Heru Harjo

Gara-Gara Nico (II)

CERITA PENDEK SASTRA 0 0 likes 181 views

Pada hari minggu pagi seperti ini biasanya jalanan Karang Kadhempel riuh dipenuhi lalu-lalang orang yang ingin pelesiran ke jantung kota. Tak terkecuali para panakawan.

Galibnya, mereka berkumpul terlebih dahulu di rumah Semar. Lantas bergegas bersama ke Amarta untuk temu-kangen dan menghibur para bendara-nya. Rumah Semar itu jauh dari segala bentuk kemewahan. Pekarangannya tak begitu jembar namun asri. Dan tampaklah di sana Bagong yang sedang sibuk menjemur perkutut Bapaknya. Sesekali siulannya melengking melagukan sepatah melodi dalam laras slendro barang miring.

Sebagai anak bungsu yang kebetulan masih bujang, Bagong tak pula luput dari aturan tak tertulis: menjaga prabon dan menemani Bapak Semar. Tak jauh beda dengan Gareng, sejak setahun lalu Bagong juga memiliki profesi sampingan: penyair. Puisi, cerpen dan esai-esai kebudayannya kerap menghiasi berbagai koran di Amarta. Bahkan antologi puisinya pun pernah diterbitkan penerbit Kendalisada Press, yang disuntingi seorang sastrawan-sufi kondang: Begawan Hanoman, S.S. Demikian pula Semar, orang tua bertubuh tambun itu kini juga merangkap menjadi motivator tenar di Amarta. Sepekan sekali ia terlihat menyemburkan pitutur-pitutur luhurnya di Sonyaruri TV, mengasuh sebuah program yang bernama Ismaya’s Self-Motivation. Sedangkan Petruk rupanya lebih memilih menjadi pendiri sekaligus pengajar di Sekolah Tinggi Filsafat Karang Tumaritis (STFKT).

Meskipun keempat orang itu memiliki profesi sampingan yang menjanjikan, tetapi sama sekali tak terbetik niat mereka untuk meninggalkan profesi lamanya sebagai punakawan Pandawa. Maklum, bagi mereka menjadi punakawan tak sekedar menjadi gedibal penghibur belaka. Menjadi panakawan adalah juga sebuah lelaku yang harus dijalani secara tulus dan istiqamah.

Dengan suara sember namun ngangeni, Bagong pun nyekar sebait syair Megatruh rajutan bhudjangga Ranggawarsita: “Tinemune wong ngantuk anemu kethuk | Malenuk samargi-margi | Mulane bungah kang nemu | Marga jroning kethuk isi | Kencana sesotya abyor.

BACA JUGA :   Kegilaan Hidup dalam Veronika Decide to Die

Namun, belum lagi menghirup nafas, sontak Gareng datang dengan melemparkan koran yang dibawanya ke muka Bagong yang bundar dan lebar itu. “Gedibal elek! Kau ini punya nalar apa tidak, Gong?”

Yang di-uneni njenggelek. “Lho, sabar dulu, Mas Bro. Onok opo to iki?

“Tak usah banyak rembug. Ini tulisanmu, kan?”

“O, iya-e. Bagus tidak?” sahut Bagong seolah tak berdosa.

“Bagus dengkulmu sowak!

“Lho, kau ini kenapa sih, Reng? Isterimu dibawa lari orang atau gimana?”

Lambemu ndower!

“Reng, kok lambe-ku kamu sebut-sebut ini ada apa? Salahku apa?”

“Rupanya kamu telah kehabisan inspirasi!”

“Kehabisan inspirasi gimana?”

“Coba kau pelototi kembali tulisanmu yang ndak genah itu. Saat orang-orang ramai mengecam rokok, kamu malah melawan arus. Maumu itu apa sih, Wer? Cari sensasi? Biar kondang gitu? Mbagusi!

“Lho, bukankah beda pendapat adalah hal yang lumrah di alam demokrasi ini, Reng? Bukankah masing-masing orang telah dijamin oleh konstitusi negara kita untuk menyuarakan pikiran-pikirannya? Lalu kenapa kamu sewot. Kamu mau menang sendiri? Emangnya negara ini punyanya mbokmu apa?!”

BACA JUGA :   Mengenal Wiji Thukul, Penyair Yang Ditakuti Orde Baru

E.., mbokku itu kan juga mbokmu, Wer?! Ini bukan masalah demokrasi atau bukan. Tapi etika dan niat baik akan kebersamaan. Ketika banyak orang Amarta ramai mengecam rokok dengan alasan demi kesehatan bersama, lantas apakah etis kamu malah membela penggunaan rokok dengan alasan-alasan yang sejatinya murni pribadi, sepenuhnya demi kepuasanmu sendiri?”

“Ah, peduli setan! Kamu itu pemimpi, Reng. Utopis. Tak realistis. Mimpimu akan dunia yang tak sakit dan tercemar itu hanya akan kamu jumpai di surga. Ingat, kamu ini hidup di dunia fana. Sudah menjadi tabiat dunia bahwa ia tak bisa mengelak dari adanya sakit dan pencemaran. Sehat dan sakit, suci dan tercemar, semua itu ibarat siang dan malam, Reng. Camkan fakta ini. Just be realistic!

“Gong, pembatasan rokok itu tak sekedar dilihat dari faktor kesehatan. Tapi juga ekonomi. Selain berbahaya bagi kesehatan, merokok itu juga menghambur-hamburkan uang. Makanya, atas dasar perhitungan ekonomis dan kesehatan itulah agama pun memubahkannya, atau malah ada yang mengharamkannya. Dan menurutku, sekalian saja rokok itu diharamkan. Sebab sudah jelas, tak ada sedikit pun manfaat yang bisa dipetik darinya.”

“Reng, kamu ini ngaco! Terlalu dibutakan logika ekonomi. Bahwa merokok itu boros, merugikan seseorang secara ekonomis, hanya benar secara teoritis. Tapi dalam kenyataannya tidak seperti itu. Pernahkah selama ini kamu mendengar ada orang yang jatuh miskin gara-gara rokok?”

Gareng seolah tak menggubris bantahan-bantahan Bagong. Dengan ketus ia memuntahkan makiannya. “Rembugan sama wong tolol yang keminter. Bisanya cuma ngeyel. Wer, Ndower!”

BACA JUGA :   Gara-Gara Nico (1)

“Begitu pula aku. Sungguh sia-sia belaka bicara sama tukang khayal yang dungu kayak kamu. Kle, Tekle!

“Wah, bedebah! Kenapa kamu mencibirku pincang?!”

“Kenapa pula kamu mengatai bibirku njeber?!

“Bukankah lambemu memang ndower?!

“Dan bukankah kakimu memang tekle?!

“Dasar ndower!

“Dasar tekle!

Ndower…!

Tekle…!

Ndower…!

Tekle…!

“Kamu berani sama aku?!”

Opo kang dakwedeni!”

Perkelahian tak terelakkan. Dengan sigap Gareng meloncat menubruk Bagong. Namun berhubung tubuh Bagong berukuran dua kali lipat dari tubuhnya, Gareng hanya nangkring di leher Bagong. Akhirnya tampak seperti tas rangsel yang terpasang terbalik. Sejurus kemudian, dengan gampangnya Bagong merebahkan tubuh Gareng ke tanah dengan tubuhnya sendiri mengangkangi tubuh Gareng yang mini itu. Leher Gareng di-tekek-nya. Tapi Gareng tak pula kehabisan akal. Dengan cekatan tangannya yang ceko itu dapat meraih selangkangan Bagong….

Terik semakin menyengat. Debu mengepul berhamburan. Karang Kadhempel geger. Orang-orang serentak berteriak. “Lontong, eh.., tolong…! Ada yang gelutan!” Dan tiba-tiba saja kedua saudara itu berakhir sampyuh. Gareng mengerang. Bagong mengaduh. Mereka tergolek. Kelenger….

Di kejauhan terlihat Petruk ringan berjalan. “E, la dalah. Wahik, colohok condholo kuwuk watuk!” begitulah sambat sebut-nya ketika mengetahui kedua saudaranya saling banting. Ia pun gegas belari mendekati kedua tubuh yang rebah. Bukan untuk meratapi tentu saja. Tetapi untuk mengguyang mereka dengan air di gentong depan rumah.

“Byuurrrrrr…!!!”

“O, wedhus… Sialan kamu, Truk!” protes Gareng seraya bangkit merapikan diri.

Dengan sikapnya yang nujuprana, Petruk menimpali. “Lagian, kalian berdua ini piye to, sudah pada tua masih ribut melulu. Berkelahi lagi. Apa kata tetangga? Onok rembug dirembug. Reng, Gong, ayo ke pendapa sana, sekalian nunggu Kyai-ne. Ingat, hari ini kita mesti sowan ke Amarta.”

Bersambung : Gara-gara Nico (III)

Please share,

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *