HomeNARASIKEBUDAYAANSebotol Sopi untuk “Hidup”

Sebotol Sopi untuk “Hidup”

KEBUDAYAAN KOMUNITAS LINGKUNGAN 0 0 likes 212 views

Beberapa waktu lalu, di Manggarai Barat Flores, Polisi menyita ribuan liter Sopi karena dianggap menciptakan masyarakat pecandu alkohol yang doyan mabuk dan bikin kekacauan.

Sebaliknya di Kupang, Kota administrasi Provinsi Nusa Tenggara Timur, Gubernur Victor Bungtilu Laiskodat bekerja sama dengan Universitas Nusa Cendana dan PT NAM Kupang meluncurkan Sophia, Sopi Asli.

Sophia merupakan pengelolaan lanjutan dari arak lokal yang dihasilkan masyarakat NTT. Bahan Sophia berasal dari Insana dari Timor Tengah Utara, Aimere, Alor dan Adonara.

Sophia berkadar 40 % alkohol dan disebut Gubernur Laiskodat akan menyaingi Vodka Rusia. Sebotol Sophia dijual dengan harga Rp 400 ribu sampai dengan Rp 1 juta.

Pengusaha asal Brussel Belgia Bernad Mouyard, untuk mengunjungi pembuatan arak tradisional di Aimere. Foto : Fian Roger

Sopi merupakan arak lokal di Pulau Flores dan Nusa Tenggara Timur umumnya yang disadap dari Pohon Lontar atau Pohon Enau, dimasak kemudian menjadi alkohol cair. Sejak zaman Belanda, sopi sudah dikenal dengan nama “Zoopje.”

Pertengahan Bulan September 2019, saya memandu perjalanan seorang Pengusaha asal Brussel Belgia Bernad Mouyard, untuk mengunjungi pembuatan arak tradisional di Aimere, Kecamatan Aimere, Kabupaten Ngada.

Di sana kami berjumpa Nasfer, pria paruh baya turunan Ngada-Sabu. Usahanya memasak sopi sudah jadi pekerjaan warisan dari kakeknya.

Kami pun disuguhkan beberapa botol sopi untuk dicicipi. Dia menawarkan mulai dari yang berkadar alkohol 15 %, 30 %, 50 % sampai 60 %.

Saya mencoba Sopi yang berkadar 60 % menggunakan cangkir yang terbuat dari tempurung kelapa. “Wow, rasa dan aromanya beda. Keras tapi nikmat.”

Sopi berkadar 15 % dijual seharga Rp 30 ribu sebotol ukuran medium, yang 30 % seharga Rp 50 ribu, yang 50-60 % dijual seharga Rp 100 ribu sebotol.

BACA JUGA :   “Nunduk” dan Sejarah yang Bukan dari Ruang Kosong

Sopi berkadar 15 % rasanya manis layaknya Wine. Orang-orang sering meraciknya dengan “Pinang Raci” (pemanis dan pemberi warna). Sementara, yang berkadar 50 sd 60 % lazim disebut bakar menyala (BM), karena memang akan menyala kalau iseng dibakar.

Selain sopi, Nasfer juga menjual Gula Cair, Gula Tepung dan Gula Batu berbahan cairan Nira Lontar.

Sopi Rendaman

Nasfer, salah satu pegusaha UKM yang membuat sopi. Foto : Fian Roger

Bernad menolak mencicipi rendaman kuda laut dan embrio rusa, karena baginya itu tak lazim. “Saya lebih suka yang biasa,” katanya.

Bernad menuturkan, di beberapa tempat di Eropa, ada yang melakukan hal serupa. Kodok jenis tertentu direndam dalam sebotol Alkohol. Tetapi rendaman kuda laut dan bayi rusa sungguh tidak lazim bagi di Eropa.

Di UKM milik Nasfer, proses pembuatan sopi dapat disaksikan langsung para pembeli. Air sadapan lontar yang dikumpulkan dari masyarkat sekitar ditampung kemudian dimasak menggunakan priuk tanah.

Kemudian, uapnya dialirkan melalui batang bambu dan dikumpulkan sampai memenuhi jeriken. Uap itulah yang menjadi sopi. Proses ini bisa memakan waktu sehari.

Betapa kagetnya Bernad, tamu asal Belgia itu, rupanya Nasfer juga memiliki racikan Sopi disebut “sopi rendaman.” Rendaman yang lazim seperti paria, gingseng, akar sera, kulit kayu manis itu biasa, tetapi yang tidak lazim yang direndam dalam sopi adalah bayi rusa, kuda laut (sea horse), dsb.

BACA JUGA :   Kenapa Kami Menerbitkan Buku Merawat Ingatan Merajut Kemanusiaan?

“Kadar alkohol sopi disesuaikan dengan lamanya tingkat pengolahan,” ujar Nasfer.

Nasfer menuturkan, sebelum Sophia diluncurkan pemerintah Nusa Tenggara Timur melakukan sosialisasi bahwa arak lokal akan dilegalkan dan diberi merek dagang.

Namun ia tidak setuju, jika para pengolah sopi hanya menjadi pemasok bahan sopi untuk kemudian dikemas di Kupang. “Nanti namanya bukan lagi Sopi Flores, tapi Sopi Kupang,” katanya.

Seperti susu kambing sering disebut susu sapi, Nasfer menuturkan, selama ini sopi miliknya dikirim ke Maumere, di sana pengusaha mengemasknya, lalu yang kemudian yang dikenal sopi Maumere. Padahal sumbernya dari Aimere.

Saya pun bertanya kepada tamu asal Belgia soal, apa yang dia rasakan sehabis mencoba Sopi Flores?

Katanya, “Sopi beraroma buah. Beda dengan jenis alkohol dari merek-merek terkenal. Dan rasanya juga keras. Tidak kalah dengan merek-merek terkenal,” ungkap Bernard.

Bertahan Hidup

Dengan berjualan sopi, Nasfer bisa membiaya kehidupan sehari-hari, makan dan minum, serta membiaya pendidikan anak-anaknya. Dia berharap, dengan upaya Pemerintah NTT melegalkan sopi, kesejahteraan pengusaha sopi akan membaik.

Ia pun bercita-cita untuk memiliki merek dagang sendiri seperti Sophia di Kupang. Mudah-mudahan mimpi Nasfer terwujud.

Petugas medis acapkali mewanti-wanti bahwasanya kadar methanol dalam sopi bisa merugikan kesehatan hati, jantung, saraf, ginjal dan macam-macam.

Dan pihak keamanan, mensinyalir bahwa banyak keributan disebabkan karena para pecandu sopi yang mabuk.

BACA JUGA :   AJI Surabaya Mengecam Deportasi Yuli Ristawati oleh Otoritas Hongkong
Sopi Aimere dengan dengan rendaman kuda laut. Foto : Fian Roger

Saya pun menemui seorang penikmat sopi bernama Andreas Bhara, Warga Tololela, Desa Manubhara, Kabupaten Ngada.

Ia menuturkan, Sopi menjadi bahan yang penting dalam acara adat selain beras, babi, kerbau dan kain adat.

Pemerintah juga berargumen, sopi harus dilegalkan, dibikin mahal, dan dijual kepada kalangan khusus untuk mengangkat derajat industri sopi rumahan. Dari alkohol rumahan dan murahan menjadi alkohol berkelas ekspor. Tak tanggung-tanggung, Gubernur NTT ingin mengekspor Sophia ke Australia.

Misalnya dalam acara Ka’ Sa’o (peresmian rumah adat) dan Rheba (Reuni Keluarga Besar) tiap klan akan menyiapkan sopi untuk dibawa ke tempat acara.

“Sopi bagi penting tiap kali acara adat,” tuturnya.

Namun bagi Andreas, sopi hanyalah pelengkap perjumpaan. Dan bagi orang Ngada, baik laki-laki dan perempuan, menjadi lazim untuk mencicipi sopi sembari makan.

“Itu biasa di sini,” lanjutnya. Sopi diminum bukan untuk mabuk, melainkan dinikmati sebagai penyemangat saja.

Saat Kampung Tololela terlelap dan bulan penuh menghampiri lereng Inerie, saya menatap sebotol sopi.

“Ada kehidupan yang dipertahankan dalam sebotol sopi ini, namun jangan kebanyakan karena kalau mabuk, kita lupa bahwa bisa jatuh dan terlelap di tanah.”

Usai renungan singkat yang tak perlu itu, saya mengambil cangkir yang terbuat dari tempurung kelapa, mencicipi pelan-pelan sebotol sopi itu bersama rombongan perjalanan dan Pak Andreas sekeluarga.

Saya berhenti saat bantal memanggil saya untuk tidur. (*)

Please share,