HomeREFLEKSIDISKUSIKhoirur Roziqin : Mendidik Manusia Indonesia Jadi Generasi Pancasilais

Khoirur Roziqin : Mendidik Manusia Indonesia Jadi Generasi Pancasilais

DISKUSI FILSAFAT KEBUDAYAAN NARASI 0 2 likes 155 views

Didik atau mendidik dalam KBBI didefinisikan sebagai memelihara dan memberi latihan (ajaran, tuntunan, pimpinan) mengenai akhlak dan kecerdasan pikiran. Sedangkan pendidikan dalam KBBI didefinisikan sebagai proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan.

Dalam kajian bahasa Arab ada perbedaan antara kata mengajar عَلَّمَ يُعَلِّمُ تَعْلِيْمًا dan mendidik رَبَّتَ يُرَبِّتُ تَرْبِيْتًا تَرْبِيَةً dua kata tersebut berbeda dalam konteks implementasinya. Tarbiyah diartikan mendidik tidak hanya kognitifnya saja tetapi juga kepada aspek perilakunya. Sedangkan Ta’lim diartikan mengajarkan, yang berarti condong kepada aspek intelektual akademisnya saja. Kesimpulan sederhananya adalah Tarbiyah cakupannya lebih spesifik daripada Ta’lim.

Baca juga : Apa sebenarnya akar kekerasan kalangan terpelajar?

Kemudian manusia dalam istilah KBBI adalah makhluk yang berakal budi (mampu menguasai makhluk lain). Berarti untuk mendidik manusia Indonesia supaya menjadi manusia yang seutuhnya adalah dengan mendidik secara keseluruhan mulai dari intelektual akademisnya sampai spiritualitasnya. Karena banyak manusia sekarang pintar secara intelektualitasnya saja tetapi tidak diiringi dengan spiritualitas dan emosionalitasnya. Sehingga banyak manusia menjadi koruptor dan mirisnya ada peserta didik yang dengan tega membunuh gurunya sendiri.

Menjadi manusia artinya mengerti bahwa dirinya adalah manusia, mengerti tentang manusia lain, dan bisa memanusiakan manusia.

‘Diri sejati’ terletak pada lapis yang jauh lebih dalam dan besar kemungkinan kebanyakan manusia tak mengenalnya. Kurikulum pendidikan tak mengajarkannya. Para pemimpin agama juga hanya membariskan umatnya dalam syariat, tidak memasuki hakikat. Alhasil, pengenalan manusia terhadap diri sejatinya sangat tidak bisa dijamin.

Dalam konstitusi Indonesia sendiri sudah sangat jelas. Pada pembukaan UUD 1945 dijelaskan bahwasanya kewajiban negara dalam konteks ini adalah Pemerintah Indonesia untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Perlu digarisbawahi adalah kata mencerdaskan bukan memintarkan. Karena cerdas dan pintar itu berbeda. Kata mencerdaskan dalam konteks ini berarti terdapat sebuah proses yang cukup lama dan perlu kesabaran. Cerdas berarti mempunyai ketajaman dalam berpikir dan bisa memecahkan permasalahannya sendiri. Sedangkan pintar hanya terbatas hanya dalam konteks intelektualitasnya semata.

Kecerdasan sendiri diklasifikasikan menjadi tiga. Yaitu. Intellegence Qoutient, Emotional Qoutient, dan Spiritual Qoutient. Kecerdasan intelektual, emosional dan spiritual harus terdapat dalam diri seorang manusia. Supaya bisa menjadi manusia yang seutuhnya manusia dan bisa memanusiakan manusia. Karena kenyataan dalam dunia pendidikan di Indonesia, peserta didik bisa dikatakan pintar karena nilai pelajarannya mendapat seratus walaupun nilai itu dari hasil mencontek. Sedangkan ada peserta didik yang kurang pintar tetapi perilakunya senantiasa jujur belum tentu dibanggakan oleh orang tuanya. Sehingga terdapat adagium Jawa “Luwih becik dadi wong bener senajan ora pinter. Daripodo dadi wong pinter tapi ora bener. Luwih becik maneh dadi wong bener tur pinter. Lan ojo sampek dadi wong wes ora bener tur ora pinter”. Artinya “lebih baik menjadi orang benar walaupun tidak pintar daripada menjadi orang pintar tetapi tidak benar. Lebih baik lagi menjadi orang benar dan pintar. Dan jangan sampai menjadi orang yang sudah tidak benar dan tidak pintar.”

Baca juga : Kelas Tunas Cepu : Belajar Habitus Baru Tentang Menghargai, Menghormati  dan  Mendengarkan

Pendidikan adalah investasi jangka panjang. Maka hasilnya tidak bisa instan. Karena apapun yang instan berimplikasi kepada hal-hal yang kurang baik. Seperti fast food. Dan masa depan atau kemajuan sebuah negara bisa dilihat dari kualitas pendidikannya. Terus berbicara pendidikan di Indonesia, memang masih jauh dari kata ideal. Khususnya pendidikan karakter (character building). Pendidikan sendiri tidak bisa dilepaskan dari tiga aktor yang saling melengkapi. Yaitu orangtua, pendidik dan peserta didik. Untuk bisa menjadikan peserta didik yang cerdas dan berkualitas harus dimulai terlebih dahulu dari tenaga pendidiknya yang harus berkualitas. Di lain sisi, orangtua juga mempunyai tugas yang sangat substansial dalam mendidik anaknya ketika di lingkungan rumah.

Pada titik inilah, saya teringat tulisan Stephan Millet sepuluh tahun lalu. Judulnya The State, the Soul, Virtue and Potential: Aristotle on Education. Di buku editan Charlene Tan dan Benjamin Wong, Philosophical Reflections for Educators (2008). Di situ (hal. 23), dia menyatakan, “the end (telos) of education is to produce good citizens, where ‘good’ here is partly determined in light of the constitusion of the state.” Terjemahannya: tujuan akhir pendidikan adalah menciptakan warga negara yang baik, di mana kata “baik” di sini diantaranya dimaknai sesuai dengan konstitusi yang dianut.

Berarti peserta didik di Indonesia harus memiliki rasa cinta kepada tanah air. Indonesia sendiri menganut Pancasila sebagai dasar negara. Sehingga orangtua dan pendidiknya harus memiliki rasa cinta kepada Indonesia yang terinterpretasikan dalam Pancasila. Bagaimana mungkin peserta didik atau anak bisa mencintai tanah airnya kalau orangtua dan pendidiknya tidak atau belum bisa mencintai tanah airnya sepenuh hati. Orangtua dan pendidik harus sudah selesai dengan dirinya sendiri. Baru kemudian memberikan pelajaran kepada peserta didik. Orangtua dan pendidik harus menjadi orang yang Pancasilais (penganut ideologi Pancasila yang baik dan setia) sebelum memberikan pendidikan kepada peserta didik. Karena orangtua dan pendidik menjadi uswah atau contoh bagi peserta didik.

Relawan Kelas Tunas Nera Academia mendampingi proses belajar anak-anak di Rusun Jemundo, Sidoarjo. Foto : Dok. Nera Academia

Baca juga : Pendidikan anti korupsi dengan nilai Nicomachean Ethics Aristoteles

Tanpa Pancasila, negara akan bubar. Pancasila adalah seperangkat asas, dan ia akan ada selamanya. Ia adalah gagasan tentang negara yang harus kita miliki dan kita perjuangkan. Dan, Pancasila ini akan saya pertahankan dengan nyawa saya. Tidak peduli apakah ia akan dikebiri oleh angkatan bersenjata atau dimanipulasi oleh umat Islam, atau disalahgunakan keduanya.

Tetapi dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi seperti internet dan lain sebagainya membuat peran pendidik mengalami degradasi. Apalagi pendidik yang sudah tua dan gaptek (gagap teknologi), sehingga sedikit demi sedikit peran pendidik tergantikan dengan adanya internet yang menawarkan pengetahuan yang cepat walaupun kurang komprehensif (mendalam).

Internet itu bagus untuk membantu komunikasi, tapi sangat buruk untuk pembangunan mental manusia. Tujuan agama hanya satu; mendidik manusia agar mampun mengendalikan diri. Kamu salat lima waktu supaya setiap kali kamu punya ritme untuk mengendalikan diri. Ayo bangun, berwudu, salat, berhenti, dan ayo terus. Seperti militer.

Dengan resminya HTI dibubarkan. Hal ini sebagai kemenangan Indonesia dan Pancasila telah kembali menujukkan kesaktiannya. Maka inilah titik balik bagi generasi Pancasilais untuk terus mempertahankan Indonesia dari berbagai ideologi yang anti Pancasila. Tetapi bukan berarti dengan bubarnya HTI, tugas generasi muda Indonesia menjadi selesai dan tuntas. Para manusia yang menganut paham khilafah harus tetap dirangkul supaya mau dan tunduk kepada NKRI yang berideologikan Pancasila. Dan memberikan pemahaman kepada mereka bahwasanya Pancasila tidak bertentang dengan Islam dan lain sebagainya.

Baca juga : Menakar Pendidikan Berorientasi Pasar bersama Marcuse dan Fromm

Jadi, apa gunanya membubarkan gerakan radikal jika ideologi radikal—pemikiran yang mendasarkan pada doktrin atau konsep kekerasan untuk mengubah suatu keadaan—tetap dijadikan sebagai ajaran dan diterapkan serta dipropagandakan dalam kehidupan sosial masyarakat? Bukankah ini masih identik dengan ungkapan membiarkan serigala di kandang domba.

Kesimpulan yang bisa diambil adalah untuk mendidik manusia Indonesia supaya menjadi generasi Pancasilais. Para orangtua dan pendidik harus selesai dulu dengan dirinya sendiri. Karena ideologi harus dilawan dengan ideologi. Indonesia adalah rumah kita. Marilah kita rawat dan ruwat rumah kita ini. Jangan biarkan orang lain untuk menghancurkan rumah kita. Diantaranya dengan terus mendidik para generasi bangsa dengan pendidikan yang cinta kepada tanah airnya yakni Indonesia dan Pancasila.

Penulis  : Khoirur Roziqin,  Mahasiswa Prodi Ilmu al-Qur’an dan Tafsir, Jurusan al-Qur’an dan Hadis, Fakultas Ushuluddin dan Filsafat Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya -UINSA.

DAFTAR PUSTAKA
Adjie Suradji, “Serigala di Kandang Domba”, Kompas, Jakarta, Jumat, 28 Juli 2017, 7.
Ahfa Waid . Nasihat-Nasihat Keseharian Gus Dur, Gus Mus dan Cak Nun, Yogyakarta: Divapress
Akh. Muzakki, “Mengapa Pendidik Harus Pancasilais”, Jawa Pos, Surabaya, Kamis, 10 Mei 2018, 4.
Emha Ainun Nadjib. 2017. Hidup Itu Harus Pintar Ngegas dan Ngerem, Bandung: Noura
Emha Ainun Nadjib. 2017. Tidak. Jibril Tidak Pensiun! Yogyakarta: Bentang
Husein Muhammad. 2016. Gus Dur dalam Obrolan Gus Mus, Bandung: Noura

Please share,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *