HomeREFLEKSIDISKUSIPendidikan anti korupsi dengan nilai Nicomachean Ethics Aristoteles

Pendidikan anti korupsi dengan nilai Nicomachean Ethics Aristoteles

DISKUSI FILSAFAT MITRA KARYA 0 1 likes 807 views

Setiap hari kita mendengar dan melihat di media massa, berita tentang para koruptor yang ditangkap aparat penegak hukum. Mulai dari pejabat publik yang menyalahgunakan kekuasaan untuk memperkaya diri sendiri, aparat penegak hukum yang mau disuap, para pengusaha yang ingin kepentingannya digolkan sampai masyarakat pada umumnya.

 

Kita bisa melihat bahwa korupsi sudah menjadi hal yang menggurita di segala lini kehidupan dan berbangsa. Yang menjadi pertanyaan penulis adalah kapan pendidikan anti korupsi ini sepatutnya dilakukan? Dari pertanyaan ini juga, kita sering mendengar dan membaca bahwa banyak pendapat mengarahkan jawaban pada pendidikan anak sejak usia dini.

Hal yang menjadi fokus penulis adalah pendidikan anak sejak usia dini. Sejak usia berapa anak bisa diberi pendidikan anti korupsi? Inilah yang menjadi pertanyaan mendasar dari penulis. Setelah kita mendapat jawaban dari pertanyaan itu, sumbangan apa yang bisa diberikan oleh nicomachean ethics (NE) Aristoteles  dalam pendidikan anti korupsi anak sejak usia dini? Lalu hal apa yang bisa dilakukan oleh orang tua yang sebagai pendidik pertama anak dalam keluarga? Sebelum penulis menjawab pertanyaan-pertanyaan diatas, marilah kita melihat dan mencermati proses perkembangan kognitif anak.

Image result for Jean Piaget

Jean Piaget. Foto : Istimewa

Perkembangan Kognitif Anak Menurut Jean Piaget

Jean Piaget merupakan seorang psikolog Swiss. Dia memberi saran untuk semua anak di dunia ini dengan menjabarkan empat tahap dalam perkembangan anak. Dia menjelaskan bukan hanya berdasar kualitas informasi yang dibutuhkan setiap tahap perkembangan anak melainkan kualitas pengetahuan dan pemahaman anak tentang semuanya dengan baik. Dengan titik interaksinya, dia menyarankan pergerakan tahap satu ke tahap yang lain diperkaya dengan tipe pengalaman atau pembiasaan yang sesuai dengan usianya. Asumsi Piaget, bila anak tidak cukup pengalaman, anak tidak dapat mencapai perkembangan optimal dari perkembangan kognitifnya.[1]

Keterlibatan aktif  anak merupakan dasar dari teori kognitif Piaget. Keterlibatan aktif ini mengandung kegiatan pembelajaran aktif anak. Dalam proses ini, anak dapat mengkonstruksi pengetahuaannya. Pengetahuan didapat memlalui pengalaman langsung dengan dunia sekitarnya dan dari aktivitas fisik dan mentalnya.[2]

Konsep lain dipakai Piaget untuk menjelaskan perkembangan intelektual anak. Konsep-konsep itu adalah adaptasi, skema, asimilasi dan akomodasi. Adaptasi merupakan proses yang berjalan di level kognitif. Proses adaptasi terjadi saat anak berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya. Anak mengembangkan intelektualnya melalui proses ini. Anak mulai mengorganisasi sensasi dan pengalaman yang didapatnya. Skema mengacu pada proses mengorganisasikan pengetahuan yang didapat anak saat anak mengalami proses adaptasi. Dalam pembentukan skema yang baru, Piaget menjelaskan pentingnya aktivitas fisik. Aktivitas fisik membimbing anak pada stimulus mental yang mana stimulus ini membawa anak pada aktivitas mental. Asimilasi mengambil data sensorik anak dari pengalaman. Anak menyatukan informasi dengan pengetahuannya tentang orang dan objek yang sudah dihasilkan dalam pengalaman sebelumnya. Proses asimilasi ini mengunakan pengalaman atau cara berpikir lamanya untuk mengerti dan membuat informasi yang baru. Akomodasi adalah proses anak mengganti jalan pikirnya, perilakunya dengan menyetujui kenyataan yang ada. Proses akomodasi menyesuaikan perubahan pengalaman yang lama dengan situasi yang baru. Proses asimilasi dan akomodasi merupakan proses terintegrasi secara keseluruhan dalam proses adaptasi anak.[3]

Equilibrium (keseimbangan) merupakan sebuah keseimbangan antara asimilasi dan akomodasi. Anak mengasimilasi data baru dalam pengetahuannya saat ini dari realita. Jika data baru dapat diasimilasi dengan cepat, keseimbangan terjadi. Jika anak tidak bisa mengasimilasi data baru dengan mudah, mereka mencoba untuk mengakomodasikan jalan pikirnya, perbuatannya dengan data baru. Anak mengembalikan keseimbangan pada sistem intelektualnya.[4]

Piaget mengajukan empat tahapan dalam perkembangan anak. Pertama, tahap sensor motorik. Tahapan ini terjadi saat anak berusia nol sampai dua tahun. Apa yang terjadi pada tahap ini? Dalam tahap ini, yang menjadi dasar anak untuk memahami dunia adalah dengan menyentuh, menghisap dengan mulut, mengunyah, mengoncang-goncang. Anak mulai belajar untuk memanipulasi obyek.[5]

Kedua, tahap praoperasional. Tahapan ini terjadi saat anak berusia dua sampai tujuh tahun. Perkembangan yang sangat penting dalam tahap ini adalah penggunaan bahasa. Anak mengembangkan sistem representasi dalam dirinya yang membuat mereka bisa untuk mendeskripsikan orang, kejadian dan perasaannya. Mereka sering menggunakan simbol dalam bermain dan berimaginasi, sebagai contoh buku yang didorong melintasi lantai adalah sebuah mobil. Meskipun anak menggunakan pemikiran yang sudah berkembang ini, pemikiran mereka masih lebih inferior daripada orang dewasa. Kita melihat bahwa anak dalam tahap praoperasional masih egosentric thought (pemikiran yang berpusat pada dirinya sendiri, egois). Inilah cara anak melihat dunia secara keseluruhan dalam prespektifnya.[6]

Anak praoperasional berpikir bahwa semua orang akan membagikan prespektif dan pengetahuannya. Hal ini terlihat saat anak mendengarkan cerita anak-anak dan penjelasan orang dewasa. Dalam mendengarkan cerita anak-anak dan penjelasan orang dewasa, anak masih membutuhkan penjelasan tentang konteks pembicaraan. Bagi mereka kedua hal itu tidak informatif, pemahaman  mereka tentang prespektif dan pengetahuan masih terpusat pada satu aspek saja.[7]

Ketiga, tahap operasional konkrit. Tahapan ini terjadi saat anak berusia tujuh sampai dua belas tahun. Dalam tahap ini, anak mengembangkan kemampuan berlogika untuk berpikir dan mulai menyelesaikan beberapa kesulitan yang terjadi pada tahap praoperasional. Sebagai contoh, mereka dapat mengerti saat seorang menggelindingkan bola tanah liat ditanah dari bentuk lempengan yang panjang. Mereka sudah mampu untuk mengambil konsep dari prinsip ini dirasionya tanpa harus melihat proses ini terjadi. Mereka tahu bahwa bola tanah liat itu bisa terbentuk lagi bila mereka mengulangi proses yang ada. Meskipun anak sudah membuat kemajuan yang berarti dalam kemampuan logikanya, kemampuan mereka masih punya satu batasan yang berarti. Batasan itu adalah mereka masih kesulitan untuk mengerti pertanyaan-pertanyaan yang berhubungan dengan abstraksi atau hipotesis. Kesulitan ini terjadi saat mereka terhubung dengan dunia nyata.[8]

Keempat, tahap operasional normal. Tahapan ini terjadi saat anak berusia dua belas tahun sampai dewasa. Dalam tahap ini, anak mulai mengerti tentang abstraksi dan logika. Mereka sudah menggunakan logika untuk menyelesaikan masalah. Mereka juga sudah menggunakan pendekatan yang sistematis. Pendekatan logika yang sistematis mulai mereka gunakan untuk mengatasi persoalan yang mereka hadapi. [9]

Dalam setiap tahap, anak mengalami proses adaptasi, pembentukan skema, asimilasi dan akomodasi. Pada tahap sensormotorik, proses adaptasi anak masih terbatas pada kegiatan menyentuh, menghisap dengan mulut, mengunyah, mengoncang-goncang. Disini proses kognitif anak masih belum berkembang pesat. Anak tahap praoperasional, anak belajar beradaptasi dengan lingkungannya. Anak mengalami perkembangan kognitif yang sangat berarti. Anak belajar mengembangkan skema dalam kegiatan aktifnya untuk mengenal dan mengetahui dunia dengan mengorganisasi pengetahuan yang didapatnya. Anak mulai menyatukan informasi-informasi dari pengalaman atau cara berpikirnya yang baru dengan pengalamannya yang lama untuk mengerti dan membuat informasi baru. Saat terjadi proses asimilasi ini, anak dapat mengkomodasinya dengan menggubah jalan pikir dan perilakunya dengan pengalaman atau situasi yang baru ini. Pada tahap operasional konkrit dan operasional normal, anak sudah mengalami perkembangan pesat dalam proses adaptasi, perkembangan ini didapat dari tahap praoperasional.

Penulis mengenakan term golden age pada tahap praoperasional. Pada tahap ini anak mulai mengembangkan kemampuan simbol dalam pikirannya, berbahasa, mendeskripsikan orang, kejadian dan perasaannya. Anak mulai memahami bahwa sesuatu ini miliknya atau bukan miliknya[10]. Anak mulai belajar memahami konteks pembicaraan walau mereka masih belum bisa membedakan antara prespektif pemikirannya dan pengetahuan yang didapat dari suatu kejadian. Dalam tahap ini juga, anak belajar beradaptasi dengan lingkungan sekitarnya. Anak membentuk skema dengan mengorganisasi sensasi dan pengalaman yang didapatnya. Pada proses asimilasi, anak menyatukan informasi dengan pengetahuannya tentang orang dan objek yang sudah dihasilkan dalam pengalaman sebelumnya. Anak mengunakan pengalaman atau cara berpikir lamanya untuk mengerti dan membuat informasi yang baru. Pada proses akomodasi, anak mulai belajar untuk menyesuaikan perubahan pengalaman yang lama dan situasi yang baru sehingga hal ini dapat mengubah cara berpikir anak dan perilakunya. Setelah proses akomodasi dan asimilasi terjadi, anak mulai menyeimbangkan pengalaman-pengalaman yang didapatnya sehingga proses pembelajaran anak terjadi dengan pengalaman-pengalaman yang ada. Oleh karena itu, tahap praoperasional menjadi saat-saat penting (golden age) dalam hidup anak untuk belajar memahami dunianya.

Sejak anak berusia dua tahun, pendidikan anti korupsi bisa diberikan pada anak. Peran orang tua menjadi sangat penting karena orang tua menjadi pendidik pertama dalam hidup anak. Pendidikan yang diperoleh anak saat tahap praoperasional ini dapat menjadi penentu saat anak beranjak dewasa. Selain peran orang tua sebagai pendidik, orang tua juga berperan sebagai pendamping, pembimbing dan pengasuh anak. Penulis menekankan peran orang tua sebagai pendidik dan pendamping anak. Pada saat anak memasuki tahap praoperasional ini, anak memiliki kemampuan belajar yang luar biasa (dengan proses adaptasi, pembentukan skema, asimilasi dan akomodasinya), anak mulai mempertanyakan segala sesuatu. Kesempatan ini merupakan kesempatan emas bagi orang tua untuk menanamkan nilai-nilai keutamaan pada anak. Penulis memilih dan menggunakan nilai-nilai keutamaan dalam NE. NE adalah sebuah naskah etika yang ditulis oleh Aristoteles[11] untuk pengajaran di sekolahnya,  Lykeion. Penulis menggunakan nilai-nilai keutamaan dalam NE sebagai pendidikan nilai anti korupsi pada anak sejak usia dini.

BACA JUGA :   Sekolah Ansos III : Belajar Kritik dan Kritis Bersama Orang Tua Anak Berkebutuhan Khusus (ABK)

Nilai-Nilai Nicomachean Ethics

Aristoteles membuka NE dengan kata-kata, “Setiap seni, ilmu terapan, penelitian sistematis dan tindakan serta pilihan tampaknya bertujuan baik. Yang baik oleh karenanya didefinisikan sebagai semua hal yang mengarah pada tujuan.”[12] Aristoteles mau menunjukkan bahwa di setiap tindakan ada tujuan. Seperti kita menjalankan kegiatan harian. Setelah satu kegiatan tercapai, kita mempunyai kegiatan lain yang mau dicapai. Analogi dengan tindakan yang mengarah pada tujuan, bila satu tujuan sudah tercapai akan ada tujuan lain yang mau dicapai. Tujuan-tujuan itu mengarah pada kebaikan.

Setiap tujuan akan mengarahkan pada tujuan yang lain, apakah tujuan ini akan bergerak tanpa batas? Tidak, tujuan akan berhenti di satu titik, tujuan final . Tujuan final ini memiliki nilai baik yang tertinggi. Setiap tujuan manusia bertujuan untuk memperoleh baik yang tertinggi. Baik yang tertinggi ini memiliki sifat mencukupi dirinya sendiri. Mencukupi dirinya sendiri berarti tidak memiliki kekurangan sama sekali dan menjadikan apa yang diinginkan. Hal ini merujuk pada kebahagiaan, karena kita selalu memilih kebahagian sebagai tujuan pada dirinya sendiri dan tidak pernah pada sesuatu yang lain.[13]

Untuk mencapai tujuan yang baik, orang membutuhkan pendidikan. Seseorang terdidik dengan baik adalah orang yang mencari derajat ketepatan dalam setiap pembelajarannya. Setiap didikan mengandung kesepakatan bersama antar pihak yang berkaitan dan bukan terjadi secara alamiah. Dari didikan yang diperoleh, ini akan membuat seseorang terlatih untuk menilai. Pada umumnya, setiap penilai adalah orang yang sudah menerima semua didikan. Semua pendidikan yang diterima seseorang bukanlah hanya taraf pengetahuan melainkan sampai pada tindakan. Seorang muda tidak dapat menjadi murid politik yang baik karena ia tidak mengalami pengalaman hidup. Ia lebih mengikuti emosi-emosinya. Ia selalu mengejar semua kepentingannya di bawah pengaruh emosi-emosinya. Seseorang yang muda dalam usia atau belum dewasa mempunyai sifat yang sama karena keduanya mempunyai kekurangan dalam pengalaman tentang hidup.[14]

Secara alamiah manusia merupakan mahluk sosial dan politik. Manusia sebagai mahluk sosial, manusia berelasi dengan manusia lain. Manusia hidup dengan orang tuanya, anak-anaknya, istrinya, teman-temannya dan warga masyarakat. Manusia sebagai mahluk politik, dalam relasinya manusia berhimpun di kelompok-kelompok pada masyarakat. Dalam kelompok-kelompok ini diperlukan pengetahuan tentang yang baik sehingga tujuan kelompok-kelompok berpolitik adalah yang baik bagi manusia.[15]

Secara alamiah, manusia disebut bermanfaat bila ia mempunyai suatu fungsi. Contohnya adalah anggota tubuh manusia, seperti mata, telinga, tangan, kaki yang mempunyai fungsi sendiri. Fungsi-fungsi tersebut menjadi usaha manusia dalam pencarian fungsi khasnya. Fungsi khas ini berhubungan dengan aktifitas rasional manusia. Fungsi khas ini berfungsi untuk mengikuti rasio dan mengerti prinsip-prinsipnya. Prinsip rasional dan kegiatan jiwa manusia yang berkesesuaian membentuk fungsi tepat manusia. Sebagai contoh seorang pemain harpa. Fungsi seorang pemain harpa adalah bermain harpa. Yang menjadi ukuran keberhasilannya adalah bermain dengan baik. Bila hal ini dikaitkan kegiatan jiwa dengan aktifitas rasional manusia, maka yang baik dari manusia adalah kegiatan jiwa yang selaras dengan keutamaan. Karena dalam setiap kegiatan dan keberhasilan mengandung ketepatan dan nilai baik.[16]

Kebahagiaan adalah kegiatan jiwa yang berkesesuaian dengan keutamaan. Kebahagiaan mengandung yang paling baik, paling mulia dan paling menyenangkan. Kebahagiaan membawa pada kesejahteraan. Kebahagiaan diperoleh lewat keutamaan dan pembelajaran atau latihan. Hal ini sesuai dengan tujuan berpolitik, yang baik bagi manusia sehingga politik melahirkan sifat baik pada warga negara. Warga negara berkecenderungan untuk melakukan tindakan mulia.[17]

Yang menjadi pertanyaan penulis adalah bisakah seorang anak disebut bahagia? Menurut Aristoteles, seorang anak tidak bisa disebut bahagia karena anak belum mampu melakukan tindakan mulia. Saat kita menyebut anak bahagia, kita melakukannya karena adanya harapan bahagia untuk anak tersebut di masa mendatang. Dengan ini, kebahagiaan memerlukan pembelajaran dan membutuhkan waktu agar lengkap.[18]

Lalu apa fungsi waktu dalam proses pembelajaran menurut Aristoteles? Untuk menjadikan suatu keutamaan, orang perlu banyak melakukan kegiatan yang serasi dengan nilai-nilai keutamaan. Semakin sering dan banyak seseorang melakukan kegiatan berkeutamaan, keutamaan itu semakin menjadi bagian dari hidupnya. Dalam kegiatan yang intens dan berkelanjutan, orang tidak dapat melupakan apa yang diperbuatnya. Pada saat ia melakukan kegiatan berkeutamaan, bukan penderitaan yang ia rasakan tetapi seolah ia menerima kegiatan itu dengan suka hati. Ini menunjukkan bahwa ia mempunyai jiwa besar dan mulia.[19]

Menurut Aristoteles, ada dua macam keutamaan. Keutamaan itu adalah keutamaan intelektual dan keutamaan moral. Keutamaan intelektual berasal dan berkembang oleh pengajaran. Keutamaan intelektual memerlukan proses pembelajaran dan membutuhkan waktu dalam prosesnya. Keutamaan intelektual dibagi menjadi dua macam, yakni kebijaksanaan teoritis dan kebijaksanaan praktis. Keutamaan teoritis menunjukkan suatu kearifan yang bersifat tetap. Aristoteles menggunakan kata phronesis untuk menunjukkan kebijaksanaan praktis. Ketepatan dalam mengambil jalan tengah merupakan bagian dari phronesis. Keutamaan moral diperoleh dari kebiasaan. Keutamaan moral tidak timbul secara alamiah oleh alam. Perubahan dapat terjadi bila mengalami proses pembiasaan. Sebagai contoh, batu jatuh ke tanah, ini merupakan sifat alamiahnya. Tidak mungkin dengan kebiasaan kita bisa mengubah arah batu untuk jatuh arah ke atas. Kecenderungan arah ini tidak dapat diubah oleh kebiasaan. Demikian juga manusia, secara alamiah manusia dilengkapi potensi keutamaan dan oleh kebiasaan potensi ini jadi sempurna dan memuaskan.[20]

Kita menjadi baik dengan berbuat baik. Kita menjadi berpengalaman diri dengan melakukan kegiatan pengendalian diri. Kita menjadi berani dengan melakukan tindakan-tindakan berani. Disini kita melihat bahwa tindakan membantu orang untuk menjadi baik atau sebaliknya. Kita juga perlu meneliti tentang kualitas moral. Kualitas ini dapat dirusak oleh kondisi kekurangan dan kondisi kelebihan. Sebagai contoh hal kesehatan, orang yang terlalu banyak atau terlalu sedikit makan dan minum, keduanya dapat merusak kesehatan kita. Tetapi dengan jumlah yang tepat, kedua hal tersebut akan menjaga kesehatan kita dan meningkatkan kualitas hidup. Disini kita bisa melihat, pengendalian diri dan keutamaan dapat dirusak oleh kelebihan dan kekurangan. Kelebihan dan kekurangan ini dapat diletakkan pada tempatnya oleh jalan tengah.[21]

Ada tiga sifat orang melakukan tindakan berkeutamaan. Pertama, ia tahu apa yang sedang ia lakukan. Kedua, ia memilih seturut kebiasaannya dan ia memilih karena pilihan itu sendiri. Ketiga, tindakan muncul dari kepastian sikap yang tidak ubah-ubah. Dalam penguasaan keutamaan, sifat pertama tidak terlalu penting karena berhubungan dengan pengetahuan. Sifat kedua dan ketiga menjadi syarat yang menentukan, karena perbuatan baik dan pengendalian diri yang dilakukan berulang-ulang menghasilkan penguasaan keutamaan.[22]

Secara alami pilihan berhubungan dengan keutamaan. Pilihan menunjukkan sebuah tindakan yang disengaja. Seperti anak kecil dan binatang mempunyai kemampuan untuk melakukan tindakan yang disengaja, tetapi mereka tidak memilih atau menentukan pilihan. Tindakan yang tiba-tiba juga bisa dikatakan tindakan yang disengaja tapi tindakan yang tiba-tiba tidak bisa dikatakan sebagai pilihan. Tetapi bagi orang yang berkeutamaan, pilihan menjadi hal yang penting, tindakannya bukan didasarkan pada nafsu melainkan pada pilihan. Nafsu lebih berkaitan dengan hal yang menyenangkan bagi dirinya atau tidak, sedangkan pilihan tidak. Pilihan bukanlah keinginan. Keinginan lebih cenderung terarah pada tujuan tetapi pilihan terarah pada sarana untuk mencapai tujuan. Sebagai contoh kita ingin sehat. Saat kita ingin sehat, kita akan memilih hal-hal yang berkaitan yang menunjang kesehatan.[23] Pilihan bukanlah beberapa bentuk dari pendapat. Pendapat terkandung unsur-unsur benar dan salah. Sedangkan pilihan terkandung unsur-unsur baik dan buruk. Saat kita memilih, kita memilih untuk mengambil atau menghindari yang baik atau yang buruk. Tetapi saat kita berpendapat, pendapat kita terarah pada siapa yang diuntungkan, bagaimana suatu keputusan diambil atau bagaimana menghindari keputusan itu.[24]

Pilihan merujuk pada satu “pilihan diantara” hal lain. Pilihan melibatkan akal budi manusia. Pilihan  merupakan hasil dari kebebasan manusia karena dalam memilih manusia menggunakan rasionya. Pilihan menyangkut semua hal yang disengaja tetapi tidak semua yang disengaja adalah obyek pilihan, bisa jadi itu menjadi obyek dari pendapat. Pilihan berhubungan erat dengan pertimbangan. Karena pilihan merupakan hal yang kita kehendaki sebagai hasil pertimbangan. Pertimbangan berhubungan dengan keinginan, keinginan akan hal-hal yang berada dalam kehendak. Disini kita bisa melihat keterkaitan antara tindakan, pilihan, keinginan, pertimbangan dan keutamaan. Yang menjadi obyek keinginan adalah tujuan. Untuk mencapai tujuan diperlukan pertimbangan dan pilihan sebagai sarananya. Tindakan yang disengaja menjadi sarana dari tindakan yang diambil berdasarkan pilihan. Sebagai konsekuensinya,  keutamaan bergantung pada diri kita sendiri. Kita punya kehendak (kekuatan) untuk bertindak atau tidak. Kita juga bisa mengatakan ya atau tidak. Jika kita memiliki kekuatan untuk bertindak, kita juga memiliki kekuatan untuk melakukan tindakan mulia. Jika kita memiliki tindakan ini, kita juga memiliki kekuatan untuk tidak bertindak saat kita dihadapkan pada tindakan yang rendah.[25]

BACA JUGA :   Ke-Tuhanan dalam Sosialisme (Religius) Indonesia

Lalu apa itu kehendak? Kehendak adalah semua tindakan yang inisiatifnya terletak pada diri kita sendiri. Dengan adanya kehendak, tak seorang pun dapat mendorong kita untuk bertindak diluar kehendak kita. Dari kehendak, kita menghasilkan tindakan yang disengaja. Setiap manusia mempunyai kehendak dalam dirinya masing-masing. Akibat dari kehendak ini, setiap tindakan yang kita ambil mempunyai konsekuensi. Konsekuensinya adalah tanggung jawab pribadi dalam pembentukan sifat kepribadian.[26]

Setelah kita mengetahui pilihan sangat berkaitan dengan tindakan, kita perlu mengetahui tentang hal-hal yang berkaitan dengan jalan tengah. Jalan tengah ditujukan pada keutamaan. Jalan tengah itu menunjuk pada dua kutub yang berbeda yaitu kutub kelebihan dan kutub kekurangan. Keberanian merupakan jalan tengah antara ketakutan dan percaya diri. Ketakutan muncul dari semua yang buruk, misalnya: aib, kemiskinan, penyakit, ketidakpedulian dan kematian. Seorang yang pemberani masih mempunyai ketakutan terhadap apa yang menakutkan. Ia menghadapi rasa takutnya dengan mengarahkan pada tindakan yang mulia. Tindakan mulia itu adalah tindakan berkeutamaan. Kita bisa mengatakan bahwa orang pemberani adalah orang tahan pada penderitaan. Orang pemberani juga takut pada sesuatu yang tepat, dengan cara yang tepat dan pada waktu yang tepat. Orang pemberani bertindak secara proporsional di setiap masalah. Akal budinya mengarahkannya pada tindakan proporsional itu. Orang yang kelebihan rasa percaya diri dalam situasi menakutkan disebut gegabah. Orang yang banyak rasa takut disebut pengecut. Seorang pengecut adalah sejenis orang pesimis karena ia takut segala sesuatu. Seorang pemberani tetap ditengah antara gegabah dan pengecut.[27]

Lalu apa yang menjadi tujuan dari keberanian? Tujuan yang ingin dicapainya adalah apa yang menyenangkan. Bagi petinju, tujuan petinju adalah memenangkan pertandingan. Obyek yang mereka raih adalah karangan bunga dan kehormatan. Meski untuk memperoleh itu, mereka menerima pukulan yang melukai dan menyakitkan. Bagi seorang pemberani, ia akan kuat pada penderitaan dan rasa sakit. Baginya, ia melakukan tindakan mulia. Bila mereka tidak kuat dengan penderitaan dan rasa sakit, mereka melakukan tindakan yang rendah. Dengan ini kita bisa melihat, keutamaan adalah hal yang menyenangkan untuk dilakukan.[28]

Jalan tengah berikutnya adalah pengendalian diri. Pengendalian diri adalah jalan tengah antara kesenangan atau kenikmatan dan lemah hati. Pengendalian diri berhubungan dengan kesenangan tubuh. Apakah semua kesenangan tubuh berhubungan dengan kenikmatan? Sejauh orang menikmati kesenangan tubuh dengan cara yang tepat, ia menikmati kesenangan itu dengan cara yang tepat.[29]

Orang lemah hati mengambil kesenangan sebagai obyek dari selera atau nafsu mereka. Binatang memakai rangsangan selera untuk memperoleh kenikmatan. Hal yang membuat binatang senang adalah gambaran akan makanan. Sebagai contoh singa melihat sapi. Singa tahu bahwa didekatnya ada sapi, ini dapat menimbulkan rangsangan selera makannya. Singa itu mendekati sapi lalu menerkamnya. Cara singa menikmati sapi adalah dengan memakannya. Singa tidak bersenang-senang akan sapi tapi rasa laparlah yang membuat singa memakan sapi.[30]

Kelemahan hati menempatkan manusia sebagai binatang karena nafsu alamiahnya membawa manusia pada arah kelebihan saja. Secara alamiah, makan dan minum diperlukan untuk memenuhi kekurangan. Hal ini sangat berbeda dengan orang yang terlalu banyak makan. Kita bisa menyebut orang itu “perut karet”. Mereka mengisi perutnya melampaui dengan apa yang diperlukan. Mereka menikmati sesuatu secara berlebihan.[31] Orang yang lemah hati tidak tahan sakit. Mereka mempunyai nafsu pada semua yang menyenangkan. Mereka dikendalikan nafsunya untuk memilih hal-hal yang menyenangkan. Kenyataan ini sangat berbeda dengan orang yang berpengendalian diri. Mereka tahan sakit. Pada saat ketiadaan kesenangan atau kenikmatan, mereka tidak merasa sakit.[32]

Sifat lemah hati tampak pada kenakalan anak-anak. Hidup anak diarahkan oleh hawa nafsunya dan keinginan yang kuat untuk mencari kesenangan, sehingga mereka mengesampingkan kekuatan akal budi. Kata yang tepat untuk menggambarkan kondisi anak-anak dengan pengendalian diri adalah “menurut” dan “terkendali”. Jika seorang anak harus hidup seperti yang diajarkan pengasuhnya, demikian juga nafsu yang ada dalam diri kita, yang harus diarahkan oleh perintah akal budi. Perpaduan nafsu dan akal budi membuat takaran yang proporsional. Takaran ini membuat hidup manusia lebih manusiawi. Dalam orang yang berpengendalian diri, nafsu diarahkan pada obyek yang tepat, dengan cara yang tepat dan waktu yang tepat pula.[33]

Jalan tengah yang lain adalah kedermawanan. Kedermawanan merupakan jalan tengah antara keborosan dan kekikiran. Kedermawanan berhubungan dengan dengan benda, materi atau harta benda. Keborosan digunakan orang yang menghamburkan uangnya untuk memanjakan diri. Keborosan identik dengan merusak diri, karena ini bertentangan dengan kepemilikan sebagai sarana untuk hidup. Kekikiran digunakan pada orang yang berminat pada harta benda secara berlebihan. Ia kurang dalam memberi dan lebih dalam mengambil. Seorang dermawan akan memberi yang tepat, memberi pada orang yang tepat, dengan jumlah yang tepat dan pada waktu yang tepat. Ini berarti seorang yang berkeutamaan dermawan, ia memberi dan menerima secara tepat dengan tidak menerima dari sumber yang salah.[34]

Bimbingan Orang Tua Menggunakan Nicomachean Ethics

Sebelum penulis melangkah lebih lanjut, penulis memberikan ilustrasi pendek. Bila sekarang kita diberi waktu untuk menulis yang sudah kita lakukan mulai bangun tidur sampai kegiatan kita saat ini, tindakan apa akan kita tulis? Tindakan pertama kita adalah bangun tidur. Setelah kita bangun dari tidur, tindakan apa kita lakukan? Ada banyak pilihan bisa kita lakukan dan pertimbangkan untuk melakukan tindakan. Kita bisa berdiam sejenak di tempat tidur. Kita berdoa sejenak untuk mengawali hari. Kita menyalakan lampu. Kita langsung menuju ke kamar mandi. Kita kembali tidur lagi. Kita merapikan kamar tidur terlebih dahulu sebelum meninggalkan kamar. Kita sudah jalani banyak tindakan melibatkan pilihan dan pertimbangan, entah tindakan itu kita sadari atau tidak. Setelah kita melakukan satu tindakan, kita akan melakukan tindakan yang lain. Setiap tindakan yang kita lakukan, semuanya itu berdasar pilihan-pilihan yang ada dan pertimbangan.

Dari ilustrasi diatas, penulis mengajukan satu pertanyaan analogi, apakah anak-anak juga melakukan tindakan-tindakan yang sama dengan kita dalam keseharian (Anak-anak melakukan  tindakan sejak bangun pagi sampai saat ini)? Jawaban dari pertanyaan itu adalah bisa sama dan juga bisa tidak. Jawaban itu bisa sama karena anak juga mengalami bangun tidur dan melakukan tindakan-tindakan setelah bangun tidur. Jawaban itu bisa tidak karena kualitas penggunaan akal budi dari tindakan dan pilihan yang dilakukan anak dan orang dewasa berbeda. Perbedaannya adalah orang dewasa sudah bisa menggunakan akal budinya dalam tindakannya. Sementara itu, anak masih belum dapat menggunakan akal budinya dengan baik. Oleh sebab itu anak membutuhkan bimbingan orang tua agar anak bisa menggunakan akal budinya dalam tindakannya.

Aristoteles berpendapat setiap tindakan ada tujuan. Bila tujuan satu sudah terpenuhi, tujuan yang lain menjadi tujuan selanjutnya. Tujuan itu akan terus berlanjut, tujuan menjadi sarana saja untuk sesuatu nilai yang lebih tinggi. Adakah yang pada akhirnya menjadi  tidak dicari demi sesuatu yang lain kecuali pada dirinya sendiri? Itulah kebahagiaan. Kebahagiaan bersifat mencukupi dirinya sendiri. Orang disebut bahagia bila orang sudah tidak menginginkan apa-apa lagi. Orang tua perlu menyadari bahwa untuk mencapai kebahagian, anak perlu menghidupi nilai-nilai keutamaan.

Ada dua macam keutamaan, yaitu keutamaan intelektual dan keutamaan moral. Keutamaan intelektual berasal dan berkembang oleh pembelajaran. Keutamaan intelektual dibagi menjadi dua macam, yakni kebijaksanaan teoritis dan kebijaksanaan praktis. Keutamaan intelektual memberi pengertian akal budi yang tepat. Keutamaan moral diperoleh dari kebiasaan. Keutamaan moral menjadikan keutamaan intelektual sebagai kebiasaan, sehingga manusia bisa menjadi manusia berkeutamaan. Oleh sebab itu, orang tua perlu menanamkan nilai-nilai keutamaan pada anak agar nilai keutamaan itu bisa menjadi kebiasaan sejak dini.

Pendidikan sangat diperlukan untuk menanamkan nilai-nilai keutamaan pada anak. Setiap kejadian hidup anak bisa dijadikan proses pembelajaran keutamaan. Dalam setiap kejadian, anak dihadapkan pada  pilihan yang merujuk pada satu “pilihan diantara” hal lain. Sebelum memilih, anak perlu diajarkan untuk melakukan pertimbangan dari apa yang ia kehendaki. Pertimbangan ini berhubungan dengan keinginan anak. Keinginan berakar dari kehendak. Karena dalam kehendak, semua tindakan berinisiatif dari dirinya sendiri. Dengan adanya kehendak, tidak ada seorang pun dapat mendorong anak untuk bertindak diluar kehendaknya. Disini orang tua perlu menyadari sifat ego anak berasal dari kehendak anak sendiri. Oleh sebab itu pendidikan dapat membantu anak untuk menggunakan akal budinya dalam kehendaknya.

Pada tahap praoperasional, anak mulai belajar berkata-kata. Anak mulai mendeskripsikan orang, kejadian dan perasaannya. Anak mempunyai sifat egois. Langkah yang bisa dilakukan orang tua adalah mendampingi anak dan membimbing tindakan yang dilakukan anak. Pendampingan dan bimbingan ini bertujuan untuk membantu anak dalam menggunakan akal budinya. Pendampingan dan bimbingan orang tua bisa dilakukan dengan berdialog. Walau anak masih belum bisa menangkap apa yang dikatakan orang tua, hal ini bisa menjadi pembiasaan agar anak mau berdialog dengan orang tuanya.

BACA JUGA :   Thomas Aquinas : Ada beberapa karakteristik dari persahabatan

Saat anak bertanya tentang situasi atau pilihan yang mau diambilnya, orang tua dapat membantu anak dengan melakukan dialog. Orang tua memberi penjelasan yang cukup tentang apa yang mau dipilihnya. Orang tua memberi pengertian tentang apa yang mau dipilihnya. Orang tua memberi pertimbangan-pertimbangan yang diperlukan anak agar anak sudah dibiasakan untuk membuat pertimbangan dalam mengambil suatu pilihan. Orang tua membantu anak menghubungkan pertimbangan itu dengan keinginannya agar anak bisa membatasi keinginannya, anak mengendalikan keinginannya. Selain itu, anak juga berlatih menghadapi kelemahan hatinya walau  ia mengalami penderitaan dan tidak senang.  Orang tua juga bisa memberi hukuman bila anak berbuat buruk. Hukuman ini bertujuan agar anak mengetahui mana tindakan yang baik dan yang buruk. Setelah memberi hukuman, orang tua menjelaskan mengapa ia dihukum. Hukuman ini sesuai dengan apa yang dikatakan Aristoteles, anak menurut dan terkendali oleh pengasuhnya.

Keutamaan phronesis dapat ditanamkan pada anak dengan cara mengevaluasi tindakan anak dari pilihan yang akan, sedang dan sudah dipilihnya. Saat anak dihadapkan pada pengalaman baru dan situasi baru, proses adaptasi terjadi. Anak akan membandingkan cara berpikir atau pengalaman lama dengan pengalamana atau situasi baru. Hal ini dapat membingungkan anak karena dalam pikiran anak akan timbul pertanyaan-pertanyaan yang berhubungan dengan situasi ini. Anak bisa langsung membuat pilihan dari situasi yang baru atau anak akan bertanya tentang situasi barunya ini pada orang tuanya. Saat anak mau mendialogkan situasi ini dengan orang tua, orang tua bisa mengarahkan anak untuk memilih jalan tengah yang tepat. Hal ini  memacu proses asimilasi dan akomodasi dalam kognitif anak sehingga anak bisa menemukan keseimbangan yang baru dari pengalaman lama maupun yang baru. Hal ini juga dapat membantu anak untuk menentukan pilihan bila anak dihadapkan dua keinginan atau lebih. Dengan ini, anak sudah belajar keutamaan phronesis.

Berikut ini adalah bentuk-bentuk latihan pembiasaan yang bisa dilakukan oleh orang tua kepada anak, antara lain:

  1. Latihan berani berkata cukup. Saat anak mempunyai keinginan untuk makan makanan, snack berlebihan  atau keinginan lain yang menggebu-gebu. Anak perlu dibekali pengertian bahwa tidak setiap keinginan dapat dipenuhi. Anak bisa belajar mengendalikan keinginannya dan belajar untuk menghadapi kelemahan hatinya.
  2. Latihan berani berkata tidak pada tawaran yang ada dan dari orang yang tidak dikenal. Saat anak menerima tawaran dari orang lain, anak perlu dibekali sikap berani untuk menolak tawaran itu. Walau untuk menolak itu, anak kehilangan apa yang disukai atau yang diminati. Anak perlu diberi bekal bahwa orang yang berkeutamaan, orang yang kuat dalam menghadapi penderitaan dan tidak mudah menerima tawaran orang lain.
  3. Latihan mengembalikan mainan yang sudah dipakai mainanSetelah anak  bermain menggunakan mainannya, anak perlu dibiasakan untuk mengembalikan mainannya pada tempatnya. Ini bisa melatih anak untuk . bertanggung jawab dengan mainan yang digunakannya. Ini juga bisa melatih anak untuk mempunyai rasa memiliki dari barang yang dimiliki.
  4. Latihan tidak berebut dan tidak mengambil milik orang lain. Saat anak berebut sesuatu dengan saudaranya atau mengambil milik orang lain. Orang tua perlu memberi pengertian bahwa anak tidak perlu berebut mainan dengan saudaranya atau orang lain. Walau keinginan untuk merebut akan muncul lagi, orang tua perlu memberi sikap tegas pada anak. Agar suatu saat anak bisa memahami bahwa berebut yang bukan miliknya itu tindakan yang buruk. Anak bisa mengerti yang menjadi miliknya dan yang bukan miliknya.
  5. Latihan berani berkata jujur dan tidak menipu.Orang tua perlu menanamkan sikap jujur dan tidak menipu pada anak. Saat anak berbuat salah atau berbuat buruk. Bila anak berani berkata jujur, orang tua perlu mengapresiasi sikap jujur anak dengan bijak sesuai dengan situasi. Sikap orang tua ini sangat penting agar anak tetap berani berkata jujur dan tidak menipu.
  6. Latihan mengembalikan barang yang bukan miliknya. Saat anak menemukan barang yang bukan miliknya dan ia tahu siapa pemiliknya, anak perlu dilatih untuk mengembalikan barang itu. Ini bisa melatih anak untuk tidak memiliki yang bukan menjadi miliknya dan anak mempunyai kepekaan untuk mengembalikan yang bukan miliknya.
  7. Latihan hidup sederhana, menabung dan hemat.Anak perlu dibekali dengan hidup sederhana, menabung dan hemat. Hidup sederhana perlu diperlihatkan oleh orang tua dikesehariannya. Bila anak terbiasa dengan hidup sederhana, anak juga bisa mengikuti hidup sederhana. Hidup hemat bisa diajarkan pada anak, saat anak mempunyai keinginan untuk memiliki sesuatu, orang tua bisa mendidiknya dengan menyisihkan uang saku dan menabungnya. Ini bisa melatih anak untuk menabung dan tidak menghambur-hamburkan apa yang dimiliki.
  8. Latihan bersyukur dengan apa yang dimiliki. Anak perlu dibekali juga rasa syukur dengan semua hal yang dimiliki. Rasa syukur ini melatih anak untuk menerima kondisi ada adanya. Bentuk lain dari bersyukur adalah mengucapkan terima kasih saat anak menerima sesuatu dari orang tua, kerabat atau orang yang sudah dikenal. Dengan latihan ini, anak belajar untuk menerima keadaannya dan tidak menuntut apa yang tidak dipunyai secara berlebihan.
  9. Latihan disiplin waktu. Disiplin waktu membantu dan melatih anak untuk menghargai waktu, orang lain dan hidupnya. Disiplin waktu merupakan bentuk latihan tanggung jawab pribadi anak terhadap waktu yang ada. Tanggung jawab ini mengandung kearifan di setiap tindakan yang dilakukannya. Latihan ini sangat berguna saat anak menginjak di bangku sekolah, kuliah, bekerja dan hidup bermasyarakat.

Setelah anak melakukan semua latihan ini, pertanyaan selanjutnya adalah apakah ada jaminan keberhasilan dari latihan-latihan pembiasaan ini pada anak dalam masa golden age? Semua latihan yang diberikan orang tua tidak menjamin di fase hidup anak selanjutnya untuk tidak berbuat korupsi. Yang bisa dilakukan orang tua adalah memberikan terus menerus pendampingan dan bimbingan pada anak-anaknya agar keberlanjutan proses pembiasaan bisa terus terjadi sesuai dengan fase hidup anak.

Kesimpulan

Image result for anti korupsi

Korupsi sudah menjadi hal yang menggurita di segala lini kehidupan dan berbangsa. Untuk menanggulangi korupsi, pendidikan anti korupsi bisa dilakukan sejak anak usia dini. Menurut teori Piaget, anak mulai bisa belajar secara kognitif, saat anak berusai dua sampai tujuh tahun (tahap praoperasional). Masa ini adalah masa penting bagi anak, anak mulai mengembangkan kemampuan simbol dalam pikirannya, berbahasa, mendeskripsikan orang, kejadian dan perasaannya. Anak mulai mengembangkan kognitifnya dengan proses adaptasi, skema, asimilasi dan akomodasi. Anak mulai memahami bahwa sesuatu ini miliknya dan bukan miliknya. Saat anak memasuki masa golden age ini, orang tua sebagai pendidik pertama di keluarga bisa menanamkan nilai-nilai keutamaan pada anak.

NE memberi nilai-nilai keutamaan yang bisa diberikan pada anak. NE menekankan pentingnya pendidikan agar orang menjadi berkeutamaan. Walau anak tidak memenuhi syarat orang berkeutamaan tapi dengan realita saat ini, pendidikan anti korupsi sejak anak usia dini sangat diperlukan. NE memberi nilai-nilai pembiasaan, pengalaman, penentuan pilihan, pertimbangan, pengendalian diri, jalan tengah dan ketepatan untuk memilih jalan tengah (phronesis).

Nilai-nilai keutamaan NE ini bisa dibiasakan oleh orang tua pada anak sejak usia dua tahun dengan latihan pembiasaan yang diberikan orang tua. Latihan-latihan itu adalah berani berkata cukup, berani berkata tidak pada tawaran yang menggiurkan dan dari orang yang tidak dikenal, mengembalikan mainan yang sudah dipakai mainan, tidak berebut dan tidak mengambil milik orang lain, berani berkata jujur dan tidak menipu, mengembalikan barang yang bukan miliknya, hidup sederhana, menabung dan hemat, bersyukur dengan apa yang dimiliki dan disiplin waktu. Setelah anak melewati masa golden age ini, pendampingan dan bimbingan orang tua perlu dilakukan terus-menerus agar proses pembelajaran dan pembiasaan bisa berkelanjutan.

Oleh : Handy Widiono , Mahasiswa Fakultas Filsafat Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya. Dimuat atas kerjasama Jurnal WIWEKA, Nera Academia dan www.idenera.com. Artikel ini pernah dimuat di Jurnal WIWEKA Vol.6 Edisi Juni 2017. 

Daftar Pustaka

ARISTOTELES , Nicomachean Ethics, Sebuah “Kitab Suci” Etika, ( Judul asli: The Nicomachean Ethics), diterjemahkan oleh Embun Kenyowati, Teraju, Jakarta 2004.

BERTENS, K., Sejarah Filsafat Yunani, Kanisius, Yogyakarta 2013.

FELDMEN, ROBERT S. , Understanding Psychology, McGraw Hill Companies, New York 2011.

GUNARSA, SINGGIH D., Perkembangan Psikologi, BPK Gunung Mulia, Jakarta 1984.

MORISSON, GEORGE S., Early Childhood Education Today, Pearson Education, Inc, New Jersey 2009.

ROBERT S. FELDMEN, Understanding Psychology, McGraw Hill Companies, New York 2011,400.

GEORGE S. MORISSON, Early Childhood Education Today, Pearson Education, Inc, New Jersey 2009, 115.

Please share,