HomeAKSICrezentiani Trinitas : Kok bisa ya? Dia mahasiswi psikologi, tetapi kok  lesbian?

Crezentiani Trinitas : Kok bisa ya? Dia mahasiswi psikologi, tetapi kok  lesbian?

AKSI DISKUSI MITRA KARYA PERSONA REFLEKSI 0 2 likes 1.2K views

Saat berjumpa dengan teman-teman LGBTQ (Lesbian, Gay, Bisexual, Transgender, Queer)  pada diskusi yang diselenggarakan Prajurit Pelangi Surabaya, saya mendapatkan pengalaman yang betul-betul baru. Belum pernah dijumpai dan terpikirkan selama hidup saya. Saya sebelumnya menganggap bahwa LBGTQ itu semuanya negatif bahkan buruk dari berbagai sisi.  Sharing pengalaman dari salah satu teman LGBTQ, menyadarkan saya bahwa LGBTQ itu tidak selamanya tentang hal-hal negatif.

Pada awalnya, saya sepenuhnya tidak  menerima keberadaan LGBTQ.  Bagi saya mereka membuat resah masyarakat. Berita-berita tentang LGBTQ, cukup meyakinkan saya bahwa mereka buruk bagi masyarakat. Namun ada pengalaman menarik  ketika  saya bertemu dengan adik kelas yang mengaku lesbian. Dia mahasiswi Fakultas Psikologi, saya satu kampus dengannya. Dia seorang cewek yang merasakan bahwa dirinya beda dengan orang lain. Saya pribadi menganggap adik kelas saya ini unik.

Kenapa? Dia mahasiswi psikologi, tetapi kok  lesbian? Dalam diri saya bertanya-bertanya , kok bisa ya?. Apa yang salah dengan anak ini?. Adakah faktor eksternal yang mempengaruhinya?”. Begitu kira-kita pandangan saya ketika bertemu dengannya. Apalagi kalau dia membawa buku psikologi tentang homo sexsual.

Hal itu membuat saya tambah penasaran. Akhirnya saya berusaha mencari jawabannya dengan membuat janji untuk bertemu. Syukurlah, dia ternyata terbuka untuk berdiskusi bersama saya dan teman-teman.

Pada hari Jumat (18.08.2017, bersama  teman-teman dari Sekolah Ansos (Analisa Sosial) yang diselenggarakan Nera Academia, kami bertemu dengannya di BG Junction Surabaya. Adik kelas saya ini, memperkenalkan dirinya dengan nama Jhon, di kampus dia juga dipanggil Jhon. Nama aslinya bukan Jhon. Walaupun agak canggung pada awalnya, teman-teman dari Sekolah Ansos 2017 kemudian larut dalam obrolan yang santai.

Sekolah Ansos

Minggu 13/08/2017, Partisipan Sekolah ANSOS (Analisa Sosial) 2017 menghadiri diskusi yang diselenggarakan oleh Prajurit Pelangi dan KPI (Koalisi Perempuan Indonesia dan GMKI di Pengampon Square Surabaya. Pembicara dalam diskusi antara lain Pdt. Andreas (GKI Darmo) dan Mbak Ndut, Aktivis Sosial. Foto : Idenera

Jhon menceritakan motivasinya kuliah di Fakultas Psikologi.  Ia bercita-cita menjadi Psikolog Seks, dan cita-citanya didukung oleh kedua orang tuanya. Ketika orang tuanya mengetahui cita-citanya, merekapun mulai memberikan edukasi seksual seperti making love, kissing dan sebagainya.  Pada saat itu , Jhon masih berusia tiga tahun.

“Kamu tidak apa-apa making love selagi secara hormon sudah matang dan ada konsekuensi saat melakukannya di luar nikah” kata orang tuanya suatu ketika kepada Jhon. Keluarganya memiliki background profesi dibidang klinis dan medis. Orang tuanyapun tidak pernah melarangnya untuk melihat film porno. Namun Jhon mengatakan, orang tuanya cukup baik menjelaskan bahwa “ Seksualitas merupakan kegiatan pro rekreasi  yang baik, namun tubuhmu yang masih kecil, jika melakukan hal seperti itu justru malah akan merusak tubuh”.

Orang tuanya juga menanamkan pengertian, bahwa tubuhmu adalah privasimu. Jadi, siapapun tidak boleh memegang tubuhmu. Bahkan, ketika dia sakit pun kedua orang tuanya tidak pernah menyentuhnya, hanya memberikan kain saja untuk mengompres tubuhnya. Ketika John masih kecil, dia juga tidak pernah mandi bersama dengan mamanya.

Jhon pernah merasa bergejolak ketika menyadari bahwa ia berbeda dengan teman-temannya waktu masih SMP (Sekolah Menengah Pertama). Ia berpacaran dengan cewek bisexual (red: orientasi seksual di mana seseorang tertarik baik kepada lawan jenis maupun sesama jenis). Ketika dia berpacaran, dia merasa bahwa pacarannya ini tidak sehat karena pacarnya suka main tangan sampai-sampai bekas pukulan itu masih membekas di mukanya. Saat itu ia ingin memutuskan pacarnya ini. Pacarnya tidak mau dan mengancam untuk bunuh diri.  Jhon pun bertahan karena berpikir bahwa dia masih SMP, dan tidak mau membuat konflik yang terlalu rumit. Saat memasuki SMA (Sekolah Menengah Atas), ia pindah ke Surabaya. Kontak pacarnya tersebut ia blokir.

Jujur saya akui bahwa jauh sebelum ini, sulit bagi saya menerima keberadaan LGBTQ.  Saya menganggap mereka aneh, upnormal dan menganggu masyarakat. Selama ini, asumsi saya tentang LGBT dibangun dari berita-berita media massa dan cerita-cerita orang. Pertemuan dengan Jhon, sedikit banyak meluluhkan asumsi saya. Ada yang tidak benar dan tidak berimbang dalam berita-berita tersebut. Bisa jadi berita-berita tersebutlah yang membuat resah, bukan teman-teman LGBT.  Walaupun dalam diskusi dengan aktivis LGBTQ, mereka mengakui masih ada diantara mereka yang “bertingkah” sehingga masyarakat resah.

Perjumpaan dan diskusi dengan komunitas Prajurit Pelangi, komunitas yang fokus mendampingi dan mengadvokasi isu LGBTQ,  membantu saya memahami dunia LGBTQ. Bahwa mereka yang kita anggap buruk atau berbeda tidaklah benar seutuhnya. Saya tidak berbeda dengan mereka, saya juga tidak lebih baik dari mereka. Kecurigaan bahkan permusuhan bermula dari asumsi tanpa bukti dan dari informasi yang salah.

Hasrat untuk belajar, mencari tahu, berjumpa dan berdiskusi sangat penting.  Dengan belajar, kita bisa menimba ilmu, membangun kesadaran baru bahkan kebiasaan baru (habitus baru) tentang cara merasa, berpikir dan berelasi dengan orang lain dalam masyarakat. Saya pun belajar banyak hal dari perjumpaan dengan teman-teman yang LGBTQ. Mari berjumpa dengan dia yang merupakan aku yang lain.

 

*Elizabeth Crezentiani Trinitas, Partisipan Sekolah ANSOS 2017. Mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Ciputra Surabaya. 

** Tulisan ini merupakan bagian dari proses sekolah Ansos, setiap partisipan menuliskan pengalaman perjumpaanya dengan komunitas belajar  yang kemudian menjadi sumber untuk pendalamam  materi-materi sekolah ansos. Atas persetujuan partsipan, tulisan-tulisan mereka akan dipublikasikan secara berkala di www.idenera.com

Please share,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *