HomeREFLEKSISASTRACERITA PENDEKGoresan Tinta Kamar 23

Goresan Tinta Kamar 23

0 share

Pah… Apa kabar? Di sini dingin. Di sini sunyi. Dan di sini sepi. Dennis merasa sangat kesepian.

Namaku Dennis. Usiaku 25 tahun. Orangtuaku sudah lama bercerai. Mama kini sudah bersama dengan pria baru yang sekarang sudah menjadi suami barunya. Sedangkan Papaku sudah meninggal setahun setelah Mama memutuskan bercerai dengan Papaku.

Malam itu aku melihat Papa sedang membaca sebuah buku filsafat. Aku yang biasa membuatkan teh untuk Papaku, tidak menyangka bahwa malam itu teh terakhir yang ku buat untuknya. Saat aku kembali, aku melihat Papaku sudah terkapar di lantai rumah kami.

“Pah? Bangun!” teriakku.

Aku langsung bergegas meminta tolong pada tetangga untuk membawa Papa ke rumah sakit.

Sesampai di rumah sakit, Papaku langsung dibawa masuk ke dalam ruangan unit gawat darurat. Aku semakin merasa cemas karna aku tidak diizinkan masuk meskipun aku anaknya.

Saat dokter keluar dari ruangan itu dan mencari diriku…

“Kamu anaknya?” tanya dokter.

“Benar, dok. Gimana dengan Papa saya?” tanyaku dengan wajah penuh kegelisahan.

Malam itu hatiku hancur. Hancur sekali…

Dokter bilang Papaku tidak bisa diselamatkan, semuanya sudah terlambat. Papaku terkena serangan jantung saat aku sedang berada di dapur saat membuat teh untuknya. Aku sangat menyesal kenapa saat Papaku terkena serangan jantung aku tidak ada disisinya.

Ah, sudahlah. Nasi sudah menjadi bubur. Apa yang bisa ku ubah sekarang selain menerima pahitnya kenyataan?

BACA JUGA :   Pemilik Sepeda Tua

Dan sesudah Papaku meninggal, aku hidup sendirian. Mamaku tidak peduli seperti apa keadaanku sekarang. Lagian aku memang lebih dekat dengan Papaku.

Kini kondisiku sangat miris sekali. Bagaimana tidak miris? Sekarang aku tinggal di rumah sakit jiwa semenjak Papaku meninggal. Rumah kontrakan kami sudah menunggak selama 6 bulan dan aku tidak punya uang untuk membayarnya.

Semenjak Papaku meninggal, aku menyadari diriku sering merasa sedih. Aku depresi. Dan anehnya aku punya kebiasaan yang tidak bisa ku hindari. Aku harus berulang kali mencuci tanganku hanya karna aku takut terkontaminasi dengan kuman. Aku merasa takut jatuh sakit.

Hari-hariku mulai dipenuhi rasa takut dan cemas yang tidak masuk akal. Aku harus mengecek pintu rumahku sebanyak 23 kali. Kalau aku tidak melakukan hal itu aku akan terkena serangan jantung tiba-tiba dan meninggal seperti yang dialami Papaku. Aku mulai menutup diri. Aku takut berpergian ke luar rumah. Yang ada dipikiranku adalah orang-orang di luar sana akan menyakitiku. Di luar sana akan ada banyak kuman dan virus yang akan membuatku sakit. Dan aku akan mati ditabrak oleh seorang pengendara mobil yang dalam keadaan mabuk. Oleh karna itu, aku harus menghitung satu sampai sepuluh saat berjalan kaki di luar rumah.

Ah! Ini semua aneh. Dan saat Mamaku datang bersama suami barunya itu untuk melihat keadaanku seperti apa, dia merasa aku depresi dan sudah gila setelah kepergiaan Papaku. Itu kenapa aku sekarang berada di rumah sakit jiwa. Ya, Mamaku adalah orangnya yang memasukkanku ke dalam sini. Dia malas mengurusku dan dia membiarkan pihak rumah sakit jiwalah yang mengurusku.

BACA JUGA :   NKRI HARGA MATI

Dan ini ku tulis saat aku berada di dalam sana. Di tempat ini, tempat yang sama sekali tidak ku idamkan. Bahkan tidak pernah terlintas olehku bahwa sisa hidupku akan ku habiskan di dalam sini. Ditemanin kasur dan bantal. Meja dan kursi yang ternyata ada manfaatnya buatku. Ya, akhirnya aku menghabiskan banyak waktuku duduk di kursi ini dan menulis banyak cerita di meja ini.

Setiap bulan aku meminta jatah pulpen dan kertas pada dokterku. Dia baik sekali. Dia memberikan semua itu padaku. Jujur, aku merasa sedikit lebih baik setelah berhasil menumpahkan semua rasa yang bercampur aduk dalam hatiku ini.

Apakah kamu penasaran kira-kira penyakit apa yang ku idap sehingga aku harus dirawat di rumah sakit jiwa?

Dan hal itu pernah ku tanyakan pada salah seorang suster yang biasanya memberikan dua jenis obat yang harus ku makan sesudah sarapan pagi. Dia tidak memberikan jawaban atas pertanyaanku mengenai hal itu. Dia memilih bungkam dan menyuruhku untuk meminum obatku.

Tapi suatu kali aku punya kesempatan bertemu dan mengobrol dengan dokterku.

“Dok, aku ini sakit apa?” tanyaku dengan wajah kebingungan. Semoga dia menjawab pertanyaanku. Tidak seperti suster kemarin, pikirku begitu.

BACA JUGA :   Kopi (di) Larang

“Kamu itu mengidap gangguan obsesif kompulsif. Apakah kamu masih sering menghitung di dalam hatimu sampai angka tertentu?” tanya dokterku sambil tersenyum ke arahku.

Iya, benar. Sampai sekarang aku masih menghitung dari angka satu sampai sepuluh di dalam hatiku setiap kali berjalan di luar ruangan.

Dokter mengetahui semua ini setelah dia berhasil mendapatkan jawaban dari semua pertanyaan yang dia ajukan padaku. Aku sedang berbicara dengan seorang dokter, aku percaya dengannya karna pasti dia lebih tahu apa yang terjadi denganku. Itu kenapa aku menceritakan padanya tentang semua gejala dan keanehan yang kurasakan.

Tapi setelah aku mengetahui penyakit yang ku idap ini, aku merasa sedikit lebih lega karna semua keanehan ini ternyata ada jawabannya. Selama ini aku berpikir aku dirasuki oleh roh jahat. Ternyata tidak. Ya, ternyata aku salah.

Aku hidup bersama gangguan ini. Gangguan ini terus bersamaku walau aku rajin meminum obatku dan sudah dirawat di rumah sakit jiwa selama dua tahun. Kadang aku bertanya pada alam semesta, apakah nasibku memang harus seperti ini hidup menjadi orang aneh selamanya?

Dari kamar nomor 23 ini, yaitu kamarku, aku menulis ini agar sedikit merasa lega. Siapapun yang membaca tulisan ini, inilah ceritaku. Aku ingin bertemu dengan Papaku, seseorang yang sangat ku sayangi dan satu-satunya orang yang ku punya di dunia sebelum dia pergi meninggalkanku sendirian disini.

Tinggal di rumah sakit jiwa bukanlah suatu kesalahan.

Dennis, RSJ, 23 Maret 2003

Acha Halllatu, Penulis muda dari Medan yang telah menulis buku Catatan Aku Anak Psikologi dan “Aku, Dia, dan Patah Hati yang Unchhh”. Buku-buku ini tersedia di Google Play Book dan Shopee. Email : hallatuacha@yahoo.co.id. IG : achahallatu.

Gambar :