HomeREFLEKSIDISKUSIThomas Aquinas : Persahabatan sebagai bentuk tertinggi relasi manusia

Thomas Aquinas : Persahabatan sebagai bentuk tertinggi relasi manusia

DISKUSI FILSAFAT MITRA KARYA REFLEKSI 0 2 likes 622 views

Manusia adalah makhluk independen yang mengungkapkan keberadaannya sebagai individu yang unik dan bebas, namun di sisi lain keberadaannya sebagai pribadi yang unik dan bebas itu juga terperangkap dalam relasinya dengan sesama. Manusia selalu hidup dalam relasi dengan sesamanya karena tujuan akhirnya (“kebahagiaan” menurut Aristoteles ) hanya bisa dicapai dalam relasinya dengan sesama.

 

Menurut Thomas Aquinas yang mengikuti pendapat Aristoteles, bentuk tertinggi dari sebuah relasi yang dijalani oleh manusia dalam lingkungan sosialnya ialah persahabatan.  Bahkan dia juga berpendapat bahwa persahabatan adalah hal yang paling penting (necessary) bagi manusia dalam menjalani hidupnya di dunia ini karena tujuan dari persahabatan ialah kebaikan. Hal ini bisa dilihat dalam komentarnya atas buku Etika Nikomakea Aristoteles buku VIII dan IX.

HAKIKAT PERSAHABATAN

Dalam buku VIII dari buku Komentar atas Etika Nikomakea, Thomas sangat setuju dengan pendapat-pendapat dari Aristoteles. Mereka melihat bahwa persahabatan itu merupakan subyek pembahasan dari filsafat moral. Hal tersebut karena pertama, ketika kita berbicara tentang persahabatan, kita harus melihatnya dalam hubungannya dengan keutamaan (virtue). Manusia dapat menjadi seseorang yang berkeutamaan hanya jika dia tahu apa itu yang baik dan terdorong untuk mencapai kebaikan itu.

Keutamaan adalah sebuah pengulangan dari tindakan yang baik, makanya Thomas Aquinas juga menyebut keutamaan itu sebagai sebuah aktus (act). Tapi perlu juga dicatat bahwa tidak semua aktus manusia itu adalah keutamaan. Sebuah aktus itu menjadi sebuah keutamaan ketika tindakan tersebut telah menjadi karakter kepribadian seseorang. Dalam hal persahabatan, Thomas Aquinas dan Aristoteles memiliki pemikiran yang sama. Mereka melihat bahwa persahabatan itu adalah cinta.  Aquinas pernah menegaskan bahwa setiap tindakan manusia itu pasti memiliki sebuah tujuan akhir atau objek yang mau dicapai.  Dalam mencintai manusia mencari sebuah objek yang dapat dicintai (lovable object) dan itu adalah kebaikan.

BACA JUGA :   Ngobrol Pancasila Masih Ada di Warung Mbah Cokro

Kebaikan merupakan tujuan dari mencintai dan tindakan mencintai atau bersahabat itu adalah tindakan yang harus berkeutamaan. Keutamaan adalah bagian dari pembahasan tentang filsafat moral atau etika karena filsafat moral atau etika adalah ilmu praktis yang mengarahkan manusia kepada kebaikan sebagai tujuan akhir manusia, yang juga merupakan tujuan dari sebuah persahabatan.

Alasan yang kedua adalah, karena persahabatan itu merupakan suatu hal yang dibutuhkan (necessary). Dalam sebuah persahabatan, manusia bisa saling melengkapi dan membantu satu sama lain. Pada bagian ini, Thomas juga memaparkan bahwa filsafat moral adalah ilmu yang membahas tentang semua hal yang dibutuhkan untuk kehidupan manusia.  Karena persahabatan itu adalah sebuah kebutuhan dimana manusia membutuhkannya sebagai sarana untuk melakukan tindakan yang berkeutamaan.

Image result for Thomas Aquinas

Alasan yang ketiga adalah karena persahabatan itu adalah suatu yang terjadi secara alamiah atau natural. Segala sesuatu yang bersifat natural itu adalah baik adanya dan persahabatan itu bersifat natural, maka dorongan untuk bersahabat itu adalah sebuah dorongan yang baik. Standar dari apa yang baik itu adalah moral, oleh karena itu persahabatan harus dilihat dari sisi moralnya. Alasan yang keempat adalah karena kelihatannya bahwa sebuah negara itu dapat bertahan karena persahabatan. Dalam hal ini, persetujuan (concord) itu sama dengan persahabatan.   Para pembuat hukum ingin menciptakan keharmonisan dan berusaha sebisa mungkin menghilangkan pertentangan untuk keamanan negaranya.

BACA JUGA :   Prof. Dr. Frans Magnis Suseno : Saya masih optimis dengan Islam Indonesia

Alasan yang kelima, Thomas Aquinas melihat bahwa sahabat adalah diri kita yang lain. Dalam persahabatan itu kita tidak butuh keadilan karena kita semua hanyalah satu orang saja. Tetapi jika orang-orang adalah adil, bagaimanapun juga mereka tetap membutuhkan sahabat untuk satu sama lain. Keadilan yang sempurna dapat menjaga dan memperbaiki persahabatan. Oleh karena itu, menurut Thomas, etika lebih membahas tentang persahabatan daripada keadilan itu sendiri.

Alasan yang keenam, kita harus melihat persahabatan itu tidak hanya sebagai sesuatu yang dibutuhkan untuk kehidupan manusia tetapi  karena dia baik adanya. Sesuatu itu baik karena dia dapat dipuji (laudable) dan dapat dihormati (honorable).

Selain sebagai bagian dari pembahasan filsafat moral, Thomas juga mengemukakan bahwa kebaikan adalah obyek dari persahabatan. Thomas Aquinas menggunakan kata amicitia untuk menyebut persahabatan sedangkan Aristoteles menggunakan kata philia Jika dicermati, dasar kata dari kedua kata tersebut memiliki arti yang sama. Amicitia berasal dari bahasa Latin amor dan philia berasal dari bahasa Yunani philein dan keduanya memiliki arti yang sama yaitu cinta. Persahabatan itu bisa diartikan sebagai mencintai dan yang kita cintai adalah obyek yang dapat dicintai yaitu kebaikan itu sendiri. Kebaikan adalah kesempurnaan yang mau dicapai dari mencintai. Hidup manusia itu seperti sebuah orientasi yang mengarahkannya kepada kebaikan tersebut. Terlihat jelas bahwa Thomas Aquinas sangat sependapat dengan pernyataan Artistoteles yang mengatakan bahwa setiap orang itu menginginkan kebaikan.  Tetapi bagi Thomas, tidak semua tindakan mencintai itu dapat kita sebut sebagai bersahabat. Cinta yang bersahabat adalah cinta yang timbal balik (mutual) antara dua orang atau lebih.

BACA JUGA :   Kuburan Bernama Agamamu, Adakah Pemurtadan Para Arwah ?

Konsep persahabatan dari Thomas Aquinas dan Aristoteles ini memiliki cakupan makna yang cukup luas. Hubungan suami-isteri, keluarga bahkan dalam negarapun semuanya dapat diartikan sebagai hubungan persahabatan sejauh hubungan itu dilandasi oleh cinta yang timbal balik.

 Oleh: Aloysius Luis Kung. Mahasiswa Fakultas Filsafat Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya. Dimuat atas kerjasama Jurnal WIWEKA, Nera Academia dan www.idenera.com. Artikel ini pernah dimuat di Jurnal WIWEKA Vol.6 Edisi Juni 2017. 

Daftar Bacaan :

Menjadi Manusia Belajar dari Aristoteles, Kanisius,Yogyakarta 2009, 3.

THOMAS AQUINAS, Commentary on Aristotle’s Nicomachean Ethics, diterjemahkan oleh C. I. Lizinger, Dumb Ox Books, Notre Dame 1964, 476.

Thomas Aquinas, Summa Theologiae, II-II, Quaestio 1 art. 3

 JAMES MCEVOY; “The Other as Oneself: Friendship and Love in the Thought of St. Thomas Aquinas”, dalam James McEvoy dan Michael Dunne (eds.), Thomas Aquinas; Approaches to Truth,  Four Courts Press, Dublin 2002, 18.

 ARISTOTLE, Nicomachean Ethics 1.1.1.

 ETIENNE GILSON, The Christian Philosophy of  St. Thomas Aquinas, University of  Norte Dame Press, Norte Dame 2006, 256.

ROBERT MINER, Thomas Aquinas on the Passion, Cambridge University Press, Cambridge 2010,116.

Please share,