HomeREFLEKSIDISKUSIDapatkah kita mengajak Cebong dan Kampret memperjuangkan #2019PemiluDamai ?

Dapatkah kita mengajak Cebong dan Kampret memperjuangkan #2019PemiluDamai ?

DISKUSI FILSAFAT KEBUDAYAAN NARASI 0 0 likes 109 views

Konstentasi Pilpres 2019 mulai terasa memanas pada bulan-bulan ini. Isu-isu mulai dimainkan dan perdebatan mulai berseliweran. Hal tersebut amat terasa dan dapat mudah ditemui di berbagai media sosial.  Mulai dari fanspage, grup, akun pribadi, sudah mulai berseliweran di beranda akun sosial kita. Isi dari status, tautan berita, gambar meme bermuatan kampanye yang menunjukkan keunggulan masing-masing calon. Namun, alih-alih menunjukkan calon yang didukung, muncul pula konten yang menunjukkan keburukan calon lawan yang didukung.

Saya, secara pribadi tidak begitu paham soal politik. Terutama tentang intrik-intrik yang dimainkan oleh para politisi. Namun saya tahu bahwa politik haruslah membawa kepada kebaikan bersama (bonum communae). Namun tujuan politik yang awalnya baik telah terkaburkan oleh pandangan pragmatisme para politisi. Pragmatis di sini adalah bagaimana suatu tindakan yang dilakukan mampu membawa seseorang atau partai politik memperoleh banyak suara dalam pemilu. Tindakan tersebut tak ayal menghalalkan segala cara. Di situlah muncul anggapan bahwa politik itu kotor. Lawan dapat menjadi kawan dan kawan dapat menjadi lawan. Begitulah gambaran politik saat ini.

Baca juga : Colin Bird : Filsafat Politik dan Aktivitas Politik, Pertentangan tajam antara “teori” dan “praktik”

Masyarakat disuguhkan dengan berbagai macam janji untuk menarik dukungan bagi partai politik dan capres cawapres yang didukung. Diantara tampilnya peserta pemilu, baik partai maupun kandidat capres-cawapres dan caleg, terdapat suara masyarakat yang diperebutkan. Berbagai isu yang menguntungkan dilempar dan dimainkan sedemikian rupa. Dari keseluruhan isu yang dimainkan perhatian saya tertarik pada isu agama. Seperti yang telah kita ketahui kedua kandidat capres-cawapres sama-sama memainkan isu agama dalam kontestasi pemilu 2019. Jokowi secara langsung mengusung K.H. Ma’aruf Amin, yang notabene dikenal sebagai Ulama, sebagai cawapresnya. Sedangkan di pihak lain Prabowo memainkan isu agama dengan menggandeng GNPF Ulama untuk menggalang suara mayoritas.

Siapakah yang lebih baik dan mendekati tujuan Politik sebagai bonum communae? Bagi saya sama saja; keduanya sama-sama pragmatis dalam hal ini. Kita sendiri tahu bahwa dalam pemilu gubernur di DKI Jakarta telah memperlihatkan bagaimana salah satu calon memainkan isu agama dan hasilnya telah dapat kita nilai sendiri. Sekarang kedua calon memainkan isu yang sama dan mari kita lihat hasilnya kelak.

Pada pihak masyarakat, yang suaranya menentukan pemenang capres-cawapres, saya membaginya ke dalam tiga macam. Ketiga macam masyarakat itu adalah; apolitis, paham politik, dan sok paham tentang politik. Masyarakat yang apolitis adalah mereka yang sama sekali tidak peduli pada calon yang ada. Mereka beranggapan bahwa entah siapa pun yang menjadi RI 1 maupun wakil rakyat tidak menjadi soal. Karena itu masyarakat apolitis sama sekali tidak terlihat berbicara, update status, memabagikan tautan yang berkaitan dengan pemilu 2019. Mereka memilih untuk berkutat pada kehidupannya; entah itu usahanya, hobinya, kesenangannya dan lain sebagainya, asalkan tak berkaitan langsung dengan politik.

Baca juga : Colin Bird:  Filsafat Politik Sebagai Pra kondisi Penilaian Rasional Kehidupan Politik

Masyarakat yang paham politik adalah mereka yang benar-benar peduli tentang dunia politik. Mereka mengkritisi berbagai manuver partai politik serta para politikus. Mereka tidak ‘memihak’ pada calon tertentu, dan dengan jeli memilih mana yang terbaik diantara yang terburuk (minus malum). Dalam menanggapi fenomena politik selalu berimbang dan tidak berat sebelah. Kebaikan atau prestasi dia apresiasi, keburukan atau kegagalan mereka tanggapi dengan kritis dengan memberikan solusi.

Masyarakat yang sok paham dengan politik adalah mereka yang dengan ‘mati-matian’ membela salah satu calon yang mereka dukung dan mengkultuskannya. Yang ada dalam pikiran mereka adalah bahwa “jagoku unggul; baik; berprestasi, yang lain buruk; gagal; tak layak sebagai pemimpin”. Sayangnya masyarakat yang sok paham politiklah dijadikan ‘pion’ oleh politisi. Mereka dengan mudah dihasyut dan mudah sekali menjadikan mereka fanatik. Mereka menolak segala kebaikan dari kubu lawan dan menanggap kebaikan itu sebagai HOAX. Karena itu kita sekarang (yang aktif dalam media sosial) mendengar istilah ‘cebong’ dan ‘kampret.’

Baca juga : Pendidikan dan kekonyolan di media sosial

Lepas dari semua itu saya berharap pemilu 2019 dapat berjalan jujur, adil dan transparan serta segala ‘peperangan’ di media sosial usai setelah terpilihnya presiden RI. Kita tentunya berharap yang terbaik untuk negeri ini dan sama-sama optimis untuk kebaikan dunia politik kita. Karenanya kita perlu sadar bahwa dan menanamkan dalam hati bahwa siapa pun pemenang dalam pemilu, rakyatlah yang harusnya menang. Kita harus mendukung penuh presiden dan wakil rakyat yang terpilih dan berani untuk mengkritik secara proposional jika presiden dan wakil kita ada kesalahan.

Mari kita ciptakan #2019PemiluDamai untuk mengawal pemilu 2019.

Oleh :  Andreas Ardhatama W.  Penulis lepas, tinggal di Kediri. Email : andreas.gnr@gmail.com 

Please share,

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *