HomeNARASIFILSAFATHanya Orang Telanjang?

Hanya Orang Telanjang?

0 487 views share

Pernyataan atau pertanyaan anak-anak cukup sering membuat orang-orang berusia dewasa terkejut, bahkan orang tuanya sendiri. Mulai dari pernyataan polosnya tentang rasa jajanan yang dihidangkan oleh tuan rumah ketika orang tua bertamu, hingga pertanyaan polosnya tentang Tuhan yang tidak semua orang dapat menjawab dengan cukup jelas. Anak-anak seolah tidak peduli dengan semua basa-basi atau narasi besar yang disusun oleh orang-orang yang berusia lebih dewasa yang membangun, atau justru menghancurkan, dunia saat ini.

Tengoklah pernyataan Greta Thunbeg yang benar-benar meluapkan kemarahannya di forum Perserikatan Bangsa-Bangsa atas perilaku dan kebijakan tidak ramah lingkungan yang telah ditunjukkan oleh pemimpin-pemimpin politik masa kini, yang bertentangan dengan prinsip-prinsip kebaikan yang mereka ajarkan sendiri. Bagi Greta, mereka telah merebut masa depan dunia. “How dare you?!” demikian kata Greta. Selain itu, anak-anak juga mampu mencairkan suasana yang telah demikian kaku dan beku di ambang keretakan dalam hubungan orang-orang dewasa, misalnya ketika bulan-bulan kampanye politik yang lalu yang padat dengan politik identitas dan ujaran kebencian. Mereka asyik bermain, tertawa, bertukar cerita tanpa keberatan yang tak perlu tentang anak siapa atau dari mana asal anak yang bermain bersamanya.


Gambaran kepolosan anak-anak itu mengingatkan saya pada cerita Hans-Christian Andersen berjudul The Emperor’s New Clothes (Baju Baru Kaisar). Cerita tersebut berkisah tentang seorang kaisar yang menginginkan baju baru. Kemudian ada seorang pembuat baju yang sesumbar mampu membuatkan kaisar pakaian baru yang istimewa, yakni baju yang hanya akan terlihat oleh orang-orang yang terpilih saja dan tidak akan terlihat oleh orang-orang sembarangan atau orang-orang bodoh. Maka, ketika baju itu pun jadi, semua orang tampak tercengang dan memberikan komentar yang luar biasa tentang baju baru kaisar tersebut kecuali seorang anak kecil yang justru menangis meraung-raung sambil bertanya kepada orang tuanya, “Kenapa hanya orang yang telanjang?”

BACA JUGA :   Politik Amnesia dan Amnesia Politik dalam Kasus Korupsi di Indonesia

Di dalam cerita tersebut membuktikan bahwa narasi memegang peranan penting dalam mengarahkan tindakan manusia, yang katanya rasional. Kita dapat melihat bagaimana narasi awal yang dibangun oleh si pembuat pakaian memberikan pengaruh besar dalam tindakan orang-orang di dalam masyarakat tertentu untuk bertindak ini atau itu. Batasan yang dibuat oleh si pembuat pakaian adalah: “pakaian tersebut istimewa karena hanya orang-orang terpilih saja yang dapat melihat, dan barangsiapa tidak dapat melihatnya adalah orang sembarangan atau orang bodoh.” Ini benar-benar lelucon. Pertama, yang membuat ‘istimewa’ pakaian tersebut bukanlah bahan atau potongan atau warna, dsb., tetapi karena kemampuannya untuk menentukan orang-orang menjadi terpilih atau sembarangan atau bodoh ketika mereka dapat atau tidak dapat melihatnya. Kedua, dan ini yang paling mudah untuk digugat, si pembuat pakaian mengangkat dirinya sendiri memiliki otoritas atas penilaian yang dibuatnya terhadap pakaian tersebut, dan secara tidak langsung menentukan tingkat keterpilihan atau kesembarangan atau kebodohan orang-orang.

Dua lelucon dari narasi si pembuat pakaian itu mengarahkan orang-orang yang percaya begitu saja untuk mengasosiasikan dirinya sendiri menjadi seorang yang istimewa atau sembarangan. Orang-orang dapat melihat, atau berpura-pura melihat, pakaian tersebut dan kemudian dirinya menjadi orang-orang terpilih. Atau, orang-orang tidak melihat, atau berpura-pura tidak melihat, pakaian tersebut dan kemudian menjadi orang-orang sembarangan atau bodoh. Hari-hari ini kita juga dihadapkan dengan narasi-narasi yang demikian, dengan sedikit modifikasi tentu saja, misalnya: “Kelompok saya yang paling nakal, hanya anak-anak nakal saja yang dapat masuk menjadi anggota, dan barangsiapa tidak menjadi anggota kelompok saya adalah anak baik dan penurut.” Apakah kelompok saya yang paling nakal? Ini harus dibuktikan terlebih dahulu, dan apakah semua anggota kelompok saya adalah anak nakal, atau tidak ada anak nakal di luar kelompok saya? Ini juga harus dibuktikan terlebih dahulu.

BACA JUGA :   Nglalu : Segenap Korban Dari Tirani Mayoritas

Harus diakui bahwa beberapa orang tergoda untuk dipandang sebagai orang yang istimewa atau tidak mau disebut orang sembarangan atau orang bodoh. Dan ini, dalam beberapa kejadian, seringkali lebih kuat memotivasi seseorang untuk bertindak. Bahkan, dengan bertindak tidak masuk akal agar dapat mengasosiasikan diri atau lebih dihargai dalam kelompok tertentu. Lebih jauh terkait dengan kisah tentang raja di atas, saya ingin mengaitkannya dengan cerita Hannah Arendt tentang Pengadilan Eichmann di Jerusalem dan bagaimana narasi memainkan peran besar untuk mengabaikan krisis hati nurani.

Salah satu yang membuat saya tertarik tentang cerita yang dikisahkan Arendt adalah betapa ideologisnya kata “normal”, atau “wajar” yang kemudian ditelanjangi olehnya lewat pengadilan Eichmann di Yerusalem itu. Normal atau wajar tidak secara otomatis meniadakan yang tidak baik, dan bahwa normal atau wajar adalah berbeda dengan yang baik. Setidaknya itu yang tersirat bagi saya dari tulisan Arendt. Menjadi manusia normal tidak sama dengan menjadi manusia baik.

Eichmann sebagaimana diceritakan oleh Arendt adalah seorang yang normal, bahkan lebih normal dari psikiater-psikiater yang memeriksanya, dan kata-kata Arendt yang sangat saya suka adalah “Di belakang komedi para ahli jiwa itu terletak fakta bahwa kasus Eichmann jelas bukan kasus moral apalagi kasus kegilaan legal.”[ Saya kutip dari buku Hannah Arendt yang telah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia berjudul Eichmann in Jerusalem: Reportase tentang Banalitas Kejahatan, diterbitkan oleh Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 2012. Hal. 39.]

Arendt mengetahui bahwa terdapat prasangka dari para psikiater bahwa seorang dengan kecacatan moral adalah juga memiliki kecacatan kejiwaan. Dan prasangka itu tidak sepenuhnya benar. Eichmann bukanlah orang yang lemah secara pikiran, ia adalah orang “normal”. Dan orang “normal” ternyata “… mungkin bisa benar-benar tidak mampu membedakan mana yang benar dan mana yang salah.[ Ibid. hal. 40.]” Hal ini dapat kita lihat dalam foto-foto di media massa kita, misalnya orang-orang yang gemar melempar senyum ketika dirinya telah mengenakan rompi jingga terang dengan tulisan “Tahanan KPK”. Mereka orang-orang normal, bahkan terpandang di dalam masyarakat, tetapi tidak menjamin bahwa predikat tersebut membuat mereka mampu membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Hampir sama dengan Eichmann yang telah membawa jutaan nyawa orang-orang Yahudi menuju kematiannya sendiri. Eichmann tidak perlu bertanya “apakah yang saya lakukan kepada orang-orang cukup mengerikan?” melainkan “betapa mengerikannya hal-hal yang harus saya lihat dalam melaksanakan tugas saya, betapa beratnya tugas yang dibebankan di bahu saya!”[ Ibid. hal. 167. Dalam tulisan Arendt, ini mengacu pada cara yang digunakan Heinrich Himmler (Reichfuhrer SS) untuk mengatasi krisis hati nurani pasukan-pasukan pembunuh. ]

Dari dua cerita di atas, tentang Kaisar dan Eichmann, saya melihat hal yang serupa, yakni bagaimana narasi besar dalam masyarakat mempengaruhi tindakan seseorang. Itu tidak berarti bahwa saya bermaksud untuk membebaskan seseorang dari tindakannya sendiri –karena di hadapan moral, seseorang bertanggung jawab atas tindakannya sendiri– dan membebankan tanggung jawab sepenuhnya kepada masyarakat. Itu juga tidak berarti bahwa saya bermaksud menghilangkan andil besar masyarakat terhadap tindakan seseorang. Di dalam masyarakat terdapat narasi besar yang sangat mungkin bersifat ideologis, dan ini seringkali justru membuat orang-orang harus mengasosiasikan dirinya sendiri ke dalam narasi besar masyarakat tersebut, bahkan ketika hal itu secara kasat mata tidak masuk akal, atau, dalam kasus Eichmann, kejam. Uniknya, untuk menelanjangi tindakan-tindakan yang diselubungi narasi-narasi besar yang berhiaskan logika-logika canggih dan rumit, kadang yang dibutuhkan hanyalah pernyataan dan pertanyaan sederhana dari seorang anak: “Kenapa hanya orang telanjang?”

BACA JUGA :   Mengenal Emmanuel Levinas, Pengubah isu utama filsafat kontemporer


Rabu, 11 Desember 2019

Please share,