HomeREFLEKSIDISKUSIJoana Liani : Jika Kamu Nilai Orang Lain Manusia, Kamu Sedang Menilai Diri Sendiri

Joana Liani : Jika Kamu Nilai Orang Lain Manusia, Kamu Sedang Menilai Diri Sendiri

DISKUSI KEBUDAYAAN LINGKUNGAN NARASI PERSONA 2 3 likes 541 views

Sebuah film mampu membuat seseorang bermimpi bahkan berharap film itu bisa menjadi kenyataan.

 

Seperti saat saya melihat The Good Doctor. Sebuah serial drama Amerika yang diputar tahun 2017 ini berdurasi 40an menit dengan 18 episode. Dari episode pertama drama ini membuat saya bermimpi bahwa setiap manusia bisa meraih cita-citanya. Tidak peduli ras, agama, warna kulit bahkan bagi mereka yang mempunyai kecacatan.

Drama seri ini menceritakan bagaimana seorang anak yang memiliki keterbelakangan mental mampu menjadi dokter bedah dan menyelamatkan banyak orang. Banyak yang tidak mau menerima dia bekerja di rumah sakit dengan alasan dia mempunyai keterbelakangan mental yang membuat dia tidak bisa merasakan emosi, tidak empati dan cenderung sulit berkomunikasi. Ada yang mendukung karena kepentingan tertentu, namun juga ada yang tulus mendukungnya.

Benar-benar menggambarkan penilaian tentang seorang yang mempunyai keterbelakangan mental dari berbagai sudut. Namun seorang anak yang demikian dan bisa menjadi dokter adalah mimpi yang terlalu tinggi bagi saya. Indonesia mempunyai UU yang mengatur dan melindungai hak-hak penyandang disabilitas yaitu UU nomor 19 tahun 2011 ,UU nomor 8 tahun 2016, dan Permen PPPA nomor 4 tahun 2017. Undang- undang dan peraturan tersebut sekan hanya pajangan.  Pendidikan di Indonesia sendiri belum sepenuhnya mendukung anak-anak dengan keterbatasan yang seperti itu. Pemerintah belum andil dalam memberikan pekerjaan yang sesuai bagi mereka. Mereka dibatasi oleh sekat normal dan tidak normal. Penilaian normal hanya berdasar pada penilaian akan dirinya sendiri tanpa menempatkan diri sebagai objek yang dinilai.

BACA JUGA :   Aku yang memegang kendali ke mana arah hidupku dan setiap arahnya menuju kesempurnaan

Ironis memang. Tuna netra seakan hanya diperbolehkan bekerja sebagai tukang pijat. Bahkan hal tersebut mengakar ke masyarakat, contohnya ‘jika kamu berkacamata hitam, memakai tongkat sebagai alat bantu pasti dia seorang tukang pijat’. Yang lebih menyakitkan kadang hal seperti itu dibuat sebagai guyonan. Wacana yang ditanamkan masyarakat melalui candaan lama kelamaan akan menjadi hal yang biasa ‘lumrah’ dan akhirnya tak dapat lagi melihat sisi kemanusiaan dari manusia lain.

Mereka yang disebut tidak normal itu berkerja keras sama seperti kita malah kadang mereka lebih tekun. Ketekunan mereka hanya sekedar untuk diterima dalam masyarakat, mempunyanyi keahlian adalah bonus. Bisa kerja adalah anugerah. Bahkan saat ini dengan sertifikat sebagai ‘ahli pijat’ mereka tidak memiliki kesempatan yang sama dengan yang dianggap normal. Mereka tidak bisa mendaftar sebagai staff pijat refleksi di hotel atau tempat-tempat yang mereka cita-citakan karena label ‘tidak normal’. Sesungguhnya apa yang membuat mereka mempunyai label itu? Karena mereka tidak bisa melihat? Tidak bisa memdengar atau tidak bisa berbicara? Apakah itu karena keinginan mereka?

BACA JUGA :   Semakin manusiawi, sebagai tujuan akhir pendidikan

Pertanyaan-pertanyaan seperti itu harusnya menjadi refleksi bagi kita yang ‘normal’. Tapi tanyakan lagi kenapa kita normal? Apa karena kita bisa melihat? Apa hanya karena kita mampu berbicara dan mendengar sehingga kita merasa diri kita normal? Bagaimana jika kita adalah yang minor? Apakah kita masih normal?

Oxford English Dictionary mengartikan normal sebagai yang sesuai dengan standar. Jadi standar apa yang bisa kita jadikan batasan untuk menilai seseorang itu normal? Semua orang diciptakan unik, memiliki kelebihan dan kekurangan, begitu yang saya pelajari saat sekolah dasar. Menciptakan standar bagi manusia menurut saya tidaklah mungkin. Jika standar manusia normal adalah tinggi badan 160cm maka saya bukan manusia. Jika standarnya berat badan 20-50 maka bapak saya bukan manusia. Jika standarnya manusia harus bisa melihat maka saat tidur kita bukan manusia.

BACA JUGA :   Sekolah Analisa Sosial : Membuka Ruang Partisipasi & Keterlibatan Sosial Orang Muda

Manusia adalah dirimu sendiri. Jadi jika kamu menilai orang lain yang juga manusia, maka kamu sedang menilai dirimu sendiri yang juga manusia.

Oleh : Joana Liani. Fasilitator di NERA ACADEMIA. Manager Program Sekolah Ansos III 2018. Aktif juga di Sanggar Merah Merdeka (SMM) dan SRK (Solidaritas Relawan Kemanusiaan) Surabaya. 

Please share,

2 Comments

Alfredo

Keren, bagus baget tulisanya. Sangat sistematis. Opini yg tidak sekedar opini, tp opini berbasis data. Opini yg mampu menggugah pemikiran2 kita.
Good job.

Reply

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *