HomeREFLEKSIEkoteologi Leonardo Boff
Leonardo Boff

Ekoteologi Leonardo Boff

0 share

Interaksi teologi dengan ide-ide ekologis telah berkembang secara substansial dalam dekade terakhir, khususnya pandangan Leonardo Boff, seorang teolog dari Amerika Latin. Boff menekankan keterkaitan manusia dengan seluruh ciptaan untuk menawarkan etika lingkungan yang bersahabat.

Menurut Boff, teologi pembebasan dan wacana ekologis memiliki kesamaan yaitu mereka berasal dari dua luka yang berdarah. Yang pertama yaitu luka kemiskinan, yang merobek jalinan relasi sosial di seluruh dunia dan kedua adalah agresi secara sistematis terhadap bumi, yang menghancurkan keseimbangan planet karena pembangunan yang dilakukan oleh masyarakat kontemporer di seluruh dunia.

Dia berpendapat bahwa pengetahuan ilmiah tentang alam semesta membutuhkan paradigma ciptaan (creation-centredness), dimana refleksi teologis harus dimulai dengan wahyu Allah berdasarkan ekologis dan kosmologis. Pengetahuan ekologis membuka paradigma baru tentang pengetahuan dan kesadaran yang berorientasi pada komunitas dan memahami semua makhluk sebagai keterhubungan dalam siklus kehidupan yang bergerak maju (cosmogenesis) (Longair, 1974).

Ia berusaha untuk menunjukkan bahwa persoalan ekologi secara substansial berkaitan dengan persoalan orang-orang tertindas. Judul salah satu bukunya adalah Cry of the Earth, Cry of the Poor. Dektruktifnya penggunaan bumi adalah contoh dari eksploitasi. Eksploitasi menghasilkan seruan bumi untuk pembebasan dari dominasi manusia yang merusak. Di samping itu, ada jeritan dari orang-orang miskin, ciptaan yang tertindas membutuhkan pembebasan, sehingga ia memiliki kebebasan untuk mewujudkan tujuannya di dalam Tuhan.

Boff memahami metode pembebasan eko-teologis dalam empat tahap. Pertama adalah kebutuhan untuk mengalami jeritan orang miskin. Kedua, analisis secara logis, dosa-dosa ekologis dan penyebabnya. Ketiga, dibutuhkan keterlibatan dan transformasi tindakan aktif untuk memperbaiki struktur yang berdosa itu. Keempat, ada perayaan harapan bersama orang miskin dan seluruh ciptaan (Leonardo Boff, 1995 : 66-77). Dalam tahap pertama, pengalaman bersama dengan orang miskin, menjadi tindakan eksistensial untuk melihat, merasakan dan ikut menderita bersama dengan orang lain. Mendengarkan tangisan orang miskin adalah refleksi teologis yang penting dalam praksis gereja.

Dalam bukunya Cry of the Earth, Boff menjabarkan pengalaman penderitaan ekologis manusia dan seluruh ciptaan (bumi). Dia menggambarkan bencana ekologis di wilayah Amazon di tangan pengembang kapitalis, yang mencari keuntungan di bidang manufaktur (Leonardo Boff, 1995 : 72). Boff menunjukkan bencana yang tidak hanya merusak stabilitas lingkungan, tetapi juga membahayakan sejumlah besar orang yang selama ini hidupnya bergantung dengan alam, terutama mereka yang miskin.

BACA JUGA :   Film The Foreigner : Teroris Bisa Siapa Saja, Kadang Tak Disangka

Pada tahap kedua, analisa struktur dosa, bertemu dengan jeritan orang miskin. Para teolog harus menganalisis situasi dengan alat uji kritis dimana ada upaya untuk memahami dan menafsirkan penyebab terjadinya penindasan. Analisisnya membuat adanya penilaian kongkret bahwa penindasan terhadap orang miskin adalah dosa. Hal ini yang mendorong adanya keterlibatan secara transformatif untuk kerja-kerja keadilan. Bagi Boff, intepretasi melibatkan hermeneutis iman, menggunakan sumber wahyu, tradisi dan ajaran gereja. Gereja diajak untuk melihat penindasan sebagai gerakan untuk melawan rencana Allah. Gereja didorong untuk bersuara kepada ide dan praktik keagamaan yang tidak menghasilkan pembebasan.

Tahap ketiga, metode eko-teologis terlibat dalam aksi transformatif demi perjuangan orang miskin dan melawan struktur masyarakat yang menindas. Melalui kekuatan simbolik, gereja memiliki kekuatan yang berpengaruh, yang dapat digunakan untuk tindakan sosial politik. Boff mengembangkan doktrin trinitas sebagai persekutuan, model inklusivitas dimana terdapat wawasan teologis yang menyeluruh dengan ciptaan. Pengalaman orang Kristen tentang persekutuan Bapa, Anak dan Roh Kudus mendefinisikan kembali pengalaman kita tentang alam semesta sebagai persekutuan yang lebih luas di mana makhluk hidup diciptakan menurut gambar Allah.

Tahap keempat, metode yang dikembangkan Boff mendorong adanya perayaan harapan, yang muncul dari tindakan transformatif. Tindakan transformatif yang terus menerus menghasilkan perubahan dan kemajuan praksis gerejawi, baik sosial dan politik yang pantas untuk dirayakan. Boff mengutip pandangan St Fansiscus yang dapat menemukan mata rantai antara ekologi di luar penciptaan fisik dengan ekologi batin, keduanya hidup dalam Roh Allah. Analisis Boff digunakan untuk menemukan sebab dan akibat yang menyebabkan adanya dosa ekologis termasuk analisis historis. Dia sangat peduli melacak bagaimana tradisi agama telah membentuk sikap dan praktik kontemporer eksploitasi lingkungan.

BACA JUGA :   Keresahan di Tengah Pandemi Corona

Dalam analisis Boff, ada dua kecenderungan utama yang menjadi persoalan ekologis. Pertama adalah kecenderungan antroposentisme. Pemikiran yang menempatkan manusia di pusat alam semesta. Hal ini memuncak dalam analisis Nietzschean yang memperlihatkan dominasi manusia atas seluruh dunia. Kedua, adalah kecenderungan adrosentrisme. Hal ini juga ditolak oleh Boff karena dominasi maskulin menyebabkan adanya ketidakseimbangan yang dimiliki manusia dengan alam. Bagi Boff, struktur peradaban itu bekerja melawan alam melalui hirearki antroposentrisme dan androsentrisme (Leonardo Boff, 1995 : 71-75).

Menurut Boff, sinyal agama yang menjadi penyebab alienasi ekologis di Barat adalah tradisi alkitabiah tentang “kejatuhan alam”. Ini mensyaratkan gagasan bahwa seluruh alam semesta telah jatuh karena dosa asal manusia. Karena sifatnya telah jatuh, alam tidak lagi dipandang suci. Tanpa kesuciannya, hal ini menyebabkan alam hanya dipandang sebagai benda yang bisa dieksploitasi semaksimal mungkin. Gagasan tentang kejatuhan alam secara logis terkait dengan dosa asal dalam konteks Kejadian 3, Boff menyebut beberapa teolog antara lain Agustinus dan Luther yang menjadi pemikir utama, yang menekankan soal dosa dan kutukan alam. Akibatnya, dunia dilihat tanpa kehadiran Illahi dan sebagai masalah yang harus diatasi.

Boff ingin menemukan tempat untuk pengetahuan ekologis dalam iman Kristen demi orang miskin dan penghuni bumi (alam semesta). Dia menerapkan metode pembebasan dalam eko-teologi dengan menunjukkan relevansi praktis bagi gereja di dalam mereformasi teologisnya sehingga ada refleksi yang bermakna untuk keadilan dan keutuhan ciptaan. Boff juga menunjukkan bagaimana metode teologis dapat bekerja dalam realitas ekologi yang baru. Semuanya berujung pada penyelamatan lingkungan.

Pada awalnya, ekologi menjadi sub-subjek biologi yang dipelajari dalam konteks lingkungan dan keterkaitan dengan makhluk hidup lainnya. Tetapi sekarang dalam ekologi dibagi beberapa bagian. Pertama adalah lingkungan. Kedua adalah sosial, terutama berkaitan dengan relasi sosial sebagai kaitan dengan ekologis. Karena manusia sebagai pribadi dan makhluk sosial adalah bagian dari keseluruhan alam semesta. Hal ini menyiratkan adanya kerja-kerja keadilan ekologis, seperti relasi yang benar dengan alam, sikap yang adil pada akses sumber daya dan jaminan kualitas hidup. Ketiga adalah mental, yang berawal dari kesadaran bahwa alam bukanlah persoalan eksternal manusia, tetapi internal, ada dalam pikiran, dalam bentuk simbol dan menyangkut model perilaku manusia, bisa agresif atau menghormati alam semesta.

BACA JUGA :   Vantage Point: Menakar Gerakan Makar “12:00”

Sejak tahun 1990, 10 spesies makhluk hidup telah menghilang setiap hari. Pada pergantian abad ini, mereka menghilang pada tingkat 1 jam dan oleh sebab itu, kita akan kehilangan 20 % dari semua bentuk kehidupan di planet ini (Leonardo Boff, 1993). Ekologi menjadi dasar kritik sosial yang kuat. Yang mendasari tipe masyarakat yang dominan dan berkarakter antroposentrisme. Penemuan bumi sebagai organisme disebut sebagai Gaia. Batuan, air, atmosfer, kehidupan tidak terpisah satu dengan yang lain, tetapi saling terkait secara inklusif dan timbal balik. Zaman baru telah ditemukan yaitu zaman ekologis, setelah konfrontasi dengan alam selama berabad-abad, manusia menemukan jalan kembali ke rumah bersama, bumi yang baik untuk didiami sebagai habitat seluruh keanekaragaman hayati. Relasi yang saling menghormati satu dengan yang lain sebagai saudara kosmos.

Bagaimana teologi pembebasan terhubung dengan masalah ekologis? Tantangan utama yang dihadapi adalah bukan hanya bumi saja yang terancam, tetapi anak-anak, perempuan yang dieksploitasi, meninggal sebelum waktunya menjadi persoalan yang rumit di kemudian hari. Mereka terkait secara langsung karena orang miskin dan tertindas adalah anggota alam. Situasi mereka secara objektif menjadi korban dari agresi perusakan lingkungan. Sejak awal, menolong orang miskin adalah perhatian dari seluruh agama, tetapi orang miskin tidak pernah menjadi agen transformasi politik. Oleh sebab itu, alam adalah warisan bersama, kehidupan yang ditujukan untuk generasi di masa sekarang dan masa depan.

Bagi Boff, demokrasi harus menjadi sosio-kosmis, yaitu unsur-unsur alam seperti gunung, tanaman, sungai, binatang dan seluruh warga negara dapat berbagi dalam perjamuan manusia, dan selain itu manusia dapat berbagi dalam perjamuan kosmik. Hanya dengan demikian, terjadilah keadilan ekologis dan kedamaian di seluruh planet bumi. Harapan ke depan adalah adanya praktik budaya non-konsumerisme, yang menghormati ritme ekosistem, yang menghasilkan ekonomi yang cukup untuk semua dan memberikan kebaikan bersama, tidak hanya untuk manusia tetapi juga makhluk lain dalam seluruh ciptaan.

Selamat hari lingkungan hidup 2020 di masa pandemi covid 19. Semoga mencerahkan.

Andreas Kristianto, Studi Magister Theologia Interkultural di  Universitas Kristen Duta Wacana. Tulisan ini sebelumnya sudah dipublis di facebook. Gambar : Leonardo Boff by Amarildo Lima

Sudah dibaca 14 , Hari ini 1 

Please share,