Pekan Buku dan Diskusi Sruntul,  Mempertemukan Pecinta Sastra dengan Pelapak Buku

Bertempat di warung Mbah Cokro Surabaya, Komunitas Sastra Sruntulisme menggelar Pekan Buku Sruntul Vol 2 dan Diskusi Sastra Kontemporer. Menghadirkan sebelas pembicara dan delapan lapak buku, kegiatan ini berlangsung selama dua hari, Sabtu-Minggu, 22-23 Juli 2023.

355 0

Rizki Amir, pendiri Sruntulisme, alumnus Sastra Indonesia Unesa mengatakan kegiatan ini merupakan lanjutan Pekan Buku Sruntul Vol 1 yang tertunda karena pandemi Covid-19.

“Pekan buku Sruntul bermula ketika teman-teman Komunitas Rabo Sore memiliki kedai bernama Sruntul” kata Amir.

Rizki bercerita, program kedai Sruntul pada masa Covid 19 tidak berjalan. Kedai itu akhirnya bangkrut. Lalu program Pekan Buku Sruntul berubah jadi usaha proofreading dan editor. Namun program tersebut hanya bertahan kurang lebih hampir setahun. 

“Karena Sruntul ini kebanyakan dari teman-teman Rabo Sore yang bergerak dalam sastra dan literasi. Maka aktivitasnya berkaitan buku-buku dan diskusi” lanjut Amir.

Tentang hadirnya pelapak-pelapak buku, Amir mengaku konsep tersebut muncul dari ide menyatukan lapak-lapak buku dari Surabaya dan Sidoarjo.  

Forum diskusi dalam Pekan Buku Sruntul Vol. 2 di Angkringan Mbah Cokro, Jalan Raya Prapen, Surabaya, Sabtu-Minggu, 22-23 Juli 2023. Foto: Hanif Rahmansyah.

“Sering ada diskusi buku di Surabaya, tetapi tidak pernah ada pelapaknya. Andaipun ada, yang dijual buku-buku yang didiskusikan. Karena itu kami mencoba menyatukan sejumlah pelapak dari Surabaya dan Sidoarjo dalam kegiatan diskusi ini” egasnya.

Buku-buku yang diperjual-belikan pelapak pada acara Sruntul beragam. Salah satunya Lapak Buku Djagad milik Hasanuddin Romadhon dari Sidoarjo. Ia menjual beragam buku. Harganya bervariasi, berkisar 10 ribu, sampai 100 ribu,  tergantung jenis bukunya.

“Buku-buku yang saya bawa kebanyakan sastra, sejarah, dan sosial politik. Buku sastra ada bukunya Pramoedya Ananta Toer, Dee Lestari, Romo Mangunwijaya, George Orwell, dan lain-lainnya” kata Hasanuddin.

Ia berharap pengunjung membeli buku-buku maupun novel agar ekosistem perbukuan tetap hidup. Juga menyarankan pembaca menemukan buku yang sesuai dengan dirinya agar tidak sia-sia membeli buku.

“Novel Pram yang berjudul Bumi Manusia yang buat saya jatuh cinta akan buku. Ini juga menjadi alasan saya berjualan buku hingga sekarang” katanya.

Senada dengan Hasanuddin, Amir berharap kegiatan ini mempertemukan orang-orang yang suka dengan buku dan sastra.

“Terkadang kita tidak pernah nyantol antara satu dengan yang lain. Ekosistem perbukuan seperti lingkaran, ada penulis, penerbit, penjual buku, dan pembaca. Karena itu, kami ingin mempertemukan mereka semua.” pungkasnya.

Reporter : Hanif Rahmansyah


Ikuti Idenera di  Google News: Google will europäische Nachrichtenplattform starten - und ... Google News.


Terimakasih telah mengunjungi IDENERA.com. Dukung kami dengan subscribe Youtube: @idenera, X :@idenera, IG: @idenera_com


 

Please share,
idenera

IDENERA, membuka kesempatan bagi siapapun menjadi kontributor. Tulisan dikirim ke : editor@idenera.com dan dapatkan 1 buku tiap bulannya bila terpilih oleh editor.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *