HomeAKSIMelawan Setan Bermata Runcing

Melawan Setan Bermata Runcing

0 210 views share

Melawan Setan Bermata Runcing’ adalah judul buku terbitan Sokola Institute. Buku ini selain menceritakan pengalaman Sokola, juga berisi cerita para relawan mengembangkan pendidikan alternatif di pedalaman Indonesia.

Bertempat di Aula RRI Jember, Jumat (07/02/2020),   pegiat pendidikan dari berbagai komunitas berkumpul untuk mendengarkan langsung cerita dari pendiri Sokola Institute dan para penulis buku ini.   Buku ini berisi kisah perjalanan Sokola Institue selama 17 tahun menghidupi pendidikan alternatif bagi masyarakat adat pada beberapa tempat di Indonesia.

Saleh Abdulah, Editor buku ‘Melawan Setan Bermata Runcing’ mengatakan judul buku ini berdasarkan dari pengalaman mendampingi masyarakat adat Rimba di Bukit Duabelas, Jambi. Masyarakat Rimba Bukit Duabelas menganggap pensil dan alat tulis merupakan setan yang bisa memanipulasi sesama.

BACA JUGA :   Michael Andrew : Kegalauan Identitas Pemuda Tionghoa-Indonesia

 “ Bagi mereka alat tulis itu jahat dan sangat mengerikan. Tentu mereka mengatakan ini berdasarkan pengalamannya sendiri” jelas Abdulah.

Realitas itulah yang mendorong Sokola Institute merasa perlu untuk menemani mereka untuk belajar. Cerita masyarakat Rimba Bukit Duabelas Jambi ini dinarasikan dengan baik dalam buku ini.

Penulis buku “Melawan Setan Bermata Runcing” Butet Manurung (kanan) bersama penulis lainnya dalam kegiatan bedah buku di aula RRI Jember, Jumat (7/2/2020) . Foto : Joana Liani

Riki, petani kopi dari Sumber Candik, Jember yang hadir dalam bedah buku ini juga mengatakan hal serupa.  Baginya, pengetahuan yang kurang tentang baca tulis berpengaruh pada cara mereka mengolah dan memasarkan kopi.

BACA JUGA :   Paus Fransiskus mengunjungi UEA : Kita Bersaudara Dalam Satu Pelukan Kasih

“ Kami berutung ditemani Sokola Kaki Gunung, sehingga sekarang sudah bisa baca tulis dan semoga lebih bisa mengolah dan menjual kopi agar lebih menguntungkan” kata Riki.

Desa Sumber Candik, Jember merupakan wilayah dampingan Sokola Kaki Gunung yang digerakan oleh para pegiat pendidikan alternatif di Jember.

Hadir juga dalam bedah buku ini pendiri Sokola Rimba, Butet Manurung. Ia mengatakan bahwa buku ini isinya sederhana, yaitu tentang substansi pendidikan yang dinarasikan melalui  pengalaman relawan pendidikan di wilayah pedalaman.

“Pesan yang ingin saya sampaikan melalui buku ‘Melawan Setan Bermata Runcing” ini adalah tentang esensi dari pendidikan itu sendiri yang harus menjawab persoalan yang dihadapi masyarakat dan kontekstual,” katanya Butet.

Pendekatan Sokola dalam buku ini disebut pendekatan kontekstual, dimana yang diajarkan dan dipelajari harus sesuai dengan kebutuhan masyarakat sehingga dapat mereka terapkan sesuai dengan kebutuhan harian mereka.

BACA JUGA :   Dibalik terbitnya buku "Ada Aku di Antara Tionghoa dan Indonesia", Aku berlutut di hadapan Cino Suroboyo

Melalui buku ini Sokola Institute memberikan pesan “berbuat baik saja tidak cukup”.  Kebaikan yang dibagikan harus sesuai dengan budaya dan adat setempat. Jangan sampai perbuatan baik yang dilakukan justru melemahkan kebiasaan-kebiasaan adat yang sudah turun temurun dan menghilangkan budaya lokal.

Buku ini  dibedah dalam rangkaian tour bedah buku di  enam kota di Indonesia dan Jember menjadi kota keempat.

Reporter : Joana Liani. Editor : Andre Yuris

Please share,