HomeREFLEKSISASTRACERITA PENDEKCeritaku Bareng Abang Ojol

Ceritaku Bareng Abang Ojol

0 12 views share

            “Aku pulang dulu, ya. Kapan-kapan aku main lagi kesini,” ucapku kepada Erikson teman baikku dari SMA.

            Namaku Acha Hallatu. Dari SMA sampai sekarang aku kuliah, aku selalu bergantung sama aplikasi Go-jek. Kemana-mana selalu diantar driver ojol. Karna Mamaku enggak ngasih aku mengendarai sepeda motor. Takut nabrak dan ditabrak, kata Mamaku.

            Hari itu aku kebetulan lagi main dirumah teman baikku. Aku asyik ngobrol bareng Erikson sampai aku enggak sadar ternyata hari sudah larut malam. Waktu sudah menunjukkan pukul jam 23.00 WIB.

            Pukul 11 malam, aku buru-buru mesan ojol nih. Tumben kali ini lama banget. Kok enggak ada driver yang mau ngambil orderanku? Malam itu mulai terasa angin bertiup kencang.

            “Aku harus cepat sampai dirumah. Udah mau hujan nih,” pikirku begitu. Aku terus memantau hapeku, menunggu sampai ada driver yang mengambil orderanku. Plisss… Ada dong yang ngambil. Udah hampir jam tengah 12 malam, beruntung tiba-tiba ada driver yang mengambil orderanku.

            “Udah dapat driver belom?” tanya Erikson.

            “Udah kok.”

            Setelah 5 menit kemudian…

            “Mbak Acha, ya?” tanya sang driver.

            “Betul, Pak.”

            “Oke deh. Ini helmnya, Mbak. Kita ke jalan Sei Putih kan, Mbak?”

            “Betul, Pak. Ayok buruan biar enggak kena hujan entar. Kasihan udah malam, entar Bapak kena hujan dijalan sehabis antar saya.”

BACA JUGA :   Lena & Putih

            Akhirnya ada juga driver yang ngambil orderanku. Penasaran kira-kira ini udah jam berapa, aku lihat jam tanganku ternyata udah hampir jam 12 malam. Saat di jalan aku beberapa kali menguap karna udah ngerasa ngantuk banget. Berhenti dibeberapa dipersimpangan dimana durasi lampu merahnya agak sedikit lama.

            Jalan udah mulai sepi. Aku makin terasa ngantuk. Tapi aku alihkan perhatianku ke arah kilauan cahaya dari lampu lalu lintas dan cahaya dari lampu rumah orang-orang yang aku lewati.

            Saat hendak melewati jalan Ayahanda mulai terasa sepi banget. Tidak ada motor yang berlalu-lalang disitu seperti siang hari yang pernah aku lihat. Aku tahu ada rel kereta api disitu yang harus dilewati tanpa ada palang peringatan apakah ada kereta api yang akan lewat atau tidak. Lagian rel kereta api itu juga sudah tua sekali.

Sudah lama tidak diberi palang atau penanda bahwa kereta api akan lewat. Yah, jadi pengingatnya hanya suara kereta api doang. Kalau terdengar suara kereta api pertanda bakal ada kereta api yang akan melewati rel itu.

Saat hendak melewati lokasi rel kereta api itu, aku mendengar ada suara kereta api yang sebentar lagi akan lewat. Suara itu terasa jelas sekali ditelingaku.

BACA JUGA :   Goresan Tinta Kamar 23

“Pak, ditunggu aja bentar lagi ada kereta api yang mau lewat tuh,” ucapku tiba-tiba.

“Tidak ada suara kereta api, Mbak.” Aku diam bahkan aku sama sekali tidak mendengar kalau sang driver mengucapkan kalimat itu. Sang driver melewati rel itu dengan santai. Padahal aku mendengar jelas suara kereta api sudah hampir dekat dengan kami.

Aku penasaran banget. Jadi aku sengaja melirik ke belakang dan ingin memastikan bahwa kereta api memang melewati rel itu. Suaranya jelas banget.

“Pak, berhenti dulu disini!” pintaku pada sang driver. Drivernya baik hati, dia akhirnya berhenti. Aku melihat ke belakang memang tidak ada kereta api yang lewat. Suaranya juga sudah tidak ada lagi ku dengar. Namun siapa sangka?

Dari kejauhan aku melihat ada seorang wanita berdiri diatas rel itu. Dia tidak memandang ke arah kami disini. Aku ingin nyamperin wanita itu. Ingin beri tahu jangan main-main diatas rel kereta api tengah malam begini.

“Mau kemana, Mbak?” tanya sang driver penasaran. Aku jelaskan padanya aku ingin memberitahu wanita itu. Ku tunjuk wanita itu karna sang driver sama sekali enggak melihat ada seorang wanita disitu sedang berdiri.

“Mbak, tadi bilang kereta api bentar lagi mau lewat. Padahal saya tidak melihat kereta api yang mbak maksud. Bahkan suaranya sama sekali tidak kedengaran oleh saya. Mbak, mungkin kecapekan nih. Ngantuk, ya?” ucap si driver. Akhirnya sang driver membujuk aku biar naik ke atas motor dan melanjutkan perjalanan pulang menuju ke rumahku.

BACA JUGA :   Bakwan Terakhir

Sesampai dirumah, aku lihat jam tanganku sudah menunjukkan pukul setengah satu pagi.

“Pak, terimakasih sudah ngantar saya pulang,” sambil mengeluarkan duit untuk membayar ongkos sekaligus memberi sang driver tip karna sudah baik hati mengantarkan saya dengan selamat.

“Siapa sih yang Mbak lihat tadi? Saya udah bilang tadi enggak ada kereta api yang lewat.”

“Saya tadi mendengar jelas suaranya pertanda bentar lagi ada kereta api yang mau lewat. Malah saya enggak dengar suara Bapak ngomong ke saya.”

“Saya takut. Sudah merinding sekali tadi. Tapi saya beranikan saja, Mbak. Ini pun saya jadi takut pulang sendirian,”

“Pesan lagi aja driver buat nemenin Bapak pulang ke rumahnya Bapak. Entar saya yang ganti ongkosnya,” candaku. Sang driver ketawa dan akhirnya suasana pun mencair dan enggak menegangkan lagi.

“Mbak, ada-ada aja. Lagian saya becanda doang. Mana mungkin saya takut. Tapi memang ada kok kalau hal-hal begitu, Mbak. Baiklah, saya pulang ya, Mbak. Terimakasih. Jangan lupa bintang limanya,” sang driver pamit.

Please share,

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *