HomeAKSIPeluncuran Buku “Merawat Ingatan Merajut Kemanusiaan” Menandai Peringatan Satu Tahun Bom Surabaya

Peluncuran Buku “Merawat Ingatan Merajut Kemanusiaan” Menandai Peringatan Satu Tahun Bom Surabaya

AKSI KOMUNITAS LIPUTAN 0 2 likes 148 views

Senin 13/05/2019, bertepatan dengan peringatan satu tahun peristiwa Bom Surabaya, Idenera.com meluncurkan buku “Merawat Ingatan Merajut Kemanusiaan”.

Peluncuran buku ini diselenggarakan di teras perpustakaan Gerera Katolik Santa Maria Tak Bercela (SMTB) Surabaya. Peluncuran buku ini jadi satu rangkaian dalam peringatan peristiwa 13 mei 2018 yang dipusatkan di Gereja SMTB Ngagel, Surabaya.

Buku “Merawat Ingatan Merajut Kemanusiaan” merupakan kumpulan tulisan refleksi dan pengalaman; baik dari korban langsung dan juga dari masyarakat yang terlibat dalam gerakan solidaritas #SurabayaWani.  Ada 40 tulisan dalam buku yang diusahakan secara swadaya dan gotong-royong ini.

Andre Yuris, dari Idenera.com sebagai penerbit , mengatakan buku ini  sebagai media dokumentasi ingatan, cerita, pengalaman, refleksi iman dan refleksi kritis atas peristiwa yang mengguncang kota Surabaya kala itu.

“Buku ini diterbitkan, bukan untuk mengorek luka; namun untuk mengingat, merangsang akal dan nurani agar kita dimampukan untuk menemukan serta menghidupi nilai-nilai yang menggerakkan kita semua untuk bersolidaritas” kata Andre Yuris.

BACA JUGA :   Romo Widyawan : Ampunilah Para Pelaku, Karena Mereka Juga Menjadi Korban Seperti Kita
Indra, Vokalis Suara Marabahaya membawakan lagu-lagu dengan tema kemanusiaan. Foto : @timurbercerita

Peluncuran buku dikemas dalam diskusi yang menghadirkan  Fatkhul Khoir dari KontraS Surabaya dan Bagus Haryono, Dosen Sastra Universitas Dr. Soetomo Surabaya. Kedua pembicara ini juga ikut menulis dalam buku ini.

Fatur Khoir, yang biasa disapa Mas Juir menceritakan pengalaman KontraS dalam pendampingan korban dan pelaku tindak pidana terorisme.

“Kita harus mengapresiasi kerja penindakan yang dilakukan Densus 88 Polri. Paska peristiwa itu ada sekitar  40 terduga teroris yang ditangkap. Ini menunjukan penindakan sudah cukup baik. Namun di sisi lain, upaya pencegahan harus dievaluasi agar jadi lebih baik lagi” kata Fatur Khoir.

Berdasarkan analisa KontraS, setidaknya ada tiga hal yang seharusnya menjadi fokus perhatian pemerintah dan pemangku kebijakan dalam peristiwa dan kasus terorisme.

BACA JUGA :   Undangan menulis esai : Membongkar Rezim Fanatisme

Pertama, pemerintah perlu segera merumuskan kebijakan pola penangan korban tindak pidana terorisme, sebagaimana telah diatur dalam ketentuan undang-undang tindak pidana terorisme. Harus jelas apa dan siapa leading sector-nya. Kedua pemerintah perlu meningkatkan kapasitas lembaga dan personil yang terlibat dalam penanganan korban terorisme. Ketiga, Pemerintah perlu merancang dan menerapkan Early Warning System terutama di daerah yang rawan  untuk mendeteksi dan mencegah segala bentuk ancaman kekerasan dan terorisme” jelas Fatul Khoir.

Sementara itu, Bagus Hariyono menyingung sejarah panjang perkembangan Islam di Jawa. Terutama bagaimana para cendikawan muslim pada era 70an belajar dan mengajar tentang Islam yang dirasa sangat berbeda dengan generasi 2000an yang memilih cara instan untuk belajar Islam.

Yoseph Sintar, audiens yang ikut hadir memberikan pertanyaan pada narasumber dalam sesi diskusi. Foto : @timurbercerita

“Berkembangnya radikalisme dan fundamentalisme khususnya dikalangan umat Islam, tidak lepas dari pendidikan dan pengajaran Islam. Bila dahulu kita belajar kitab kuning di pesantren dan diajar oleh sarjana Islam yang belajar hingga Saudi dan Mesir,  generasi sekarang belajar Islam dari Syekh Youtube” kata Bagus.

BACA JUGA :   Kampung Ilmu, Jalan Semarang

Menurutnya, disemua agama ada potensi radikalisme dan fundamentalisme. Fenomenanya kurang lebih sama, yaitu ditandai dengan lahirnya generasi yang tidak mendalam pengetahuan agamanya namun bertindak seolah-olah paling ahli.

“Bila ada bantahan terkait pemahamannya, mereka cenderung menggunakan kekerasan karena tidak mampu berpikir panjang dan menjelaskannya dengan baik. Sangat berbeda bila kita melihat tradisi dan sikap generasi yang belajar di pesantren NU dan Muhamadiyah” jelas Bagus.

Suster Wiwik, saksi peristiwa 13 Mei 2018 yang juga ikut menulis dalam buku ini menbagikan refleksinya. Foto : @timurbercerita

Diskusi  yang dihadiri kurang lebih  100 peserta ini juga diisi dengan sharing dari Demonda dan Suster Wiwik yang jadi saksi peritiwa itu setahun lalu. Keduanya juga ikut menulis dalam buku ini.

Kegiatan Ngaburit, Prelauncing Buku dan Diskusi Merawat Ingatan Merajut Kemanusiaan; ditutup dengan buka puasa bersama yang disediakan pengurus Gereja Katolik SMTB. Pada malam harinya, diselenggarakan Misa Peringatan 13 Mei dan silahturami lintas iman.

Hosting Unlimited Indonesia
Please share,