HomeREFLEKSIDISKUSIMenanggapi Meliorisme William James : Kemungkinan Buruk Kehendak Bebas   
Andre Yuris

Menanggapi Meliorisme William James : Kemungkinan Buruk Kehendak Bebas   

DISKUSI FILSAFAT LINGKUNGAN NARASI REFLEKSI 0 0 likes 75 views

Pengantar

William James merupakan tokoh pragmatisme Amerika yang terbesar. Bersama Pierce dan Dewey, James menempati salah satu tempat ‘istimewa’ sebagai pendiri pragmatisme Amerika. Pragamatisme diawali oleh Pierce sebagai sebuah metode untuk menjernihkan pikiran. Pragmatisme William merupakan penerusan dari teori Pierce, tetapi baginya pragmatisme bukan sekedar metode tapi juga berkaitan tentang teori tentang kebenaran. Kebenaran bagi James adalah sintesis antara hakiat tindakan dan realitas. Baginya ide yang benar adalah yang berguna dan memberikan kepuasan. Kebenaran yang dimaksud dalam teorinya adalah kebenaran yang dapat diverifikasi dalam pengalaman pribadi dan orang lain.

Penempatan pragmatisme dalam benua Amerika memberikan dampak yang signifikan dalam pola perilaku hidup Amerika. Pragmatisme telah merasuk dalam kehidupan keseharian dan menjadi kekhasan tersendiri bagi rakyat Amerika. Dari Amerika, pragmatisme juga melebarkan ‘sayap’ pengaruhnya ke berbagai negara di belahan dunia. Ide tentang kebergunaan suatu kebenaran menjadi sangat populer dan dihidupi oleh sebagian besar orang zaman ini.

Baca juga : Kegilaan Hidup dalam Veronika Decide to Die

Meliorisme William James

Salah satu ciri dalam pragmatisme William James adalah pandangan yang melioristik. Kata melioristik diartikan sebagai keterarahan pada pembaharuan yang membawa kemajuan dan perbaikan. Pandangan melioristik berasal dari pandangan pluralisme dalam memandang dunia. Sebelumnya dia mencoba untuk melihat konsekuensi praktis yang timbul dari pandangan atas dunia. Tradisi filsafat mengenal dua pandangan mendasar tentang dunia, yaitu monisme dan pluralisme.

Perdebatan antara pandangan monisme dan plurisme dimulai sejak era filsafat Yunani Kuno. Pertentangan pertama dimulai dari Parmenides dan Demokritos. Parmenides membela konsep monisme, dengan argumen bahwa yang plural adalah khayalan. Baginya ‘yang mengada’ itu satu dan tak terbagi. Sedangkan Demokritos meyakini bahwa dunia ini dibentuk oleh atom atau unsur-unsur kecil yang tak terbagi.

Dari paham monisme, James mencoba untuk menguraikan konsekuensi praktisnya. Baginya kaum monisme terbentur dengan realitas yang saling berkaitan. Bagi William James kaum monisme memang rasional, dengan menyatakan dunia yang satu dan utuh. Akan tetapi rasionalitas itu menjadi omong kosong, karena monisme merancang kerangka teoritisnya dengan mereduksi pengalaman manusia seluruhnya.

Monisme menciptakan pandangan dunia yang utuh dan determinis. Pandangan ini memiliki beberapa kelemahan, menurut William James. Pertama, tidak memperhitungkan realitas akan pikiran yang berhingga dan pengetahuannya terbatas. Kedua, masalah kejahatan. Ketiga, dunia yang telah selesai, menurut pandangan kaum monistis, berebeda dengan realitas dunia yang ditangkap oleh manusia. Monisme banyak mereduksi pengalaman manusia.

Pandangan pluralisme menerima pengalaman perseptual tentang dunia sebagai hal yang real. Pengalaman perseptual memberi kepuasan atas kebutuhan-kebutuhan mendasar manusia; mempertahankan hidup. Pluralisme menghargai kebebasan manusia sebagai dasar bagi perubahan dunia. Pandangan mengenai dunia kaum pluralis lebih pada ketidak-tuntasan. Dunia masih terbuka dengan hal-hal baru dan karena itu dunia masih dalam proses menjadi dan belum mencapai kesempurnaan. Peran kebebasan manusia dibutuhkan dalam proses menjadikan dunia ini sempurana dan menjadi lebih baik lagi.

Dari dua pandangan tentang dunia itu William James berpihak pada pandangan dunia yang pluralis. Hal ini tidak jauh dari teorinya tentang kebenaran. Bagi James pluralisme lebih dekat dengan pragmatisme, karena mengakui adanya pengalaman yang jamak. Pluralisme lebih banyak berbicara dalam kehidupan praktis dan lebih berguna. Monisme memang rasional, di satu sisi, akan tetapi tidak bicara dalam kehidupan praktis. Kebebasan yang diakui dalam pluralisme mengarah kepada pembaharuan yang membawa kemajuan dan perbaikan. Pandangan tersebut dikenal dengan istilah meliorisme.

Related image

Tanggapan Atas Meliorisme William James

Pandangan atas meliorisme mengimplikasikan tindakan bebas manusia dalam menentukan dunia. Kehendak bebas manusia terbuka pada segala kemungkinan. Kejahatan, kegagalan, kemiskinan, perang permusuhan dan hal-hal buruk lainya menjadi beberapa kemungkinan atas kebebasan manusia. Di samping kemungkinan buruk itu, ada kemungkinan lain, ada kemungkinan untuk perdamaian, kesejahteraan, keberhasilan, kemenangan dan lain-lain. Namun apa pun itu semua yang terjadi di dunia ini, secara fisik dan historis, benar-benar akibat dari kebebasan manusia.

Keoptimisan akan kebebasan manusia untuk dunia yang lebih baik belum menemui realisasinya hingga saat ini. Hal yang terjadi saat ini pemahaman akan kebebasan mengalami kekeliruan. Kebebasan yang dihidupi dalam orang-orang zaman ini belum sepenuhnya menyertakan tanggung jawab yang semestinya beriringan dengan kebebasan manusia. Deklarasi HAM yang terjadi di Amerika justru membawa pola perilaku negatif dalam warganya.

James tidak sepenuhnya tuntas untuk mengakhiri perdebatan antara monisme dan pluralisme. Menyandarakan diri pada pengalaman perseptual dalam memilih dua tegangan (pluralisme dan monisme) itu sudah pasti akan jatuh dalam satu paham saja. Akibatnya ada kekayaan yang hilang jika menyandarkan satu paham dalam memandang realitas. Kehilangan tersebut membawa seseorang bersikap secara ekstrem dalam mengahadpi realitas. Kebebasan sebagai dasar tindakan harus memiliki atau dijaga oleh ‘kebenaran’ yang hilang itu.

Manusia memiliki kemampuan lain, selain kemampuannya dalam mengenali realitas empiris dan perilaku praktis. Kehidupan real memang mengharuskan manusia memiliki kemampuan praktis tertentu, dalam hal ini pragmatisme memiliki peran yang signifikan. Akan tetapi manusia adalah makhluk multi dimensi. Kemampuan manusia bukan hanya melulu dalam hal praktis saja. Dalam monisme memang banyak mereduksi pengalaman manusia, namun tidak serta merta dapat di tinggalkan begitu saja.

Mempertahankan monisme dalam paham meliorisme, menurut penulis, akan dapat meminalisir dampak buruk dari pandangan meliorisme yang menyandarkan diri atas kehendak bebas manusia. Paham monisme menjadi suatu ‘penjaga’ moral atas tindakan manusia. Nilai-nilai universal yang dimunculkan dari paham monisme akan sangat membantu dalam mengarahkan kehendak bebas manusia dalam kemungkinan-kemungkinan real yang baik dan menjadikan dunia baru dan maju

Baca juga : Rembuk Perjumpaan Tionghoa Indonesia di Kaki Gunung Penanggungan

Kesimpulan

 Kebebasan manusia dalam menentukan dunia merupakan argumen yang penulis setujui. Namun memutlakan hal itu merupakan kekeliruan yang fatal; karena keterbukaan akan kemungkinan yang buruk. Dunia tetap memiliki determinasinya sendiri yang tidak mampu dilampaui atau ditentukan oleh kehendak bebas manusia. Paham akan monisme memampukan rasio manusia untuk menangkap hal itu, dan menjadikannya sebagai nilai universal, sebagai antisipasi atas kemungkinan buruk yang ditimbulkan oleh kehendak bebas.    

Oleh :  Andreas Ardhatama W.  Penulis lepas, tinggal di Kediri. Email : andreas.gnr@gmail.com 

 Refrensi

SONY KERAF, Pragmatisme Menurut William James, Kanisisus, Yogyakarta, 1987, 60-72.

Please share,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *