HomeREFLEKSIDISKUSI“Kenapa Filsafat?” (Merenungkan Filsafat sebagai Vokasi)

“Kenapa Filsafat?” (Merenungkan Filsafat sebagai Vokasi)

0 70 views share

Pertanyaan yang paling menyebalkan sering dihadapi anak filsafat: Habis lulus, mau jadi apa? Mau ngapain setelah belajar filsafat? Filsafat bisa apa sih? Kenapa kok milih Filsafat?

Pertanyaan ini mungkin akan lebih mudah dijawab kalau kata ‘Filsafat’ diganti dengan ‘Kedokteran’, ‘Teknologi Pangan’, atau ‘Arsitektur’. Jawaban-jawaban praktis akan segera diutarakan. Sayangnya, yang terjadi tidak demikian, yang mereka tanyakan ialah ((((Filsafat))))

Saya membayangkan Filsafat sebagai sebuah vokasi. Vokasi seringkali dikaitkan dengan “pendidikan vokasi” yang bertujuan mempersiapkan peserta didik dengan keahlian terapan tertentu sehingga dapat menunjang pekerjaan mereka di masa depan. Namun, “Filsafat sebagai vokasi” yang saya bayangkan tentu saja bukan filsafat dengan “mbengkel” untuk kemudian menghasilkan furniture atau mesin. Saya juga tidak sedang mendukung program pemerintah “kerja..kerja..kerja” yang dulu sempat digaungkan awal 2014!

Mari kita tunda makna kata “vokasi” yang berkaitan dengan keahlian terapan!

Melacak dari akar katanya, “vokasi” berasal dari kata dalam bahasa Latin “vocare” yang berarti “memanggil”. Kata vokasi juga sering dikaitkan dengan kata “vox”, yang berarti “suara”. “Vokasi” dapat diartikan sebagai sebuah “panggilan”. Apa atau siapa yang “memanggil”? Biasanya “yang memanggil” adalah “hal-hal atau kekuatan yang melampaui diri kita”, seperti nilai-nilai kebaikan, keadilan atau Tuhan. Kata “vokasi” memang warisan dari tradisi religius, tapi kita juga bisa menerjemahkannya dalam dunia sehari-hari.

BACA JUGA :   Mengorkestrasi Sains di Masa Pandemi Covid-19

Lalu, bagaimana dengan filsafat sebagai vokasi? “Filsafat sebagai vokasi” berarti filsafat yang bergerak dari sebuah panggilan yang melampaui diri kita. Panggilan tersebut menjadi semacam motor penggerak mengapa kita berfilsafat.

Saya menimba inspirasi vokasi Filsafat dari beberapa tokoh. Pertama, dari Socrates dalam pengadilan sebelum ia dijatuhi hukuman mati. Ketika dihadapkan pada pengadilan dan membuat pembelaan karena dituduh tidak percaya pada Dewa dan merusak kaum muda, Socrates mengatakan kalau segala yang dilakukan adalah memenuhi ‘panggilan’ atau tugas dari Dewa-Dewi yaitu untuk berfilsafat dengan memeriksa diri serta yang lain. (Apology, §28e). “Panggilan”nya untuk berfilsafat juga didorong oleh nilai-nilai yang dia pegang seperti kebijaksanaan, kebenaran, dan pemeliharaan jiwa. Dari Socrates, saya belajar bahwa filsafat berorientasi untuk mencapai kebenaran yang dicapai dengan cara berdialog, membawa filsafat turun ke jalan, dan membuatnya bisa dipikirkan oleh banyak orang. Sekaligus Socrates menegaskan bahwa filsafat bukan ‘omongan langitan’ tapi selalu berkaitan dengan hidup sehari-hari.

Kedua, Gadamer. Sewaktu ditanya tentang apa makna hermeneutik untuk seorang pemikir hermeneutik seperti dirinya, Gadamer menjawab hermeneutik adalah seni untuk bisa mendengarkan. Gadamer melihat hermeneutik atau seni memahami seperti sebuah percakapan. Dalam percakapan kita mendengarkan orang lain, memahami yang dia katakan, mengutarakan yang kita pahami, lalu kita mendengarkan lagi sehingga pemahaman kita semakin meluas dan seterusnya. Saya teringat hari-hari ini begitu sulit mendengarkan suara yang berbeda dari suara kita, apalagi untuk memahami mereka yang lain dari kita. Kritik, misalnya, dianggap pengkhianatan sehingga dibungkam. Juga, betapa mudah orang menjadi tersinggung karena menganggap perkataan orang lain menodai keyakinannya. Parahnya, balasan atas perkataan yang dianggap menyakitkan tersebut adalah pembunuhan. Vokasi Filsafat yang saya timba dari Gadamer adalah bagaimana kita bisa belajar mendengarkan dan memahami lebih banyak spektrum pemikiran. Seandainya kita lebih banyak mendengarkan….

BACA JUGA :   Menjadi Merdeka di Tengah Pandemi

Ketiga, saya juga menimba panggilan filsafat saya dari Judith Butler. Butler menawarkan etika non-kekerasan/ non-violence ethics. Non-kekerasan bukan berarti keadaan tidak adanya kekerasan sama sekali, tetapi suatu cara untuk mengakarkan agresi pada perjuangan kesetaraan yang lebih luas. Sebagai contoh, mengapa kita mempertahankan hidup orang-orang tertentu dan menyia-nyiakan hidup orang-orang lain? Artinya perjuangan untuk mempertahankan kehidupan perlu didampingi dengan prinsip kesetaraan, bahwa hidup setiap orang bermakna. Butler menawarkan “kedukaan” sebagai sumber kewajiban politik global. Menurut Butler, kehilangan kapasitas untuk merasakan kedukaan akan hilangnya kehidupan, berarti kehilangan makna hidup dan penderitaan yang kita perlukan untuk menentang kekerasan. Merasakan kedukaan hidup kita dan orang lain mengandaikan adanya suatu perubahan struktur dari masyarakat yang cenderung individualis ke sistem sosial yang lebih kolektif dan menekankan kesaling-tergantungan antara satu orang, bangsa atau negara dengan yang lain. Saya pikir vokasi penting lain dalam Filsafat adalah berpikir kritis, membangun empati dan mengusahakan kesetaraan yang lebih luas.

BACA JUGA :   Film The Foreigner : Teroris Bisa Siapa Saja, Kadang Tak Disangka

Keempat, saya menimba inspirasi juga dari Serat Wulang Reh. “Ngelmu iku kalakone kanthi laku, lekase lawan kas, tegese kas nyantosani, setya budya pangekese durangkara”. Kurang lebih bagian ini bermakna, berilmu baru berhasil dilakukan apabila menjadi tindakan, dengan kemauan kuat, artinya kemauan kuat untukmemberi manfaat, memperkokoh budi dan menjauhkan dari watak angkara. Demikian juga vokasi Filsafat, sebagaimana berilmu, baru bisa utuh apabila diterjemahkan dalam tindakan, memberi manfaat sesuai yang bisa diberikan Filsafat, memperluhur budi dan ditujukan untuk mengikis angkara.

Demikian vokasi Filsafat dari persepektif saya yang mungkin akan berguna ketika kamu ditanya oleh calon mertua siapa saja: “Kenapa (memilih/ suka/ belajar/ bekerja di bidang) Filsafat?”. Bagaimana dengan kamu? Vokasi apa yang menggerakkan Filsafat-mu?

Please share,