HomeREFLEKSIDISKUSISemakin manusiawi, sebagai tujuan akhir pendidikan

Semakin manusiawi, sebagai tujuan akhir pendidikan

DISKUSI KEBUDAYAAN LINGKUNGAN NARASI 0 0 likes 74 views

Pemikiran ini bermula dari diskusi hakikat manusia yang terjadi pada suatu sore di Sekolah Analisa Sosial (ANSOS) III yang diselenggarakan Nera Academia di Surabaya. Pembahsan yang sangat abstrak dan tak ada jawaban pastinya tentang makhluk terkompleks di dunia. Membahas manusia adalah membahas diri; segala pengalaman, penghakiman, dan keputusan yang telah dilalui. Kemanusiaan terbentuk dari kompleksitas faktor-faktor tak terbatas, berjalin lilit menyusun kerumitan luar biasa pada setiap mahluk  yang kita sebut manusia.

Maka memahami manusia adalah menghargai kerumitan tiap individu, serta perspektif yang dimilikinya.

Tentang ‘Bersekolah’

Bila ditanya tentang salah satu aspek yang paling mempengaruhi masa depan, boleh jadi jawabannya adalah pendidikan. Pendidikan lebih dari sekedar berbagi pengetahuan, ia adalah aksi aktif pembentukan karakter oleh lingkungan dan wadah yang secara perlahan membentuk setiap manusia. Pendidikan adalah proses berkelanjutan,  dari semenjak kita lahir dan tumbuh di lingkungan keluarga, lalu berlanjut di sekolah dan masyarakat. Cara kita berpikir, cara kita bicara, hal-hal yang kita anggap baik dan buruk, cara kita memandang; semua ini terbentuk dari proses mengamati dan meniru yang telah kita lakukan sejak kecil. Belajar juga tentang pembentukan nilai-nilai dalam diri,  dan itu sangat dipengaruhi nilai dan norma masyarakat.

Baca juga : Lydia Angela : Potret Keadilan Antara Manusia Dan Lingkungan

Belajar di sekolah lebih dari sekedar memahami materi eksak yang disajikan. Ia juga berarti memahami proses pembelajaran, membangun kesadaran dan tujuan pembelajaran. Alih-alih secara buta menghafal rumus yang ada, bukankah akan jauh lebih baik memahami alasan pentingnya rumus-rumus tersebut?. Memahami proses munculnya ilmu pengetahuan dan pengaruhnya terhadap kehidupan secara luas? Bukan hanya ‘apa’, tapi ‘mengapa’ dan ‘bagaimana’.

Tidak hanya materi, bersekolah berarti juga belajar sosialisasi dengan manusia-manusia lainnya. Berinteraksi dan bekerjasama, mencoba memahami dan bersimpati kepada manusia-manusia lain dengan keluarga-keluarga lain. Menemukan orang-orang yang mungkin awalnya tidaklah se-familier lingkungan keluarga maupun tetangga yang setiap hari disapa. Orang-orang atau anak-anak lain dari berbagai kalangan. Mencoba mempelajari manusia dan perspektif mereka, memperluas perspektif diri.

Maka, bersekolah adalah belajar memanusiakan manusia. Bagaimana memandang setiap manusia dengan seharusnya, lebih dari sekedar ‘bungkus’ yang ada. Bersekolah seharusnya juga belajar saling memahami. Memahami tujuan dan aspirasi masing-masing, nilai-nilai dan keunggulan setiap individu dan menikmati begitu indahnya perbedaan. Ini berarti mengakomodasi potensi tiap individu dan berhenti menghakimi keahlian di bidang tertentu saja.

Mungkin bukan rahasia bahwa anak-anak Indonesia terbiasa menganggap bahwa mereka yang terpandai adalah mereka yang nilainya paling tinggi dipelajaran sains dan matematika, padahal tidak semua orang di’rancang’ untuk berkiprah di bidang tersebut. Dan dalam kehidupan bermasyarakat pun, kita tidak hanya membutuhkan orang-orang yang pandai di bidang itu-itu saja, bukan? Lantas, darimana pemikiran semacam ini berasal?

Saya selalu berpikir bahwa semua bidang ilmu itu sama kompleks dan serunya untuk dipelajari. Dan hendaknya kita tidak pernah meremehkan bidang ilmu apapun. Bila sesuatu terlihat sederhana dan remeh bagi kita, mungkin itu pertanda bahwa kita belum cukup mengetahui untuk mengulik lebih dalam. Selembar daun yang terlihat tak berarti memiliki struktur sedemikian kompleks, dan mekanisme yang luar biasa dalam memproduksi makanan secara otodidak, yang mungkin belum dapat disaingi pabrik manapun. Pun proses berpikir manusia yang juga tak tergantikan oleh artificial intelligence maupun program apapun. Begitulah, kita hidup di dunia yang setiap jengkalnya menyimpan begitu banyak rahasia.

Dengan sikap saling memahami dan menghargai ini, tentu saja kita dapat memahami betapa pentingnya kerja sama, saling melengkapi antara satu sama lain demi tercapainya sebuah tujuan mulia yang cita-citakan.

Sekolah Sebagai Proses Memanusiakan Manusia

Namun, kenyataannya sangat berbeda. Sekolah dewasa ini bagaikan arena kompetisi untuk mencari siapa yang paling ‘pintar’, mendapat nilai paling tinggi dan menghafal paling banyak. Pendidikan tidak lagi berfokus kepada pembangunan manusia melalui proses belajar yang menyeluruh. Institusi pendidikan  fokus pada perlombaan untuk menjadi yang terbaik. Ada kepuasan tersendiri ketika menjadi lebih baik dari yang lain, dan sebaliknya.  Bagi banyak murid, sekolah dan segala materinya jadi menjadi mimpi buruk, sebuah penderitaan yang harus ditanggung. Mereka bersusah payah memahami materi tanpa memahami alasan mereka mempelajarinya.

Setidaknya ini adalah hal yang saya tangkap selama bersekolah. Kami hanya belajar dan mendapat nilai baik, namun kami bahkan tidak tahu apakah kami akan pernah menggunakan rumus trigonometri di kehidupan pasca sekolah kami. Tentu, banyak di antara kita yang pernah merasakan hal yang  sama.

Baca juga : Driyarkara : Sosialitas Sebagai Tujuan Akhir Dari Pendidikan

Dan begitu bervariasinya pikiran anak-anak dengan jutaan potensi yang berbeda, masih harus terkotak-kotak mengikuti standarisasi yang tidak mengakomodasi mereka. Banyak cerita anak-anak yang tidak dimanusiakan. Diejek bodoh karena tidak bisa matematika, minder karena kesulitan memahami materi. Memang benar, menurut pengamatan saya, para pemerhati dan pemegang kebijakan di dunia pendidikan mungkin telah berusaha mengubah pendidikan di Indonesia, seperti yang terjadi di kurikulum terbaru sekolah dasar saat ini.  Dengan memisahkan mata pelajaran secara konkret, ada sistem ‘Buku Tema’ yang isinya berupa sebuah pembelajaran komprehensif, satu mata pelajaran yang meliputi berbagai bidang termasuk sains, teknologi, sejarah dan kewarganegaraan. Ini adalah gerakan yang cukup revolusioner. Saya berharap akan hasil yang terbaik, dan semoga untuk seterusnya pendidikan Indonesia selalu dikaji ulang dan mendapatkan perhatian utama dalam penyusunan kebijakan dan anggaran negara.

Baca juga : Hominisasi dan Humanisasi : Tawaran Memanusiakan Manusia dalam Pendidikan

Masalah pendidikan besar dan sangat rumit. Pendidikan yang ada dan dikelola negara tentunya tidak cukup untuk mengakomodasi kebutuhan yang ada. Karena itulah, organisasi-organisasi dan forum diskusi independen seperti Nera Academia dan Sekolah Ansos menjadi sangat penting. Kita dapat belajar dari mana saja, dan kapan saja.  Belajar adalah inti dari hidup kita. Bertukar pikiran dan bersosialisasi sangatlah penting dalam membentuk pola pikir dan mengembangkan persepsi. Dan forum-forum informal semacam ini merupakan wadah dimana kita dapat menyuarakan persepsi kita dengan lebih bebas, dan mendapatkan timbal balik atasnya. Dan semakin kaya persepsi kita, semakin pula kita dapat memahami dan memanusiakan setiap manusia. Karena tujuan akhir pendidikan baik di sekolah maupun di luar sekolah adalah menjadikan kita semakin manusiawi.

Oleh : Lydia Angela Gonodiharjo, Mahasiswa Arsitektur  ITS (Institut Teknologi Sepuluh November) Surabaya.  Aktif di ARKOM (Arsitek Komunitas) Jawa Timur. Peserta Sekolah Analisa Sosial (ANSOS) III 2018  yang diadakan oleh Nera Academia di Surabaya. Tulisan ini merupakan bagian dari proses Sekolah Ansos di mana tiap partisipan mengekspresikan keprihatinannya pada isu gender, pendidikan dan lingkungan.

Please share,

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *