Wanita Pemarah Dari Lubuk Pakam

96 0
copyrights @Andre Yuris

“Memang nggak bisa lagi kau angkat telponku?!”

Dua puluh panggilan tidak terjawab darinya. Selain doyan makan jengkol, bakat terpendamnya adalah spam chat melebihi jumlah kata skripsimu. Dosen paling killer mana yang mampu menyainginya? Semua notifikasi isinya dia. Mematikan data seluler bukan hanya memperburuk keadaan, namun dapat memanggil arwah tanpa perlu melakukan ritual.

Seorang wanita sederhana dengan tinggi 160cm. Bayangkan kalau kami berdua kencan, layaknya seperti mama dan anak. Belum lagi kalau dia pakai heels, rasanya seperti hari Senin upacara bendera. Aku yang gagal tumbuh ke atas, harus berlapang dada menerima kenyataan karna aku selalu berpacaran dengan wanita yang lebih tinggi dariku. Umurnya lebih tua dariku dan aku menyukai itu. Dia termasuk golongan orang-orang good looking. Sampai aku berhasil membuat temanku iri dan bertanya santet apa yang aku gunakan untuk membuatnya bertekuk lutut. Makan nasi padang setiap hari dan mandi (minum teh manis dingin), hanya itu yang aku lakukan untuk mendapatkan wanita ini. Biar makin sip, jangan lupa sebat.

Jelas tidak ada trik jitu, dia duluan yang menghampiriku. Berawal dari menyukai semua postinganku di Instagram. Sampai akhirnya aku memulai permainan itu.

“Thank you udah boom like ya..” Isi DM yang aku kirim padanya.

Sedikit spik-spik ala kita, cowok playboy. Walau tampang pas-pasan namun dompet boleh di adu dengan yang hanya sekedar rayuan gombal. Karna nyatanya cinta butuh makan, minum, tas hermes, maskara, lipstik, dan jedai yang tidak cukup hanya satu warna. Karna setiap harinya harus berganti, hari ini warna biru, besok warna kuning. Sedangkan kita pakai kaos hari kedua tinggal dibalik aja.

Jangan pernah menjanjikan apapun kalau tidak mampu menepatinya. Kecuali kalau ingin melihat rumah seperti kapal pecah, silahkan pancing amarahnya sambil berkata mancing mania mantap!

Aku pikir akan berakhir bahagia…

“Aku benci samamu! Kau udah berubah nggak sama kaya dulu di awal aku kenal!”

Perdebatan malam itu masih membekas dalam ingatan. Semua wanita marah dengan caranya sendiri. Begitu caranya mengungkapkan rasa cinta. Karna tidak semua yang bersikap manis itu cinta. Sebagian besar yang gengsi malah menyimpan rasa cinta yang mendalam. Bibir dan hati bukan tim yang hebat jika mereka dipaksa bersatu. Matanya tidak mampu berbohong walau gerak-gerik tubuhnya memberi sinyal penolakan.

Wanita memang makhluk ciptaan Tuhan yang paling indah.

Kembali berdering…

Sayangnya, terlewatkan kembali. Aku tahu marahmu mulai memuncak layaknya gunung Sinabung yang bersiap mengeluarkan lava. Dengan santai rokok ditangan kananku sambil mencoba menghubungimu kembali.

Ditolak. Ditolak lagi…

Katanya berada dirumah, tapi malam minggu kali itu aku tidak salah lihat lagi. Itu dirimu. Caranya memainkan rambutmu sama seperti caraku. Dua gelas hot matcha di atas meja itu, menu yang biasa kita pesan. Hobimu membiarkan tali sepatumu terurai. Dengan suara lembut manjamu, memintaku untuk mengikatnya kembali. Ingin diperlakukan seperti ratu, tapi aku sendiri diperlakukan seperti babu.

Hingga aku tersadar bahwa telah lama kau bersamanya.

Bahkan saat kau mengatakan tidak ada sinyal malam itu, ternyata itu hanya alibimu saja. Aku menunggu lama untuk sebuah kabar darimu malam itu. Jauh disana ternyata kau duduk berdua mesra dengannya di atas motor. Jangan tanya aku tahu darimana soal itu. Jelas aku mencari tahu dan alam semesta membantuku. Menjamu dirinya dengan segelas kopi sambil mendengar kesaksiannya tentang kebenaran yang terjadi pada malam itu.

Apalagi yang ingin kau tahu? Saat kau menimbah ilmu pun di negeri orang, aku juga tahu bahwa kau jalan dengan pria yang lain.

Lagi dan lagi…

Kau menyuruhku untuk menambahkan sebuah aplikasi pada gawaiku agar kau bisa memonitor kemana dan dimana aku berada.

Sungguh tidak adil! Namun aku tetap diam karna amarahmu yang memuncak. Siapapun tidak tahan berada diposisiku ini. Tanyakan saja pada oranglain, apa yang akan dia lakukan jika bersama wanita pemarah sepertimu? Aku yakin semua akan menyarankan hal yang sama, yaitu lebih baik meninggalkanmu sendiri beserta keras kepalamu.

Namun cinta membutakan segalanya. Di mataku kau tampak sempurna dengan segala kekuranganmu itu. Hingga akhirnya perpisahan adalah cara kita tetap mencintai tanpa melukai satu sama lain.

Seperti kata-kata yang pernah aku baca, berpisah dulu, mendewasakan diri, lalu bertemu kembali untuk cerita yang lebih baik.

Mungkin saja begitu, namun apapun yang ditakdirkan untukmu tidak akan pernah tertukar dengan milik oranglain.

Kita terlalu sibuk mencari kesalahan satu sama lain, sampai kita lupa bahwa ada banyak kesamaan yang berhasil membuat kita saling jatuh cinta. Lagu yang sering kita dengar setiap kali di dalam mobil. Nyanyi berdua sambil menatap dan saling melempar senyum. Menikmati jajanan pinggiran karna hobi kuliner yang sama. Membawa pulang boneka yang berhasil kita capit dari mesin itu. Dan banyak tulisan pengingat yang masih aku simpan. Karna kau tahu aku suka telat makan karna terlalu sibuk menulis.

Beginilah kehidupan seorang penulis. Tak jarang aku menolak sebuah pertemuan denganmu dan malah memilih diam dirumah menatap layar komputerku sepanjang hari. Lebih baik simpan saja amarahmu dan tidurlah. Aku tahu inginmu adalah diriku. Namun jika hanya menyusahkanmu lebih baik carilah penggantiku.

Kau abadi dalam ceritaku, seperti cerita yang sekarang kau baca ini.

Please share,
Acha Hallatu

Penulis muda dari Medan yang telah menulis buku Catatan Aku Anak Psikologi dan “Aku, Dia, dan Patah Hati yang Unchhh”. Buku-buku ini tersedia di Google Play Book dan Shopee. Email : hallatuacha@yahoo.co.id. IG : achahallatu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *