HomeAKSIUndangan Menulis Buku: Merawat Ingatan 13 Mei 2018

Undangan Menulis Buku: Merawat Ingatan 13 Mei 2018

AKSI KOMUNITAS MITRA KARYA WARGA 0 9 likes 1.6K views

Tanggal 13 Mei 2018, bom mengguncang Surabaya. Bom menyasar tiga gereja: Gereja Katolik SMTB Ngagel, Gereja Kristen Indonesia (GKI) Diponegoro, Gereja Pantekosta Pusat Surabaya dan Markas Polrestabes Surabaya serta Rusunawa Wonocolo Sidoarjo. Korban berjatuhan. Tercatat 28 orang meninggal dunia termasuk pelaku pemboman dan 58 orang lainnya luka berat dan luka ringan.

Bisa dibayangkan perasaan warga kota Surabaya saat peristiwa itu terjadi. Perasaanya campur aduk, ada yang marah, kesal, kaget, takut, terkejut, curiga dan mungkin ada yang biasa biasa saja. Namun yang jelas ada duka mendalam. Ada kesedihan mendalam  karena ayah, ibu, kakek, nenek, saudara dan teman yang jadi korban.

Warga kota Surabaya,  baik secara pribadi dan komunitas mencoba merespon peristiwa ini. Ada doa dimana-mana. Ada pula yang berdiam diri dalam rumah karena khawatir dan takut.  Ada pula yang mengorganisir orang perorang dan komunitas untuk menyatakan sikap. Saat itu ada dua titik kumpul warga. Ada yang berkumpul di Komplek Taman Apsari dan ada juga di Kompleks Tugu Pahlawan.

Ada pula gerakan di sosial media, yang paling menonjol saat itu trendingnya hastag #surabayawani, #kamitidaktakut, dan #terorisjancok. Ungkapan itu juga muncul dalam spanduk dan grafiti di beberapa  titik kota Surabaya.

Namun dari semua respon warga itu, ada satu sikap yang kurang lebih sama. Warga Surabaya mengutuk aksi teror dan menyatakan tidak takut akan aksi teror. Walaupun, mungkin saja ada kekhawatiran akan aksi susulan. Ada  semangat yang  entah dari mana datangnya, mendorong dan memberanikan warga untuk keluar menyatakan sikap dengan tegas. Juga ada yang secara berkelompok mendatangi gereja-gereja yang terkena bom untuk menunjukan solidaritas  pada korban dan  para pengurus gereja. Padahal kala itu, pihak kepolisian mewanti-wanti agar warga lebih baik tidak keluar rumah.

Dalam penelitian “Makna Solidaritas Komunitas Arek Surabaya Paska Reformasi”  yang dilakukan oleh  Univesitas Katolik Widya Mandala 2018 disebutkan bahwa peristiwa tanggal 13 Mei 2018, alih-alih menimbulkan kecurigaan antar warga malah sebaliknya memperkuat solidaritas arek. Solidaritas arek adalah  perasaan dan sikap yang dilatarbelakangi oleh pengalaman berjumpa dengan situasi penderitaan/kesusahan, perasaan senasib sebagai orang kecil dan rasa kemanusiaan.

Peristiwa 13 Mei 2018 tentu saja tidak bisa kita lepaskan dari cerita kesedihan dan penderitaan, namun ia juga melahirkan kemenangan atas teror dan kenangan akan solidaritas arek. Peristiwa ini memoria pasionis sekaligus memoria victoria yang  sudah selayaknya dirawat bersama.

Menulis adalah salah satu cara merawat memoria pasionis dan memoria victoria. Menulis adalah usaha bersama agar kita tetap ingat akan para korban dan realitas teror yang terjadi. Juga jadi peringatan akan pentingnya menjaga solidaritas antar warga agar kehidupan bersama menjadi guyub dan rukun. “Lakukanlah ini sebagai peringatan bagi kita semua.”

Inilah yang jadi inspirasi bagi untuk itu, kami mengajak dan mengundang teman-teman dan  siapapun yang terdampak langsung maupun tidak untuk menuangkan ingatan, pengalaman, perasaan, refleksi iman dan bahkan ilmiah dalam bentuk tulisan. Bagi kami ini kiranya bisa jadi persembahan kecil dalam usaha kita menata kehidupan bersama sebagai warga bangsa. Persembahan dalam bentuk buku ini untuk sementara kami beri judul “Merawat Ingatan 13 Mei 2018” .Mari menulis…

Tujuan:
 Mengumpulkan, mendokumentasikan, dan menerbitkan  refleksi, pengalaman dan tanggapan warga masyarakat terkait peristiwa bom di Surabaya, tanggal 13 mei 2018.

Pertanyaan dan jawaban terkait program ini :

Siapa yang bisa menjadi penulis buku ini?

Siapapun yang melihat, mendengar, merasakan dan mengalami secara langsung maupun tidak langsung peristiwa 13 Mei 2018. Mengalami langsung berarti berada di lokasi atau sekitar peristiwa itu terjadi. Mengalami tidak langsung berarti berada jauh dari lokasi peristiwa itu, entah keluarga maupun sahabat yang mengalami langsung. Siapapun yang terlibat dalam aksi dan kegiatan  pasca peristiwa 13 Mei 2018. Siapapun yang mengalami dampak dari peristiwa itu. Hal terpenting adalah tulisan tersebut ungkapan jujur tanpa embel-embel fiski terkait peristiwa itu.

Seperti apa format penulisan buku ini?

Teman-teman bisa menulis dengan berbagai gaya, yang penting enak dibaca dan mudah dipahami. Menulislah dengan jujur dan dari hati. Intinya, MENULIS. Jangan terlalu dipusingkan dengan teknis, gaya atau apapun.  menulis, menulis, dan menulis. Tapi, tulisan teman-teman harus merupakan karya sendiri. Bila terdapat kutipan dan catatan kaki harap disertakan. Tulisan tersebut juga belum pernah dimuat media lain. Saran ini kami kutip dari mas Aan Ansori. Teknisnya: font times new roman, 12, dan spasi 1,5.

Berapa panjang tulisan yang bisa dikirim?

Teman-teman bisa menulis minimal 900 kata  (spasi tidak dihitung), atau sekitar 4 halaman A5. Maksimal? Kami menyarankan 1.500 kata. 

Apakah penulis akan mendapat honorarium /uang?

Kami tidak memiliki anggaran dana untuk honorarium penulis. Bahkan, untuk rencana cetak buku ini  kami belum memiliki uang. Tapi kok yakin mau buat buku?  Kami yakin ada banyak orang baik yang mau bersama kami bergotong-royong, bantingan dan urunan biaya cetak buku. Kami juga mengusahakan dan menawarkan ini pada perusahaan penerbit buku agar biaya cetak bisa dikurangi. Siapa tahu ada percetakan yang tertarik. Teman-teman juga bisa memberikan rekomendasi penerbit kepada kami. Kata Pram, “Menulis adalah bekerja untuk keabadian”. Hanya itu persembahan kami pada para penulis.

Apakah nama penulis dicantumkan?

Nama setiap penulis akan dicantumkan dalam karyanya. Ini adalah karya para penulis.

Jika buku ini dicetak dan dijual, siapa yang mengantongi royalti atau keuntungannya?

Karena buku ini kerja sukarela dan dicetak dari dana donasi, royalti tentu tidak ada. Dana donasi 100% digunakan untuk cetak ulang buku. Hasil penjualan buku digunakan sebagai dana gotong royong untuk promosi buku ini, misalnya dengan cara mengadakan diskusi bedah buku atau sejenisnya.

Kapan batas akhir pengiriman tulisan?

Diharapkan seluruh tulisan telah terkumpul paling lambat 15 Maret 2019, dan dikirim ke alamat  email :  editor@idenera.com  dengan format  judul: tulisan solidaritas 13 mei : JUDUL TULISAN. Nama, alamat domisili, no HP, media sosial dan komunitas langsung dicantumkan pada akhir tulisan.

Siapa saja yang telah bersedia menjadi penulis?

Beberapa teman dari berbagai komunitas telah menyatakan kesediaannya, diantaranya adalah Romo Aloysius  Widyawan (Gereja Katolik SMTB), Aan Anshori ( JIAD), Kristo (Dosen MKU UKWM), Saras Dumasari (Aktivis KPI), Angky (UKMK Unitomo), Dadik Kusmadi (SMM), dan Ghorby Sugianto (GMKI). Dari Fakultas Filsafat UKWM: Simon Untara, Jessica Anastasia, Datu Hendrawan. Dari Nera Academia: Andre Yuris, Ria Tekat, Thomas Satrya, Joana Liani, Juven Timur, Alfredo Dos Santos. Dari Alumni Sekolah Ansos: Ulum, Leo, Lutfie, Ebi Febriansyah. Kami berharap semakin banyak teman yang mau terlibat. Lebih banyak lebih baik.

Siapa saja yang menginisiasi program pengumpulan  dan penerbitan tulisan ini ?

Andre Yuris, Simon Untara, Ria Tekat, Saras Dumasari dan Joana Liani.

Siapa saja yang telah bersedia jadi tim kerja?

Tim Dokumentasi: Andre Yuris, Saras Dumasasi. Tim Editor: Kristo, Simon Utara, Anastasia Jesica. Publikasi: Juven Timur, Ria Tekat, Dadik Kusmadi. Tim Kreatif: Alfredo Dos Santos. Tim Wawancara : Ghorby, Febriansyah dan Lutffie Meutiah.  Keuangan : Jonana Liani. Untuk informasi  silahkan  menghubungi :  Kristo: 0812 1721 2456 / Ria: 085 640 66 99 19. Publikasi secara berkala akan diupdate pada: IG:  @idenera, facebook page: idenera dan www.idenera.com



Menulis itu melegakan, mari berbagi cerita agar ingatan kita tetap menyala.

Please share,