HomeNARASIFILSAFATAkumu Adalah Jejer-mu: Wajah Lain Sufisme Nusantara

Akumu Adalah Jejer-mu: Wajah Lain Sufisme Nusantara

FILSAFAT KEBUDAYAAN SEJARAH 0 1 likes 116 views

Wayang iku
Wewayangan kang satuhu
Lelakoning jalma ing alam janaloka
Titenana wong cidra mangsa langgenga
 
[Wayang itu
Adalah kaca-benggala
Kehidupan manusia di dunia
Yang ingkar janji tak lagi lama]

Sepupuh tembang Pocung itu merupakan gambaran singkat tentang pesan besar apa yang sebenarnya mendasari cerita wayang—katakanlah, raison d’etre-nya. Ada beragam karakter di sana, karakter pokok dan karakter srambahan. Masing-masing seperti memiliki atau memilih takdirnya sendiri-sendiri. Setiap pilihan, menanggung konsekuensi eksistensial tersendiri. Dan konsekuensi itu khas. Jemeinigkeit, pekik Heidegger.

Taruhlah Yudhistira, paraga yang kerap dikisahkan berdarah putih, lambang kesucian. Ia jarang sekali marah, apalagi berperang. Satu-satunya perang yang ia alami, dengan—apapun alasannya—membunuh, adalah karena muslihat Kresna, sang diplomat agung. Bagi khalayak yang mengutamakan kesabaran tanpa batas, yang mendambakan kesempurnaan hidup dan manisnya kematian, ia merupakan teladan. Tak hanya tahta dan harta, konon, adik-adiknya dan permaisurinya sendiri, tega untuk dipertaruhkan dan dipermalukan laiknya sudra.

Tentu, Yudhistira bukan penganut paham bahwa apa yang menjadi milik kita merupakan titipan yang sudah semestinya dijaga. Apa saja, ketika diminta, Yudhistira tak pandang bulu untuk mengasihnya. Singkat kata, Yudhistira tak menganut prinsip pembelaan—bahkan pun pembebasan.

Adakah untungnya? Ada. Dalam kisah Pandhawa Mokswa, ia dikabarkan beroleh surga bersama raganya—seperti yang juga dituai oleh Abiyasa dan Jaladara. Apa yang dituai Yudhistira, konon, merupakan dambaan tertinggi setiap sanyasin, orang-orang suci kelana.

 Berbeda dengan Yudhistira, adik-adiknya, Bima dan Arjuna memilih prinsip satriya pinandhita—pilihan yang dipilih pula oleh Bisma. Nilai hidup—sekaligus kematian mereka—tak terletak pada hari akhir, hidup setelah kematian. Mereka paraga-paraga yang mendasarkan hidupnya pada jejer. Selama mereka setia pada jejer-nya, peran dan tugasnya, mereka tak memedulikan apa yang bakal mereka tuai setelah kematian.

BACA JUGA :   Thomas Aquinas : Pertengkaran dan keluhan dalam persahabatan

Dengan kata lain, ada dua penyikapan terhadap—katakanlah: “Tuhan”. Yudhistira lebih memilih untuk senantiasa menjaga “kesucian” atau segala predikat seorang hamba-Tuhan, hingga ia tak begitu sreg dengan politik, yang notabene, sarat “kekotoran.” Ia seorang raja yang enggan bermahkota. Berlebih belaskasihnya. Berlebih kedermawanannya, hingga kerajaan, adik-adiknya dan isterinya pun diberikan ketika diminta sebagai pertaruhan.

Berbeda dengan Bima dan Arjuna. Mereka menyadari hak-haknya yang sudah semestinya dibela. Mereka ksatria. Mereka bisa cemburu. Mereka bisa merasakan kehilangan. Mereka bisa marah. Mereka bisa menanam dan memuntahkan dendam. Mereka berperang. Membunuh.

Dalam kacamata awam, karena karakter-karakter semacam Bima atau Arjuna yang masih menyisakan dendam dan amarah di dadanya, dianggap bukanlah teladan yang baik dalam soal “ketuhanan”. Namun, tentu saja penilaian semacam ini telah kehilangan detail dan konteks, beranjak dari premis yang tanpa sama sekali dipertanyakan.

Dalam lakon yang dianggap sepuh, Dewa Ruci dan Ciptaning,justru Bima dan Arjuna-lah yang mampu mereguk kelanggengan ketika masih berada di dunia. Mereka beroleh pepadhang justru di dunia fana yang kerap dicitrakan “kotor,” penuh “kelicikan,” dan syahwat.

Barangkali, orang nusantara memang punya pemahaman tersendiri, bahkan ketika itu menyangkut pemahaman soal “ketuhanan”. Sebagaimana yang diketahui, lakon Dewa Ruci merupakan gubahan khas para pujangga pedalangan nusantara di mana dalam sumber aslinya tak ada atau tak semendetail dalam mengisahkannya.

BACA JUGA :   Apa sebenarnya akar kekerasan kalangan terpelajar?

Ada yang menggelitik saya, bagaimana para pujangga nusantara menyajikan tafsir dan pemahaman berbeda soal “diri” dalam kaitannya dengan etika. Etika tak sekedar bicara benar-salah. Tapi lebih menyangkut tentang bagaimana orang semestinya hidup. Tentu, nalar memang dominan dalam hal ini.

Dalam sistem spiritual mana pun, Yudhistira merupakan role model dalam menempa kedirian. Baik Hindu, Buddha, Katholik, Kristen, Islam, maupun sebagian aliran penghayat, Yudhistira adalah output penempaan diri via purgativa. Dan entah kenapa, sampai hari ini selalu karakter Yudhistira yang menjadi teladan dalam soal “ketuhanan” arus utama.

Untuk sedikit mengkritisi salah satu sufi yang saya kagumi, al-Ghazali (‘Ajaib al-Qulub), Yudhistira adalah diri muthma’innah yang, kata al-Qur’an, diridhaiNya untuk kembali dengan gembira. Ia bukanlah diri ‘amarah maupun diri yang telah mencela dirinya sendiri, aluwammah—dua bentuk kedirian yang dinilai rendah.

Saya pribadi memang bertepuk dengan tafsir al-Ghazali—barangkali besok ketika saya tak lagi bisa bernyanyi. Artinya, bagi saya, hidup itu penuh dinamika dan tak selalu berdimensi tunggal. Kita, manusia, tak semata makhluk individual-vertikal, tapi juga sosial-horizontal. Sederhananya, persis seperti kata al-Ghazali, hati itu tak semata mempunyai pintu yang mengarah ke alam malakut, jabarut, atau bahkan lahut. Dan memang, saya akui, ketika hati itu sudah manggon, tak ada dimensi lain lagi yang tersisa (kesadaran ontologis). Akibatnya, semuanya akan dilihat dan di atur dengan satu cara pandang dan satu ukuran belaka.

Entah darimana, sepertinya al-Ghazali cukup terpengaruh dengan pemikiran Plato, sang “pembenci daging.” Tentu, runyam urusannya ketika prinsip dan sikap hidup Yudhistira semacam ini dipakai sebagai pegangan seorang raja yang memiliki kuasa.

Untuk itulah, kita mesti juga mau menyeksamai tafsir berbeda tentang konsep diri dan penempaannya seperti yang tercermin dalam lakon wayang Dewa Ruci di mana Bima menjadi role model-nya.

Berbeda dengan al-Ghazali atau tasawuf pada umumnya, para pujangga nusantara mengartikan “diri” bukan sebagai sesosok “musuh” yang wajib dikebiri—untuk tak menyebutnya ditransformasikan. Dalam khazanah kearifan nusantara, “diri” itu disebut sebagai “sedulur/saudara”.

BACA JUGA :   S.K. Trimurti, Umi Sardjono dan Ilmu Sejarah yang Androsentris

Sebagaimana dalam lakon Dewa Ruci, “diri” itu mempunyai empat bentuk: amarah, aluamah, supiyah, dan mutmainah. Relasi antara keempat bentuk “diri” ini bukanlah relasi yang bersifat hierarkis sebagaimana tafsir al-Ghazali. Tapi, sejajar dan seimbang. Karena itu, dalam pewayangan Bima pun bisa juga mengamuk ketika kerajaannya berupaya dijajah, ketika saudara-saudaranya dihinakan, dibohongi dengan sepenggal janji. Arjuna juga murka ketika anak lanang-nya dicincang di Kurusetra.

Dengan demikian, seandainya mau memakai perspektif jejer yang memang menjadi raison d’etre wayang, orang tak perlu lagi ribut tentang bagaimana semestinya hidup. Perspektif jejer berguna untuk menjaga lajunya arus sejarah dan memandang hidup sewajarnya, apa adanya (nglegena). (Bukankah sebenarnya dalam perbendaharaan kemursyidan ahl al-sunnah ada ungkapan bahwa cita rasa dan kapasitas spiritual setiap orang berbeda?).

Tapi apapun itu, Pandhawa tetaplah Pandhawa yang tak semata didominasi oleh Yudhistira di satu sisi atau Bima, Arjuna, Nakula-Sadewa, dan bahkan Kresna sebagai botoh di sisi lainnya. Amarta akan kehilangan martabat dan kewibawaan apabila Yudhistira dijadikan satu-satunya role model. Sebaliknya, Amarta juga akan musnah sifat welas-asihnya ketika Bima ataupun Arjuna dijadikan satu-satunya role model. Akhirnya, setepat-tepatnya orang adalah orang yang mampu empan-papan.

(Sumber: Majalah Adiluhung Edisi 17)              

Please share,