10 0

Apa Yang Baik Bagi Manusia

Kebijakan pemerintah Joko Widodo soal investasi di bidang minuman beralkohol menimbulkan perdebatan di masyarakat.

Ada berbagai pendapat tentang kebaikan dan keburukan terkait dengan kebijakan pemerintah tentang investasi ataupun dengan minuman beralkohol itu sendiri. Salah satu frase yang muncul di dalam perdebatan ini adalah pernyataan “lebih banyak mudharatnya daripada manfaatnya”.

Ungkapan “lebih banyak mudharatnya daripada manfaatnya” adalah sebuah pernyataan yang menggambarkan prinsip utilitarisme (prinsip kegunaan). Di wilayah prinsip utilitarisme ini, Bentham mengajukan metode “kalkulus hedonistik” untuk menghitung bobot moralitas suatu perbuatan secara rasional dan jelas.

Melalui kalkulus hedonistik, dilakukan proses kuantifikasi terhadap suatu perbuatan. Kebaikan-keburukan, kesenangan-ketidaksenangan, kebahagiaan-kesusahan, semua dihitung dan ditimbang. Dilihat sisi positif dan negatifnya dari banyak aspek. Jika sisi negatif lebih banyak, maka akan dinilai buruk secara moral. Demikian pula sebaliknya.

Prinsip utilitarisme secara umum –dan kalkulus hedonistik secara khusus –berusaha untuk logis. Sebagaimana pemikiran rasional lainnya, prinsip utilitarisme juga terbuka pada pemeriksaan-pemeriksaan rasional. Moralitas diusahakan bersifat rasional, yakni ditentukan dengan cara ditimbang nilai kegunaannya. Namun, justru karena bisa terlibat di dalam argumen-argumen rasional dan pembuktian, maka ada kemungkinan terjadinya perubahan-perubahan.

Moralitas rasional tersebut berbeda terhadap moralitas yang berdasar pada iman keagamaan yang prinsipnya bersifat tetap. Disebut bersifat tetap karena jika terjadi perubahan, maka dianggap penyimpangan. Iman keagamaan bersifat tidak terbuka dan bahkan mencurigai pemeriksaan rasional. Kebenaran iman tidak untuk dibuktikan, melainkan diyakini. Kebenaran iman diyakini dengan alasan bahwa kebenaran tersebut berasal dari Tuhan. Bukan karena alasan argumen logis dan empiris. Kebenaran iman keagamaan bersifat mistis dan supranatural.

Kebenaran iman ini misalnya, di dalam ajaran Yahudi, ada perintah kewajiban bagi laki-laki untuk melakukan khitan (circumsision) alat kelamin. Apa yang baik bagi laki-laki Yahudi sehingga harus dikhitan? Sains, semisal antropologi, mungkin bisa melacak asal-susul tradisi khitan ini dan menjelaskannya secara rasional-empiris. Akan tetapi, di dalam konteks doktrin keagamaan, alasan rasional-empiris menjadi tidak utama. Bahkan, jika alasan khitan tersebut dinyatakan sebagai identitas pembeda antara orang Yahudi dan non-Yahudi, maka tidak akan relevan dipersoalkan mengapa “khitan” dan bukan hal lain. Apalagi jika alasannya dikatakan “saintifik”, semisal seputar kesehatan, maka bukti-bukti sepanjang sejarah manusia akan menggagalkan alasan tersebut. Selama puluhan ribu tahun, bahkan ratusan ribu tahun, sampai hari ini, banyak manusia pria yang tidak khitan dan kesehatan alat kelaminnya baik-baik saja.

BACA JUGA :   Membentuk Wacana Kritis Melalui Musik Reggae

Ada  beberapa nelayan yang takut jika tidak memberi sesaji laut secara berkala, maka mereka akan menemui malapetaka ketika mencari ikan di laut (semisal badai atau ombak besar). Juga ada orang-orang yang percaya bahwa akan ada bencana jika aturan-aturan Tuhan dilanggar. Di dalam konteks mistis-supranatural, dua sikap dan perilaku ini tidak relevan untuk dibuktikan kebenarannya, namun juga tidak relevan untuk dibuktikan ketidak-benarannya. Keduanya berada pada status yang sama, yakni bersifat mistis-supranatural.

Aturan yang bersifat mistis-supranatural tidak perlu penjelasan rasional dan bukti-bukti. Apalagi bukti saintifik. Jika usaha penjelasan rasional dan pembuktian dilakukan, maka aturan tersebut akan terlihat lemah jika suatu saat ada bukti-bukti yang bertentangan atau ditemukannya inkonsistensi penalaran rasional,  atau invaliditas. Jika terjadi falsifikasi, maka aturan mistis-supranatural tersebut malah bisa runtuh. Setidaknya, derajatnya turun.

Tentu saja akan ada orang-orang yang berusaha mengawinkan argumen mistis-supranatural dengan argumen rasional-empiris. Akan tetapi, at the end of the day, tidak untuk dibuktikan. Bahkan tidak untuk dimengerti. Hanya untuk diimani. Di dalam konteks iman, berlaku: just do it! Akan tetapi, moral mistis-supranatural ini juga bisa bermasalah.

BACA JUGA :   Driyarkara : Mengkritik, Mengoreksi dan Memperbaiki Sosialitas Preman

Pada awal merebaknya SARS-Cov-2 di Wuhan, Tiongkok, awal tahun 2020 yang lalu, ada banyak orang yang bersyukur atas apa yang terjadi di Tiongkok tersebut. Ada berbagai latar belakang atas ungkapan syukur tersebut, semisal rasa permusuhan agama dan ras. Secara moral mistis-supranatural, sikap syukur tersebut mungkin bisa mendapat pembenar pada doktrin pembedaan antara orang beriman dan tidak beriman terhadap agama tertentu.

Sementara itu, jika kalkulus hedonistik prinsip utilitarisme digunakan untuk menilai agama, mungkin akan memunculkan hasil yang berbeda-beda. Ada banyak konflik dan peperangan dengan panji agama, semisal Perang Salib di Abad Pertengahan, atau perang penaklukan atas nama agama monotheisme melawan penganut politheisme (sering disebut “kafir pagan”). Agama juga dianggap bertanggung jawab atas terjadinya penindasan manusia ketika agama digunakan sebagai alat legitimasi sistem masyarakat di zaman perbudakan, feodalisme, dan bahkan kapitalisme saat ini. Dengan menggunakan kalkulus hedonistik prinsip utilitarisme, bisa saja ada pihak yang mencapai kesimpulan negatif pada mutu moral agama, dengan fakta banyaknya penderitaan yang ditimbulkan atas nama agama atau dilegitimasi oleh agama.

Pertanyaan mendasar di dalam filsafat moral, “Apa yang baik bagi manusia?”, mencakup semua aspek kehidupan manusia. Ada banyak jawaban atas pertanyaan tersebut. Pandangan-pandangan moralitas yang telah dibahas di atas hanya merupakan bagian dari banyak pandangan moral atau teori tentang moral di bidang etika (filsafat moral). Ada kelemahan dan kekurangan. Teori filsafat moral yang lain bisa memiliki sikap yang berbeda.

Jimmy Jeniartodosen freelance. Gambar : www.freepik.com

Please share,
idenera

IDENERA, membuka kesempatan bagi siapapun menjadi kontributor. Tulisan dikirim ke : editor@idenera.com dan dapatkan 1 buku tiap bulannya bila terpilih oleh editor.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow Me