HomeREFLEKSIDISKUSIMembenci Kasih Sayang dan Memuja Perang
Vahoaxtine

Membenci Kasih Sayang dan Memuja Perang

0 750 views share

Benci dan perang bisa jadi narasi yang paling dominan mengisi  akal budi.  Bagaimana tidak  mitos, dongeng, film, buku sejarah bahkan kitab suci agama-agama berisi cerita perang, kebencian dan pembunuhan.  Saya seorang penganut katolik dan pada kitab suci Perjanjian Lama mudah saja ditemui kisah pembunuhan, konflik dan peperangan.

 

Bagaimana dengan narasi kasih sayang dan cinta?  Kisah Rama dan Shinta bagi saya jadi salah satu narasi cinta dan kasih yang monumental.  Seperti halnya pada Kitab Hindu, juga pada situs seperti candi banyak melukiskan cerita cinta.  Kitab Mazmur, Kidung Agung dan Perjanjian Baru bagi penganut Katolik dan Kristen jadi bagian penting teks tentang cinta dan kasih.

Serat Centhini atau dalam judul aslinya Suluk Tembangraras menarasikan perjalanan cinta yang indah. Juga bagi pecinta Khalil Gibran, Shakespeare dan puisi Sapardi Djoko Darmono kata cinta, sayang dan kasih berulang-ulang disebutkan.

BACA JUGA :   Seksisme dan Bias Gender di Ruang Redaksi

Berbalik ketika baca buku pelajaran sejarah yang isinya perang, konflik, pengkianatan dan perang lagi. Bahkan buku Sejarah Indonesia Modern 1200-2004 karya M.C. Ricklefs,  dari bab pertama hingga akhir tidak ada sama sekali “kejadian” percintaan.

Imajinasi tentang Bung Karno yang romantis, Hatta yang puitis tidak ada diteks sejarah. Para penulis sejarah mungkin mau mengamalkan “ bunga cinta racun perang”. Jadilah saya miskin narasi dan imajinasi cinta dan kasih sayang sejak sekolah dasar.

Tidak heran bila “ menolak valentine” dengan alasan maksiat, mesum dan produk asing dianggap sahih dan patut dipaksakan.  “Valentine adalah maksiat berkedok kasih sayang” begitu kata Wendi, Kordinator Aksi Menolak Valentine di Bogor seperti yang dilansir  http://m.liputan6.com/news/read/2855293/tolak-valentine-mahasiswa-bogor-sebut-cokelat-simbol-kemaksiatan .

“Cinta jadi sama dengan hubungan seksual”; ”Cinta sama dengan maksiat”; ”Cokelat dianggap sebagai simbol kasih sayang, padahal indentik dengan kemaksiatan”.  Adalah sedikit pernyataan yang menunjukan miskinnya imajinasi dan narasi tentang cinta dan kasih sayang.

BACA JUGA :   Merayakan Valentine dengan Hoax

“Valentine tidak boleh dirayakan karena produk asing dan bukan budaya kita ” begitu bunyi surat edaran kepala daerah yang beredar di social media.  Ariel Heryanto dalam artikel  “Tanggapan Kritis  Terhadap Valentine’s Day “ di koran  Suara Merdeka (17/04/1988)  menuliskan “ Menolak segala yang berasal dari luar Indoneisa sebagai “ anasionalis” adalah mustahil. Nasionalisme sendiri merupakan suatu tradisi yang di impor dari negeri asing. Juga agama-agama besar yang dianut di Indonesia tidak berasal dari nusantara”.

Menolak valentine dengan alasan budaya asing rasanya kurang tepat.  Agama, demokrasi dan HAM adalah konsep asing yang dalam minus malum-nya  dianut dan diterima. Narasi Valentine adalah cinta dan kasih sayang kepada sesama dan lingkungan. Kalau baik bagi manusia dan kemanusiaan, kenapa ditolak.

BACA JUGA :   Curhat Sang Mantan

Bila “dampak buruk” seperti seks bebas pada remaja dilekatkan begitu saja pada perayaan Valentine, justru menunjukan rendah dan miskinnya pengajaran cinta dan kasih sayang. Artinya generasi tua, agama dan sekolah gagal mengajarkan dan membumikan cinta dan kasih sayang pada anak dan remaja.  “Masalahnya di otak anda, bukan pada subyeknya” begitu kata seorang teman.

Valentine perlu dirayakan.  Narasi kasih sayang dan cinta perlu dimasalkan karena cinta dan kasih sayang adalah antitesis dari kekerasan, fitnah dan kebencian.  Kecuali bila kita memuja perang dan menganut kekejaman.

Mari merayakan Hari Kasih sayang,  Kalau tidak ada coklat, Kopi, gorengan dan sate usus juga enak dan romantis….

Make Love, Not War, Berbagai Cinta bukan berbagi Fitnah.

Please share,