HomeREFLEKSIDISKUSILevinas dan Politik Perjumpaan Wajah Ke Wajah
Levinas

Levinas dan Politik Perjumpaan Wajah Ke Wajah

DISKUSI FILSAFAT WARGA 0 6 likes 821 views

Kalau Levinas masih hidup, entah apa yang ia katakan soal perluasan pemukiman Yahudi di Gaza dan perang saudara yang terus terjadi di Timur Tengah? Tafsiran atas teks-teks tulisannya sedikit menjawab pertanyaan itu.

Bagaimana cara kita membaca kebijakan Presiden Amerika Donald Trump terhadap kehadiran imigran dan kaum muslim di Amerika.  Kebijakan yang tidak hanya meresahkan warga Amerika Serikat namun juga warga dunia. Apa yang mau ditampilkan melalui kebijakan ini? demokrasi,  totaliatarianisme atau trupmisme.

Wajah apa yang ditampilkan dari kisah Nenek Hindun bin Raisan (77) yang jenasahnya ditolak untuk dishalatkan oleh penggurus  musholla Al Mukmin di RT 09 RW 02 Karet, Setiabudi, Jakarta Selatan? Almarhuma Hindun bin Raisan ditolak karena semasa hidupnya memilih pasangan Basuki Tjahaja Purnama – Djarot Saiful Hidayat di Pilgub DKI Jakarta pada 15 Februari lalu. Apakah itu wajah  agama, politik dan komunitas rakyat Indonesia saat ini?

Juga tidak lama sebelumnya ini lini masa ramai dengan perbincangan terhadap kaum LGBT (lesbian, gay, biseksual dan transgender) dan penganut aliran kepercayaan khusus dalam komunitas-komunitas sosial tertentu karena dianggap tidak lazim atau dianggap sesat.

Wajah Politik Perjumpaan 

Perbincangan sejenis ini sebetulnya sudah lama didalami dalam sejarah dunia, khususnya dalam sejarah pemikiran Eropa setelah Perang Dunia Pertama. Saat itu, pemikiran tentang demokrasi sedang hits dibicarakan ditengah pergolakan dan gesekan ideologi. Saat ini ditengah klaim  demokrasi sebagai gerakan menghargai perbedaan dan keunikan pribadi-komunitas, yang  terjadi malah politik totaliter dan penindasan atas nama agama.

Emmanuel Levinas (1906-1995), seorang filsuf Yahudi mencoba mengajukan wacana kemanusiaan soal perjumpaan wajah ke wajah sebagai refleksinya atas kasus penghilangpaksaan jutaan etnis Yahudi selama rezim Hitler.

Keluarga Almarhum Pendukung Ahok Ini Kecewa Jenazah Hindun Tidak Disalatkan di Mushalla

Sunengsih alias Neneng (47) tengah memegang foto mendiang Hindun bin Raisan (77). Jenazah Hindun pada 3 Maret lalu tidak dishalatkan di mushalla Al Mukmin, di wilayah Karet, Setiabudi, Jakarta Selatan. Neneng meyakini hal itu karena sang ibunda adalah pendukung pasangan Basuki Tjahaja Purnama – Djarot Saiful Hidayat.

Ia menulis dua buku terkenal yakni, Totalité et Infini (Totalitas Dan Yang-Tak-Berhingga, 1961) dan Autrement Qu être ou au-dellà de l’ Essence (Lain Daripada Ada, Di Seberang Esensi, 1974). Levinas berpendapat, ada dua semangat besar dalam Pemikiran Barat (era modern), yakni semangat ontologis dan semangat metafisis. Semangat ontologis terangkum dalam ide totalisme. Ide totalitas menunjuk pada suatu cara berpikir yang berpusat pada si Aku (etrê le même).

BACA JUGA :   De-moralisasi POLRI  : Mutung dan Terlatih Patah Hati *

Dalam sejarah umat manusia selalu ada upaya untuk menundukan dan menyingkirkan “yang lain atau sesama” dibawah “yang sama.” Yang sama (le même) selalu berusaha memasukan Yang Lain (l’ Autrui) ke dalam wilayah totalitasnya. Dalam reduksi selalu ada gerak kembali kepada yang sama, kepada diri sendiri yaitu sang “aku” sebagai subyek otonom, sebagai pusat kebenaran.

Bagi Levinas, liyan adalah pembuka horizon keberadaan, bahkan pendobrak menuju ketransendenan manusia. Yang Lain itu ada dan indah. Karena manusia pada hakekatnya terasing satu sama lain.  Maka, untuk menjembatani itu pertemuan atau perjumpaan menjadi suatu momen etis.
Pengalaman dasar manusia dalah perjumpaan dengan yang lain. Dalam perjumpaan itu, kita sadar bahwa kita langsung bertanggungjawab total atas keselamatannya. Langsung dalam arti bahwa tanggung jawab itu membebani kita, mendahului komunikasi eksplisit kita dengan orang lain.

Levinas dalam analisa fenomenologi eksistensialnya menyebut, pengalaman moral adalah titik tolak segala kesadaran, sikap dan dimensi penghayatan manusia dan bahwa pengalaman dasariah itu sekaligus merupakan kesadaran akan adanya Yang Ilahi di belakangnya.Levinas ingin menunjukan bahwa secara fenomemologis pada saat berhadapan dengan sesama kita langsung menyadari diri dipanggil olehnya untuk bertanggung jawab atas keselamatannya.

Apakah kita mengiyakan atau menolak panggilan itu, adalah masalah belakangan (namun, itulah masalah yang dalam kesadaran mendapat perhatian kita, di mana lalu juga etika normatif mau membantu dalam menentukan sikap mana yang tepat bagi sesama itu). Ia berfokus pada saat pra-sadar di mana kita untuk pertama kali menyadari bahwa ada sesama menghadapi kita. Di saat itu, kita seakan-akan “disandera” oleh saudara itu, sehingga terikat total oleh tanggung jawab atas keselamatanya.

Dalam kesadaran pra-sadar itu juga termuat panggilan kepada kebaikan, tuntutan primordial untuk bersikap baik dan tidak jahat terhadap dia itu. Dan bahwa panggilan itu merupakan pancaran dari Yang-Baik-Tak-Berhingga di dalamnya kita bertemu dengan saudara.Ia menunjukan bahwa fenomena pertemuan dengan orang lain ini menjadi dasar untuk memecahkan pertanyaan-pertanyaan dasar filsafat: bahwa ada seorang Engkau, bahwa ada realitas di luar kesadaran saya.

Suatu tindakan etis tertentu lahir dari respons yang diberikan atas kehadiran yang lain. Respons dalam bentuk jawaban, yaitu jawaban atas panggilan orang lain. Respons terhadap suatu jawaban mesti dibarengi dengan sikap siap untuk menanggung segala konsekuensi dari jawaban yang diberikan. Sikap menanggung suatu jawaban adalah tanggung jawab. Levinas mengatakan, “wajah sesamaku mengatakan, terimalah aku, jangan membunuh aku.” Wajah memberitahukan perintah untuk “jangan membunuh”, ini kelihatan secara pasti mengungkapkan sesuatu yang seharusnya dan tanpa syarat.

BACA JUGA :   Undangan menulis esai : Membongkar Rezim Fanatisme

Wajah memberi perintah kepada setiap orang untuk bertanggungjawab atas yang lain. Wajah tidak dimaksudkan dengan hal fisis atau empiris, seperti keseluruhan yang terdiri dari bibir, hidung, dagu, dan seterusnya. Seandainya sama dengan sesuatu yang bersifat empiris begitu saja, wajah akan termasuk totalitas juga.

Yang dimaksudkan dengan wajah adalah orang lain sebagai yang lain menurut keberlainannya. Jadi, kualitas-kualitas fisis atau psikis yang bisa saja tampak pada sebuah wajah (tampan, muda, cemerlang, dll) tidak penting bagi Levinas. Wajah berarti situasi di mana di depan kita orang lain ada dan muncul. Kita berhadapan wajah ke wajah tanpa pengantara. Ia hadir sebagai orang tertentu melalui wajahnya. Wajah itu menyapa kita. Barangkali ia minta uang atau ia hanya menatap kita dengan situasi diam. Lewat wajahnya kita berhadapan dengan orang lain.

Sebuah situasi yang sebenarnya biasa, tetapi menurut fenomenologi luar biasa. Wajah itu telanjang (la visage nu).  Artinya wajah yang begitu saja, wajah dalam keadaan polos. Wajah yang menyatakan diri sebagai visage significant, wajah yang telanjang di mana mempunyai makna; langsung, tanpa penengah, tanpa suatu konteks. Penampilan wajah adalah suatu kejadian etis. Itulah langkah penting dalam pemikiran Levinas.

Wajah menyapa saya dan saya tidak boleh acuh tak acuh saja. Ia mewajibkan saya. Ia mengunjungi saya supaya saya membuka hati dan pintu rumah saya. Ia menghimbau saya agar saya mempraktekan keadilan dan kebaikan. Wajah menyatakan diri sebagai “janda dan yatim piatu, orang miskin, orang asing ”.

Levinas menggagas sebuah pemikiran etis tentang bagaimana seharusnya kita bersikap terhadap orang lain sebagai wujud konkrit dari perjumpaan manusia melalui wajah ke wajah itu. Filsafat wajah-nya menarik untuk ditilik. “Wajah” yang dimaksud bukan sekedar bagian dari organ tubuh manusia yang terletak di bagian depan kepala.

Manifestasi  Wajah

Emmanuel Levinas. Foto : www.levinas.nl

Wajah adalah sebuah personifikasi ketakberdayaan yang mengimbau suatu tindakan etis. Ada dua hal yang perlu diperhatikan. Pertama, dalam wajah itu, orang lain tampak sebagai orang tertentu, orang lain. Orang lain menyatakan diri sebagai yang betul-betul lain dari saya.  Konsekuensinya adalah bahwa wajah sebagai wajah tidak dapat dikuasai, dipegang atau diperbudak. Kedua, dalam wajah itu orang berada sama sekali di luar kita. Ia tidak berbicara tentang bagaimana tanggung jawab moral, apa itu bertindak secara moral atau bagaimana reaksi yang harus diambil ketika orang lain berhadapan dengan kita, melainkan pada apa yang terjadi di saat wajah itu menatap kita.

BACA JUGA :   Crezentiani Trinitas : Kok bisa ya? Dia mahasiswi psikologi, tetapi kok  lesbian?

Manifestasi yang lain adalah wajah. Maka, wajah adalah sebuah personifikasi sebagai yang miskin, janda, yatim piatu, orang asing, yang telanjang. Semua figur ini menyiratkan fakta tentang suatu kejadian etis.  Epifani wajah adalah suatu kejadian etis. Kejadian yang membuka kemanusiaan, yaitu kemanusiaan yang mengandung di dalam dirinya suatu undangan etis. Undangan yang meminta suatu respons, yaitu respons dalam responsibilité.

Ia menegaskan bahwa baru ketika berhadapan dengan orang lain, saya menjadi saya, saya menemukan identitas saya, menemukan keunikan saya. Inilah yang menjadi inti dari paradigma filosofis Levinas tentang filsafat wajah. Levinas berfokus pada saat pra-reflektif yang memuat data panggilan untuk kebaikan, tuntutan primordial untuk bersikap baik dan tidak jahat terhadap dia yang lain, dan bahwa panggilan itu merupakan pancaran dari yang baik-Yang-Takberhingga yang menjadi cakrawala di mana didalamnya kita bertemu dengan yang lain.

Dan segala usaha untuk mengeksplisitasi dan memahami keunikan manusia merupakan pelecehan terhadap alteritas (keberlainan yang lain, yang sama sekali lain) manusia sebagai persona. Segala usaha untuk memahami diri sesama merupakan kegagalan. Keunikan sesama sebagai pribadi hadir dihadapan “wajah yang telanjang”. Levinas memakai nama “Dia Yang Lain” untuk menerapkannya pada manusia. Manusia adalah misteri yang sulit dipahami. Manusia adalah valde aliud atau yang sama sekali lain bagi sesamanya. Karena dalam diri sesama yang unik itu Aku melihat DIA Yang Transenden (: Allah), maka aku harus menghormati sesama, bahkan harus tahkluk dan taat.

Renungan Levinas setidaknya membawa pada satu semangat bahwa dunia ini tidak diciptakan untuk menjadi satu dan sama, kemudian tertutup dalam kuasa komunitas, kelompok dan ajaran tertentu melainkan ruang untuk membagi perbedaan dan kesamaan. Bahwa politik pada dasarnya adalah tindakan pengabdian bagi yang lain (kemanusiaan dan keutuhan ciptaan).

Bacaan lanjutan: 

Levinas, Emmanuel, Totality And Infinity, An Essay On Exteriority, Duquesne University Press, Pittsburgh, Pa, 1969, Alterity And Transcendence, Columbia University Press, New York, 1995, and Reponsibility For The Other (An Interview With Philippe Nemo), Cross Currents, 1984

Hosting Unlimited Indonesia
Please share,