HomeNARASILINGKUNGANMembaca Ulang Revolusi Hijau

Membaca Ulang Revolusi Hijau

0 184 views share

Pada akhir bulan Desember 2019 saya berada di kota yang terletak di benua sebelah utara khatulistiwa. Kota ini mengalami empat musim. Di kota ini, bulan Desember merupakan masa-masa awal musim dingin, berkebalikan dengan wilayah di sebelah selatan khatulistiwa yang sedang musim panas. Ini kali pertama saya merasakan musim dingin dan salju.


Sembari menunggu salju turun, saya berjalan-jalan di sekitaran kampus, dan mampir di sebuah toko yang menjual buku-buku lawas. Saya tidak membeli buku, tetapi majalah lawas. Majalah terbitan bulan Februari bertahun 1971. Nama majalah itu National Geographic, dengan nomor Vol. 137, No. 2.


Sampul majalah itu bergambar burung Majestic Flamingos dari Afrika Timur yang tampak anggun memberi makan anaknya. Tetapi tidak hanya itu yang membuat saya tertarik untuk membelinya, melainkan salah satu dari beberapa judul artikel yang terpampang bersama burung itu, yaitu “The Revolution in American Agriculture” yang ditulis oleh salah satu Staf Editorial Senior, Jules B. Billard.

Artikel tersebut memaparkan informasi yang bagi saya cukup lengkap terkait dengan motivasi, pelaksanaan, dan dampak dari terjadinya revolusi pertanian di Amerika pada masa-masa awalnya. Untuk mengurangi salah paham, judul artikel tersebut tidak perlu dibayangkan sebagai revolusi petani sebagaimana di dalam tulisan Sartono Kartodirdjo atau Onghokham, melainkan lebih serupa dengan yang dikenal sebagai Revolusi Hijau. Untuk gambaran umum revolusi hijau, silakan klik di sini.


Motivasi, Pelaksanaan, dan Dampak

Pertumbuhan jumlah penduduk seharusnya diikuti dengan kenaikan jumlah produksi makanan yang dapat dikonsumsi. Namun demikian, dalam kenyataannya rumusan tersebut tidak selalu dapat terpenuhi, terutama terkait dengan peningkatan jumlah produksi makanan, khususnya pada tahun-tahun artikel ditulis.

Pada tahun itu (tahun 1971), jumlah penduduk di dunia mencapai 3,6 milyar dan diperkirakan menjadi dua kali lipat jumlahnya pada 35 tahun ke depan (hal. 153). Perkiraan itu mendekati kenyataan (pada tahun 2005 penduduk dunia berjumlah sekitar 6,5 milyar), dan saat ini jumlah penduduk telah melebihi prediksi yang telah dilontarkan lebih dari 35 tahun yang lalu itu, yaitu berjumlah mendekati 7,8 milyar (sumber: https://www.worldometers.info/world-population/#table-historical). Fakta inilah yang memotivasi diperlukannya revolusi di bidang pertanian: ledakan jumlah penduduk. Billard menggambarkannya dengan kata-kata: “the race between man’s fertility and that of the soil.” (hal. 154)

BACA JUGA :   Kritis itu Haram, Tugas Mahasiswa Itu Lulus Secepatnya


Jumlah penduduk yang sedemikian besar disertai oleh pertumbuhan yang pesat berpotensi menghasilkan ketimpangan apabila tidak diikuti dengan peningkatan jumlah makanan yang dapat diproduksi. Sebagai gambaran, agaknya pernyataan Clifford M. Hardin (Secretary of Agriculture Amerika Serikat ketika itu) dapat lebih menjelaskan perbandingan itu, yakni satu orang petani dapat memberi makan dirinya sendiri dan tiga orang lain (1 banding 4) sebelum Perang Sipil (1861-1865), satu orang petani memberi makan dirinya sendiri dan 11 orang lain (1 banding 12) pada masa Perang Dunia II, dan satu orang petani memberi makan dirinya sendiri dan 42 orang lain (1 banding 43) pada saat itu (tahun 1971) (hal. 147-151).

Dalam pelaksanaannya revolusi pertanian Amerika ini dapat dikatakan sebagai proyek ambisius, yang tidak hanya menjawab tantangan pemenuhan kebutuhan pangan dunia, tetapi juga sebagai usaha menempatkan negara itu sebagai proyek percontohan bagi negara-negara lain di dunia (hal. 154). Mexico dan Filipina termasuk sebagai tempat proyek ini dilaksanakan (Mexico untuk gandum, dan Filipina untuk beras, mungkin kita (?) masih ingat dengan beras IR -8 yang cukup terkenal pada masa Orde Baru) dengan biaya dari Ford Foundation dan Rockefeller.

Tidak hanya penelitian dan produksi alat-alat dan teknologi pertanian yang dibutuhkan untuk keberhasilan proyek ini, tetapi juga, dan ini merupakan faktor dan aktor utama, perubahan cara pandang dan cara produksi manusia itu sendiri, si petani. Artikel tersebut memberi gambaran kompleksnya perubahan yang mengikuti revolusi pertanian di Amerika, bahkan di negara-negara lain terutama terkait berkembangnya berbagai macam alat pertanian yang lebih efektif dan efisien, dan juga penelitian-penelitian terkait dengan rekayasa genetik.

BACA JUGA :   Communi(cati)on: Sebuah Momen Penyingkapan Eksklusifitas Pluralisme

Saya akan mengutip kata-kata yang cukup menantang, yang saya pikir cukup mewakili pandangan peneliti kala itu terkait dengan tujuan penelitian di bidang rekayasa genetik dan cara produksi di pertanian yang diungkapkan oleh Coby Lorenzen (Profesor di Department of Agricultural Engineering University of California kala itu):

We knew we couldn’t develop a machine to handle the conventional tomato plants; we’d have to develop a plant to fit a machine. … which all tomatoes would ripen at the same time, … on a ‘once-through’ operation.” (hal. 156)

Singkatnya, semuanya bermuara untuk efektivitas dan efisiensi produksi hasil-hasil pertanian.

Sebagaimana perubahan cara produksi pertanian, petani juga dituntut berubah dalam hal pengelolaannya. Petani tidak hanya harus tahu tentang menanam dan menuai, tetapi juga betul-betul memperhitungkan perekonomian dan ketahanan finansial, ketenagakerjaan, dan juga melek dan sadar hukum.

Perubahan lain yang mengikuti adalah bermunculannya orang-orang kota (yang bahkan belum pernah mengemudikan traktor) yang ahli dalam pertanian (hal ini difasilitasi dengan dibukanya fakultas-fakultas yang terkait dengan pertanian di perguruan-perguruan tinggi, dan biasanya berada di kota) seiring dengan, sayangnya, menghilangnya orang-orang yang sebelumnya berprofesi sebagai petani. Hal tersebut tidak hanya disebabkan oleh bertambahnya usia para petani, tetapi juga semakin terbukanya persaingan di bidang pertanian yang semakin mengarah ke model produksi industri. Petani-petani yang tidak efektif dan efisien dalam cara produksinya terpaksa gulung tikar.

Kembali ke Indonesia dan Salju

Data-data dalam artikel tersebut tentu tidak sepenuhnya dapat digunakan saat ini, tetapi setidaknya, bagi saya, dapat untuk merefleksikan kembali yang telah dilaksanakan sampai dengan saat ini. Dalam artikel tersebut belum sepenuhnya disinggung kesadaran terkait dampak penggunaan teknologi dan rekayasa genetik terhadap lingkungan (ekologi dan ekosistem, karena mungkin belum jamak pada masa itu), demikian juga terkait dengan perbandingan petani (apakah termasuk buruh tani atau pemilik lahan pertanian, mengingat pada abad ke sembilan belas perbudakan masih merupakan hal yang jamak) dengan orang yang diberi makan. Namun demikian, peran teknologi dan perkembangannya sangatlah  membantu manusia untuk memproduksi bahan pemenuhan kebutuhann pokok secara lebih efektif dan efisien.

BACA JUGA :   Film The Foreigner : Teroris Bisa Siapa Saja, Kadang Tak Disangka

Amerika Serikat terletak di utara khatulistiwa. Negeri itu mengalami empat musim, dan kegiatan pertanian atau pun peternakan, membutuhkan teknologi yang dapat menaklukkan musim itu agar kegiatan pertanian atau pun peternakan dapat terus berjalan karena konsumsi terhadap bahan pangan juga tidak mungkin dihentikan. Meskipun bahan makanan dapat disimpan dan diawetkan untuk kemudian digunakan ketika musim dingin atau musim yang lain, kebutuhan terhadap bahan-bahan segar produk pertanian atau pun peternakan agaknya tetap lebih tinggi ketimbang bahan makanan yang telah diawetkan, terutama terkait dengan bahan makanan pokok, misalnya gandum atau beras.  

Indonesia tidak mengenal musim dingin ataupun musim panas. Di Indonesia, hampir dipastikan tidak dibutuhkan teknologi pemanas untuk menjaga tanah-tanah pertanian tetap hangat dan berproduksi, dan teknologi-teknologi pertanian dan peternakan mengembangkan atau memenuhi tantangan yang lain yang lebih sesuai dengan keadaan di Indonesia. Namun demikian, Indonesia juga pernah melaksanakan revolusi hijau pada masa Orde Baru. Dan pada tahun-tahun akhir Orde Baru berkuasa, grup band Slank terus menyanyikan dengan lantang lagu berjudul “Pak Tani” di album Minoritas tahun 1996.

Kembali kepada salju, hingga akhir musim dingin di bulan Maret atau April 2020, salju turun sebanyak dua kali dengan suhu terdingin di musim dingin sekitar minus sepuluh di kota itu –sekitar dua puluh tahun yang lalu, suhu terendah di kota itu dapat mencapai minus dua puluhan hingga tiga puluhan–, sedangkan pada waktu yang hampir bersamaan di wilayah di sebelah selatan khatulistiwa dilanda kebakaran hutan dan juga hujan es di waktu yang hampir bersamaan ketika virus “baru” telah mulai menyebar di berbagai negara hingga saat ini.

Please share,