HomeREFLEKSIDISKUSIKampung Pelangi, upaya penataan oleh Pemerintah Kota Surabaya

Kampung Pelangi, upaya penataan oleh Pemerintah Kota Surabaya

DISKUSI KOMUNITAS LINGKUNGAN WARGA 0 2 likes 406 views

Penduduk yang padat, menjadikan Surabaya sebagai kota terbesar kedua di Indonesia. Tak heran, banyak sekali pekerjaan rumah bagi pemerintah Kota Surabaya yang tidak bisa diselesaikan dalam waktu yang singkat. Ruang terbuka hijau serta penataan kota yang terus-menerus dibenahi oleh Pemerintah Kota bersama warga Surabaya menjadi hal yang sering disorot dalam berbagai program yang dicanangkan pemerintah.

Wilayah kumuh dan kemiskinan, menjadi objek bahasan utama dalam program pemerintah di bagian pesisir ini. Kampung Pelangi, sebuah upaya lanjutan dari Pemerintah Kota Surabaya untuk membangun objek wisata baru yang saling terintergrasi, setelah sebelumnya membangun Jembatan Surabaya dan Sentra Ikan Bulak di kawasan yang sama. Wilayah yang dulu dikenal sebagai kampung nelayan yang kumuh dan semrawut, sekarang berubah menjadi wilayah wisata yang tertata rapi,indah,dan berwarna-warni.

Pekan Filsafat 2018

Wilayah Kampung Pelangi dilihat dari Jembatan Surabaya. Foto : I Gusti Made S

Merombak tidak kurang dari tujuh kelurahan yaitu kelurahan Sukolilo Baru,kelurahan Kedung Cowek(wilayah Cumpat dan Nambangan),kelurahan Bulak Banteng(wilayah Kejawan),serta kelurahan Kenjeran. Pengecatannya dipimpin langsung oleh Ibu Walikota Surabaya Tri Risma Harini serta melibatkan peran langsung warga sekitar. Langkah mempercantik wilayah pesisir tersebut juga tidak lepas dari harapan Ibu Tri Risma Harini agar bisa mendongkrak perekonomian warga sekitar. Warga yang mayoritas  berprofesi sebagai nelayan dan penjual ikan kini bisa menjual hasil lautnya kepada masyarakat yang lebih luas, juga kepada pengunjung yang berwisata ke Kampung Pelangi sebagai oleh-oleh di Sentra Ikan Bulak yang berada tidak jauh dari Kampung Pelangi atau sekedar menjajakan air putih dan makanan kecil di warung-warung yang mereka buka diteras rumah mereka. Kampung ini juga tidak hanya dikenal karena warna-warni rumahnya, pengunjung yang berwisata disini pada malam hari, juga akan disuguhi atraksi dari air mancur menari yang berada tak jauh dari kampung ini. Akses jalan yang sudah terpaving rapi dan terhubung langsung ke Jembatan Surabaya menjadikan kampung ini sebenarnya cukup menarik untuk didatangi.

Baca juga : PEKAN FILSAFAT UKWMS 2018: Lomba Teater, Film Pendek dan Foto Cerita untuk SMA Se-Surabaya

Kembali lagi, semua ini tidak lepas dari peran utama Ibu Walikota Ibu Tri Risma Harini yang sudah berupaya keras mengubah wajah wilayah kumuh ini menjadi lebih menarik. Walaupun sudah didapuk menjadi tempat tujuan wisata, saya rasa, dari beberapa kali kunjungan saya ke sana, tidak ada yang berubah dari sistem kehidupan disana, semua normal seperti kehidupan di kampung lainnya. Beberapa sesepuh duduk santai diteras, anak muda terlihat nongkrong di warung-warung, bapak-bapak yang memelihara burung dara, anak-anak yang bermain dilapangan, dan sebagainya. semuanya normal seperti kehidupan kampung pada umumnya. Yang berbeda ialah, ada beberapa pengunjung yang datang untuk parkir dilahan warga sekitar, dan anehnya hanya untuk parkir. Kebanyakan pengunjung melewatkan kampung warna-warni ini, lalu sedikit berjalan kaki menjauh, menuju ke Jembatan Surabaya. Inilah yang sangat disayangkan, entah karena kurang publikasi media massa,atau tampilan pintu masuknya yang kurang menarik(karena tidak ada pintu masuk baku ke kampung yang terdiri dari tujuh kelurahan ini).

Pekan Filsafat 2018

Sisi bagian luar Kampung Pelangi Surabaya. Foto : I Gusti Made S

Diawal perjalanan saya ke sana, seorang warga sekitar yang saya tanyai bahkan mengarahkan saya ke Sentra Ikan Bulak, bukan ke Kampung Pelangi. Ini bisa menjadi informasi bagi kalian yang berkunjung ke sini agar tidak terlalu percaya pada arahan satu orang, atau nanti malah kesasar. Kembali ke Kampung ini, pintu masuk utama yang saya tahu berada di dekat saringan air raksasa yang biasanya mengeluarkan bau tidak sedap dan juga busa-busa yang begitu banyak. Mungkin ini faktor pertama yang membuat pengunjung malah berbelok langsung ke jembatan surabaya dari pada lurus ke kedepan mereka menuju Kampung Pelangi. Lalu anda bisa parkir dan membayar sejumlah uang kepada, yang saya tahu warga sekitar. Berjalan sedikit meninggalkan bau tak sedap tadi anda akan disuguhkan wajah-wajah tidak bersahabat khas penduduk asli yang kedatangan warga asing, mungkin ini faktor kedua kampung ini masih sedikit diminati untuk di eksplorasi lebih dalam, tapi percayalah mereka sebenarnya ramah dan tidak seperti tampangnya. Yang harus dilakukan adalah berperilaku ramah terlebih dahulu ke mereka dan mereka akan menunjukan tampang ramah mereka ke kalian. Masuk lebih dalam lalu melongok sedikit ke arah atas kalian akan melihat banyak bangunan mirip rumah-rumahan, yang merupakan rumah bagi burung dara peliharaan warga sekitar. Ya banyak warga di kampung ini memelihara burung dara, dan membangun kandang yang cukup besar diatas rumah mereka. Hampir setiap sore juga beberapa warga pria berkumpul untuk “bermain” burung dara. Masuk lagi lebih jauh sepanjang mata memandang anda akan melihat bangunan warga yang saling berdempetan membentuk setapak-setapak yang saling berhubungan antara gang satu dengan yang lain. Seperti yang sudah dideskripsikan di atas jalanan di kampung ini sudah hampir 90% berpaving. Satu petunjuk bagi kalian yang datang ke sini, jangan hanya mengikuti alur jalan berpaving di sisi luar kampung, tapi coba eksplorasi lebih dalam memasuki gang-gang sempit di kampung ini. Sepengalaman dari kunjungan saya, warga dan terutama anak-anak kecil di sini cukup bersemangat saat melihat seseorang yang menggenggam kamera ditangan teracung bersiap menembak gambar terbaiknya.

BACA JUGA :   Kampung Ilmu, Jalan Semarang
Pekan Filsafat 2018

Aktivitas seorang warga “bermain” burung dara. Foto : I Gusti Made S

Berjalan-jalan memutari gang-gang sempit dengan tembok yang hampir penuh dengan mural,rasanya tidak akan mudah merasa lelah dan haus. jika iya, tinggal mampir ke salah satu warung yang ada di dekat kalian. Jika sudah menemui gang buntu, itu artinya sudah waktu nya putar balik mengeksplorasi tempat lain. Jika belum, ya teruskan jalan-jalan anda. Saat ini yang saya tahu, anda bisa meminta ijin ke warga sekitar yang punya bangunan berlantai dua atau bahkan tiga, untuk naik ke lantai teratas mereka. Di atas sana pemandangan kampung ini akan sedikit lebih bagus. Sepuasnya, tidak akan di kenakan biaya tambahan, anda hanya perlu beramah tamah dalam meminta dan mengucapkan terima kasih saat turun dari sana. Berjalan terus lebih jauh lagi, dibagian belakang, anda pasti melihat lapangan basket yang hanya setengah lengkap dengan ringnya, merangkap juga sebagai lapangan futsal. Semua itu dimaksimalkan dengan baik oleh anak-anak sekitaran kampung ini. Ada satu jalan tikus rahasia yang saya tahu, mungkin sudah tidak rahasia lagi sekarang. Awalnya saya hanya bertanya ke salah satu warga yang ada didekat saya kemana arahnya jika ingin ke pantai lama. Warga itu menunjuk sebuah tembok, “naik sana saja,itu ada tangga”. Awalnya sedikit ragu untuk mengikuti arahannya, seperti yang saya katakan sebelumnya, jangan percaya arahan dari satu orang. tapi ternyata benar, tembok itu membatasi langsung wilayah kampung ini dengan area dalam Pantai Lama. Ada sebuah rumah kecil yang mungkin, rumah petugas kebersihan pantai lama. Melompat, berjalan,sedikit berbelok, area dalam Pantai Lama ada di hadapan anda dan siap dieksplorasi. Yang tidak saya sadari adalah saya masuk kesini tidak pakai tiket. Mungkin ini yang tidak boleh anda tiru.

BACA JUGA :   Ngobrol Pancasila Masih Ada di Warung Mbah Cokro

Baca juga : Apakah Tujuan Kita Belajar Filsafat ?

Semua yang saya tuliskan tadi mungkin tidak berdampak apapun secara langsung bagi warga di sana, tidak berdampak pada penjualan warung-warung di sana, tidak berdampak pada perkembangbiakan burung dara di sana, tidak berdampak pada tembok yang masih belum dicat di sana, tetapi kembali lagi, saya yang notabene masih berumur 16 tahun untuk tahun ini, hanya ingin kampung warna-warni yang masih satu area dengan rumah saya di Kenjeran, lebih dikenal di masyarakat luas yang ada di Indonesia, atau bahkan dunia.

Pekan Filsafat 2018

Area bermain di belakang Kampung Pelangi. Foto : I Gusti Made S

Saya juga bukan nelayan, bukan anak seorang nelayan, bukan teman anak seorang nelayan, apalagi seorang pedagang ikan. Tetapi dengan tulisan ini, dari seorang anak muda yang memiliki pekerjaan yang berbeda, suku dan keturunan yang mungkin berbeda, saya harap sebuah karya kecil ini dapat menarik minat dan pengunjung atau mungkin donatur cat warna-warni? siapa yang tahu? siapa yang tahu setelah tulisan ini di publikasi, kampung Warna yang menurut saya sekarang ini masih setengah jadi, akan benar-benar menjadi kampung dengan cap Tempat Wisata yang dikenal lebih luas dan menghasilkan lebih banyak pemasukan bagi warganya. Siapa tahu lagi, tulisan ini bisa menjadi bagian dalam membangun kebaikan warga di sana.

BACA JUGA :   Festival Teater dan Pekan Filsafat 2017 kembali digelar

Foto dan narasi oleh : I Gusti Made Siddhi. Pemenang Lomba Foto Esai, Pilihan Foto Favorit dalam Pekan Filsafat 2018 yang diselenggarakan oleh Fakultas Filsafat UNIKA Widya Mandala Surabaya dan didukung oleh Nera Academia dan www.idenera.com.

Please share,