HomeThomas Satriya

Thomas Satriya

PUISISASTRA

Suatu Pagi di Musim Semi

Pagi hari di musim semi aku menyusur jalan-jalan sepi Di perempatan aku belok kiri Menatap tembok-tembok bertuliskan satu imaji “Realitas yang mengimitasi seni” Oh, Tuhan semesta alam Aku bayangkan segala pekerjaanMu Percaya Kau berbuat semua itu aku menangis tersedu-sedu melihat kejahatan melenggang atas nama Mu Di atas bulir-bulir padi dan gandum Di atas tanah-tanah yang […]

0 0

PUISISASTRA

Sebelum Pagi

Burung hantu berkawan sunyiBerburu bintang di pekat bulu mata Sang MalamMenjelajah ruang-ruang gelapDi balik pendar sayap cahaya Rembulan patah dikoyak derap tapal sepatu kudatuli dirobek desing logam membisingburung-burung jatuh matihantu-hantunya melayang tak takut lagi O, terang Minerva!Menjelmalah kuku menembus lorong gelapMata Sang Malam dililit sepiMeledak senyap bintang-bintang mati Jiwa Minerva tetap bernyala! ditikam padam terbit […]

0 0

KEBUDAYAANNARASISASTRA

Mencuci Piring di Hari yang Panjang

Saya seringkali keliru menangkap maksud dari suatu pertanyaan atau pernyataan, sama seringnya dengan kelirunya jawaban atau tanggapan yang saya berikan untuk hal itu. Beberapa hari yang lalu, ketika berkunjung ke rumah seorang kawan, saya mengalami hal itu. Kawan saya mengundang beberapa kawan untuk acara syukuran sederhana di rumah kontrakannya yang baru. Beberapa kawan saya kenal, […]

0 0

LINGKUNGANNARASITEKNOLOGI

Membaca Ulang Revolusi Hijau

Pada akhir bulan Desember 2019 saya berada di kota yang terletak di benua sebelah utara khatulistiwa. Kota ini mengalami empat musim. Di kota ini, bulan Desember merupakan masa-masa awal musim dingin, berkebalikan dengan wilayah di sebelah selatan khatulistiwa yang sedang musim panas. Ini kali pertama saya merasakan musim dingin dan salju. Sembari menunggu salju turun, […]

0 0

CERITA PENDEKSASTRA

Pemilik Sepeda Tua

Siang ini terik matahari di langit Desa Mrandu kian membuat angin menderu dengan sengit. Batang-batang padi yang mengepung desa terus dipaksa merunduk dan tertunduk oleh sapuannya, walau tanpa bulir di ujung tangkainya. Debu-debu desa yang terbang terpilin tampak mengekor roda-belakang sepeda tua yang bersandar di salah satu tiang gapura. Dari dalam sepetak rumah, sepasang mata […]

0 1

CERITA PENDEKSASTRA

Narno

Narno bukan orang sembarangan. Dia legenda desa ini. Itu kudengar dari Kang Aris, pemilik warung teh dan gorengan di sini, tempat orang-orang desa bertukar cerita. Aku memutuskan mencari Narno di sana, dua malam lalu. “Kalau kau beruntung, Kang,” katanya, “Narno yang akan mendatangimu.” “Ini bukan tentang keberuntungan,” kataku. “Aku yang akan mencarinya, Kang.” Sebelumnya tak […]

0 0