HomeAKSISaras Dumasari : Diam itu jauh lebih berbahaya, karena ia tak memihak*

Saras Dumasari : Diam itu jauh lebih berbahaya, karena ia tak memihak*

AKSI DISKUSI PERSONA REFLEKSI 0 0 likes 537 views

Perkenalkan, namaku Saras. Berasal dari Banyuwangi dan besar dengan kultur NU (Nahdlatul Ulama) dan Muhammadiyah. Karena, rumahku berada di tengah perkampungan kedua ormas besar itu. Interakasi keduanya sangat kental padaku. Ada tahlilan dan sholat terawih 8 rakaat.

 

Pada usia tujuh tahun, aku kedatangan sepupu dari jauh, yaitu Amuntai (Kalimantan Selatan). Katanya, mama sepupuku orangnya seronok. Berteman dengan ‘banci’, ‘tukang minum’. Namun, terlalu kecil. Ku sambut saja mereka dengan suka cita. Namun, beriring waktu mereka tinggal di sini banyak kejadian yang tak ku sukai.

Kejadian itu, antara lain mereka suka mengambil barang milikku tanpa sengetahuanku. Katanya, karena suka. Sepupuku itu juga sering diolok-olok ‘bencong’. Tentunya aku kesal, marah, dan malu. Tapi, aku memilih diam.

BACA JUGA :   Histeria dan Neurosis Obsesional Dalam Diskursus Politik Kontemporer Indonesia

Bertahun-tahun hingga aku kuliah, ku pikir sebutan ‘bencong’ itu akan berubah. Ternyata tidak, malah menjadi. Teman-teman sepupuku banyak perempuan. Ia juga dicurigai sudah punya pacar laki-laki. Bikin malu!

Keluarga sudah mulai geram. Pernah ada kejadian besar, keluarga besar mendudukannya dalam pertemuan keluarga besar. Menanyai ini itu, utamanya hubungannya dengng Bob. Ujungnya, sepupuku marah dan meninggalkan rumah. Terakhir, ia mengakui bahwa dirinya ‘gay’. Tapi, itu takkan merubah apa pun dlm dirinya.

Saat itu, aku hanya diam. Tak tahu harus berbuat apa. Dalam prinsipku, jika ia tak menganggu urusanku maka aku juga tak mengganggu urusannya. Hingga, aku tersadar. Tindakan diamku itu berakibat kehilangan satu keluargaku, yaitu sepupuku.

BACA JUGA :   Pentingnya pergi dari tempat kita saat ini dan Matilah di tempat yang jauh...jauh sekali..

‘Tindakan diam itu jauh lebih berbahaya, karena ia tak memihak, tak melawan. Seperti pengecut. Hanya ambil enaknya saja. Padahal ia malah melukai kedua pihaknya’.

Paska itu, sesal pun datang. Kalau aku mengetahui sejak awal, memahami pilihannya apa pun itu, termasuk orientasi seksualnya. Apa pun itu takkan masalah. Semuanya hanya seperti, aku suka soto daging dan ia babat. Apa itu salah? Tidak! Karena, beda itu biasa.

*Saras Dumasari,  Peserta Sekolah Ansos 2017. Mahasiswa Paska Sarjana Universitas Airlangga (UNAIR) Surabaya. Anggota HMI Malang dan Koalisi Perempuan Indonesia, Jawa Timur

 ** Tulisan ini merupakan salah satu proses di Sekolah Ansos, dimana peserta diminta memberikan refleksinya  dengan judul; ” Saya dan….(isu yang dipilih)”. Atas persetujuan partisipan akan di publis secara berkala di www.idenera.com.

 

BACA JUGA :   Ngobrol Pancasila Masih Ada di Warung Mbah Cokro
Please share,