HomeREFLEKSIBUKUColin Bird : Filsafat Politik dan Aktivitas Politik, Pertentangan tajam antara “teori” dan “praktik”

Colin Bird : Filsafat Politik dan Aktivitas Politik, Pertentangan tajam antara “teori” dan “praktik”

BUKU FILSAFAT KEBUDAYAAN STUDI 0 1 likes 158 views

Kita telah melihat bagaimana, dalam diskusi yang menyelidiki kemungkinan pembenaran-pembenaran yang mungkin ditawarkan untuk cara-cara yang berbeda dari organisasi-organisasi politik, kita dituntun untuk merefleksikan sifat-sifat dasar dari konsep-konsep politik seperti keadilan, kebebasan, otoritas, negara, dst.

 

Namun, sebagian orang menjadi kurang sabar dengan hasil yang berfokus pada konsep-konsep dan ide-ide, dan mengeluhkan bahwa hal tersebut menjadikan filsafat politik terlalu “teoritik” sebagai kebalikan dari usaha-usaha “praktik”. Kritik-kritik tersebut menuduh bahwa filsafat politik adalah suatu pengalihan akademik dari pertarungan aktif politik, dari pergi ke luar dan “membuat suatu perbedaan”. Dari pada menghabiskan waktu kita dengan filsafat, kita harus pergi ke luar dan bergabung dengan Partai Buruh (Labour Party), menjadi Kaum Muda Republik (Young Republican), atau mencatatkan diri pada Kesatuan Perdamaian (Peace Corps).

Jelas sekali, terhenti dalam abstraksi filsafati bukanlah jalan mengubah dunia, dan saya juga tidak ingin menegaskan bahwa berfilsafat adalah persis seperti bekerja untuk Oxfam atau merumuskan kebijakan publik. Bahkan, hal ini tidak akan membuatnya membantu memahami hubungan antara filsafat politik dan aktivitas politik dalam hubungan pertentangan yang tajam antara “teori” dan “praktik”. Kiranya mereka yang ingin “membuat perbedaan” dan menjadi aktif secara politik tidak ingin membuat pembenaran setiap jenis perbedaan. Mereka ingin jenis perbedaan yang tepat. Partai Nazi membuat perbedaan besar, tapi kita tidak memiliki cukup kesabaran untuk seseorang yang mengatakan: “siapa peduli dengan keadilan, persamaan, dan semuanya itu? Hal-hal itu hanyalah teori belaka. Persoalannya adalah praktik. Jadi saya tidak akan memberikan suara saya  untuk Reich Ketiga (Third Reich = Nazi – pent.) – setidaknya dengan cara tersebut saya akan membuat perbedaan.”

BACA JUGA :   Arthur Coleman Danto : Semua Bisa Jadi Seni

Dengan kata lain, kita harus berpikir secara cerdas tentang kapan mencoba untuk membuat suatu perbedaan, tentang politik yang mana yang menjadi investasi-investasi kebaikan bagi waktu dan energi kita. Hal ini jelas-jelas membutuhkan suatu refleksi atas maksud-maksud dan tujuan-tujuan yang sebenarnya dari aktivitas politik. Hampir semuanya, ketika masyarakat ditanya mengapa mereka terlibat secara politik, akan menyebutkan keyakinan-keyakinan terkait keadilan, kebaikan umum, kebebasan, dan persamaan, diantara yang lain, sebagai pembenaran.

Sebagaimana telah kita lihat, keyakinan-keyakinan ini, dan persoalan terkait dengan hal-hal yang menguatkannya, membentuk bagian besar permasalahan pokok filsafat politik. Namun jarang dapat kita pisahkan keyakinan-keyakinan pada maksud-maksud tindakan politik dari tindakan-tindakan kita sendiri; biasanya kedua hal ini terkait tanpa terlihat. Sebagai contoh, tidak ada suara saya dalam pemilihan umum yang “aktivitas murni”, dapat dipisahkan secara rapi dari keyakinan-keyakian saya terkait dengan mengapa kandidat tertentu pantas mendapatkan dukungan saya, atau terkait dengan mengapa saya harus bersusah payah menjadi yang pertama memberikan suara. Suara dan keyakinan-keyakinan saya tentangnya adalah satu bagian.

Hal ini memiliki konsekuensi penting. Jika keyakinan-keyakinan yang mendasari kita bertindak di dalam politik tidak masuk akal, tindakan-tindakan kita mungkin juga tidak masuk akal. Pada prinsipnya, kemudian, refleksi filsafati pada keyakinan-keyakinan ini memiliki kekuatan untuk menyingkapkan tindakan-tindakan politik tertentu kita sebagai membingungkan, untuk menjelaskan bahwa kita wajib berperilaku sebaliknya dari yang saat ini kita lakukan. Pembedaan-pembedaan yang rapi dan teratur antara “teori” dan “praktik” mengaburkan titik ini. Perbedaan yang penting bukan antara suatu kenyataan dari ideal-ideal moral (“teori”) dan suatu dunia yang tidak berhubungan dari tindakan politik (“praktik”). Lebih tepatnya, hal tersebut antara aktivitas politik yang dipupuk (informed) dengan keyakinan-keyakinan politik yang relatif canggih dan dapat dipertahankan terkait dengan tujuan-tujuannya, dan aktivitas politik yang dituntun oleh keyakinan-keyakinan yang tidak dapat dipertahankan, membingungkan, atau konyol.

BACA JUGA :   Rezim Sensor : Logika apa yang digunakan Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) ?

Ini tidak hanya dimaksudkan untuk mereka yang secara sadar memutuskan untuk menjadi aktif secara politik dalam banyak cara. Menyadur ucapan yang terkenal dari Leon Trotsky: “Anda mungkin tidak tertarik pada politik, namun politik tertarik pada anda.” Maksudnya di sini adalah bahwa, terlepas dari kita memutuskan untuk menjadi aktif secara politik, kita meskipun demikian menemukan diri kita terpaksa masuk ke dalam suatu tindakan politik yang disepakati bersama dalam satu dan beragam cara. Inilah kenapa demikian banyak keterlibatan politik kita dinyatakan dalam ungkapan pasif. Dalam politik, kita senantiasa diharapkan, dibutuhkan, ditertibkan, diberikan hak (dst.) untuk …, dimanipulasikan, dipaksa, dicalonkan, digertak, diwajibkan (dst.) masuk …,  dan diorganisasikan, diatur, dikendalikan (dst.) sehingga … Sangat sedikit dari hal ini secara dengan rasa sukarela; banyak dari hal tersebut berlangsung tanpa kita bahkan diberi pemberitahuan, layaknya pajak penjualan.

Pertimbangkanlah, sebagai contoh, hubungan kita terhadap negara modern. Perwakilan politik yang ada di mana-mana dan sangat kuat membuat tuntutan-tuntutan yang berarti kepada kita. Dalam rangka untuk mereproduksi dirinya sendiri, untuk mengangkat maksud-maksudnya, untuk menampilkan fungsi-fungsinya, untuk bertarung dalam perangnya, warga negara direkrut, biasanya secara tidak sukarela, dalam tindakan yang terorganisir. Dalam pemahaman ini, negara membuat kita semua aktif secara politik terlepas dari diri kita sendiri – hal tersebut mengubah kita menjadi agen-agen dari proyek-proyeknya. Sebagian besar berlangsung tanpa sosialisasi dan kebiasaan, diyakinkan dari usia dini untuk percaya (mungkin) bahwa negara menjunjung keadilan dan kebaikan kita bersama, bahwa kita memiliki kewajiban-kewajiban yang harus dipenuhi di dalamnya, bahwa negara mewakili kita dan kepentingan-kepentingan kita, bahwa negara adalah perwakilan pengaturan-diri kolektif (collective self-government) kita, dsb.

BACA JUGA :   Vahoaxtine : Valentine dan Hoax

Keyakinan-keyakinan dan kebiasaan-kebiasaan pemikiran yang dikenal ini isinya untuk membenarkan negara dan bentuk-bentuk dari tindakan politik selama dirinya memimpin. Namun sebagaimana sebelumnya, ketika filsuf-filsuf politik menanyakan apakah keyakinan-keyakinan politik tersebut masuk akal, mereka juga bertanya apakah bentuk-bentuk organisasi dan tindakan politik masuk akal dalam dirinya sendiri. Sejauh praktik-praktik dan keyakinan-keyakinan ini membentuk sebagian syarat-syarat yang dapat kita pahami dan mengatur hidup kita sendiri, persoalan apakah hal tersebut masuk akal kiranya bukanlah murni abstrak atau “teoritis”.

Colin Bird adalah Guru Besar Luar Biasa pada Woodrow Wilson Department of Politics, Universitas Virginia dan penulis The Myth of Liberal Individualism (1999). Seri tulisan Fisafat Politik  Colin Bird  ini merupakan terjemahan bebas  dari bukunya  An Introduction to Political Philosophy(2006).

Please share,