan tetap, bahkan inteleknya tersebut dapat mencapai pada titik puncaknya yaitu divine being atau dengan bahasa lain the first mover yang kita kenal juga sebagai Allah.  Bagi Thomas, ini adalah titik kesempurnaan dari intelek manusia, karena pada tahap ini, intelek manusia mencapai tahap divine intellect yang mana di dalamnya semua being itu eksis secara originally dan virtually. Karena the divine being ini adalah the first cause.

Lalu bagaimanakah pure spiritual being itu bisa menjadi nyata bagi manusia? Ini adalah suatu hal yang penting untuk menghadirkan sosok dari pure spiritual being ini. Kehadirannya dapat memampukan manusia untuk mencintai atau dengan kata lain bersahabat dengan mereka. Kehadiran dan kontak antara manusia dan pure spiritual being dapat terjadi secara virtual. Kontak virtual ini dapat terjadi pada indera dalam manusia. Abstraksi dan imajinasi memegang peranan penting untuk proses ini. Imajinasi dan abstraksi mewujudnyatakan pure spiritual being kepada manusia. Pure spiritual being dijadikan seolah-olah bertubuh. Ini disebut juga sebagai tubuh yang diasumsikan (assumed body). Manusia membuat pure spiritual being itu menjadi nyata dengan menggambarkan figur-figur yang bisa diinderai kepada mereka. Dalam hal ini Aquinas  sangat menekankan bahwa tidak semua penggambaran figur-figur ini dapat diterima begitu saja. Jangan sampai kita bisa jatuh pada salah penafsiran akan sosok sesungguhnya pure spiritual being. Proses ini seperti “menganalogisasikan” pure spiritual being. Ada hal yang sama namun di sisi lain ada hal yang berbeda karena kita tidak bisa paham sepenuhnya sosok pure spiritual being tetapi kita tahu bahwa mereka sungguh-sungguh eksis.

Baca selanjutnya : Thomas Aquinas : Charity memampukan manusia untuk mencintai pure spiritual being

 

Oleh: Aloysius Luis Kung. Mahasiswa Fakultas Filsafat Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya. Dimuat atas kerjasama Jurnal WIWEKA, Nera Academia dan www.idenera.com. Artikel ini pernah dimuat di Jurnal WIWEKA Vol.6 Edisi Juni 2017. 

Daftar Bacaan :

Menjadi Manusia Belajar dari Aristoteles, Kanisius,Yogyakarta 2009, 3.

THOMAS AQUINAS, Commentary on Aristotle’s Nicomachean Ethics, diterjemahkan oleh C. I. Lizinger, Dumb Ox Books, Notre Dame 1964, 476.

Thomas Aquinas, Summa Theologiae, II-II, Quaestio 1 art. 3

 JAMES MCEVOY; “The Other as Oneself: Friendship and Love in the Thought of St. Thomas Aquinas”, dalam James McEvoy dan Michael Dunne (eds.), Thomas Aquinas; Approaches to Truth,  Four Courts Press, Dublin 2002, 18.

 ARISTOTLE, Nicomachean Ethics 1.1.1.

 ETIENNE GILSON, The Christian Philosophy of  St. Thomas Aquinas, University of  Norte Dame Press, Norte Dame 2006, 256.

ROBERT MINER, Thomas Aquinas on the Passion, Cambridge University Press, Cambridge 2010,116.

Please share,