Handayani, Pengayom Transpuan Mantab Jadi Abdi Yesus

Karena ibunya disembuhkan Yesus melalui perantara pendeta tersebut, sebulan kemudian ia mantap memeluk agama Kristen. Handayani kemudian meninggalkan ritual-ritual di Gunung Kawi yang ia jalani sebelumnya.

160 0

IDENERA – Awan gelap semakin menjuntai. Puluhan jemaat kebaktian dari Persekutuan Hati Damai dan Kudus (PHDK) berangsur meninggalkan Jalan Ngagel Rejo Kidul 113,Surabaya. Tinggal beberapa orang yang masih mengobrol di ruangan.

Dulu, tempat itu merupakan salon. Kini menjadi pusat berkumpul jemaat PHDK setiap bulan, yaitu Jumat Kedua dan Jumat Keempat. Di dekat cermin, seorang transpuan duduk di kursi berkelir hitam. Ia mengenakan cheongsam, gaun panjang khas perayaan Imlek.

Namanya Hana Handayani, 69 tahun, Ketua PHDK. Ia dulu seorang penyembah berhala di Gunung Kawi. Namun, pada usia 35 tahun ia memeluk agama Kristen setelah bertemu pendeta yang bisa menyembuhkan penyakit ibunya.

“Sekitar tahun 1989-1990, ibu sakit. Sempat opname di RS Adi Husada Undaan, Surabaya. Saat itu, semua serba sulit. Tiba-tiba ada bapak-bapak menemui kami. Ternyata ia pendeta,” kisahnya, Jumat (20/1/2023).

Perjumpaan dengan pendeta itu, membuat Handayani merasakan uluran tangan dari Yesus. Apalagi usai ibundanya didoakan oleh pendeta, tidak menunggu lama penyakit yang diderita sembuh seketika.

“Ibu langsung bisa jalan. Padahal, sebelumnya tidak bisa. Lalu, untuk pemulihan, ibu tetap opname seminggu. Kemudian ia boleh pulang ke rumah,” imbuhnya, sambil menerawang ingatan masa itu.

Karena ibunya disembuhkan Yesus melalui perantara pendeta tersebut, sebulan kemudian ia mantap memeluk agama Kristen. Handayani kemudian meninggalkan ritual-ritual di Gunung Kawi yang ia jalani sebelumnya.

“Yang bantu sembuhkan pendeta, jadi saya dan ibu masuk Kristen. Untuk menepati janji,” ujarnya kepada Idenera.

Seiring waktu, ketika menuju Gereja untuk ibadah, tidak sedikit jemaat yang memandang aneh kaum transpuan. Hal itulah yang membuat Handayani membentuk persekutuan yang sekarang dikenal sebagai PHDK.

“Saat itu, masih 7 orang (anggota). Lalu bertambah banyak. Kemudian ada teman-teman transpuan dari kota lain yang ingin membuka cabang PHDK. Seperti Malang, Solo, Bandung, Jogja, Semarang, dan lain-lain,” jelasnya.

Lika-liku perjalanan Handayani membangun PHDK memang tidak mulus. Banyak kerikil yang dihadapi, termasuk dari keluarganya sendiri. Terlebih lagi ketika mereka mengetahui statusnya sebagai transpuan.

“Saudara saya ada delapan orang. Dulu orang tua tidak setuju, karena anak laki-laki kan diunggulkan. Saya ditentang, dimarahi, dipukul. Kakak saya ikut protes semua (kepada saya),” tuturnya.

Transpuan yang lahir di tanggal Kemerdekaan RI itu, tetap mengikuti naluri memandu. Handayani melancong ke Jember untuk bertemu pemain ludruk kesukaannya.Dari sana, ia mendapat tawaran dari kawan-kawannya untuk bekerja menjadi pembantu salon di Jakarta.

“Saya bagian nyuguhi minum dan makan. Tapi, saya juga diminta memperhatikan saat orang lagi di-creambath, keramas, potong, sehingga saya bisa belajar,” katanya.

Sepulang dari merantau, ia membuka salon sendiri di Surabaya. Perlahan, keluarganya bisa menerima. Ia merasa tidak malu lagi, karena dapat mengajak banyak transpuan mengabdikan diri kepada Yesus.

“Tuhan Yesus tidak pilih-pilih. Yang penting kamu percaya. Tuhan Yesus bukan agama. Tuhan Yesus pemilik umat di dunia,” pesannya saat mengakhiri percakapan.


Ikuti Idenera di  Google News: Google will europäische Nachrichtenplattform starten - und ... Google News.


Terimakasih telah mengunjungi IDENERA.com. Dukung kami dengan subscribe Youtube: @idenera, X :@idenera, IG: @idenera_com


 

Please share,
Rangga Prasetya Aji Widodo

Kontributor Idenera.com. Jurnalis lepas di Surabaya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *