HomeAKSIKOMUNITASKampung Adat Tololela: “Hidden Beauty” di Balik Gunung Inerie

Kampung Adat Tololela: “Hidden Beauty” di Balik Gunung Inerie

KOMUNITAS SEJARAH WARGA 0 0 likes 214 views

“Mula ngadhu tau tubi lizu, kabu wi rawe nitu, lobo wi soi dewa.”

Pulau Flores, Nua Tenggara Timur (NTT) tidak hanya dikenal dengan wisata alam liar seperti mengunjungi Pulau Komodo, Rinca, Padar dan Danau Kelimutu, Selam Rekreasi (Scuba Diving) melainkan juga karena pesona kampung-kampung adat yang unik.

Selama ini, beberapa kampung adat di Kabupaten Manggarai dan Bajawa menjadi destinasi favorit bagi tetamu asing dan domestik, sebut saja Kampung Wae Rebo di Satar Mese Barat, Kabupaten Manggarai dan Kampung Bena, Gurusina, Belaraghi di Kabupaten Ngada.

Selain kampung adat yang disebut di atas, Kampung Tololela di Desa Manubara, Kecamatan Inerie, Kabupaten Ngada juga menjadi pilihan menarik untuk dikunjungi.

Akses ke Kampung ini tidak harus melalui Kota Bajawa (kota administratif Kabupaten Ngada), melainkan juga bisa menyisir pantai selatan Flores melewati Kecamatan Aimere dan Kecamatan Ine Rie (Ine berarti Ibu, Rie berarti anggun/cantik).

Pemandangan pantai selatan memang tampak berombak sangar namun cantik dengan bentangan pantai berpasir hitam bebatuan. Pohon-pohon kelapa dan lontar yang hijau sesekali memanjakan mata sepanjang jalan.

BACA JUGA :   Driyarkara : Mengkritik, mengoreksi dan memperbaiki sosialitas preman

Di pertigaan Boba, perjalanan diteruskan menuju ke Utara yakni ke Desa Manubara, Kecamatan Inerie. Sesampai pada Pertigaan di Kampung Gurusina terdapat sebuah papan informasi tentang kampung Tololela. Trekking pun dimulai.

Trekking dari Kampung Gurusina memakan waktu kurang lebih tigapuluh menit untuk mencapai Kampung Tololela. Kata Tololela terdiri dari dua kata, tolo dan lela. Tolo berarti di atas, sedangkan Lela dipercaya sebagai nama leluhur orang Tololela.

Kampung ini terdiri dari dua bagian yakni Tololela atas dan Tololela bawah yang terdiri dari 31 rumah adat yang dikelola menjadi rumah singgah berbasis komunitas adat. Dengan pendampingan Pemerintah setempat dan Indecon (Indonesian Ecotourism Network), warga Tololela menjaga keaslian bangunan dan tradisi mereka secara konsisten.

Rerata interese tamu mengunjungi Kampung ini adalah untuk mengalami dari dekat kehidupan masyarakat setempat. Di sini, tenun lokal diproses secara manual dengan memanfaatkan benang pintalan asli dan pewarnaan dari bahan-bahan alami. Arsitektur tradisional (Sa’o) khas Kabupaten Ngadha juga menarik untuk didalami.

Di sini kita bisa melihat Ngadu Bagha dan kubur batu tua lancip dari bebatuan alam.

BACA JUGA :   Paus Fransiskus mengunjungi UEA : Kita Bersaudara Dalam Satu Pelukan Kasih

Ada filosofi menyebut, “mula ngadhu tau tubi lizu, kabu wi rawe nitu, lobo wi soi dewa.” Kalau diterjemahkan berarti demikian, “mendirikan Ngadu menjadi tiang penyangga langit dan akar mencengkram kuar ke dalam Bumi serta ujungnya menjulang mencapai Dewa.”

Ngadhu Bagha di Tololela. Foto : Fian Roger

Ngadhu Bagha sendiri merupakan miniatur bangunan yang didedikasikan untuk menghormati Bapa (Ngadu) dan Ibu (Baga) leluhur yang telah berpulang ke alam yang lain.

Miniatur Ngadhu Bagha menjadi tempat komunikasi untuk menghormati leluhur, Bapa dan Ibu yang menghadirkan generasi ke generasi warga Tololela.

Di Tololela terdapat beberapa jenis rumah adat yang dalam Bahasa setempat disebut Sa’o Pu’u, Sa’o Lobo dan Sa’o Dhoro. Sa’o Pu’u disebut sebagai rumah awal yang menandakan asal muasal. Pada bubungan rumah terdapat patung yang didebut Ana Ye.

Upacara seperti ini memang lazim dirayakan secara besar-besaran melibatkan seluruh keluarga besar.

Sedang, Sa’o Lobo adalah rumah akhir yang bermakna puncak kehidupan. Pada Sa’o Lobo terdapat Saka Pu’u atau miniatur rumah. Dan Sa’o Dhoro adalah rumah turunan yang berkaitan dengan konsep turunan dari sa’o pu’u dan sa’o lobo.

BACA JUGA :   Selintas Sejarah Hari Perempuan Sedunia
Tanduk-tanduk kerbau di Tololela. Foto : Fian Roger

Lazim di tempat ini dipajang tanduk-tanduk kerbau dan tengkorak babi yang menandakan jumlah hewan yang “dibantai” dalam acara Ka Sao atau peresmian rumah adat dan Upacara Rheba (dalam konsep modern merupakan ajang reuni keluarga besar).

Untuk menginap pada salah satu Rumah Inap Tololela (Sa’o), pengunjung boleh membayar sebesar Rp 180 ribu per orang untuk semalam dan donasi yang dapat diserahkan secara sukarela kepada Komunitas Pengelola Sa’o. Biaya ini sudah mengkover makan malam dan sarapan yang disuguhkan tuan rumah.

Bagi penggemar fotografi dan videografi, mengabadikan aktivitas keseharian dan pesona rumah-rumah adat Tololela menjadi momen penting.

Perjalanan tidak akan lengkap tanpa menunjungi Kampung Adat Bena. Dari Tololela, menuju Kampung Bena dibutuhkan waktu kurang lebih 30 menit dengan berjalan kaki.

Dan kalau memilih jalan melewati Kota Bajawa, pengunjung bisa berhenti di Manulalu View untuk melihat dari dekat Gunung Ine Rie yang indah itu. Di sana kamu bisa menyeruput Kopi Ngada di Heaven’s Door Bar and Restaurant. Selamat mencoba. (*)

Please share,