233 0

Krisis Spiritual, Derita Masyarakat Modern

Modernisme di balik semua kemajuan yang dibawanya telah ditemukan bermasalah terhadap keutuhan hidup dunia dan segala isinya, terlebih terhadap alam. Pemahaman bahwa manusia adalah subjek kesadaran telah membawa akibat buruk pada apa pun. Modernisme berdampak pada rusaknya keseimbangan tatanan ciptaan. (Emanuel Wora)

Wajahnya yang tampak anggun nan kokoh dengan segala kecanggihan dan kemudahan yang disuguhkan modernisme membawa pengaruh signifikan terhadap perkembangan kehidupan umat manusia di dunia. Meski manusia sebagai subjek berkesadaran dan bisa mengetahui semua kenyataan dengan rasionya; mampu menilai sesuatu dan selalu menjadi pusat pengetahuan, tetapi era ini tengah menjerumuskan manusia dalam krisis kehidupan yang kompleks dan bersifat global.

Banyak di antara mereka yang tengah mengalami disorientasi atau kehilangan arah. Tak ayal, mereka menjadikan dunia sebagai tujuan hidup (way of life), bahkan laku hidupnya ditujukan terhadap dunia semata. Hal ini terjadi lantaran adanya pengaruh sekularisasi dan filsafat pragmatisme yang sudah cukup lama bersemayam (merasuk) ke jiwa mereka.

Sementara itu, ilmu pengetahuan dan teknologi yang dianggap sebagai kekuatan (power) pendorong bagi proses modernisasi tengah mengakibatkan semakin tingginya hedonisme dan pragmatisme umat manusia. Alih-alih ilmu pengetahuan dan teknologi memberi umat manusia berkah yang melimpah-ruah berupa kemudahan materi dan memperluas cakrawala pikirannya, kegelisahan-lah mereka dapatkan yang ditandai dengan tergerusnya perhatian manusia terhadap spiritual dan etika.

Semangat kemodernan secara perlahan-lahan mulai mengikis nilai-nilai kebenaran, kehormatan, dan etika yang dahulu sempat menjadi benteng kokoh setiap peradaban besar.

Kehidupan masyarakat modern

Sejak dibukanya kran pemikiran rasional oleh Rene Descartes (1595-1650) dengan pernyataan Cogito Ergo Sum (saya berpikir maka saya ada), menandakan babak baru dalam sejarah peradaban umat manusia yang sering disebut zaman renaisans (modern). Era ini lahir sebagai pencerah dan pembebas (antitesis) dari hegemoni pemikiran sebelumnya (dogma Gereja).

Sebagai antitesis, modernisme menawarkan paradigma baru yang ciri utamanya adalah humanisme, empirisme, rasionalisme, individualisme, dan terlepas (bebas) dari pengaruh agama. Artinya, manusia pada era ini tidak mau diatur oleh agama. Alhasil, standarisasi kebenaran acapkali merujuk pada pemikiran rasional-empiris-positivistik. Dan produk pemikiran ini adalah lahirnya ilmu pengetahuan dan teknologi.

BACA JUGA :   Neratalk : Indonesia mau tidak mau terikat dan terhubung dengan mitos

Seyyed Hossein Nasr misalnya, menyatakan bahwa akibat masyarakat modern yang terlalu mendewakan ilmu pengetahuan dan teknologi menjadikan mereka berada dalam krisis spiritual. Akibatnya, mereka mengalami kehampaan, kegelisahan, disorientasi, ketidakbahagiaan, dan akhirnya bunuh diri. (Ahmad Sidqi, Wajah Tasawuf di Era Modern; Antara Tantangan dan Jawaban, hlm. 7)

Emanuel Wora juga menyatakan bahwa semangat kemodernan melahirkan realitas labil yang dapat membuka peluang besar bagi manusia untuk jatuh pada pengalaman keretakan atau keter-pecahan pada tataran eksternal (kehidupan sosial) maupun dalam tataran internal (dalam diri manusia). (Emanuel Wora, Perenialisme; Kritik atas Modernisme dan Postmodernisme, hlm. 50)

Realitas ini ditandai oleh beberapa ciri; Pertama, pemisahan antara konsep etika dan epistemologi dengan dunia dan tubuh (realitas material), serta mengedepankan pandangan instrumental terhadap kedua faktor (dunia dan tubuh). Kedua, diskontinuitas, yaitu ketika pola hidup baru yang muncul dalam era kemodernan tengah menggantikan atau bahkan menghilangkan segala pola lama yang bernuansa tradisional. Ketiga, pencabutan posisi sentral realitas Ilahi (Tuhan) dalam kehidupan manusia dan dunia.

Sementara itu, Donald Walters menyatakan bahwa akibat dari kondisi modernitas, manusia mulai merasakan kebutuhan akan suatu dasar yang kuat bagi moralitas mereka, yang tidak didapatkan dari ilmu-ilmu fisik. Dan pada akhirnya mereka mengakui bahwa dibutuhkan kekuatan yang melampaui realitas untuk kembali menyatukannya, yakni kembali pada ilmu pengetahuan tradisional (mistisisme). (Donald Walters, Crises in Modern Thought: Menyelami Kemajuan Ilmu Pengetahuan dalam Lingkup Filsafat dan Hukum Kodrat, terj. B. Widhi Nugraha, hlm. 10)

Solusi krisis spiritual masyarakat modern

Kondisi yang melanda sebagian besar masyarakat modern ini memunculkan sebuah gejala baru, bahwa manusia mulai beralih pada dimensi esoterik sebagai pilihan hidup menghadapi kebuntuan di tengah modernisme. Spiritualitas (tasawuf) pun kian menjadi tema yang seksi dan primadona baru dalam kajian agama.

Dari sinilah kemudian mistisisme (tasawuf) menawarkan sesuatu yang lebih mendalam dari sains karena tidak mengabaikan pandangan lain.  Artinya, dunia tasawuf memiliki kesatuan pandangan dalam permasalahan yang esensial dan substansial; dengan menyatakan bahwa pencapaian hakikat segala sesuatu hanya dengan metode intuisi mistikal dan jalan-jalan penyucian jiwa, bukan dengan penalaran dan argumentasi rasional.

BACA JUGA :   Apa yang Kita Pelajari dari Bedil, Kuman, dan Baja?

Pun, pencapaian kondisi yang demikian ini memerlukan latihan batin dan perjalanan spiritual. Karena tanpa melalui jalur ini, mustahil hati dan jiwa manusia bisa menerima pancaran cahaya-cahaya suci. Lebih jauh lagi, Abdul Muhaya dalam tulisannya bertajuk “Peran Tasawuf dalam Menanggulangi Krisis Spiritual” mempertegas bahwa dimensi tasawuf dapat dijadikan sebagai terapi krisis spiritual yang melanda sebagian masyarakat modern, karena beberapa alasan, yaitu:

Pertama, tasawuf secara psikologis merupakan hasil dari berbagai pengalaman spiritual dan merupakan bentuk dari pengetahuan langsung mengenai realitas-realitas ketuhanan yang cenderung menjadi inovator dalam agama. Kedua, kehadiran Tuhan dalam bentuk pengalaman spiritual (mistis), seperti makrifat, ittihad, hulul, mahabbah, dan lain sebagainya, dapat menimbulkan keyakinan yang sangat kuat atau menjadi moral force bagi amal-amal saleh.

Dan ketiga, dalam tasawuf, hubungan seorang hamba dengan Allah dijalin atas rasa kecintaan. Sehingga bagi seorang sufi, Allah bukanlah Dzat yang menakutkan, tetapi sebagai Dzat yang sempurna, indah, pengasih dan penyayang, kekal, al-Haq, dan selalu hadir kapan pun dan di mana pun. (Abdul Muhaya, Peran Tasawuf dalam Menanggulangi Krisis Spiritual, hlm. 24-26)

Dengan demikian, jelaslah bahwa kehadiran tasawuf di tengah kehidupan modern berupaya untuk mengobati penyakit yang melanda masyarakat modern (krisis spiritual), yang diakibatkan oleh paham modernisme dengan rasional-empiris, positivis-nya yang lebih mendahulukan akal daripada spiritual. Karena tasawuf secara seimbang memberikan kesejukan antara keduanya sekaligus. Pun juga bisa dipahami sebagai instrumen pembentuk tingkah laku melalui pendekatan suluk, dan mampu memuaskan dahaga intelektual; mengantisipasi arus modernisasi yang serba kompleks dan kompetitif ini. Wallahu A’lam

Oleh : Saidun Fiddaraini, Alumnus Pesantren Nurul Jadid, Paiton, kini mengajar di Pesantren Zainul Huda, Arjasa, Sumenep. Penikmat kajian keislaman dan filsafat.

Please share,
idenera

IDENERA, membuka kesempatan bagi siapapun menjadi kontributor. Tulisan dikirim ke : editor@idenera.com dan dapatkan 1 buku tiap bulannya bila terpilih oleh editor.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Follow Me