Perjuangan Anti Kolonial di Surabaya Bukan Hanya Milik Pribumi

Marjin Kiri menggelar bedah buku berjudul Ras Kelas, Bangsa: Politik Pergerakan Anti-Kolonial di Surabaya Abad ke-20. Kegiatan yang dihadiri puluhan peserta itu diadakan pada Rabu, 6 September 2023 di Perpustakaan C20, Jalan Dr Cipto Nomor 22, Surabaya.

147 0
https://marjinkiri.com/product/ras-kelas-bangsa/

Sebagai penulis buku itu, Andi Achdian bercerita mengenai sejarah perjuangan anti kolonial di Surabaya tidak hanya milik pribumi. Baginya, Surabaya adalah kosmopolitan yang melibatkan berbagai etnis seperti Tionghoa, Jawa, Batak, hingga Arab dalam perjuangan melawan kolonialisme. 

 “Indonesia sangat kaya sebenarnya, dalam pengertian Surabaya saat itu. Bagi saya, luar biasa. Kemajuan modernitas itu didampingi pula dengan kemajuan pada hubungan sosial,” katanya.

Buku yang diangkat dari hasil disertasinya itu melengkapi sekaligus memperbaiki kesalahan interpretasi dari sejarawan sebelumnya, seperti Ruth Mcvey, Takashi Shiraishi, hingga Benedict Anderson. Hal itu beralasan, sebab ia mendapatkan data dan bukti sejarah yang jauh lebih kaya daripada pendahulunya. 

“Sepertinya, tulisan mereka cocok dibuat pada 1980-1990, ketika Orde Baru masih kuat-kuatnya. Mereka selalu begitu, rakyat melawan negara, konstruksinya demikian. Tapi, dalam konteks sekarang, saya melihat pergerakan masyarakat kota tampak berbeda,” ujarnya.

Guru Besar Universitas Airlangga (Unair) Surabaya, Purnawan Basundoro dalam bukunya berjudul Merebut Ruang Kota: Aksi Rakyat Miskin Kota Surabaya 1900-1960 mengatakan bahwa ia dapat melihat tiga elemen gerakan anti kolonial, yakni organisasi, pendidikan, dan pers. 

Ia memuji buku Andi Achdian, sebab berhasil menceritakan berbagai peristiwa sejarah secara detail. Menurutnya, referensi penulis terbantu dari arsip koran-koran zaman Belanda yang kini dapat diakses secara online.

“Ketika saya menyusun disertasi, saya tidak bisa sedetail Andi pada waktu itu. Jadi, menurut saya, itu yang menjadikan buku ini berbeda ketika melihat gerakan kebangsaan di  Indonesia,” tuturnya.

Ia tak lupa memberi catatan terhadap buku itu. Baginya, Andi seharusnya membandingkan gerakan kolonial yang ada di Surabaya dengan Batavia. Dengan perbandingan itu, pembaca dapat melihat perbedaan corak gerakan kolonial yang ada di kedua wilayah tersebut. 

Kendati demikian, ia mengagumi kekuatan lain dari buku itu yang terletak pada gaya ensiklopedis dalam menyajikan cerita. Juga caranya menyajikan buku membuat ulasan di dalamnya begitu lengkap.

“Karena pada masing-masing bab itu ada sub-sub yang sangat banyak memperlihatkan pembahasan mendalam,” pungkasnya.

Image: Facebook Margin Kiri

Reporter: Muhammad Akbar Darojat Restu Putra. Editor: Rangga Prasetya Aji Widodo


Ikuti Idenera di  Google News: Google will europäische Nachrichtenplattform starten - und ... Google News.


Terimakasih telah mengunjungi IDENERA.com. Dukung kami dengan subscribe Youtube: @idenera, X :@idenera, IG: @idenera_com


 

Please share,
idenera

IDENERA, membuka kesempatan bagi siapapun menjadi kontributor. Tulisan dikirim ke : editor@idenera.com dan dapatkan 1 buku tiap bulannya bila terpilih oleh editor.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *