HomeREFLEKSIFILMVantage Point: Menakar Gerakan Makar “12:00”

Vantage Point: Menakar Gerakan Makar “12:00”

FILM NARASI REFLEKSI 0 2 likes 240 views

Di sebuah podium, seorang lelaki tiba-tiba tergeletak, tertembak. Dan sesaat, sebuah bom meletup menghancukan podium dan membunuh orang-orang yang ada di sekitarnya. Terjadi kekacauan, massa panik dan tak ada yang tahu tentang apa yang sebenarnya terjadi.

Sampai seorang pengawal presiden menyadari bahwa ada sesuatu yang tak beres. Sesaat sebelum ledakan, melalui rekaman yang berasal dari video VCR, seorang lelaki kulit hitam melihat fakta beberapa kejanggalan sebelum “bencana” itu terjadi.

Vantage Point, sebuah film besutan Pete Travis, berkisah tentang jalinan konspirasi pembunuhan presiden Amerika Serikat yang berlatar Salamanca, Spanyol. Secara teknis, film ini menggunakan teknik flashback di mana setiap adegan tak tersaji secara berurutan. Film ini terdiri dari tiga narasi yang masing-masing mengandung sudut pandang yang berbeda. Narasi pertama adalah narasi dari sudut pandang seorang jurnalis. Narasi kedua dari sudut pandang seorang paspampres, Agen Barnes. Narasi ketiga berdasarkan sudut padang seorang polisi Italia. Dan yang keempat adalah sudut padang sang master mind aksi tersebut. Empat narasi itu memperlihatkan peristiwa yang sama: penculikan Presiden Amerika Serikat,

Ada yang menarik dari beberapa adegan dalam film ini, lima adegan berbeda (ruang) tapi dalam satu waktu. Pada menit 01.30, 22.33, 30.39, 42.54, 51.55, tiba-tiba pada layar terhidang sebuah angka waktu: “12.00.” Adegan yang terjadi di masing-masing menit itu adalah momen mejelang penembakan dan letupan bom: suasana dalam sebuah studio TV yang mempersiapkan liputan di lapangan, sepasang kekasih yang berselisih, seorang pelancong yang merekam gadis-gadis kecil yang tengah bertabur senyum, presiden yang mendapatkan informasi dari stafnya soal akan adanya aksi teror, dan seorang gadis yang berbalas senyum dengan seorang teroris di sebuah restoran. Sangat keseharian, sangat manusiawi—seperti tak nyana apabila beberapa menit kemudian sebuah senapan meletup dan bom meledak.

Barangkali, secara semiotis, lima adegan dalam satu waktu inilah yang menjadi core darifilm produksi 1998 itu. Sang presiden dan jajarannya sudah tahu bahwa akan terjadi sebuah aksi terorisme. Tapi the show must go on, sang presiden kudu tampil di depan publik, dengan seorang duplikat, seperti di masa Reagan dahulu. Menurut informasi intelijen, kelompok teroris itu punya afiliasi dengan kelompok Mujahidin di Maroko. Jadi, mereka bukanlah bagian dari gerakan separatis Spanyol: ETA. Bagaimana sebuah jaringan, strategi, dan aksi terorisme terjalin secara rapi adalah bagian yang menarik dalam film ini. Saking rapinya, terkadang imajinasi kami menghubungkannya pula dengan sebentuk aksi makar yang perlu membentuk habitat terlebih dahulu sebelum eksekusi dijalankan—meski kami tahu bahwa film itu hanya menyajikan sebentuk aksi terorisme minus makar, tapi film itu bagi kami adalah sebuah open text yang memberi ruang untuk berbagai penafsiran, termasuk bagaimana sebuah makar ditatakan dan teror dilakukan. 

Tentu, tak sekejap mata peristiwa itu diciptakan, seperti riot yang biasanya menuntut spontanitas. Paling tidak, ada ideologisasi yang terbangun secara diam dan massif. Bagaimana seorang aparat negara, jurnalis, atau tenaga-tenaga medis, sampai ikut terlibat dalam aksi terorisme adalah membuktikan tesis itu. Ada habitat yang terbentuk terlebih dahulu, ada kubangan air, tempat di mana ikan-ikan dapat berenang dan menyelam.

BACA JUGA :   Hari Anak Nasional : Anak-anak Berhak Bahagia

Narasi Vantage Point

Vantange Point dilatarbelakangi peristiwa bersejarah pertemuan antara 150 negara dunia Arab dan Barat yang diadakan di Plaza Mayor, Salamanca, Spanyol. Pertemuan tersebut adalah pertemuan diplomatik untuk menandatangani strategi penanggulangan terorisme. Sejak peristiwa 11 September, lebih dari 4500 orang terbunuh selama munculnya terorisme global.

Kekacauan diawali dengan ditembaknya Presiden Amerika Serikat, Harry Asthon, oleh seorang sniper misterius saat hendak berpidato di atas podium. Kekacauan tersebut diikuti dua ledakan. Ledakan pertama terjadi di hotel tempat delegasi Amerika menginap dan ledakan kedua terjadi di podium itu sendiri.

Tak ada seorang pun mengetahui, sampai seorang pasukan pengawal presiden, Thomas Barnes, mulai melihat berbagai kejanggalan dalam peristiwa tersebut. Melalui hasil rekaman stasiun TV ia menemukan fakta bahwa rekan satuan pengamanannya, Kent Taylor, melakukan “penghianatan”. Ternyata diketahui bahwa Taylor telah menjadi bagian dari kelompok teroris yang memiliki afiliasi dengan Mujahidin di Maroko.

Kelompok teroris tersebut mengetahui bahwa presiden Asthon yang asli berada di hotel, sementara yang di podium adalah duplikatnya. Mereka mengatur strategi sedemikian rupa untuk mengacaukan keadaan, sehingga rencana penculikan presiden Amerika Serikat tersebut dapat terlaksana. Menyadari bahwa rekannya telah berkhianat, terjadi aksi kejar-kejaran antara Barnes dan Taylor, hingga pada akhirnya Barnes menemukan fakta bahwa Presiden Asthon yang asli diculik dan masih hidup. Di akhir film, Barnes behasil menyelamatkan sang presiden.

Menguak Jaringan, Strategi, dan Aksi Makar “12.00”

Jika kita melongok kisah dari film Vantage Point, kita dapat melihat secara gamblang representasi teror sekelompok teroris yang melibatkan pihak aparat. Pertama, mereka mamanfaatkan lingkaran dalam sistem kepresidenan, yaitu Taylor sebagai salah satu pasukan pengaman inti Presiden. Taylor tentu tahu banyak bagaimana mekanisme pengamanan Presiden Asthon. Kedua, Kelompok teroris memanfaatkan bekas tentara terlatih bernama Javier melakukan penculikan presiden yang asli yang berada di Hotel. Ketiga, mereka juga memanfaatkan lingkaran dalam keamanan kepolisian, agar dapat memasukkan bom yang akan meledak di podium Plaza Mayor.

Selain Aparat, jaringan teroris dalam film Vantage Point memanfaatkan pula orang-orang sipil. Terdapat dua orang sipil yang muncul sebagai bagian dari jaringan mereka. Pertama, resepsionis hotel tempat di mana anggota delegasi Amerika menginap. Kedua, seorang kamerawan stasiun televisi GNN. Mereka semua berafiliasi dengan kelompok teroris yang dipimpin oleh Suarez di mana di lapangan mereka tersambung melalui alat komunikasi.

Enrique adalah seorang mayor polisi yang terlibat asmara dengan Veronica, ia tak menyadari bahwa kisah asmara tersebut merupakan cara yang dipakai oleh kelompok teroris untuk meloloskan agenda mereka. Polisi tersebut dimanfaatkan karena aksesnya yang mudah, ia memperoleh keistemewaan untuk tak diperiksa menggunakan mesin detektor karena senjata resmi yang ia pakai. Saat itu, ia tak sadar bahwa tas titipan kekasihnya, Veronica, berisi bom.

BACA JUGA :   Thomas Aquinas : Ada beberapa karakteristik dari persahabatan

Proses mempersiapkan aksi terorisme dalam film itu tak terjadi secara sekejap, seperti kisah Bandung Bondowoso yang membangun seribu candi dalam waktu semalam. Peran penting Suarez sebagai sutradara dari penyerangan Plaza Mayor diperlihatkan melalui beberapa adegan yang memperlihatkan dirinya mengontrol sebagian besar aksi dari jarak jauh melalui handphone.

Dalam peristiwa penembakan kembaran presiden Asthon terlihat bagaimana Suarez menembakan senjata dengan menggunakan remot kontrol dari jarak jauh. Dengan kata lain, aksi terorisme tersebut tidak dilakukan melalui jarak dekat, tetapi memanfaatkan jaringan alat komunikasi. Peran sentral Suarez yang memanfaatkan alat komunikasi dalam lingkaran aksi tersebut terlihat pada saat seorang resepsionis meledakan tubuhnya di lobi hotel. Sebelum meledakkan diri, ia menerima SMS dari Suarez yang berbunyi “MAKE US PROUD”. Pesan singkat itu berasal dari Suarez.

Dalam kasus Javier, Suarez mengontrol tentara tersebut dengan aksi penculikan kepada saudara lelakinya. Ia mengancam tentara tersebut jika ia tak menculik sang Presiden, maka saudara lelakinya akan ia bunuh. Meskipun si tentara telah melaksakan perintah, Suares tetap membunuh saudara Javier karena ia sendiri berniat menghabisi Javier di akhir aksi nanti.

Institusi sipil lain yang digunakan adalah Rumah Sakit dengan simbolisasi mobil ambulans yang digunakan para teroris untuk membawa presiden yang asli. Ambulans adalah kendaraan dari institusi kesehatan di mana dalam keadaan darurat, lingkaran medis selalu mendapat akses bebas dan jarang diperiksa secara ketat. 

Kekuatan Visual Membongkar Aksi Terorisme

Film Vantage Point memperlihatkkan pentingnya peran media visual mengungkap fakta terjadinya proses aksi terorisme. Terdapat dua subjek penting: pertama, melalui representasi stasiun televisi GNN dan keberadaan kamerawan. Kedua, adalah kamera VCR yang dibawa seorang lelaki berkulit hitam bernama Sam. 

Terbongkarnya pengkhianatan terhadap negara dalam film diawali saat Barnes berada di dalam  stasiun televisi mini GNN. Ia melihat Taylor yang berpakaian polisi sipil berjalan melintasi kamera sambil menjinjing tas hitam.  Barnes menyadari ketakberesan Taylor, sebab beberapa menit sebelumnya, rekannya itu masih menggunakan pakaian tugas kepresidenan. Seketika itu juga Barnes menyadari bahwa rekannya merupakan bagian dari jaringan kelompok teroris.

Barnes juga merupakan satu-satunya staf pengawal presiden yang menyadari kejanggalan dalam peristiwa itu. Melalui rekaman video rekaman VCR seorang warganegara Amerika yang bernama Sam, Barnes menemukan fakta bahwa penembakan berasal dari sebuah jendela di sebuah gedung. Melalui Rekaman itu pula ia melihat seorang perempuan Spanyol membuang tas ke bawah panggung, yang kemudian diketahui sebagai bom.

Kemampuan berdasarkan insting Barnes yang telah dilatih secara militeristik melalui program intelijen membuatnya jeli dan cekatan dalam mengolah berbagai data. Ia mencocokkan bermacam gambar image peristiwa hingga membentuk suatu pola. Dengan kata lain, ingatan Barnes yang tajam membuat ia bisa mengingat berbagai keanehan citra visual yang terjadi di sekitarnya.

BACA JUGA :   Emmanuel Levinas : Wajah sesamaku mengatakan terimalah aku, jangan membunuh aku

Presiden Asthon Sebagai Representasi Dari Kekuasaan Negara

Presiden Asthon adalah representasi dari kekuasaan tertinggi negara Amerika Serikat. Penembakan kembaran Presiden serta usaha penculikannya dapat dikategorikan bukan hanya tindakan terorisme semata, melainkan juga sebuah upaya untuk menganggu ketertiban umum dan keamanan negara. Dengan kata- lain, ancaman kepada kepala negara merupakan ancaman bagi negara itu sendiri.

Saat Presiden Asthon dalam perjalanan, arak-arakanya dihentikan karena laporan dari NSA dan staf kepresidenan bahwa ancaman teror terhadap sang presiden benar-benar terjadi. Laporan Phill kepada Presiden, bahwa ada kelompok setempat yang memiliki hubungan terselubung dengan laskar Mujahidin di Maroko, yang notabene merupakan organisasi teroris yang berlabel agama. Beberapa minggu sebelumnya angkatan bersenjata Amerika Serikat menyingkap alur penyelundupan Bom ke Maroko yang digagalkan oleh pihak militer Amerika. Peristiwa tersebut diperkirakan dapat memungkinkan mereka membuat aksi balasan.

Suatu tindakan dapat disebut makar jika kejahatan ditujukan kepada pimpinan sebuah negara atau lambang-lambang negara lainnya. Dalam sistem pemerintahan presidensiil, presiden memiliki kedudukan tertinggi sebagai kepala negara sekaligus lambang negara. Berdasarkan hal tersebut, maka apa yang dilakukan oleh para teroris dalam film Vantage Point adalah mencoba melemahkan kekuasaan Amerika Serikat dengan jalan melancarkan teror kepanya. Pada peristiwa Plaza Mayor, Presiden Asthon hadir sebagai bagian dari otoritas penandatanganan strategi sistem pertahanan dan perdamaian antara dunia Barat dan Arab. Momen tersebut dimanfaatkan para teroris untuk menggoyang proses perdamaian yang akan berlangsung.

Logika Aksi Terorisme

Logika aksi terorisme dalam Vantage Point kami sebut sebagai logika makar karena melibatkan berbagai macam institusi: aparat milter, satuan pengamanan presiden sendiri, kepolisian, kantor berita GNN, instansi kesehatan, dst. Oleh karena itu, tepatlah aksi terorisme tersebut kami sebut sebagai makar yang sifatnya terencana rapi, sistematis, dan terstruktur. Paling tidak, jaringan terorisme tersebut memerlukan adanya habitat di mana ideologisasi merupakan syarat mutlaknya.

Tumbuh-kembangnya jaringan terorisme tergantung pada dua hal mendasar: ideologi dan habitat. Jaringan (network) berbeda dengan habitat. Jaringan itu ibarat pola interaksi antar ikan dan habitat adalah air yang memungkinkan interaksi itu berlangsung.

Selama habitat ada, meski satu jaringan dengan jaringan lainnya tak tersambung secara rapi dan gamblang, bahkan terputus, tumbuh-kembangnya sangatlah gampang—patah tumbuh hilang berganti. Laskar Mujahidin di Maroko merupakan representasi dari ideologi.

Taylor dan Enrique (abdi negara), sang resepsionis (hotel), kamerawan (media massa), dan ambulans (tenaga medis), adalah jaringan. Adapun (waktu) “12.00”—kecemburuan Enrique pada Veronica, tatapan mata Veronica dan Suarez, kemarahan ekspresif Javier pada Veronica, balas senyum humanis Suarez pada si gadis kecil pembeli es krim, tawa lepas gadis-gadis kecil yang terekam kamera si pelancong (Sam)—adalah habitatnya.

Dengan demikian, keseluruhan peristiwa teror dan chaos yang terjadi tak semata sebuah upaya pembunuhan sang kepala negara, melainkan juga sebuah upaya untuk mengubah struktur negara yang sudah didahului oleh pengubahan habitat yang acap terlupa terlebih dahulu, yang sudah terbangun dalam dan secara diam. Tampaknya, ideologi adalah hal yang sudah selesai bagi Vantage Point, sehingga dalam adegan pungkasan, dengan terbatas, Taylor si agen pengkhianat berkata: “Kalian tidak bisa menghentikan kami. Kalian tidak pernah menghentikannya. Perang ini tidak akan pernah berakhir.”

Oleh : Heru Harjo Hutomo /penulis, peneliti lepas, perupa, dan pemerhati terorisme) dan Silvia Ajeng Dewanthi/ peneliti sosial dan sejarah

Please share,