HomeNARASIKEBUDAYAANAnomali Ketakutan Covid-19 dan Kapitalisme

Anomali Ketakutan Covid-19 dan Kapitalisme

0 share

Akhir-akhir ini umat manusia dibuat menjadi tidak berdaya dengan kehadiran organisme kecil yang tak kasat mata, dalam ilmu medis dikenal dengan nama Novel Coronavirus  (2019-nCoV), selanjutnya World Health Organization memberi nama virus baru tersebut Severa acute respiratory syndrome coronavirus-2 (SARS-CoV-2) dengan nama penyakitnya disebut Coronavirus disease 2019 (COVID-19). 

Sampai tulisan ini ditulis tercatatat kasus positf di Indonesia sudah mencapai 34,316 kasus dan sebanyak 1,959 meninggal dunia sedangkan untuk skala global angka kematian akibat pandemi Covid-19 ini mencapai 404.000 dengan kasus positif menyentuh angka 7,040.000. Inilah yang pemicu membuat masyarakat dalam skala global dan khususya Indonesia mengalami kecemasan berlebihan sampai dengan mengalami gejala psikomatik. Kondisi ketika pikiran mempengaruhi tubuh hingga memicu munculnya keluhan fisik tanpa adannya penyakit.

Tulisan ini akan membahas bahwa ada hal yang sebenarnya lebih berbahaya dibanding Covid-19.  Akar permasalahan yang dihadapi masyarakat saat ini di antaranya kemiskinan, ketimpangan, dan eksploitasi tenaga kerja. Tetapi anehnya respon masyarakat terkesan tak peduli bahkan melanggengkannya. Yang saya maksud yaitu sistem ekonomi politik kapitalisme atau suatu sistem mode produksi dimana ada kelas yang memiliki kepemilikan sepenuhnya akan  sarana produksi yang disebut dengan kelas borjuis dan memiliki kepentingan berbeda bahkan bertentangan dengan kelas yang lain yaitu kelas proletariat dimaknai sebagai kelas yang tidak memiliki apa-apa selain dari tenaga kerjanya sendiri atau Marx menyebutnya sebagai kapital variabel.

BACA JUGA :   S.K. Trimurti, Umi Sardjono dan Ilmu Sejarah yang Androsentris

Penulis bisa berkesimpulan seperti itu selain karena dengan melihat akar historisnya dan dampak yang ditimbulkannya bersifat struktural. Sejarah mencatat, sistem dengan mode produksi kapitalisme industri dominan sudah ada sejak akhir abad ke-17 di Inggris, Spanyol, Portugal, Belanda, dan Prancis. Khusus di Inggris mode produksi ini dipadukan secara sistem dengan agenda-agenda lain yaitu di dalam sistem kolonial, sistem hutang negara, sistem perpajakan, dan sistem proteksi.

Penting juga diketahui bahwa itu dilakukan dengan mempergunakan kekuasaan Negara. Selain itu sistem dengan mode produksi ini sebagai tujuan utamanya adalah keuntungan, juga erat kaitannya dengan pemisahan antara pemilik tanahnya dan objek tanah itu sendiri atau yang disebut dengan akumulasi primitif. Inilah salah satu asal usul perubahan sistem feodalistik ke corak produksi kapitalisme, dan Indonesia-pun mengalaminya yang mayoritas terjadi di desa-desa dalam konteks saat ini.

Penting diingat bahwa adanya Imperialisme juga berhubungan erat dengan sistem produksi kapitalistik yang ingin mengekspansi wilayah geografis dengan mengambil hasil-hasil sumber daya alam dan juga untuk agar hasil komoditas industri bisa dijual di negara-negara yang diambil sumber daya alam neraga tersebut. Hal yang sama juga pernah terjadi di Indonesia dan bertahan sampai saat ini dalam wajah barunya neoliberalisme. Secara historikal berarti mode produksi ini sudah bertahan lebih dari 300 tahun dengan menyebabkan segala konsekuensinya dampak paling terlihat di permukaan yaitu  kemiskinan yang membuat banyaknya kasus-kasus bunuh diri terjadi. Sebagai akibatnya dari banyaknya pengangguran, karena sulitnya mencari pekerjaan atau terkena pemutusan hubungan kerja ditambah masifnya pengembangan teknologi dan sialnya teknologi itu dimiliki oleh kapitalis  atau pemilik sarana produksi.

BACA JUGA :   Gotong Royong Sebagai Relevansi Konsep Sosialitas Driyarkara

Bayangkan  saja sudah berapa  banyak kasus kematian, pengangguran, dan tanah yang dirampas  akibat corak produksi kapitalistik ini. Baru-baru ini kasus penangkapan aktivis Fitro, Alvian, dan Saka oleh Polres Malang Kota, bahkan polisi menyebut bahwa ketiganya memiliki kekecawaan terhadap sistem kapitalis dan membuat coretan “Tegalrejo Melawan”. Diketahui salah satu korban Fitron adalah jurnalis pers mahasiswa yang sering meliput perjuangan warga menolak tambang emas di Gunung Tumpang Pitu dan  Salakan juga kampanya Save Lakardowo karena pembuangan limbah berbahaya oleh PT. PRIA di Mojokerto.

Atas gagasan itulah menurut saya masyarakat umum hari-hari ini menganggap bahwa sistem kapitalisme dengan corak produksi berbasis pada relasi upahan dan juga dampak-dampak yang sudah disebutkan diatas adalah sesuatu hal yang baik-baik saja dalam penilaian mayoritas mayarakat. Dengan argumentasi khas pemuka agama bahwa dampak-dampak yang terjadi saat ini yang diakibatkan oleh  sistem kapitalisme seperti perburuhan, kemiskinan, perubahan iklim yang tidak menentu dan kesenjangan sosial lainnya adalah murni pemberian Tuhan atau takdir Tuhan atau argumentasi lainnya bahwa dampak itu terjadi karena kesalahan pada individu-nya yang malas bekerja. Seakan-seakan permasalahan ini bukan permasalahan struktural yang sebagai sebab utamanya adalah sistem kapitalisme yang  dinillai menjadi dasar dari segala permasalahan, termasuk wabah  pandemi Covid-19 ini.

BACA JUGA :   Tolstoy Mengampuni Tuhan

Dilansir Mongabay, peneliti mikrobiologi dari LIPI, Sugiyono Saputra, PhD, mengatakan bahwa sebagaian besar penyakit timbul karena masalah lingkungan. Kemudian, 60 persen penyakit infeksi merupakan penyakit zoonosis atau berasal dari hewan dan lebih dari dua per tiga berasal dari satwa liar dan terkait Covid-19 untuk sementara waktu masih dikatakan terjadi karena disebabkan dari kelelawar dan atau trenggiling, yang merupakan salah satu komoditas yang diperjualbelikan secara ilegal dan menjadi obat sehingga berkontribusi pada tumpahnya virus ke populasi manusia.

Selaras dengan yang dikatakan Matt Huber dalam tulisannya di Jacobin yang berjudul “Covid-19 Shows Why We Must Socialize the Food System” yang mengafirmasi pendapat Rob Wallace bahwa  penularan virus berawal dari ulah manusia menebang habis hutan liar dan menjadi reservoir virus itu sendiri, lalu menggantikannya dengan ekologi perkebunan homogen seperti minyak sawit dan operasi ternak dari hewan yang berkerumunan bersama. Atas dasar pembahasan di atas,  adalah anomali ketika masyarakat mengalami ketakutan berlebihan akan Covid-19 atau gelaja psikomatik, tetapi di sisi yang lain terus melakukan kegiatan-kegiatan yang melanggengkan sistem kapitalisme.

Oleh :  Muhammad Ifan Fadillah, aktif di Himpunan Mahasiswa Islam,  Penulis aktif di Komunal Nokturnal di Makasar.

Sudah dibaca 6 , Hari ini 1 

Please share,