HomeAKSILuntas : Ludruk Nom-noman Jembatan Dunia Tradisional dan Modern
Luntas

Luntas : Ludruk Nom-noman Jembatan Dunia Tradisional dan Modern

AKSI KEBUDAYAAN KOMUNITAS LIPUTAN 0 2 likes 1.1K views

Minggu malam (26/02) lahan parkir dan taman di depan gedung Pringgodani, THR (Taman Hiburan Rakyat) Surabaya lebih ramai daripada biasanya. Suasana gelap dan suram sedikit terusir dengan hadirnya beberapa orang yang terlihat lalu lalang atau sekedar duduk-duduk menunggu dimulainya pertunjukan berjudul ‘Sampek Engtay’ garapan grup ludruk Luntas. Luntas sendiri merupakan akronim dari Ludruk Nom-noman Tjap Arek Soeroboio. ‘Sampek Engtay’ merupakan produksi ke IX selama usia Luntas yang baru saja menginjak satu tahun. Produktivitas mereka dalam menghasilkan seni pertunjukkan memang tak dapat disangkal.

‘Sampek Engtay’ gaya Suroboyo

Sekitar pukul 20.00 pertunjukkan yang ditunggu-tunggu digelar. Tari Remo menjadi suguhan pembuka. Selanjutnya, lawakan dari Cak Robert dan Cak Ipul mengawali lakon ‘Sampek Engtay’ malam itu. Urut-urutan tampilan yang demikian nampaknya memang lazim untuk sebuah pertunjukan Ludruk. Lakon ‘Sampek Engtay’ dibuka dengan konflik Engtay, seorang perempuan muda yang ingin sekolah. Kala itu di Tiongkok hanya laki-laki yang diperbolehkan bersekolah. Engtay bersikeras mau menyamar menjadi laki-laki agar bisa bersekolah. Orang tuanya tak dapat mengelak, akhirnya mereka memberikan izin pada Engtay untuk pergi asalkan didampingi oleh pembantu perempuannya yang juga harus menyamar menjadi laki-laki.

Jangan membayangkan para pemain akan berbahasa ke-Tiongkok-tiongkok-an dalam melafalkan dialognya. Luntas tak melakukannya sama sekali, kecuali satu dua tokoh yang sesekali memberikan sengau untuk memberi efek bahasa Tiongkok yang hasilnya justru akan membuat penonton geli. Luntas mengadaptasi dialog sepenuhnya dalam bahasa Indonesia dan Jawa gaya Suroboyoan. Tidak hanya dialog yang mereka sesuaikan dengan konteks Suroboyo, tapi juga alur cerita dan musik. Alur cerita ‘Sampek Engtay’ digarap sebagaimana sebuah pertunjukan ludruk yang menyisipkan dagelan-dagelan di tengah alur cerita yang semestinya. Juga musik yang menjadi latar cerita digarap dengan cara memadukan antara karawitan dan rekaman lagu-lagu pop kekinian.

BACA JUGA :   Anastasius Welerubun : Saat kebhinekaan bangsa kita terancam

‘Sampek Engtay’ ala Luntas: Dongeng Lawas yang Menarik Perhatian Anak Muda

FRESH: Pentas seni ludruk bercerita tentang urban legend dari kisah RS Simpang hantu Suster Gepeng menghibur penonton, Sabtu (22/1), di Kampung Seni THR, Surabaya.

Pentas seni ludruk bercerita tentang urban legend dari kisah RS Simpang hantu Suster Gepeng menghibur penonton, Sabtu (22/1), di Kampung Seni THR, Surabaya. (Ahmad Khusaini/Jawa Pos/JawaPos.com)

Lakon ‘Sampek Engtay’ memang bukan lakon baru dalam dunia seni pertunjukkan di Indonesia. Begitu banyak grup yang menggarapnya, sebut saja salah satu kelompok bernama Teater Koma yang di tahun 2015 telah menampilkan lakon ‘Sampek Engtay’ sebanyak 101 kali.[1] Tentu tak mudah memainkan lakon yang sudah banyak dimainkan oleh grup lain. Banyak orang pun sebenarnya sudah mengetahui jalan cerita ‘Sampek Engtay’. Engtay yang menyamar menjadi laki-laki lama kelamaan jatuh cinta pada kawan seperguruannya bernama Sampek. Sampek pun tak sengaja pada suatu saat mengetahui bahwa Engtay adalah perempuan. Mereka berdua jatuh cinta. Namun malangnya, lamaran dari Sampek ditolak mentah-mentah oleh orang tua Engtay. Engtay kemudian dijodohkan dengan putra dari tokoh terkemuka dan Sampek mati dalam kesedihannya. Engtay kemudian berpura-pura mau dinikahkan tapi di tengah arak-arakan pernikahan ia justru sengaja terjun ke makam Sampek. Keduanya bersatu dan menjelma menjadi kupu-kupu.

BACA JUGA :   Kampung Ilmu, Jalan Semarang

Sudah seringnya dongeng ‘Sampek Engtay’ ini diperdengarkan atau dipentaskan tidak membuat sejumlah orang enggan datang ke gedung pertunjukkan malam itu. Mereka memenuhi bangku-bangku tua Gedung Pringgodani. Ini merupakan fenomena yang mengherankan sebab dapat dikatakan 90% dari bangku penonton terisi dan sebagian besar dari penonton adalah anak muda. Pertunjukan seni tradisi di era modern tak lagi banyak digemari. Gedung-gedung di THR pun sudah sangat lama tak menjadi idaman masyarakat. Namun, Luntas membawa nafas baru ke dalam seni tradisi dan gedung pertunjukkan di THR. Mereka menjadi jembatan antara dunia anak muda di luar THR dengan dunia seni tradisi. Bentuk-bentuk sajian Luntas ternyata mampu mengundang kembali anak muda untuk menapakkan kakinya ke THR yang mulai ditinggalkan. Orang-orang muda dari berbagai latar belakang dan profesi seperti mahasiswa/siswa, pekerja swasta, pendidik, ibu muda rumah tangga, dll terlibat, baik untuk menonton maupun menjadi aktor/aktris dalam pertunjukkan ini. Lebih hebatnya lagi, semua pemain tidak menarik keuntungan finansial atas aksi-aksinya. Mereka berkarya berdasarkan ke-sukarela-an. Uang tiket yang dihargai Rp 15.000,00/orang hanya digunakan untuk mengganti uang produksi, tak lebih dari itu.

BACA JUGA :   Saras Dumasari : Diam itu jauh lebih berbahaya, karena ia tak memihak*

Perlunya Berbagai Pihak Bergandeng-Tangan

Usaha Luntas untuk menghidupkan dan memperbarui seni tradisi sembari mengenalkannya pada kaum muda memang pantas diapresiasi. Memang tidak sedikit juga catatan baik dari segi teknis maupun isi pertunjukkan yang perlu diperbaiki, seperti: mengisi banyolan-banyolan agar tidak sekedar menghibur tetapi juga membawa penonton pada kepekaan terhadap kondisi sosial politik (sebagai catatan: ludruk pada masa kolonial digunakan untuk menumbuhkan kesadaran sosial di kalangan rakyat); ketrampilan keaktoran yang perlu terus ditingkatkan; kesesuaian artistik dengan tema; dan pengaturan suara serta musik agar dialog tetap terdengar.

Luntas tidak sendiri dalam memperbaiki kekurangan-kekurangan ini. Banyak pihak seperti sekolah kesenian, tokoh-tokoh gaek dalam bidang seni tradisi, Pemkot, orang-orang muda dan masyarakat pada umumnya dapat bergandeng-tangan untuk sama-sama menghidupi budaya khas Suroboyo ini.

Budaya bukan sekedar apa yang kita terima dan teruskan dari masa lampau, tetapi budaya adalah apa yang kita hidupi dan kembangkan terus menerus.

Salam!

[1] http://www.antaranews.com/berita/509183/sampek-engtay-teater-koma-tayang-ke-101-kali

Please share,