HomeREFLEKSISaya Memilih Demi Harapan

Saya Memilih Demi Harapan

REFLEKSI 0 1 likes 231 views

Masa kecil saya dihabiskan di desa yang kedatangan truk kayu setahun sekali kala musim panen kopi. Tidak ada listrik dan telpon. Hanya ada radio bertenaga baterai yang dijemur berulang agar tidak mudah soak.

Kalau pulang kampung, kebetulan orang tua saya berasal dari kampung yang tidak jauh dari pusat kota, kami harus jalan kaki kurang lebih 25 km ke jalan raya utama untuk naik bis kayu ke kota.

Singkat cerita tempat ini terpencil soro.

Namun saat Pemilu semua berubah. Satu kampung heboh dengan kampanya Golkar. Sebagai PNS, Bapak saya wajib pilih Golkar. Semua warga kumpul, tidak ada yang ke sawah. Memang saat itu era Suharto. Jadi semua memilih.

Singkat cerita, situasi berbeda 100%, di kota dan di desa.

Beralih paska reformasi, saya tinggal di kota dengan akses yang lumayan. Listrik tersedia, walau sering padam dan hanya menyala jam-jam tertentu. Kami sudah jarang dengar radio karena ada televisi.

Pemilu pertama paska reformasi, kota kami cukup heboh. Semua keluar menikmati musik gratis saat kampanye. Rakyat sudah mulai berani pakai kaos PDI-P. Berbeda dengan era sebelumnya, saat semua warga memilih Golkar dengan terpaksa.

BACA JUGA :   Saras Dumasari : Diam itu jauh lebih berbahaya, karena ia tak memihak*

Megawati kala itu jadi buah pembicaraan, ia jadi simbol harapan. Sebagian dari kami berharap keterpencilan daerah kami perlahan dibuka seiring bergantinya rezim. Atau Minimal kami tidak lagi lari atau takut melihat tentara.

Apakah harapan rakyat kala itu langsung terpenuhi? Tidak saudara ku.

Baru setelah empat kali ganti Presiden, terlihat ada perubahan. Itupun sedikit demi sedikit. Baru terjadi sedikit pesat akhir-akhir ini. Bayangkan, perubahan itu baru nampak setelah 20 tahun reformasi. Membayangkan itu sekarang, rasanya gimana gitu..

Apa lantas rakyat dikampungku putus asa? atau memboikot pemilu? tidak !. Walaupun kami sadar, siapapun presidennya, yang di bangun lebih dahulu pasti pulau Jawa.

Kami tidak patah semangat. Saya masih melihat antrian saat Pemilu dan rakyat menikmati suasana Pemilu. Entah mengapa? Mungkin kami sudah terlatih sabar menunggu antrian pembangunan.

Kami juga tidak mencaci maki rakyat di Jawa karena hanya mereka yang menikmati Indonesia yang merdeka dan segenap kemudahan-kemudahnya.

Dan sekarang, ceritanya sudah lain.

BACA JUGA :   Emmanuel Levinas : Wajah sesamaku mengatakan terimalah aku, jangan membunuh aku

Rezim berganti, perubahan semakin terlihat. Jalan-jalan sudah lebar. Listrik jauh lebih stabil. Transportasi dari Jawa yang dulunya seminggu perjalanan laut dan darat, sekarang 36 jam sudah sampai, dengan biaya yang lebih murah dari sebelumnya.

Saya mau mengatakan ini, bukan untuk berkeluh kesah. Saya hanya mau menjelsakan, kenapa saya memilih dalam Pemilu 2019?.

Ketika kemudian saya memutuskan memilih dalam pemilu 2019, ada rangkaian pengalaman, alasan-alasan dan analisa mengikuti pilihan itu. Dan saya juga yakin, rakyat dan teman-teman saya di Timur Indonesia dan bahkan mungkin yang tinggal di Jawa ini punya memiliki alasan-alasan yang masuk akal terhadap pilihannya untuk ikut memilih.

Ada keyakinan bahwa suara saya dan masyarakat lainnya signifikan bagi perubahan, cita-cita dan harapan akan kebaikan bagi sebagian kecil warga yang selama ini terpinggirkan dari kemajuan.

Saya juga menulis ini agar teman-teman Aktivis tidak mudah menuduh kami ” Rakyat hanya dijadikan lumbung suara dan kesadarannya telah dimanipulasi oleh oligark dan predator politik”.

Rumangsamu, kami buta akan realitas politik?. Teknologi informasi membuat kami belajar melihat, menganalisa dan membuat pilihan politik.

BACA JUGA :   Luthfi Meutia : Wanita sering menjadi korban kekuasaan

Kami paham, tujuan mu sangat mulia, namun pada titik tertentu malah mengkerdilkan harapan dan niat kami yang mungkin sama tulusnya denganmu.

Bagi kami yang pernah terpinggirkan, harapan jadi batu penjuru yang mengikat kami jadi Indonesia. Tanpa itu, bisa lain ceritanya.

Maka ketika kami berupaya agar suara kami tersalurkan lewat Pemilu dan bahkan rela pulang kampung, disewoti petugas KPU karena mengurus surat pindah. Kami tabah, karena kami mencoba menjaring dan mengkaitkan harapan melalui Pemilu.

Pemilu bukan soal siapa nanti yang menang. Tapi siapa yang mampu menjaga agar harapan kami tetap menyala untuk kebaikan dan kesejahteraan bersama, kepadanya saya berpihak.

Ada jaminan? tentu tidak 100%, namun ada harapan. Makanya kami belajar memilih pemimpin, menganalisa, dan kritis terhadap mereka.

Saya tidak berpihak pada Calon Presiden juga pada Partai Politik. Saya berpihak pada harapan dan cita-cita yang dirasa bisa diwujudkan oleh siapapun yang kami pilih.

Itu saja ya..
Jadi janganlah menanggap kami memilih tanpa kesadaran kritis.

Terimakasih telah diingatkan.
Surabaya, 16 April 2019

Hosting Unlimited Indonesia
Please share,