Kearifan Lokal Jadi Mitigasi Bencana di Jawa Timur

107 0

IDENERA – Sebelas orang tim Ekspedisi JawaDwipa telah berkeliling Jawa Timur selama hampir sebulan, mulai 14 November 2022 hingga 1 Desember 2022. Dari ekspedisi itu, mereka menemukan berbagai kearifan lokal dari warga setempat mengenai mitigasi bencana. 

Ketua Peneliti Ekspedisi JawaDwipa, Lien Sururoh menjelaskan pembagian temuan yang didapat setelah menjajaki 10 wilayah di Jawa Timur. Kota/kabupaten yang dikunjungi meliputi Surabaya, Bondowoso, Mojokerto, Malang, Blitar, Pacitan, Banyuwangi, Situbondo, Tuban, dan Lumajang.

“Hasil temuan ekspedisi kami meliputi pengetahuan lokal, memori kolektif, mitigasi masa lalu, potret siap siaga, temuan menarik, dan rekomendasi,” katanya, pada Kamis (1/12/2022), pukul 13.30 WIB, di Ruang Pertemuan BPBD Jawa Timur.

Tim Ekspedisi JawaDwipa. Foto: Rangga

Salah satunya, temuan soal warga Pacitan yang begitu asing dengan istilah “tsunami”. Justru, masyarakat setempat lebih akrab dengan istilah “pasang grasa”, lantaran telah digunakan leluhur mereka untuk mengenali gelombang ombak tinggi yang membahayakan nyawa manusia.

“Tampak ada ‘kolonialisasi’, bencana pun ada ‘kolonialisasi’. Artinya, di berbagai daerah sudah punya istilah-istilah sendiri. Tapi, pemerintah menyeragamkan, ‘tsunami’ ini kan istilah dari Jepang,” tegas Trinirmalaningrum, Ketua Ekspedisi JawaDwipa.

Tim Ekspedisi JawaDwipa ingin menghidupkan kembali pengetahuan lokal dan kearifan lokal dalam mitigasi kebencanaan. Ini dilakukan agar pendekatan pemerintah tidak sekadar memakai teknologi mutakhir, namun perlu pertimbangan kearifan lokal dan budaya warga dalam memahami bencana.

Temuan lain, lanjut Trinirmalaningrum, tim Ekspedisi JawaDwipa mendapati bahwa warga kampung/pedesaan relatif terbiasa memakai kentongan untuk memberi sinyal-sinyal bahaya kepada masyarakat agar waspada terhadap bencana yang akan datang.

“Kentongan pernah jadi alat yang paling efektif di kampung-kampung, ada tanda bunyinya sendiri. Kapan dipukul sekali, kapan dipukul berkali-kali. Cara itu yang paling dikenal masyarakat setempat,” ujarnya.

Mengenai catatan kuno, ada Kitab Pararaton yang membahas soal gempa bumi. Selain itu, Kitab Negara Kertagama pun demikian. Sedangkan untuk bukti tertulis, dituangkan ke dalam wujud relief-relief di dinding candi, seperti bencana banjir, gempa bumi, dan lain-lain.

“Belum ngomong Bahasa Jawa Kuno, zaman Majapahit. Termasuk bahasa-bahasa yang diteliti oleh tim ekspedisi. Kalau Bahasa Belanda itu enak, masih bisa diartikan ke dalam Bahasa Indonesia pakai Google Translate,” tutur Rakai Hino, Tim Ahli Sejarawan.

Amien Widodo, Ahli Geologi dari Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI). Foto : Andre Yuris
Amien Widodo, Ahli Geologi dari Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI). Foto : Andre Yuris

Sedangkan, Amien Widodo, Ahli Geologi dari Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) berharap hasil temuan tim Ekspedisi JawaDwipa dapat menjadi bekal warga tentang cara bertahan hidup dan menyelamatkan diri dari bencana.

Menurut Amien, kearifan lokal itulah hasil karya dari leluhur yang bisa ditawarkan ke pemerintah Indonesia agar masyarakat lebih siaga.

“Selama ini masyarakat hanya jadi objek, bukan subjek. Bahkan, saat petugas pasang alat ‘warning system’ nggak ada masyarakat yang tahu. Sebetulnya, kita sudah hebat, kita masih hidup karena leluhur kita hebat. Masih bisa bertahan hidup sampai sekarang ya karena itu,” pungkasnya.

Rencananya, hasil riset kearifan lokal mengenai mitigasi bencana dari 10 wilayah di Jawa Timur tersebut bakal disusun menjadi buku, foto, dan sebuah film.* 

*Kirim reportase kegiatan komunitasmu ke: editor@idenera.com. Tulisan yang masuk akan diperiksa editor kami sebelum ditayangkan.

Please share,
Rangga Prasetya Aji Widodo

Kontributor Idenera.com. Jurnalis lepas di Surabaya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *