HomeREFLEKSIDISKUSIOpresi Perempuan dalam Fenomena Operasi Plastik

Opresi Perempuan dalam Fenomena Operasi Plastik

DISKUSI FILSAFAT KEBUDAYAAN NARASI 0 2 likes 191 views

Harian Kompas 13 Oktober 2015, memuat berita tentang seorang fotografer dari Seoul, Korea Selatan, bernama Ji Yeo (29)  mengangkat operasi plastik dengan sudut pandang yang berbeda dan tidak dilihat banyak orang.  Ji Yeo tak mengambil foto wajah sebelum dan sesudah para wanita yang melakukan operasi plastik untuk perbandingan, seperti yang selama ini sering dilihat masyarakat. Ji Yeo justru mengambil foto ketika para wanita ini dalam kondisi penyembuhan pasca operasi. Fotografer ini mengambil foto para pasien pasca operasi yang sedang menjalani tahap penyembuhan tanpa didampingi pihak keluarga atau seorangpun. Sebagai gantinya, Ji Yeo menemani para wanita yang menjadi subjek fotonya melalui masa-masa sulit penyembuhan operasi plastik. Dia membiarkan mereka menginap di apartemennya, membantu mereka menebus obat, memasak sup, hingga menjadi supir ke klinik. Hasilnya, Ji Yeo memotret para pasien operasi plastik ini dari sisi yang belum diketahui oleh banyak orang. Karya fotografinya memperlihatkan para wanita ini dibalut perban dengan wajah yang murung dan penuh rasa sakit.

Baca juga : Driyarkara : Mengkritik, mengoreksi dan memperbaiki sosialitas preman

“Tentu saja ini tentang kulit, bobot tubuh, struktur tulang dan proporsi. Namun, lebih dari itu, ini adalah tentang berapa banyak yang dikorbankan wanita untuk mencari kesempurnaan. Aku tertarik pada residu visual dari pengorbanan itu sendiri, dan melihat perbedaan serta kesamaan kultural yang eksplisit,” ujar Ji Yeo.

Akhir-akhir ini Korea Selatan menjadi negara yang terkenal dengan “oplas”nya. Data dari international Society of Aesthetic Surgery (2010) menyebutkan bahwa Korea Selatan menempati urutan teratas dalam perilaku operasi plastiknya . Di Negeri K-Pop tersebut, setidaknya 131 dari 10.000 orang menjalani operasi plastik terutama para wanita. Berbagai prosedur operasi plastik dilakukan, mulai dari injeksi filler  hingga operasi besar seperti menciptakan bentuk dagu serupa huruf V atau V-line chin . Selain biaya yang cukup mahal, operasi ini mengandung resiko tinggi yaitu infeksi hingga cacat permanen. Prosesnya juga sangat menyakitkan terutama pasca operasi. Hal ini membuat penulis tertarik untuk mengkaji fenomena oplas. Apa yang membuat para perempuan Korea rela menderita demi mendapatkan bentuk wajah tertentu? apakah operasi plastik merupakan salah satu bentuk opresi perempuan?

operasi plastik

Iklan layanan operasi plastik. Foto : https://grandplastic.wordpress.com

Perempuan “Oplas” Sebagai Korban Wacana

Michel Foucault  dalam karyanya yang berjudul The Archeology of Knowledge mengatakan bahwa “Wacana tidaklah dengan berwibawa membentangkan manifestasi dari sebuah subjek yang berpikir, mengetahui, berbicara, tapi, sebalikya sebuah totalitas dimana penyebaran subyek dan diskontinuitasnya dengan sendirinya sendiri mungkin dideterminasi”  Kekuasaan itu menyebar, dan menciptakan cara berbicara, berpikir, serta menentukan tubuh yang boleh dan yang tidak boleh. Dari pandangan Foucault ini dapat dipahami bahwa suatu pengetahuan dan kekuasaan menentukan tubuh dan cara berpikir terhadap dan oleh perempuan, bagaimana dan strategi canggih apa yang kemudian diaffirmasi baik secara sadar maupun tidak oleh dan terhadap perempuan, terutama tubuhnya.

Baca juga : Superfacial ala Facebook

Para perempuan khususnya di Korea rela menderita untuk mendapatkan bentuk wajah tertentu karena wacana. Dalam perspektif Michel Foucault, penulis melihat bahwa pengetahuan para perempuan Korea akan kecantikan tertentu (yang cantik adalah bentuk wajah yang oval dan hidung mancung) disebabkan oleh wacana. Wacana kecantikan dalam iklan-iklan menguasai dan mengontrol pikiran masyarakat. Wacana yang dihembuskan ini secara berulang-ulang menciptakan kategorisasi, seperti aturan-aturan mengenai perilaku baik atau buruk yang sebenarnya mengendalikan perilaku masyarakat yang pada akhirnya dianggap kebenaran yang telah ditetapkan. Atas hal ini, bukan tubuh fisik lagi yang disentuh kuasa, melainkan jiwa, pikiran, kesadaran dan kehendak individu. Pada akhirnya wacana menormalkan individu agar perilakunya sesuai dengan yang diinginkan si pembuat wacana. Si pembuat wacana (dalam hal ini para kapitalis) telah memiliki konsep kecantikannya sendiri yang diangkat sebagai wacana sehingga konsep kecantikan miliknya menjadi konsep kecantikan yang seolah-olah universal. Para perempuan menjadi rela hati menjalani proses operasi yang begitu menyakitkan karena digerakkan oleh pengetahuannya. Mereka tidak sadar bahwa dirinya sedang menjadi korban wacana. Mereka menganggap apa yang mereka lakukan adalah sesuatu yang benar, dianggab sebagai nilai. Apa yang mereka lakukan adalah sesuatu yang normal atau wajar.

fenomena operasi plastik

Iklan operasi plastik di Korea. Foto : https://jezebel.com

Politik Tubuh Melalui “Oplas” Sebagai Opresi Perempuan

Pengetahuan akan kecantikan yang merupakan bentukan wacana membuat perempuan mengiyakan penindasan. Mereka tidak sadar jika sebenarnya telah jatuh dalam suatu opresi. Mereka menyetujui opresi terhadap diri mereka. Susan Brownmiller menjelaskan opresi ini sebagai bagian dari politik tubuh.  Kapitalis dengan kekuatan modalnya mampu mempengaruhi negara ataupun menggunakan media untuk mengeluarkan suatu “kebijakan” sehingga masyarakat memiliki pandangan tertentu mengenai tubuh. Pandangan mengenai tubuh yang sesuai dengan keinginan kapitalis. Salah satu contohnya adalah himbauan yang dikeluarkan oleh Kementerian tenaga kerja Korea . Dalam himbauan itu kementerian menyarankan warga Korea untuk melakukan operasi plastik demi peluang yang lebih besar dalam mendapatkan pekerjaan.

Politisasi tubuh ini membuat tubuh perempuan bukanlah miliknya semata, melainkan secara dominatif merupakan milik masyarakat yang dikonstruksi demi kepentingan pihak tertentu. Dominasi ini membuat perempuan “tidak” berhak penuh atas tubuhnya, dan tidak bebas mendefinisikan serta menampilkan kediriannya yang otentik. Tubuh perempuan “didisiplinkan” dengan suatu citra tertentu sehingga sadar tidak sadar, mau tidak mau, tubuh perempuan direkayasa bagi kepentingan kapitalis.

Dalam fenomena “oplas” juga nampak bahwa perempuan menjadi pangsa pasar yang potensial dan konsumen yang mudah dimanipulasi demi pencapaian sebuah keuntungan ekonomis. Tentunya setelah melakukan operasi plastik, perempuan harus membeli obat-obatan juga aneka kosmetik untuk mempertahankan “kesempurnaan” wajahnya. Perempuan dijebak dalam lingkaran setan konsumerisme. Perempuan teropresi dan menjadi makluk yang konsumtif. Perempuan menjadi kehilangan otonominya karena sangat bergantung pada “produk” tertentu.

Baca juga : Perempuan-perempuan Kendeng Penjaga Bumi

Lalu bagaimana perempuan dapat keluar dari opresi ini? Magnus Dafidis Watan  memberikan beberapa pandangan. Pandangan ini dapat menjadi stimulus bagi perempuan agar dapat keluar dari opresi yang dialaminya. Pertama, perempuan sebagai subyek rasional.  Dengan rasionalitasnya perempuan dapat menentukan sendiri apa yang menjadi kebutuhan tubuhnya. Dengan rasionalitasnya ia dapat bersikap kritis dan mampu melampaui norma atau budaya yang terstruktur dalam masyarakat. Dari situ akan tumbuh kesadaran akan adanya opresi yang terkandung dalam norma atau budaya masyarakat dimana ia tinggal. Kedua, otonomi perempuan atas tubuhnya akan terealisasi, tatkala perempuan mampu mengatur tubuh sesuai keinginannya.  Pada moment ini , perempuan mampu mengambil inisiatif dan aktif menentukan “nasibnya” sendiri.

Jika dikaitkan dengan para perempuan korea pelaku “oplas”. Mereka hendaknya menyadari akan kebertubuhannya dan juga bersikap kritis terhadap wacana. Mereka perlu mengambil jarak (refleksi) apakah operasi plastik sungguh-sungguh menjadi keinginannya sendiri? Sikap kritis ini akan menyadarkan mereka bahwa operasi plastik adalah bentuk opresi pada perempuan yang dinormalisasi melalui wacana.

Oleh:  Silvester Elva Permadi, Mahasiswa Fakultas Filsafat Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya. Dimuat atas kerjasama Jurnal WIWEKA, Nera Academia dan www.idenera.com. Artikel ini pernah dimuat di Jurnal WIWEKA Vol.6 Edisi Juni 2017. 

Referensi

Foucault, The Archeology of Knowledge dikutip dari Ann Brooks dalam  Posfeminisme & Cultural Studies Sebuah Pengantar Paling Komprehensif. JalaSutera. Jogjakarta & Bandung. 2011

Jurnal Filsafat Driyakara Tahun XXVIII. No 3/2006

http://m.kompas.com/female/read/2015/10/13/110000220/www.dailymail.co.uk//diunduh 11/12/2015 pkl 20.19

Http//www.kompas.com_litbang_operasiplastik//diunduh 11/12/2015 pkl 20.27

Http//www.kompas.com_Female_pengaruh_operasiplastik_pekerjaan//diunduh 11/12/2015 pkl 20.30

Please share,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *