Film Ngeri-ngeri Sedap Layak Mewakili Indoneisa di Oskar

146 0

Film Ngeri-ngeri sedap garapan Bene Dion layak ditonton oleh Orang Indonesia. Saya jadi mengerti kenapa kemudian film ini patut mewakili Indonesia di Oscar. Ia begitu memesona.

Ngeri-ngeri Sedap menampilkan cerita pergulatan keluarga kecil Orang Batak. Seorang bapak dan mama yang merindukan anak-anak mereka. Juga anak-anak yang merantau guna mengejar cita-cita. Hidup di kota dan acap tak ada waktu untuk pulang.

Topik cerita atau isu yang diangkat sejujurnya sederhana. Tetapi, mungkin karena kata sederhana punya makna yang jujur maka kata itulah yang paling cocok jika kita hendak memberi label pada film ini.

Saking sederhananya, hati kita jadi adem setelah menontonnya. Saking sederhananya, air mata kita jatuh usai melihat konflik dan bagaimana keluarga kecil itu lalu bertahan di kehidupan ini. Saya ingan mama dan bapak saya.

Bahwa ada hal-hal kecil sederhana yang senantiasa membuat kita berharga. Tak muluk-muluk. Tak tinggi-tinggi. Keluarga kecil kita.

Saya suka Bene Dion meramu filmnya. Bukan hanya soal sunbtansi cerita tadi, tetapi juga perkara-perkara teknis macam pemilihan pemain dan sorot kamera.

Bene, seperti juga Ernest, tidak jatuh dalam jebakan narasi standar cantik dan ganteng. Ia memilih rekan-rekan komikanya untuk jadi pemain filmnya. Bahkan di salah satu interviewnya dengan Ernest di Inframe, katanya ia sudah dahulu memilih aktornya sebelum menuntaskan naskahnya.

Dan, dia memperingatkan rekan-rekannya itu untuk tak melawak. Mantap kali. Tribut saya untuk Mbak Gita Bhebita Butar Butar. Keren sekali aktingnya.

Bene juga tak berupaya melebih-lebihkan alam indah Danau Toba yang jadi latar belakang film ini. Dia shoot seadanya. Begitupula tentang tradisi atau adat, ia tak memaksa menampilkannya dengan eksotis, semuanya sederhana dan cocok.

Bene, kayaknya dia belajar banyak dari Ernest Prakasa, mampu menghadirkan film yang seengaknya sedang banyak diminati Orang Indoensia. Film tentang keluarga yang sederhana, yang dekat, dan, masuk akal.

Please share,
Ebi Febriansyah

Penulis lepas dari Wakatobi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *