HomeREFLEKSIDISKUSIMasihkah Agama Relevan?

Masihkah Agama Relevan?

DISKUSI LINGKUNGAN REFLEKSI 0 0 likes 678 views

Demi Agama
Di Indonesia, kita sering mendengar kelompok-kelompok fanatik dan pembela agama tertentu. Kasus politik SARA, pembakaran masjid, penutupan gereja, kekerasan pada kaum LGBT, persekusi liar, sweeping dengan kekerasan, demo anarkis, dsb adalah segelintir kisah yang membawa nama Tuhan sebagai semangatnya. Alih-alih, agama dibela mentah-mentah, bahkan rela mati.

 

Paling konkret, sejumlah massa menutup paksa sebuah salon kecantikan di Aceh karena ditengarai sebagai tempat kumpulan banci dan komunitas LGBT. Bahkan, beberapa laki-laki dihakimi di tempat dengan memaksa mencukur rambut yang panjang bak wanita. Beberapa dipukul dengan benda tajam. Selain massa dan aparat berwajib, hadir pula provokator, yakni ormas pembela agama yang memperjuangkan hukum syariat.

Dalam survei yang dilakukan Wahid Foundation, sebesar 85% masyarakat merasa benci dengan kelompok tertentu. Peringkat pertama kelompok yang paling dibenci adalah komunisme, disusul LGBT, Kristianitas dan etnis Tionghoa. Ironisnya, alasan membenci itu berasal dari penafsiran ajaran agama tertentu. Lagi-lagi, demi menjalankan perintah agama, apapun “boleh” dilakukan.

BACA JUGA :   Ngobrol Pancasila Masih Ada di Warung Mbah Cokro

Agama seakan menjadi segala-galanya. Bahwasannya, Tuhan metafisis yang diperjuangkan dalam agama jauh lebih tinggi kedudukannya daripada manusia “yang beragama”. Seakan, Tuhan membutuhkan pemujaan dan pembelaan dari manusia. Jangan heran, manusia akan tega melawan manusia yang lain apabila “Tuhan” mereka diusik.

Untuk Apa Beragama?
Boleh dikata, segala yang suci yang didengar di mimbar khotbah tak sampai ke dunia nyata. Seorang filsuf pragmatisme, C.S Peirce mengatakan bahwa setiap pengetahuan dalam harusnya menuntun sikap manusia. Tapi, seolah agama gagal menuntun sikap manusia. Ironisnya, muara dari ajaran yang baik justru menjadi keburukan. Alih-alih, demi surga abadi, manusia seolah berkacamata kuda dengan mengabaikan sesamanya di dunia.

Perintah-perintah untuk mengasihi sesama hanya menjadi formalitas. Aksi sweeping dengan membawa senjata tajam diarahkan untuk menghakimi mereka yang dianggap berdosa. Pengeboman dan perusakan rumah ibadah menjadi jalan demi memperjuangkan agama tertentu. Aksi SARA harus dilakukan demi mencari pemimpin yang seiman. Spanduk-spanduk besar bertuliskan “Demi membela agama, LGBT harus diusir” dibawa ke mana-mana.

Itukah yang Tuhan kehendaki? Lantas, masihkan agama relevan?

Meskipun Peirce tidak secara eksplisit mengatakan tentang agama, tapi analisis pragmatisme mampu menelanjangi agama secara kritis. Untuk apa beragama, bila sikap dan tindakan kita hanya melukai sesama? Untuk apa beragama, bila kita “dilegalkan” membenci sesama? Untuk apa beragama, bila perangai kita malah menjadi anarkis dan fanatik?

BACA JUGA :   Pemuda Katolik Surabaya membersihkan Masjid Da’watul Ihsan Gunungsari Surabaya

Tak heran, pragmatisme menolak segala yang normatif. Pasalnya, yang nomatif seringkali tak berguna, malahan menjadi sok moralis. Bukankah esensi dari keyakinan adalah tindakan? Bukankah muara dari pengetahuan yang baik adalah tindakan yang baik? Jika ajaran manis dalam agama hanya ribet dalam tataran metafisis dan terus memarginalkan dunia fisis, maka agama tak lagi relevan.

Faktanya, agama-agama di Indonesia terlalu sibuk membangun rumah ibadah yang megah dengan menara yang menjulang tinggi ke langit. Agama juga sibuk ikut campur dalam dunia politik, ekonomi dan pendidikan. Pertanyaannya bukan lagi “What is?” tapi “What for?”. Barangkali, ini semua untuk membanggakan Tuhan mereka masing-masing. Sementara itu, agama tak mampu mengentaskan kemiskinan di sekitar rumah ibadah. Agama pun sukar mengubah perilaku buruk seseorang (karena agama teralu sibuk menghakimi). Jika agama sudah tidak manusiawi lagi, untuk apa kita beragama?.

BACA JUGA :   Membongkar Keterkungkungan Penafsiran Agama dalam Pancasila

Oleh : Krisna Setiawan. Email : krisna.ito@gmail.com

Daftar Pustaka
BERTENS, K, Filsafat Barat Abad XX Jilid II Prancis, Kanisius, Yogyakarta, 1985.
FREIRE, PAULO, Pedagogi Hati, Kanisius, Yogyakarta, 2001.
MARZUKI, PETER MAHMUD, An Introduction to Indonesian Law, Setara Press, Malang, 2012.
PARAQBUEQ, RUSMAN, “Kejarlah Daku Kau Kugugat” dalam TEMPO pada 19 November 2017.

Please share,