HomeAKSIKOMUNITASKawruh, Matahari dan Rembulan Kemanusiaan
Andre Yuris

Kawruh, Matahari dan Rembulan Kemanusiaan

KOMUNITAS PERSONA WARGA 0 0 likes 349 views

Tumbuhnya ormas-ormas yang menopang radikalisme keagamaan mulai marak pasca reformasi ‘98. Secara organisasi dan ideologis, umumnya mereka bercorak transnasional.

Jawaban pemerintah maupun ormas-ormas keagamaan mainstream atas mengecambahnya radikalisme, intoleransi, dan terorisme yang belakangan ini terjadi adalah kembali pada Pancasila dan UUD 1945. Sebagai konsekuensinya, ormas-ormas yang ditengarai bertentangan dengan dua pilar kebangsaan tersebut wajib dibubarkan. HTI, salah satu ormas keagamaan yang bercorak transnasional, adalah bukti nyata pemerintah dan ormas keagamaan mainstream untuk menjaga dan mempertahankan empat pilar kebangsaan.

Pancasila memang tak sekedar ideologi resmi negara, namun sebuah pandangan hidup yang—seperti kata Bung Karno—bersumber dari kearifan-kearifan yang diwarisi bangsa Indonesia. Ketika bersinggungan dengan kalangan penghayat kepercayaan, saya menemukan bahwa Pancasila tersebut sangat kuat memengaruhi atau bahkan menjadi dasar ajaran-ajaran mereka, atau justru sebaliknya, ajaran-ajaran mereka tersarikan dalam Pancasila.

Di akhir tahun 2017 lalu, Mahkamah Konstitusi akhirnya mengabulkan gugatan kalangan penghayat kepercayaan untuk mendapatkan kesetaraan hak-hak sipil dengan pemeluk agama resmi lainnya. Kini, ruang bagi kalangan penghayat kepercayaan semakin terbuka lebar. Mereka dapat mengekspresikan identitas dan aktifitasnya secara leluasa tanpa adanya diskriminasi dan intimidasi yang selama ini terjadi.

Tak bisa dipungkiri, secara historis, kalangan penghayat kepercayaan juga memiliki kontribusi nyata terhadap kemerdekaan bangsa ini sebagaimana agama-agama resmi lainnya di Indonesia. Dan saya kira, kearifan-kearifan yang mereka warisi secara turun-temurun masih relevan bagi negeri ini, apalagi di tengah gempuran-gempuran ideologi dan gerakan-gerakan keagamaan yang bercorak transnasional.

Saya berkunjung ke Ponorogo untuk menyelami dan menyajikan kearifan-kearifan yang jauh sebelum NKRI terbentuk sudah dianut oleh aliran Purwaning Dumadi Kasampurnan Kautaman (PDKK) dan Pirukunan Ayu Mardi Utama (PAMU). Saya memilih Ponorogo bukanlah tanpa alasan. Selain jumlah anggotanya yang banyak, di kota reyog ini salah satu murid generasi pertama sekaligus perwakilan Eyang Jimat Suryangalam Sapu Angin Tambak Segara pernah berdiam diri. Dalam catatan antropologis Andrew Beatty, Varieties of Javanese Religion: An Anthropological Account, Cambridge University Press, 2009, Ponorogo juga termasuk salah satu cabang utama aliran PAMU.

Pak Wo, begitulah saya memanggil. Nama lengkapnya, Komarudin, 72 tahun. Ia tinggal di desa Kepuhrubuh, Siman, Ponorogo. Dari lelaki mantan kepala dusun inilah saya banyak mendapatkan kisah seputar Eyang Jimat Suryangalam dan PDKK.

Pada tahun 1963, Pak Wo sudah nunggal: masuk dan belajar kawruh PDKK. Baik Bapak maupun Kakeknya juga penganut kawruh yang dibabarkan Eyang Jimat tersebut. “Murid generasi pertama sekaligus perwakilan Eyang Jimat ada tiga: Sanadikrama di Slahung, Ponorogo, Sanadirana di Yogyakarta, dan Eyang Pojok di Kediri.”

Pak Wo, nama lengkapnya, Komarudin, 72 tahun. Ia tinggal di desa Kepuhrubuh, Siman, Ponorogo. Foto : Heru

Eyang Jimat Suryangalam sendiri berasal dari Mataram. Ia adalah paman Pangeran Dipanegara. Setelah perang Jawa berakhir, dengan dibuangnya sang Pangeran ke Makassar, ia lari ke Jawa Timur, hidup sesinglon, menyaru, dengan meninggalkan banyak nama, gelar, dan petilasan. Hidup sesinglon ini ia lakukan untuk menghindari penangkapan Belanda. Karena itu, di Jawa Timur terdapat banyak makam yang dianggap pepundhen desa dibangun tanpa kemegahan apapun di dalamnya. Mereka dianggap sebagai para mantan anggota laskar Dipanegara. Konon, meskipun sudah meninggal dan dikubur, ketika Belanda tahu bahwa yang bermakam di situ seorang mantan anggota laskar Dipanegara, makam itu ikut dirusak.

BACA JUGA :   Luthfi Meutia : Wanita sering menjadi korban kekuasaan

Danaraja, Pacitan, adalah persinggahan awal Eyang Jimat dalam pelariannya dari kejaran Belanda. Akhirnya, ia bermukim di sebuah desa di Kabupaten Malang: Kasembon. “Sembon itu artinya sembunyi,” jelas Pak Wa sembari menghisap kretek kelangenannya.

Di Kasembon inilah akhirnya Eyang Jimat membabarkan kawruh-nya yang di kemudian hari dikenal sebagai Purwaning Dumadi Kasampurnan Kautaman (PDKK).

Kisah Eyang Jimat Suryangalam rupanya juga dialami oleh salah seorang murid generasi keduanya: Kyai Ageng RM. Djojopeornomo, pendiri Pirukunan Ayu Mardi Utama. Kyai Ageng juga seorang bekas anggota laskar Dipanegara.

Menurut Andrew Beatty, Kyai Ageng berasal dari keraton Surakarta. Namun menurut para pengikutnya sendiri, Kyai Ageng berasal dari Purwadadi. Ia adalah cucu dari Nyi Ageng Serang, salah seorang perempuan penasihat perang Pangeran Dipanegara. Sampai akhir hayatnya, Kyai Ageng memilih menjadi seorang wiku dan mewedar kawruh kamanungsan di Tojo, Temuguruh, Sempu, Banyuwangi. Tentang pesan dan kisah kematian Kyai Ageng, Abdurrahman Wahid pernah mengabadikannya dalam sesobek catatan, Kematian Seorang Pangeran, yang pernah pula saya ulas sekilas, Agama Sipil dan Pecah Belah Ukhuwah Wathaniyah-Basyariyah.

Baik Eyang Jimat Suryangalam maupun Kyai Ageng RM. Djojopoernomo, selain hubungan guru-murid, sama-sama berdarah bangsawan dan terlibat dalam pemberontakan Dipanegara. Keduanya juga menjadi pelarian, buruan Belanda, hidup secara sembunyi-sembunyi, terbenam dalam khalayak kebanyakan, menjadi rakyat biasa. “Wong umum,” kata Pak Sarnu, seorang pengikut Kyai Ageng, ketika saya berkunjung ke rumahnya, Doyong, Ngampel, Ponorogo.

Pak Sarnu sendiri telah puluhan tahun mencecap kawruh yang diwariskan Kyai Ageng RM. Djojopoernomo. Foto : Heru

Pak Sarnu sendiri telah puluhan tahun mencecap kawruh yang diwariskan Kyai Ageng RM. Djojopoernomo. Menurutnya, dalam silsilah keilmuan atau yang lebih dikenal sebagai miliran wirid, khususnya dalam aliran PAMU, Eyang Jimat Suryangalam berada pada tingkat ke-11 dan Kyai Ageng RM. Djayapoernama berada pada tingkat ke-12.

Dalam keterangan Andrew Beatty, kedua orang yang dalam sanad keilmuan juga bersambung ke Sultan Agung itu sama-sama memperoleh “wahyu.” Itulah kenapa, meskipun Kyai Ageng RM. Djojopoernomo adalah salah seorang murid Eyang Jimat, pada akhirnya ia memilih mendirikan aliran tersendiri: Pirukunan Ayu Mardi Utama (PAMU).

Dilihat dari silsilah keilmuan, sebenarnya aliran PDKK lebih tua dibanding PAMU. Namun secara organisasi, PAMU lebih dulu terbentuk, pada tahun 1912. Sedangkan PDKK baru resmi terbentuk pada tahun 1966.

Dalam menyikapi perbedaan ini biasanya kedua aliran memandangnya wajar. Bagi Pak Sarnu, “Eyang Jimat ibarat matahari dan Kyai Ageng ibarat rembulan. Seperti halnya hubungan antara lelaki dan perempuan yang saling wengku winengku, saling dukung, saling mengayomi, roroning atunggil.”

Di wilayah Ponorogo sendiri perjalanan kedua aliran penghayat kepercayaan ini, sampai saat ini, jika pun ada, hanya sebagian kecil masyarakat yang berpandangan negatif. “Biasanya mereka datang dari kalangan keras syari’at,” jelas Pak Sarnu.

Namun kedua aliran yang bersumber dari kearifan lokal ini memiliki penyikapan tersendiri tentang kalangan yang tak suka. Bagi Pak Wo Komarudin dan Pak Sarnu, mereka yang tak suka sebenarnya orang yang secara keilmuan belum sampai. Dan keduanya memaklumi. “Ibarat sekolah, mereka yang tak suka masih duduk di bangku SD. Padahal, orang-orang kawruh itu berada pada jenjang sarjana,” jelas Pak Wo,

BACA JUGA :   UKMK St. Paulus Unitomo Surabaya menyerahkan paket donasi di SDN Nanga Boleng, Manggarai Barat

Agama tak pernah datang seperti apa adanya yang dapat ditelan mentahan. Ibarat buah kelapa: serabutnya adalah syari’at, batoknya adalah tarekat, dagingnya adalah hakikat, dan airnya adalah ma’rifat. Kalangan keras syari’at—yang kini terang terlihat dalam gerakan-gerakan Islam radikal—adalah kalangan yang hanya mengunyah serabut kelapanya saja. Mereka khilaf bahwa kelapa tak semata terdiri dari serabut, tapi juga batok, daging, dan air.

Seperti perputaran jarum jam, pendalaman keagamaan bersifat siklus. Ketika selesai satu putaran, akan beranjak lagi, tak hanya selesai pada satu titik. Meski seumpamanya secara keilmuan sudah berada pada jenjang sarjana, pengetahuan di bawahnya tidaklah disisihkan. Tapi senantiasa dikupas. Dalam hal ini, pemahamannya akan berbeda, perolehannya akan semakin mendalam. Di aliran ini pembelajarannya beranjak dari dalam menuju luar, dari batin menuju lahir, dari hakikat menuju syari’at. Kedua hal ini sebenarnya dua hal yang bisa dibedakan namun tak bisa diceraikan, roroning atunggil.

Semakin mendalam pemahaman seseorang akan semakin toleran orang yang bersangkutan. Kesan inilah yang saya rasakan pada orang-orang PDKK dan PAMU. Selain toleran, watak egaliter juga tampak melekat pada para pengikutnya. Di kedua aliran ini dikenal adanya gosok-gosokan, sebuah aktifitas yang selain untuk mempererat kekadangan juga sebuah medan untuk saling mengupas, saling belajar. Untuk istilah zaman sekarang serupa dengan diskusi, perdebatan. Maka orang-orang PDKK dan PAMU, selain terbiasa berolah nalar, juga cakap dalam berbicara.

Toleransi yang mereka praktikkan memang bersumber dari pluralisme ala mereka. Selama ini kita cenderung menganggap bahwa pluralisme identik dengan Barat. Padahal, kearifan lokal sebagaimana yang tercermin dari PDKK dan PAMU, merupakan warisan turun-temurun. Toleransi dan pluralisme tersebut bukan sekedar praktik, tapi ada ajaran, teori yang menopang praktik tersebut.

Seperti Pancasila dan sesanti bangsa Indonesia, Bhinneka Tunggal Ika, orang luar barangkali akan tercengang bahwa bagi mereka dua pilar kebangsaan itu juga memuat makna spiritual tertentu. Dengan kata lain, Pancasila bagi mereka bukan sekedar ideologi resmi negara belaka. Ada makna kemanusiaan dan kehidupan di dalamnya. “Para pendiri republik ini, seperti Bung Karno dan Sri Sultan HB IX, adalah juga penganut spiritualitas yang berbasis budaya Jawa,” terang Pak Sarnu.

Bagi Pak Wo Komarudin, selain sebagai dasar untuk mengatur negara, Pancasila juga mengandung makna spiritual kemanusiaan dan kehidupan (sangkan-paraning dumadi). “Empat sila melambangkan kedirian manusia: amarah, aluamah, supiyah, dan mutmainah. Yang satunya lagi adalah khadam yang menjadi pancer-nya.”

Karenanya, letak pentingnya Pancasila adalah pada daya ikatnya di mana segala keragaman akan mempunyai titik-temu. Atau dapat dikatakan, Pancasila mampu memberi ruang bagi segala perbedaan yang dimiliki bangsa Indonesia untuk merajut, menganyam keragamannya. Kedamaian akan ditemukan apabila masing-masing agama atau aliran penghayat kepercayaan mendalami jalan masing-masing. Seperti ungkapan di atas, semakin mendalam pemahaman seseorang akan semakin toleran orang yang bersangkutan.

BACA JUGA :   Pemerintah Harus Melindungi Minoritas Keagamaan di Yogya!

Secara filosofis, manusia menduduki posisi sentral dalam ajaran kedua aliran spiritual yang berbasis budaya Jawa ini. Kawruh kamanungsan, begitulah Kyai Ageng RM. Djayapoernama menyebut kawruh yang dibabarkannya. “Di dunia ini ada dua macam kitab: kitab garing dan kitab teles. Yang pertama adalah kitab-kitab suci, adapun yang kedua, alam semesta, atau lebih rincinya, manusia itu sendiri,” jelas Pak Sarnu.

Ada satu konsepsi bahwa manusia adalah jagad cilik yang merupakan cerminan dari jagad gedhe (alam semesta). Unsur-unsur yang kita dapati di alam raya ini juga ada dalam diri manusia. Saya menyebut konsepsi PDKK dan PAMU ini sebagai kearifan perenial yang bersifat universal. Dalam kebudayaan apapun konsepsi semacam ini sebenarnya ada.

Ada satu ungkapan yang dilontarkan oleh al-Ghazali:“Siapa yang mengenal dirinya akan mengenal Tuhannya.” Atau dalil dari Abd al-Karim al-Jili: “Manusia adalah rahasia-Ku dan Aku adalah rahasia-Nya.” Juga sang Syaikh al-Akbar, Muhyiddin Ibn ‘Arabi: “Aku adalah kanzan makhfiyan, untuk itulah kuciptakan insan untuk diketahui, ditemukan.” Dengan kata lain, dalam terang Ibn ‘Arabi ini, tujuan diciptakannya manusia adalah untuk mengenal, mengetahui Tuhannya.

Maka pada titik ini, istilah kawruh mendapatkan makna sesungguhnya. Kawruh dalam aliran PDKK dan PAMU tak semata berarti tahu sebagaimana indera atau otak tahu. Tapi lebih kepada tahu dalam arti gnosis atau ma’rifat. Berarti, kawruh adalah pengetahuan pasca iluminasi.

Di belahan bumi Barat pun kearifan perenial seperti ini dapat pula kita jumpai. Ada satu ungkapan Sokrates yang mendasari tradisi humanisme Barat yang tergurat di sebuah kuil di Delphi, Yunani: “Gnothi seauton.”

Untuk itulah, terkadang orang luar akan sedikit mengernyitkan dahi ketika bawarasa dengan orang PDKK dan PAMU soal perenialisme. Ada banyak ungkapan yang tak bisa ditelan mentah-mentah. “Dzat wetan sipat kulon,” atau juga “Didumuk lor kena kidul.” Inilah yang saya kira sebentuk kearifan perenial yang bersifat universal, inti dasar kemanusiaan dan kehidupan. Dan itulah kenapa ungkapan semakin mendalam pemahaman seseorang akan semakin toleran orang yang bersangkutan mendapatkan kejelasannya.

Dengan demikian, fanatisme—seperti yang banyak kita jumpai pada kalangan radikal keagamaan dewasa ini—menunjukkan bahwa orang yang bersangkutan masih dalam taraf bentuk, atribut, kulit semata. Universalitas humanisme PDKK dan PAMU tersebut terangkum dalam ungkapan “Agal tan kena winalang, lembut tan kena jinumput.”

Saya pun tertarik soal pemaknaan PDKK maupun PAMU tentang keberagaman atau kebhinekaan. Pak Wo mempunyai analogi yang sederhana soal ini. “Taruhlah 8×2 = 16. Dan 4×4 = 16. Orang-orang yang dinamakan fanatik akan memegang teguh bahkan memutlakkan pandangan bahwa 16 itu adalah hasil dari 8×2. Tapi sejatinya ia khilaf bahwa 4×4 juga menghasilkan 16.”

Untuk sedikit beralih ke Barat, pluralisme yang mendasari aliran PDKK dan PAMU ini akan gamblang dengan cara pandang filsafat organisme. Jadi, ungkapan semakin mendalam pemahaman seseorang akan semakin toleran orang yang bersangkutan pasti akan bersikap—dalam istilah Whitehead—either/or dan bukannya neither/nor. Inilah yang disebut sebagai inklusifitas atau rahmat bagi semesta alam.

Toleransi ala PDKK dan PAMU sebagaimana yang sudah saya singgung di atas adalah sejenis humanisme yang lahir dari pengalaman eksperiental akan diri sendiri yang pada akhirnya berimbas pada sikap terhadap lyan. Hakikat manusia itu sama apapun latar-belakangnya. “Ibaratkan alam semesta itu tubuh manusia. Ketika kaki tersandung, mulut yang tak merasakan sakit ikut mengerang kesakitan,” tutup salah seorang pewaris sang matahari dan rembulan kemanusiaan, Eyang Jimat Suryangalam dan Kyai Ageng RM. Djojopoernomo.

Di tengah maraknya intoleransi dan radikalisme keagamaan yang bersifat transnasional yang berkelindan pula dengan pop culture akhir-akhir ini, sepertinya penyikapan PDKK dan PAMU langsung menusuk jantung persoalan: “Semut ngrubung gula ilang rasane.” Dan pada akhirnya, seperti “Gabah dumrajak karana dhasak,” sang penipu akan lenyap ditelan waktu.

Narasumber   : Komarudin, 72 tahun, Desa Kepuhrubuh, Siman, Ponorogo,  Sarnu, 53 tahun, Desa Doyong, Ngampel, Ponorogo

Please share,