HomeNARASIKEBUDAYAANUci Shintia : Toleransi Masih Ada, Walaupun Kita Tersakiti

Uci Shintia : Toleransi Masih Ada, Walaupun Kita Tersakiti

KEBUDAYAAN KOMUNITAS PERSONA REFLEKSI 0 1 likes 155 views

Beberapa hari setelah kejadian bom bunuh diri yang memberikan sebuah catatan merah kota Surabaya. Jumat sore (18/05), Komunitas Pecinta Pancasila mengikuti kegiatan Suroboyo Guyub Rukun di GKI Surabaya, tepatnya di Jalan Diponegoro. Kegiatan ini dihadiri  107  organisasi dan komunitas yang ada di Surabaya. Aku beserta adik-adik mewakili Komunitas Pecinta Pancasila. Sebelum aku menaruh sepedaku di parkiran, banyak polisi dan tulisan yang terpampang didepan. Penjagaan sangat  ketat, itu yang kurasakan  saat didepan gereja tersebut. Aku memakai jilbab dan adikku dua perempuan juga memakai jilbab. Adikku merasa takut jika nanti ia akan dilihat sinis pada saat di dalam. Namun,  aku menyakinkanya bahwa mereka tak akan seperti itu.

Baca juga : Ampunilah Para Pelaku, Karena Mereka Juga Menjadi Korban Seperti Kita

Saat aku berjalan,  polisi melihat aku dan juga adik-adikku. Tepat di pos kami dihentikan untuk pemeriksaan. Satu langkah lagi, barang-barang yang aku bawa dicek lagi. Aku munafik jika  bilang  tidak takut  masuk ke dalam gereja. Saya takut karena mungkin kehadiran saya dan teman-teman akan menambah ketidaknyamanan. Saya juga sangat memahami dan memaklumi bahwa umat gereja masih belum sembuh atas kesedihan yang mereka rasakan. Namun semua ketakutan itu buyar, kami disambut dengan senyum ramah, tidak terlihat wajah curiga disana.

Saat pengecekan selesai aku, dan teman-teman komunitas  berjalan dengan penuh keyakinan menuju lokasi doa bersama di dalam gereja.  Seorang bapak  memberikan aku senyuman manis dan menjabat tangan kami. Saya balas dengan senyuman dan aku memegang tangan bapak tersebut. Bapak tersebut lalu menyuruhku dan adik-adik untuk memakan hidangan yang sudah disiapkan. Setelah itu aku mengisi daftar hadir, dan menemui teman-teman yang mengundang kami hadir. Seketika itu, semua menjadi nyaman dan kamipun mengikuti rangkaian acara dengan khusuk.

Di dalam gereja  bukan aku saja dan adik-adikku yang berkerudung namun banyak menggunakan kerudung disana. Tak lama aku dituntun untuk masuk dalam gereja,  lalu aku duduk dan aku melihat orang-orang diselilingku masih ada kesedihan dalam mata saudara-saudaraku. Acarapun dimulai kita menyanyikan lagu-lau. Yang paling membuatku merinding adalah acara dimana saksi mata menceritakan saat-saat terjadi ledakan bom.

Doa bersama di GKI Diponegoro Surabaya, wujud toleransi warga Surabaya

Pendeta Andri Purnawan, memberikan sambutan kepada elemen masyarakat Surabaya yang hadir dalam doa bersama di GKI Diponegoro, Jumat (18/5). Foto : kumparan/Ardhana Pragota

Baca juga : Lewat ‘Surabaya Wani’, Pemuda-Pemudi Surabaya Bersama Memaknai Bhineka

Seorang saksi  mata yang juga korban menceritakan betapa kejadian tersebut begitu hebat dan membuatnya sangat panik lantaran terjadi dua kali ledakan. Beliau menggambarkan betapa tidak percayanya ia dengan kejadian itu. Kejadian yang melibatkan seorang ibu yang ia kenal selalu memberikan kasih sayang, namun disaat yang sama ada ibu yang mengajak anaknya ikut bom bunuh diri. Lalu ia pun menceritakan rasa traumanya melihat seorang muslimah yang menggunakan baju syari dan bercadar.

Ketakutan yang menghantui membuatnya tak bisa kemana-kemana. Lalu ia  menyadari bahwa tidak bisa terus seperti ini, beliau datang di psikolog untuk menyembuhkan ketakutannya. Setelah acara cerita saksi mata, selanjutnya  ada pembacaan puisi dari  Aktivis Perempuan  GKI. Mereka membaca puisi dengan suara lantang, meyakinkan kita bahwa kita tak boleh dendam. Meyakinkan kita bahwa kita terlalu kuat untuk diobrak-abrik oleh teroris. Lalu ada penayangan video dan lagu tentang  rindu Indonesia,  rindu akan perdamaian Indonesia.

Baca juga : Prof. Dr. Frans Magnis Suseno : Saya masih optimis dengan Islam Indonesia

Saya menilai  intoleransi di Indonesia sekarang merajalela.  Namun saat aku ikut acara ini  penilaianku perlahan berubah,  mungkin saya keliru. Toleransi masih tetap ada, kita masih kuat walaupun salah satu diantara kita sedang tersakiti dan bersedih. Ini merupakan kesempatan bagi kita semua khususnya Komunitas Pecinta Pancasila untuk mengalirkan nilai-nilai Pancasila kepada sesama. Kita yakin Pancasila yang membuat kita satu, Pancasila yang membuat kita kuat. Karena teroris bukan hanya musuh orang Kristen, atau mungkin orang Islam itu sendiri namun terorisme merupakan musuh kita bersama. Kita bersama-sama bergandengan tangan dan belajar jadi  masyarakat yang kuat dan tangguh mengadapi masalah bangsa dan negara.

#KomunitasPecintaPancasila #Indonesiakuat #SuroboyoWani #TerorisJancok

Penulis : Uci Shintia Budi, Komunitas Pecinta Pencasila

 

Please share,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *